
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Leo kepada Lyla.
"Aku sedang makan," jawab Lyla seadanya.
Leo baru sadar jika mungkin pertanyaannya adalah salah.
Louis tertawa meremehkan, menatap Lyla dengan aneh.
"Maksudnya sedang apa kau di sini dan siapa yang bersama denganmu?" ujar Louis ketus.
"Oh, aku bersama dengan Tuan Morgan," ucap Lyla.
Louis baru sadar melihat pakaian Lyla. Apakah dia wanita yang ada di lantai atas tadi? gumam pemuda itu menatap Lyla dari atas hingga ke bawah. Ya, dia kini meyakini jika orang yang di atas tadi adalah Lyla.
"Sekarang di mana Morgan?" tanya Leo.
"Dia tadi ada di sana," tunjuk Lyla ke arah di mana Morgan dan Renee pergi.
"Sendiri?" tanya Leo lagi dengan bingung.
"Tidak. Dia bersama dengan Renee. Mereka sedang berbicara," terang Lyla.
Leo menatap George sekilas, kemudian mengalihkan tatapannya ke pintu samping yang menuju ke arah kolam renang.
"Aku akan ke sana," ucap Leo, lalu tanpa menunggu yang lain dia pergi untuk menyusul Morgan dan Renee.
Louis berdecak kesal melihat sang kakak yang kini lebih memilih untuk pergi bertemu dengan wanita itu daripada ayah dan ibunya.
"Cih, dasar. Apakah tidak ada wanita lain yang bisa diperebutkan? Kenapa malah sepupumu?" ujar Louis dengan kesal menatap pada George.
George mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Kau juga akan menyusulnya?" tanya George.
"Tidak. Aku lebih ingin berdebat dengan wanita ini." Tunjuk Louis pada Lyla. "Kau telah merusakkan ponselku dan menginjak kakiku, apa kau mau bertanggung jawab dengan waktu yang sudah terbuang itu? Apa kau tahu aku kehilangan banyak keuntungan karena ponselku rusak karenamu, Nona!" ujar Louis kesal.
Tentu saja Lyla tidak terima dengan tuduhan itu. Bukan dia yang membuat ponsel Louis rusak, tapi karena laki-laki itu yang tidak berhati-hati sehingga mereka bertabrakan dan membuat ponsel itu jatuh.
"Hei, Tuan. Aku juga sudah kau rugikan!" seru Lyla tidak terima.
"Rugi? Rugi apa?" tanya Louis.
"Kalungku! Kau membuat kalungku putus dan itu tidak akan sama lagi panjangnya, Tuan!" ujar Lyla kesal. Hingga saat ini dia belum memperbaiki kalung miliknya dan masih tersimpan dengan aman di laci nakasnya.
"Hanya kalung jelek saja kau permasalahkan. Itu hanya kalung murah, aku bisa membelikannya seratus buah agar kau puas!"
"Tidak akan sama harganya, Tuan. Kalung itu sangat berharga untukku karena menyimpan kenangan yang indah. Tapi, aku yakin jika ponselmu tidak seindah kalung jelek milikku karena kau sering menggantinya dan tidak pernah memiliki memori yang bagus dengan ponselmu. Kau bisa dengan mudah menggantinya. Apa bedanya dengan kalungku yang berharga murah?" Tatap mata Lyla dengan tajam pada Louis.
Louis menatap kesal Lyla. Baru kali ini ada yang mendebat putra kedua keluarga Maguire.
Dua orang itu berdebat dengan halus, sementara George memperhatikan dan berjaga-jaga bila mana pemuda ini bersikap yang tidak baik pada Lyla. Akan tetapi, semakin diperhatikan dua orang yang berdebat itu semakin seru rasanya dan dia melupakan Renee yang ada di tempat lain bersama dengan Morgan dan juga Leo.
...*...
"Kau tidak mengajakku pergi ke sini. Siapa dia?" tanya Renee kepada Morgan.
Morgan berdiri dan tidak menatap Renee sama sekali.
"Seperti yang kau dengar tadi. Dia adalah kekasihku," ucap Morgan dengan dingin.
"Benarkah? Aku tidak percaya!" ucap Renee kesal.
"Apa aku harus menciumnya di hadapanmu agar kau percaya?" tanya Morgan masih dingin. Renee menggelengkan kepalanya. Apakah dia akan kuat melihat itu? Morgan berdekatan dengan Lyla saja hatinya sudah terasa panas.
"Kau sengaja ingin membuatku cemburu?" tanya Renee.
"Tidak. Untuk apa? Kenapa kau tidak merelakan saja aku dengan yang lain? Kau juga sudah bahagia dengan pilihanmu sendiri, kan?" ujar Morgan.
