
Morgan sedang kesal karena pertemuan barusan ternyata membuatnya terlambat, terlalu banyak pembahasan yang bertele-tele membuatnya terlambat untuk menjemput Lyla.
"Biar aku yang akan menjemputnya," ucap Gerald menawarkan diri saat Morgan bergegas memakai jasnya. Pekerjaan masih menumpuk sangat banyak dan harus Morgan selesaikan.
"Tidak, aku yang akan pergi. Bawa saja pekerjaan ini ke rumah nanti," ucap laki-laki itu kemudian pergi dari hadapan Gerald.
"Hah, dasar laki-laki itu. Sedang senang dengan sesuatu, seperti anak kecil saja!" ucap Gerald sambil membereskan meja Morgan yang sedikit berantakan.
Gerald tak sengaja menyenggol pigura yang ada di atas meja sehingga terbalik, dia mengambilnya untuk disimpan dengan benar seperti semula. Akan tetapi, terhenti dan tersenyum saat melihat apa yang ada di sana sudah bukan gambar yang dulu.
"Kau sudah move on dari dia?" gumam Gerald sambil tersenyum puas.
...***...
Morgan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dia merasa bersalah karena di jam sekarang masih berada di jalanan.
"Apa dia akan menungguku? Dia pasti sudah menunggu lama. Oh, sial! Seharusnya tadi aku hentikan setengah jam lebih cepat," ucap Morgan dengan kesal.
...***...
"Mana kakakmu? Apakah dia akan benar datang?" tanya Markian saat mereka sudah menunggu selama tiga puluh menit lamanya.
"Entahlah, dia bilang akan datang menjemputku."
Markian melihat jam yang ada di tangannya. "Ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Apa tidak ada sopir yang akan menjemputmu?"
Lyla menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, tapi tadi Tuan Morgan menyuruhku untuk menunggunya di sini sampai dia datang."
"Tuan? Kau memanggil kakakmu tuan?" tanya Markian dengan bingung, bukan hanya sekali ini dia mendengarnya, tapi tadi pagi juga.
Lyla terkejut, dia salah bicara. "Eh, kakak. Aku sering bercanda dengan memanggilnya seperti itu," ucap Lyla sambil tertawa menutupi kesalahannya.
"Oh! Ya. Itu juga sering terjadi padaku dan saudaraku, haha."
Suara panggilan terdengar dari ponsel milik Markian, tapi setelah melihat nama yang ada di sana dia mengabaikannya.
"Dari seseorang?" tanya Lyla.
"Ya."
"Kau pergi saja jika ada perlu, biar aku akan menunggu di sini."
"Tidak. Aku sudah janji pada kakakmu untuk menjagamu di sini."
"Kau tidak perlu seperti itu, Tuan Lenon. Kau juga punya keperluan, jangan menjadikan aku sebagai bebanmu," ucap Lyla dengan tidak enak hati.
"Beban? Tidak, kau bukan beban. Kau seperti adik bagiku." Ucapan Markian membuat Lyla menjadi senang.
Tak lama setelah itu mobil Morgan terlihat berhenti di depan gerbang besar, dia segera berlari masuk ke dalam sana dan menemukan Lyla yang tengah duduk bersama dengan Markian.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Morgan di tengah-tengah tarikan napasnya yang sedikit tersengal.
"Kakak."
"Maaf, aku terlambat."
Lyla tersenyum karena kali ini mendengar Morgan yang mengucapkan maaf tanpa dia suruh sama sekali. "Tidak apa-apa, aku hanya menunggu tiga puluh menit saja. Itu tidak lama," ucap Lyla.
"Oh, itu lama bagiku. Kita pulang sekarang?" tanya Morgan, Lyla menganggukkan kepala dan berpamitan pada Markian.
__ADS_1
"Terima kasih karena kau telah menemaniku Tuan Markian," ucap Lyla tersenyum dengan ramah.
"Ya, tentu saja aku sangat senang sekali bisa duduk berdua denganmu," ucap Markian balas tersenyum. Morgan melihat dua orang itu saling tersenyum dan merasa kesal.
"Apakah sudah pamitannya? Kita harus pulang sekarang sebelum jalanan menjadi macet," ucap Morgan seraya menarik tangan Lyla.
"Tuan Lenon, aku ucapkan terima kasih karena sudah menemani adikku hingga aku datang," ucap Morgan.
