
Di dalam kamar, Lyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Napasnya terengah, bukan akibat dia berlari barusan, tapi karena ucapan Gerald yang meminta bantuannya tadi.
Apa-apaan laki-laki itu. Apa yang dia maksudkan tadi? batin Lyla dengan emosi. Seenaknya saja dia berbicara tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Apakah dia lupa dengan apa yang mereka perbuat kepadaku?
Bukan hanya Morgan saja yang jahat, tapi Gerald juga salah satu dari orang jahat tersebut yang menawarkan sejumlah uang dan juga memintanya untuk melupakan apa yang telah terjadi kepadanya beberapa hari yang lalu.
Lyla berjalan ke arah ranjangnya dan menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas kasur yang empuk.
"Kapan aku akan bisa keluar dari sini? Ibu, aku rindu," ucap Lyla lirih yang ditujukan pada sosok ibu panti yang sedari kecil telah bersusah payah merawatnya.
Biasanya, jika dalam keadaan yang seperti ini ibu panti pasti akan datang dan duduk, kemudian Lyla akan membaringkan diri dengan pangkuan ibu panti sebagai alas kepalanya. Usapan lembut wanita yang sudah berumur itu akan membuat nyaman, apa lagi dengan ucapannya yang selalu bisa membuat dirinya tenang.
"Ibu, aku rindu padamu," isak Lyla di dalam tangis. Dia memeluk selimut dan akhirnya tertidur karena saking lelahnya. Bukan lelah pada tubuh, tapi lelah pada hatinya.
...***...
Di dalam sebuah kamar yang lain dengan pencahayaan yang remang, Morgan masih belum bisa tertidur juga. Dia tengah memikirkan apa yang tadi telah terjadi. Bagaimana dirinya bisa meminta bantuan pada seseorang yang asing? Bagaimana dia membiarkan seseorang menyentuhnya begitu saja? Dia terlalu sulit untuk mengucapkan kata terima kasih untuk wanita itu.
Morgan berdecak kesal dengan keadaan dirinya. Sulit sekali untuk bisa memejamkan mata. Pada akhirnya laki-laki itu beranjak bangun dan berjalan ke dekat jendela. Dia menyalakan rokok yang tadi diambil dari atas meja. Sebenarnya dia bukan perokok, hanya sekali saja jika pikirannya sedang tidak tenang.
Bulan di luaran sana bersinar temaram, malu-malu dalam menampakkan sinarnya. Awan yang menghitam telah menutupi permukaan bulan itu hingga setengah.
Morgan menatap bulan yang menggantung di atas sana. Pikirannya terpaku pada sesuatu hal yang lain. Melihat senyuman Lyla, membuat dia mengingat Renee, kekasihnya yang tidak tahu berada di mana kini.
Asap rokok mengepul dari bibir Morgan, entah sudah berapa kali hisapan, akhirnya setengah dari rokok tersebut dilemparkan ke lantai dan menginjaknya dengan sandal yang dia pakai hingga rokok tersebut padam.
Pikiran Morgan sudah tidak bisa dikendalikan lagi, akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya dan berusaha tidur.
...***...
__ADS_1
Suasana pagi ini di dalam rumah terlihat sangat sibuk sekali. Semua orang telah bergerak untuk melakukan tugasnya masing-masing. Lyla baru saja keluar dari dalam kamarnya, dia sudah lelah jika hanya berdiam diri saja, setidaknya dia ingin melakukan sedikit pekerjaan yang dia bisa dengan kondisi tangan yang seperti ini.
"Apakah aku bisa membantu?" tanya Lyla saat sampai di dapur.
"Sebaiknya Nona duduk saja, tangan Nona masih belum sembuh benar," ucap pelayan yang merupakan ibu dari Lian.
Lyla kecewa karena mendapatkan penolakan. "Setidaknya izinkan aku untuk membantu yang ringan-ringan saja, aku bosan hanya diam di kamar."
Sang asisten berpikir sebentar, sedikit ragu, tapi melihat binar pada mata Lyla membuat dia akhirnya menyerahkan tugas yang ringan kepada wanita itu.