Renee menggelengkan kepalanya dan mendekat pada Morgan, memeluk laki-laki itu meski tidak mendapatkan balasan sama sekali.
"Aku tidak bahagia, Morgan. Aku tersiksa karena pergi darimu."
"Lantas kenapa kau pergi di saat kita hampir menikah? Bukankan itu berarti jika kau sudah tidak ada hati denganku?" ujar Morgan.
"Kau salah, Morgan. Justru aku pergi karena aku mencintaimu."
__ADS_1
"Katakan alasannya!"
"Aku pergi karena ada seseorng--"
Baru saja Renee akan bicara, Leo datang mendekat ke arah mereka berdua. "Renee. Kau sudah kembali?" ujar laki-laki itu.
Sontak Renee mengalihkan tatapannya dan melepaskan pelukannya dari Morgan. Renee tampak salah tingkah atas kehadiran Leo yang kini sudah berhenti di hadapan mereka.
"Aku tidak tahu kapan kau kembali," ucap Leo kemudian mengulurkan tangannya pada Renee. Mau tak mau, Renee membalas uluran tangan laki-laki itu. Leo menariknya dan memeluknya singkat.
"Percuma kau katakan, Morgan tidak akan percaya," ucap laki-laki itu berbisik hampir tidak terdengar. Renee membulatkan matanya saat Leo mengatakan hal itu. Kenapa banyak sekali halang rintang yang membuatnya tidak bisa bebas berbicara dengan Morgan?
Leo menjauhkan dirinya dari Renee dan mengusap bahu Renee dengan pelan. "Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Aku pikir kau sudah melupakan kami dan hidup bahagia di sana," ujar Leo. Renee tersnyum, tampak kecut.
"Ya, aku juga sangat senang bisa kembali lagi ke sini. Ke tengah kalian."
...*...
"Hiss, kau wanita yang menyebalkan! Aku tidak tahu kenapa Kak Morgan bisa berpacaran dengan wanita yang tidak anggun sepertimu!" ucap Louis kesal.
Lyla tidak perduli dengan ucapan laki-laki ini, anggap saja jika dia adalah anak kecil yang butuh perhatian.
"Karena dia tahu jika aku adalah wanita yang sangat baik. Apa artinya anggun jika dia tidak bisa menjaga sikap?" tukas Lyla dengan pedenya.
Louis meras kesal. Dia ingin sekali membalas perkataan wanita ini, tapi saat dia hendak membuka mulutnya seorang pelayan datang dan berbisik kepadanya.
"Aku belum selesai denganmu, Nenek Sihir!" ujar Louis menunjuk Lyla tepat di depan wajahnya.
"Tapi aku sudah selesai!" Lyla membalas sambil menyilangkah kedua lengannya di depan dada.
Louis memang kesal, tapi perintah baginda raja tidak bisa dia abaikan. Entah apa yang diinginkan oleh laki-laki tua itu, membuatnya kalah berdebat dengan wanita ini.
Louis pergi dari hadapan Lyla dengan keadaan hati yang jengkel.
"Kenapa tidak sampai tampar atau jambak? Tidak seru!" ujar George sedikit kecewa. Sedari tadi dia menunggu adegan tampar atau tendangan maut dari wanita ini.
"Heh, untuk apa? Apakah itu tidak terlalu kasar dilakukan olehku yang cantik nan elegan ini?" ujar Lyla dengan sombongnya seraya mengangkat dagu.
George tertawa kecil melihat wanita ini. Benar-benar sangat unik sekali!
"Huh, dia membuat aku lapar!" seru Lyla kemudian lanjut mengambil makanan yang ada di sana, entah ini sudah piring ke berapa, perdebatan tadi bersama dengan Louis telah membuang energi dan membuat bagian di dalam perutnya ada yang kosong kembali.
Kue yang masuk ke dalam mulutnya serasa membuat tenggorokannya mengering dan sulit menghantarkan makanan itu ke dalam. Dia segera mengambil minuman yang ada di sana dan menenggaknya sampai habis.
"Akh! Minuman apa ini?" ucap Lyla sadar dengan rasa minuman tersebut yang ternyata aneh. Dia pikir itu adalah air biasa yang disediakan untuk para tamu.
Lyla menyimpan gelas tersebut ke meja dan berdecak kesal. Niat ingin lega, tapi sekarang tenggorokannya malah serasa terbakar.
"Akh, aku tidak suka minuman ini. Kenapa orang kaya menyukai minuman aneh seperti ini?" tunjuk Lyla ke arah gelas yang berjajar di sana.
George yang masih melongo melihat Lyla kini tersadar. Lyla telah menenggak minuma itu dalam satu tegukan, yang mana orang lain akan menikmatinya perlahan.
"Lalu kau berharap apa? Ini pesta. Memang seperti itu yang disuguhkan."
