Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
215


__ADS_3

Kandungan Lyla sudah berusia tujuh bulan. Perutnya sudah terlihat membulat meski tidak terlalu besar. Nafsu makan wanita itu sedikit berkurang akhir-akhir ini, berbanding terbaik dengan Morgan yang sudah bisa menelan makanan apa pun tanpa bisa dicegah.


"Honey, aku pulang!" seru Lyla masuk ke dalam rumah dengan seorang penjaga yang membawa tas belanjaan milik Lyla. Hasil berburu bersama dengan ibu mertuanya.


Suara morgan tidak terdengar, tapi suara TV justru terdengar sangat keras sehingga Lyla menebak jika sang suami ada di sana.


"Astaga, Morgan!" seru Lyla melihat betapa kacaunya ruangan tersebut. Sampah dari cangkang kacang tanah berserakan di lantai di bawah sofa, di atas meja ada beberapa kaleng minuman dan juga cemilan lain yang dibawa oleh kolega bisnis Morgan beberapa hari yang lalu. Sebuah makanan yang terbuat dari bahan tempe digoreng sangat tipis berbalut tepung dan renyah saat dimakan, membuat Morgan ketagihan dan tidak berhenti makan sedari Lyla pamit dua jam yang lalu. Tulisan yang ada di bungkusnya adalah 'Tempe Kriuk Mak Inah, khas Jawa Barat'.


"Kau sudah pulang, Sayang. Sini, makanlah ini bersama denganku. Aku menyisakannya untukmu," ucap Morgan sambil memperlihatkan toples kaca yang tinggal sedikit isinya. Di dalam toples tersebut berisi keripik emping yang rasanya pahit. Lyla tidak tahan memakannya, rasanya aneh dengan rasa asin dan sedikit pahit.


"Hentikan kebiasaan burukmu, Morgan! Semenjak kau mau makan, semua kau habiskan. Lihat perutmu!" tunjuk Lyla pada perut Morgan yang menyembul dari kaos singlet yang dia kenakan, perut itu sama membulat seperti dirinya. Pakaian Morgan yang dulu pas di tubuhnya, kini menjadi ketat dan menonjolkan perut buncit yang besarnya tidak jauh beda seperti Lyla. Lengan Morgan juga membesar, antara lemak dan otot Lyla sudah tidak bisa membedakannya sekarang.


"Apa salahnya jika aku banyak makan sekarang. Kau tahu kan bagaimana sebelum ini aku tidak bisa makan selama enam bulan? Aku baru bisa menikmati makanan lagi tiga minggu ini, Honey." Morgan tidak mempedulikan kata-kata sang istri, bahkan untuk mengubah posisi menjadi duduk saja dia sangat malas. Pekerjaannya akhir-kahir ini hanyalah bermalas-malasan dengan banyak cemilan di sampingnya.


"Hh, kau ini. Untung saja ayah adalah orang yang baik. Jika dia bukan orang yang baik, tentu saja dia sudah menyeretmu untuk pergi ke kantor atau mencoret namamu dari daftar ahli warisnya!"


Bukan hanya tidak enak hati dengan ayah mertuanya yang sudah mengurusi perusahaan selama keadaan Morgan seperti ini, tapi Lyla juga ingin mengembalikan Morgan ke kehidupan lamanya yang sehat. Awalnya saat Morgan telah kembali bisa menelan makanan, tentu saja Lyla merasa sangat senang sekali dan membuatkan apa saja yang Morgan minta, tapi rasa haus Morgan akan makanan ternyata bukan hanya sementara saja. Pipinya sudah bulat dalam kurun waktu tiga minggu.


"Tapi, Sayang. Aku tidak ada semangat untuk itu. Badanku lemas akhir-akhir ini," ucap Morgan sambil duduk dengan malas. Cangkang kacang tanah yang ada di tubuhnya kini terjatuh ke pangkuan."Sayang, mendekatlah. Aku ingin memeluk anak kita." Tangan laki-laki itu terangkat, tapi Lyla mundur dua langkah dan menatap kesal suaminya.


"Mandi!" Tunjuk Lyla ke arah kamar mereka.


"Sayang ...."


"Tidak ada pelukan sebelum kau mengurus dirimu sendiri!" ucap tegas wanita itu.


Melihat tatapan Lyla yang tajam Morgan hanya cemberut dan terpaksa bangkit. Semua tubuhnya terasa berat dan membutuhkan banyak tenaga untuk menggerakkannya.


"Astaga. Aku memiliki anak yang besar!" gumam Lyla sambil memandangi tubuh Morgan yang sudah mengembang.


Takeda melihat keberadaan Lyla, dia mendekat dengan beberapa berkas yang ada di tangannya. "Selamat sore, Nyonya. Aku mencari Tuan Morgan."


"Ah, Takeda. Morgan sedang mandi. Apa kau ada perlu?"