"Bagaimana kalau Nona mengelap meja saja? Itu pekerjaan yang ringan dan tidak menggunakan tangan kiri," ucap wanita itu yang membuat Lyla tersenyum lebar. Akhirnya tugas membersihkan meja Lyla yang mengerjakan, dengan senang hati wanita itu menggerakkan tangannya untuk mengerjakan tugas tersebut.
Seorang laki-laki datang untuk mengecek keadaan. Dia melihat Lyla yang ada di sana dan kemudian mendekat pada gadis itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan tugas ini?" tanya laki-laki itu dengan dingin.
"Maafkan saya tuan—"
"Jangan salahkan orang lain, aku yang ingin membantu," ucap Lyla menghentikan gerakan tangannya.
"Oke tak apa, pastikan jika tanganmu baik-baik saja jika mengerjakan tugas yang lain." Akhirnya Gerald memilih untuk membiarkan Lyla melakukan apa yang dia mau. Teringat dengan kejadian semalam, tak nyaman melihat Lyla dengan wajah marahnya.
Sarapan telah selesai disajikan, sandwich yang lezat telah ada di hadapan Morgan dan Gerald. Akan tetapi, laki-laki itu hanya menatap makanannya dengan tidak berminat sama sekali. Dia hanya memperhatikan gadis yang ada di dapur tengah membantu mencuci piring.
"Apa kau tidak akan makan pagi ini?" tanya Gerald mengalihkan tatapan Morgan dari punggung gadis itu. Dia hanya duduk diam dan tidak mengangkat garpu dan pisaunya sama sekali.
"Aku ingin meminum kopi saja," ucap laki-laki itu lalu menyibukkan diri dengan benda pipih miliknya.
Gerald berseru kepada seseorang dan meminta membuatkan kopi hitam untuk Morgan. Akan tetapi, beberapa saat kemudian yang datang bukanlah kopi hitam yang Gerald pesan. Kening Morgan mengerut melihat air berwarna putih yang ada di dalam cangkirnya tersebut.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Morgan kepada Lyla yang memberikan segelas susu kepadanya.
"Seperti yang kau lihat itu adalah susu," tunjuk Lyla pada gelas yang ada di atas meja.
"Aku tidak minum susu. Yang aku minta adalah kopi," ucap Morgan menatap Lyla dengan tajam.
Tanpa takut Lyla menatap balik Morgan tepat pada matanya.
"Lebih baik hindari minum kopi apalagi saat pagi hari. Apa kau tidak tahu penyakit lambung bisa kambuh lagi jika kau tidak menjaga pola makan?" ucap Lila Dengan beraninya.
"Apa urusanmu jika aku tidak menjaga pola makanku?" tatap Morgan dengan tak suka. Tidak ada yang berani mengaturnya seperti itu, termasuk gadis ini.
Lyla menghela napas mendengar ucapan dari laki-laki ini, sangat keras kepala dan juga tidak bisa diberitahu sama sekali.
"Terserah, tidak akan ada yang membuatkan kopi untukmu, karena aku sudah membuangnya," ucap Lyla menunjuk ke arah lain, kemudian pergi dari hadapan Morgan.
Morgan menatap tak suka, lalu mengalihkan pandangannya pada pelayan yang lain. Tampak ibu Lyla sedang membereskan toples berisi kopi mahalnya yang dia dapatkan dari luar negeri, kini hanya tersisa sedikit.
Morgan berdecak kesal melihat benda itu dibawa ke tempat lain.
Gadis ini benar-benar ....
Tak bisa bicara lagi, Morgan mengusap wajahnya dengan kasar dan kemudian meminum susu tersebut dengan satu kali tarikan napas hingga habis.
Suara gelas beradu dengan cukup keras saat Morgan simpan di atas meja kaca, lalu dia pergi dengan membawa tas kerjanya.
Di meja makan, Gerald hanya menghela napasnya dengan kasar, melirik ke arah Lyla yang kini tertawa puas di depan wastafel sambil mencuci toples bekas kopi.
"Astaga. Hari ini aku harus kuat menghadapi Mr. Arogant itu," gumam Gerald, lalu menyusul Morgan keluar dari rumah itu.
__ADS_1