"Benarkah?" Kepala Lyla kini mulai berdenyut, tenggorokannya juga serasa terbakar. Dia ingin minum, tapi minuman yang ada di sana ada di dalam wadah gelas yang sama.
Lyla memperhatikan gelas yang dibawa oleh pelayan, gelas berbeda dengan warna yang berbeda pula. Dia ingat tadi mengambil minuman dengan gelas tinggi itu, tapi rasanya tidak enak, dan sekarang dia mengambil minuman yang lain dan rasanya juga sama tidak enak juga.
"Itu alkohol. Lalu minuman apa ini? Apakah ada alkohol juga?" tanya Lyla menunjuk pada gelas yang tadi dia minum. "Aku ingin minum air mineral, tapi ternyata aku salah mengambilnya. Hei, Tuan. Tunjukkan aku ke kolam yang banyak air mineral. Aku haus sekarang ini," ucap Lyla dengan nada yang aneh.
George memperhatikan Lyla yang kini mulai mengubah pandangannya seperti orang yang aneh. Apakah dia sudah mabuk?
George heran, hanya minuman dengan kadar alkohol rendah saja Lyla sudah mabuk seperti ini, sedangkan dirinya sudah gelas ketiga yang diminum malam ini.
"Tuan! Kenapa tidak menjawabku?" Lyla mendekat dan melambaikan tangannya di depan wajah George. Tersenyum dengan aneh kepadanya.
"Hei, astaga! Kau terdiam karena terpana kecantikanku? Oh, aku memang cantik malam ini," ucap Lyla sambil mengipasi dirinya dengan menggunakan tangan, menghalau rasa panas yang tiba-tiba saja menyerang dirinya. Kepalanya juga sedikit pusing dan membuat padangan terasa bergoyang.
"Eh!"
Lyla tiba-tiba saja oleng ke kanan, refleks George menangkap tubuh Lyla yang hampir terjatuh.
"Eh, kenapa kau memegangiku? Jangan bertindak sembarangan. Aku bukan wanita yang mudah kau sentuh, Tuan!" Lyla menepuk dan mengenyahkan tangan George dari lengannya.
"Kau hampir saja terjatuh, Nona," ucap George.
__ADS_1
"Benarkah? Aku hampir terjatuh?" tanya Lyla sambil berpikir dan mengingat-ingat. "Aku pikir lantainya sedikit tidak rata."
Lyla bergerak menunduk untuk memastikan. George yang melihat itu sontak memegangi lengan Lyla dan mengangkat Lyla kembali untuk berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya George.
Lyla menunjuk lantai yang ada di bawahnya. Dengan muka polosnya dia berkata, "Aku hanya ingin memastikan lantainya rata. Aku takut jika orang lain berdiri di sini dan akan jatuh juga," ucap wanita itu.
"Kau mabuk, Nona. Maka dari itu kau hampir saja terjatuh."
"Aku mabuk? Tidak, Tuan. Aku tidak pernah minum yang aneh-aneh. Aku tidak mabuk," ucap Lyla sambil menggelengkan kepala.
Sepertinya memang baru kali ini dia meminum alkohol, gumam George lagi.
George memperhatikan wajah Lyla yang mulai memerah, sangat lucu menurutnya apa lagi mata wanita ini yang mulai sayu. Rasanya jiwa playboy-nya muncul seketika. Melihat bibir yang tipis itu membuat George ingin menggigitnya.
Morgan baru saja kembali dari belakang, dia melihat Lyla yang dari kejauhan tengah bermesraan dengan laki-laki lain yang merupakan sepupu Renee. Kesal. Langkah kaki Morgan lebar dan cepat menuju ke arah di mana Lyla berada bersama dengan laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan, Lyla!" teriak Morgan sehingga membuat beberapa orang yang ada di dekat mereka mengalihkan fokusnya. Morgan menarik lengan Lyla cukup keras sehingga membuat Lyla dan George terkejut.
"Jangan salah paham, Tuan Castanov. Kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Sepertinya dia mabuk. Dia salah mengambil minuman," ucap George menunjuk gelas yang ada di samping Lyla barusan.
"Aku tidak mabuk, Morgan. Aku hanya salah minum!" ucap Lyla dengan kekehan di bibirnya. Mata Lyla hampir tertutup, bibirnya tersenyum melengkung ke bawah.
Morgan berdecak dengan kesal. Tanpa ba-bi-bu lagi dia menarik tangan Lyla untuk menjauh dari laki-laki itu.
"Ayo kita pulang!" ucap Morgan menarik tangan Lyla dengan kasar. Lyla yang tidak menduga akan ditarik seperti itu kembali terhuyung dan akhirnya terjatuh di pelukan Morgan.
"Jangan kasar dengan wanita. Dia akan kesakitan!" peringat George.