"Iya." Takeda melirik sampah-sampah yang berserakan di lantai dan sofa, dia sudah menebak jika itu adalah ulah Morgan. Ya, atasannya itu sekarang berubah. Dari seorang pria yang bersih menjadi seorang pria yang jorok. Padahal, dulu dasinya yang miring sedikit tidak luput dari komentar dan kritikan pria itu.


"iya, aku hanya ingin meminta pendapatnya saja. Tuan Besar menyuruhku untuk membicarakan proyek ini dengan Tuan Muda."


"Oh, oke. Tunggulah sebentar. Aku akan menyusulnya ke kamar. Makanlah dulu, Kau pasti belum makan siang."


Takeda tersenyum malu, memang jika sudah bekerja bersama Robinson, dia sering melupakan makan siang. Apa lagi Robinson yang memiliki jadwal yang padat dan dia masih belum bisa menemukan seseorang untuk menggantikannya sebagai tangan kanan Robinson.


"Sana, pergilah. Makan baik-baik. Kau tidak boleh kelaparan saat keluar dari rumah ini nanti," ujar Lyla lagi. Takeda menundukkan kepalanya dan menunggu Lyla pergi, setelah itu dia pergi ke arah dapur untuk meminta makan.


Pintu kamar mandi Lyla ketuk, tidak ada sahutan yang terdengar dari dalam sana, hanya suara air yang bergemericik membentur lantai.


"Morgan. Takeda mencarimu!" teriak Lyla cukup keras.

__ADS_1


"Iya, aku akan segera keluar." Suara itu terdengar. Lyla hendak pergi, tapi Morgan memanggil namanya. "Bisakah kau membantuku mandi? Aku kesulitan menggapai punggungku!" pinta Morgan, Lyla menggelengkan kepalanya. Seperti itulah Morgan sekarang, perutnya yang buncit sedikit membuatnya kesulitan.


"Baiklah."


Tanpa mengganti pakaian, Lyla masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Morgan yang sudah berlumurkan sabun. Ada banyak sekali buih sabun yang menempel pada tubuh suaminya itu kecuali punggungnya. Aroma wangi sabun tersebut menguar di ruangan kamar mandi.


"Kau menghabiskan setengah botol sabun lagi?" tanya Lyla tak habis pikir. Botol sabun yang dia beli tiga hari yang lalu kini sudah hampir habis.


"Sayang, kau tahu kan bagaimana badanku sekarang? Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, aku juga tidak paham kenapa aku bisa seperti ini. Aku kesulitan untuk membersihkan ini. Tanganku tidak sampai!" tunjuk Morgan ke punggungnya.


Lyla ingin tertawa melihat tubuh suaminya yang membengkak. Sudah tidak seksi lagi seperti dulu, tapi lemak-lemak yang ada di tubuh Morgan sekarang membuat Lyla ingin mencubitnya gemas.


"Hah, kau ini. Kau harus diet lagi, Morgan. Setidaknya kau harus menurunkan lima kilo berat tubuhmu." Lyla mengambil alih spons dan menggosok tubuh suaminya dengan lembut.


"Hei, lima kilo? Kau pikir berat tubuhku bertambah banyak? Aku pikir ini hanya bertambah tiga kilo," ujar Morgan.


Dua orang itu akhirnya berdebat tentang berat badan. Morgan yang tidak terima berat tubuhnya dikatakan bertambah terlalu banyak, sedangkan Lyla yakin jika bukan hanya sedikit lemak yang bertambah di sana.


Morgan tersenyum licik, kemudian menciptakan air ke tubuh istrinya sehingga pakaian itu basah.


"Akh, Morgan!" teriak Lyla terkejut, wajah dan pakaiannya basah.


"Kau basah, Sayang. Lebih baik mandilah bersamaku." Senyuman Morgan terlihat licik, tidak ingin sang istri pergi, sehingga dia memeluk Lyla dan menyalakan air kran.


"Morgan, aku basah!" teriak Lyla lagi. Morgan hanya terkekeh dan malah mencium leher istrinya. Tangannya yang kokoh memeluk Lyla erat, tapi tetap berhati-hati karena perut sang istri yang semakin besar. "Akh, apa yang kau ... lakukan, Morgan!" lirih wanita itu dengan suara yang tidak bisa dia tahan lagi. Ciuman Morgan hangat, membuat desir darahnya mengalir dan membuat percikan aneh di tubuhnya. Tidak dia pedulikan perut Morgan yang menempel di punggungnya.


"Sayang, I miss you."


"Kau masih menunggu?" tanya seorang pelayan yang mengambil cangkir kopi yang telah kosong.


"Hem." Jawaban Takeda singkat, melirik ke arah kamar Morgan dan Lyla yang terlihat dari tempatnya duduk.


"Sepertinya mereka tidak akan keluar dalam waktu yang dekat. Haha. Apakah kau mau menambah kopimu?" tanya pelayan wanita tersebut sambil tertawa. Wajah Takeda semakin suram dan terlihat otot di rahangnya yang mengeras.