"Iya tentu saja, Tuan Castanov. Tidak masalah dengan hal itu. Baik-baiklah kalian di jalan." Markian melambaikan tangannya.
"Ayo cepat kita pulang." Morgan menarik tangan Lyla hingga mereka keluar dari area universitas tersebut.
"Apa saja yang kau bicarakan dengan dia?" tanya Morgan saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.
"Kami hanya membicarakan tentang pelajaran saja."
"Benarkah?"
"Iya, tentu saja seperti itu. Memangnya apa lagi yang bisa kami bicarakan?"
"Tidak ada pembahasan yang lain?" tanya Morgan tidak percaya.
"Pembahasan apa?"
"Entahlah hanya kalian yang tahu."
Lyla menatap Morgan dengan tatapan yang aneh. "Tuan, kau ini sangat aneh sekali. Apa kau cemburu aku dengan dia?" tanya Lyla sambil tersenyum kecil. Morgan terhenyak dan menegakkan tubuhnya.
"Tidak. Siapa juga yang cemburu? Aku hanya tidak ingin dia meracuni pikiranmu saja dan kata-kata yang tidak baik," ucap Morgan mengelak.
"Oh. Anda tenang saja Tuan, kami tidak membicarakan yang aneh-aneh," tegas Lyla.
Mobil yang mereka kendarai melaju di jalanan yang dingin. Salju dari tadi turun sepertinya tidak akan berhenti sampai malam nanti.
"Ya, lumayan."
"Kalau begitu untuk besok aku akan pulang sendiri saja. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu," ucap Lyla merasa bersalah.
"Aku tidak terlalu sibuk. Aku masih bisa menyelesaikannya nanti malam."
"Tapi rasanya aku tidak enak hati membuatmu pulang pergi mengantarku."
"Sudah aku bilang aku tidak sibuk!" bentak Morgan sedikit membuat Lyla ini terdiam. Sadar dengan diamnya wanita itu membuat Morgan merasa tidak enak hati. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku tidak merasa keberatan untuk mengantar jemputmu. Jangan kau merasa tidak enak hati," mengucap Morgan kali ini dengan lemah lembut.
"Ya, tidak apa-apa. Tapi alangkah baiknya aku akan pergi sendiri saja besok. Bukan aku tidak menghargai kau ingin mengantarku pulang pergi ke universitas, tapi rasanya aku harus mandiri juga. Tidak mungkin aku selalu bergantung denganmu, Tuan," ucap Lyla merendahkan nada suaranya.
Morgan melirik ke arah Lyla, dia tidak suka wanita itu berkata demikian.
"Kau boleh mengantarku sesekali," tambah Lyla saat tidak mendengar suara Morgan.
"Kalau begitu kau pergi dengan sopir. Aku akan memerintahkan seseorang untuk mengantarkanmu."
"Tapi—"
"Tidak ada bantahan!" ucap Morgan memotong perkataan Lyla.
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas semua bantuanmu."
Kini mereka terdiam kembali hingga sampai di rumah.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu sebelum nanti malam kau akan belajar denganku," ucap Morgan saat Lyla hendak turun dari mobil.
"Eh, apa nanti malam kalau tidak sibuk?" tanya Lyla.
"Aku bisa jika sekedar dua jam untuk mengajarimu. Kau harus ingat, aku menuntut nilaimu yang terbaik," ucap Morgan.
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih karena kau telah mengantarku pulang."
"Ya, tentu saja."
Lyla keluar dari mobil tersebut dan menatap kepergian Morgan dari hadapannya, kemudian masuk ke rumah.
"Selamat sore, Nona. Kau sudah kembali dari universitas? Bagaimana hari pertamamu? Apakah di sana menyenangkan?" tanya ibu Lian saat Lyla baru saja terlihat olehnya.
Lyla tersenyum senang dan sedikit berlari mendekati wanita itu. "Ya tentu saja aku senang, Bu. Meskipun aku sedikit sulit dalam pelajaran, tapi aku senang," ucap Lyla.
"Oh, syukurlah aku sangat senang sekali mendengarnya. Kudengar suara tuan muda tadi, apa dia yang menjemputmu pulang?"
"Iya, dia yang menjemputku."