"Dia kekasihku. Bukan urusanmu!" seru Morgan marah. Morgan hendak menarik Lyla kembali, tapi melihat Lyla yang tidak berdaya, mau tak mau dia menggendongnya di depan dan membawanya ke luar dari sana. Biar lah dia tidak pamit dengan Tuan Maguire, nanti saja atau besok dia akan meminta maaf karena tidak sopan pergi tanpa pamit. Lyla memeluk leher Morgan dan menyandarkan kepalanya yang terasa pusing di bahu Morgan yang bidang. Rasanya nyaman sekali karena dia merasa jika kepalanya hampir terjatuh sedari tadi.
Morgan tidak mau jika sampai laki-laki itu semakin berani dan menyentuh Lyla sembarangan.
"Apa-apaan dia? Sembarangan memeluk orang lain!" gumam Morgan, tapi rupanya terdengar jelas oleh Lyla yang masih setengah sadar.
"Dia tidak memelukku. Tapi kau yang sekarang memelukku!" ucap Lyla, kemudian menggerakkan kepalanya sedikit lebih dekat dan menghirup aroma wangi di kulit leher Morgan. Hal itu membuat Morgan meremang bulu kuduknya dan langsung membuat cacingnya bereaksi.
"Emh. Wangi sekali. Kau pakai parfum apa?" gumam Lyla tanpa sadar atas kelakuannya.
"Hentikan, Lyla. Kau bisa saja membangunkan seekor macan!"
Lyla mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri. "Macan? Di mana ada macan?" ucap wanita itu dengan takut dan semakin mengeratkan pelukannya.
Morgan menunduk, lehernya tercekik akibat kelakuan Lyla. Akan tetapi, saat dia menunduk untuk menegur Lyla, sesuatu yang menyembul di balik pakaian itu terlihat dengan sangat jelas. Wajah Morgan kini memerah saat melihat dada Lyla yang tampak bulat karena memeluknya dengan erat.
Dug. Dug. Dug.
Dada Morgan tiba-tiba saja berdetak dengan cukup kencang.
Tidak bisa dibiarkan!
Morgan tidak peduli akan lehernya yang tercekik, dia segera melarikan kakinya ke arah di mana mobilnya berada. Seorang pelayan mendekat dan membukakan pintu untuk Lyla. Segera Morgan memasukkan Lyla dan berputar untuk memasuki mobil di bagian sisi yang lain.
"Tuan, di mana macannya?" racau Lyla sambil menatap sekitaran. Lyla mengedarkan pandangannya.
"Aneh sekali orang kaya di sini. Mereka bukannya memelihara anjing, tapi kenapa harus macan?" gumam wanita itu dengan tak sadar.
Morgan melirik Lyla, ujung matanya masih tertuju pada pakaian Lyla yang sedikit melorot hingga memperlihatkan area dada cukup banyak.
Baru saja Morgan akan menyalakan mobilnya, Morgan teringat jika Lyla belum menggunakan sabuk pengaman. Jadi, Morgan mendekat untuk memasangkan seat belt pada wanita itu.
Lyla terdiam saat Morgan berusaha untuk memasangkan sabuk pengaman padanya, sementara Morgan berusaha untuk abai dengan gundukan menggiurkan itu.
Ah, sial! racau Morgan di dalam hatinya, celananya kini serasa sesak.
"Tuan, kenapa kau tampan sekali?" ucap Lyla. Tanpa Morgan duga, Lyla tiba-tiba saja melingkarkan kedua tangannya di leher Morgan dan menariknya. Bibir Morgan basah saat Lyla melum4tnya dengan kasar, mencoba untuk melesakkan lidahnya pada laki-laki itu bahkan sampai menggigitnya, membuat Mmorgan membuka mulutnya.
Morgan membulatkan matanya dengan perlakuan Lyla yang tidak dia duga sebelumnya, tapi dia cukup menikmati permainan Lyla dan akhirnya terbuai sehingga mobil yang seharusnya sudah pergi kini masih berada di sana dan membuat pemuda yang tadi mengantarkan kedua orang itu kini menunduk dan mencari tahu bilamana ada masalah dengan kendaraan tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang temannya yang menepuk bahunya, mengagetkan.
"Aku pikir ada masalah dengan mobil ini," tunjuk pemuda tersebut pada mobil Morgan.
"Tinggalkan saja. Orang kaya selalu ada saja tingkah anehnya," ujar yang lain. Pemuda tersebut menyingkir dari sana dan memilih untuk tidak memikirkan mobil yang mogok itu.
__ADS_1
"Apa akan ada pertunjukan mobil bergoyang?" tanya pemuda yang tadi pada temannya.
"Entahlah, singkirkan pikiranmu dari sana. Fokus lah bekerja!" perintah yang lain.