"Haih, terlalu sekali mereka. Tuan Robinson sudah menghubungiku beberapa kali," keluh Takeda kesal.


"Sabarlah, Takeda. Kau tahu kan bagaimana mereka jika sudah berada di dalam kamar berdua. Aku yakin mereka masih ingin tinggal lebih lama di sana. Lebih baik kau katakan saja kepada tuan besar apa yang terjadi, tuan besar tidak akan marah jika sudah menyangkut putra dan menantunya.


Takeda akhirnya menuruti ucapan pelayan itu, lebih baik pergi sekarang daripada dia harus diam dan menunggu. Kesabarannya sudah sangat diuji sedari dulu, dan kini jika dihitung maka kesabaran yang dia miliki hanya seperti selembar tisu rapuh yang terkena air.


...*...


"Ah, Morgan. Pelan sedikit!" Lyla menggigit bibirnya, perut buncit keduanya saling beradu, air di dalam bathtub tumpah ruah dan bergejolak karena permainan panas mereka.


Morgan menunduk, mencecap dua buah boba milik Lyla bergantian. Buahnya sangat ranum, apalagi setelah Lyla mengandung buah hati mereka yang membuatnya semakin besar dan padat.


"Eughh."

__ADS_1


Tangan Lyla mengacak rambut Morgan, menekan kepala itu semakin dalam dan membiarkan lidah suaminya bermain di sana.


Suara decap kecupan dari bibir Morgan dan riak air yang semakin kencang menandakan jika mereka tidak merasa lelah dengan permainan ini.


Morgan membalikkan tubuh Lyla, membiarkan istrinya memeluk bathub dan permainan mereka berlanjut dengan penuh semangat.


...***...


Morgan dan Lyla baru saja keluar dari kamar mandi, Morgan tersenyum senang karena sudah seminggu dia berpuasa. Keinginan Lyla untuk bercinta menurun dari awal kehamilan, sehingga wanita itu tidak pernah lagi memancingnya atau menyeretnya ke dalam kamar.


"Eh, aku melupakan sesuatu!" seru Lyla melirik ke arah Morgan.


"Melupakan apa?"


"Takeda. Tadi Takeda datang dan mencarimu."


"Oh."


Morgan kemudian pergi dengan santai ke luar kamarnya masih mengenakan handuk di pinggangnya.


"Sayang! Kau lupa memakai pakaian!" teriak Lyla, tapi Morgan tenang saja berjalan ke luar dan mencari Takeda.


Para maid yang ada di sana menundukkan pandangannya saat Morgan ada di dekat sana dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Mana Takeda?" tanya Morgan sambil berkacak pinggang.


Seseorang datang dan menunduk hormat, tetap menjaga pandangan dari atasannya itu. "Tuan Takeda sudah kembali ke kantor, Tuan."


Morgan berdecak kesal, padahal dia ingin tahu ada apa urusan yang Takeda bawa. Morgan kembali ke dalam kamar.


"Kau sudah menemui Takeda?" tanya Lyla. Tangannya sedang sibuk mengeringkan rambut dengan hairdryer.


"Dia sudah kembali." Morgan berbaring di atas kasur dengan posisi miring, menahan kepalanya dengan telapak tangan. "Sayang ...." panggil Morgan lembut. "Bisakah kau mendekat? Ayo kita bermain sekali lagi!" pinta Morgan. Lyla memutar bola matanya malas. Padahal saat di dalam kamar mandi tadi, mereka sudah melakukannya cukup lama.


"Tidak, Morgan. Pinggangku sakit!" tolak Lyla.


Morgan menghempaskan tubuhnya ke belakang karena penolakan itu.


"Ayolah, Sayang. Ayolah. Ayolah. Aku masih mau sekali lagi!" rengek pria itu bak anak kecil sambil menggerakkan tangan dan kakinya membuat seprai menjadi kusut.


"Tidak. Kau main sendiri saja."


Morgan frustrasi karena adik kecilnya meronta lagi. Setiap kali melihat Lyla dalam balutan handuk kimono, membuat adik kecilnya menggeliat. Tubuh sang istri sangat seksi saat mengenakan kimono itu, apalagi perut buncitnya yang menyembul di sana. Lucu sekali.


Morgan tidak akan menyerah begitu saja. Dia tidak ingin penolakan dan dia tahu apa yang harus dilakukan. Morgan segera bangkit dan berlutut di depan Lyla, menyibak kimono tersebut dan membukakan kedua kaki Lyla. Tubuh Lyla ditarik sehingga Morgan bisa leluasa di bawah sana.


Slurrrppp.

__ADS_1


"Ahh ...." Suara seksi itu memaksa keluar dari mulut Lyla. Lyla menjambak rambut Morgan dan berusaha menjauhkan kepala itu dari sana, tapi tenaganya tiba-tiba saja hilang dan selanjutnya hanya suara-suara laknat yang terdengar di sana.


Lato-lato kembali bergerak lincah 🤫


__ADS_2