Ibu Lian terdiam sejenak, tidak biasanya tuan muda peduli akan wanita, kecuali kekasihnya dulu.
"Ada apa?" tanya Lyla yang melihat ibu Lian hanya diam.
"Tidak apa-apa. Ya sudah, segeralah membersihkan diri dan beristirahat, aku akan membawakan cemilan ke atas," ucap wanita tersebut seraya mengusap lengan Lyla.
"Ah, tidak perlu kau mengantarkan cemilan untukku. Aku yang akan turun nanti untuk menikmatinya di sini. Terima kasih, Bu. Aku ke atas dulu," ucap Lyla kemudian melarikan dirinya ke arah tangga.
Seorang asisten yang tengah membersihkan lantai menatap sinis kepada Lyla, dia merasa iri dengan hidup wanita itu. Meski waktu kemarin hidupnya sangat menyedihkan karena menjadi korban dari Tuan Morgan, tapi sekarang wanita itu sangat beruntung. Hidup enak dan juga di sekolahkan kembali, sedangkan dirinya yang sudah bekerja di sini selama hampir lima tahun masih tetap saja dianggap sebagai asisten di sana.
...***...
Di kantor, Gerald tengah duduk menggantikan Morgan. Dia merasa kesal setiap kali Morgan meninggalkan pekerjaan yang banyak untuknya.
"Seharusnya dia memakai sopir saja untuk mengantar jemput Lyla. Apakah dia tidak tahu jika pekerjaan ini sangat banyak? Bisa-bisa kepalaku botak menghadapi sifatnya yang suka seenaknya seperti itu," ucap Gerald dengan kesal.
Tidak lama pintu terbuka dan Morgan masuk ke dalam sana dengan senyuman yang lebar di bibirnya. Dia berjalan dengan sangat ringan sekali mendekat ke arah Gerald.
"Hai sepupuku, bagaimana kabarmu sore ini? Apakah semua pekerjaan sudah kau selesaikan?" tanya Morgan dengan tanpa ada perasaan bersalah sama sekali. Gerald melirik dengan tatapan sinis kepada Morgan. Rasanya ingin sekali menjejalkan semua kertas-kertas itu pada mulut sepupunya ini.
"Tidak bisakah kau fokus dengan pekerjaanmu? Aku juga banyak pekerjaan di sini," ucap Gerald.
Melihat wajah kesal sepupunya itu membuat Morgan menjadi gemas dan menjepit pipi Gerald dengan jemarinya. "Kenapa kau merajuk seperti itu? Kau sangat menggemaskan. Ya sudah, pergilah sana. Mulai saat ini aku akan menggantikanmu. Pulanglah lebih cepat dan hubungi kekasihmu. Ajak dia kencan," usir Morgan dengan menggerakkan tangannya.
"Kau tahu aku tidak punya pacar."
"Kau tidak punya pacar? Benarkah itu?" tanya Morgan heran.
Gerald memutar bola matanya malas. "Bagaimana aku akan mencari pacar jika kau saja masih harus aku urus." Laki-laki itu semakin kesal. Dia menatap Morgan heran dan berpikir apakah mungkin jika sepupunya ini kerasukan arwah seorang wanita sehingga bisa berbicara aneh seperti itu.
"Oh, begitu rupanya. Kasihan sekali kau. Mulai besok kau bisa bebas dariku, carilah pacar agar kau tidak cemburu terus seperti itu. Kau sungguh jelek dengan wajah itu, Tuan," ucap Morgan sekali lagi.
Gerald tidak mau kepalanya bertambah pusing dengan mendengar ocehan yang tidak jelas dari Morgan, dia memilih berdiri dan menyerahkan semua pekerjaan itu ke tangan Morgan.
"Kau membuat kepalaku pusing," ucapnya kemudian pergi dari sana.
"Ingat untuk meminum obat dan beristirahatlah dengan baik!" seru Morgan sebelum Gerald membuka pintu.
Gerald sudah menutup kembali pintu itu, dia menggelengkan kepalanya dan berpikir jika Morgan telah menjadi gila semenjak adanya Lyla di rumah.
__ADS_1
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya sekretaris tersebut kepada Gerald saat melihat laki-laki itu menggelengkan kepalanya tadi.
"Aku baik. Bosmu yang sedang tidak baik," ucap Gerald sambil menunjuk ke dalam ruangan Morgan.