
Kedua orang itu kini telah sampai di restoran yang Margaret maksudkan. Dia sangat senang sekali dan menjadi tempat tidur serta memesankan makanan yang paling enak untuk Morgan.
"Ini adalah makanan kesukaanmu, kata orang makanan di sini lumayan enak," ucap Margaret menyodorkan steak lada hitam ke hadapan Morgan.
"Benarkah aku suka ini?"
"Ya tentu saja. Kita selalu makan ini jika kita keluar bersama. Ya ampun kenapa kau melupakan banyak hal? Aku sangat sedih sekali mendengarnya. Kau ingat tidak apa yang kita lakukan dulu?" Tanya Margaret melirik ke arah Morgan. Morgan menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu sama sekali apa yang dulu dia lakukan bersama dengan wanita ini. Bahkan dia tidak bisa mengingat wanita ini siapa.
"Ya ampun. Baiklah kalau begitu aku akan sering-sering bertemu denganmu siapa tahu kau bisa cepat pulih dan mengingatku kembali. Sewaktu kecil kita sering bermain bersama, aku datang ke rumahmu atau kau ingin ke rumahku."
"Benarkah itu?" Tanya Morgan mulai tertarik dengan cerita Margaret barusan.
"Iya tentu saja benar. Aku adalah adik dari temanmu, Josh, kau ingat tidak?" Tanya Margaret yang tentu saja mendapatkan gelengan kepala dari Morgan.
"Dia sekarang berada di luar negeri dan belum bisa kembali ke sini. Dia juga mengatakan sangat menyesal karena tidak bisa menjengukmu. Kau tidak marah kan kepadanya?"
"Tentu saja aku tidak marah. Semua orang memiliki kesibukannya tersendiri," ucap Morgan memaklumi, hal ini membuat Margareth semakin senang dan kagum akan Morgan yang telah berubah seperti ini. Lebih bagus aja jika dia kehilangan ingatan untuk selamanya mungkin saja yang akan dia ingat adalah Margareth yang baik, dan bukan wanita yang dia tinggalkan di jalanan dulu.
"Banyak sekali hal yang sangat menyenangkan yang terjadi di antara kita bertiga, kau adalah teman kakakku yang paling baik berbeda dengan yang lainnya yang selalu menggangguku. Sedangkan kau adalah laki-laki yang sering membela dan menolongku."
"Benarkah?"
Margaret mengganggukan kepalanya seraya memotong makanan miliknya, begitu juga Morgan melakukan hal yang sama dengan makanannya dan kemudian memakannya dengan perlahan.
"Bagaimana makanannya? Kau menyukainya tidak?" Tanya Margaret pada laki-laki itu.
"Ya aku cukup menyukainya. Lanjutkan ceritamu aku ingin tahu." Morgan meminta kepada Margaret, dari sana mengalirlah cerita masa kecil mereka yang sangat indah menurut Morgan. Di dalam cerita tersebut Margaret menambahkan bumbu-bumbu manis yang terjadi di antara mereka berdua, dia juga mengatakan jika Morgan pernah menyatakan cinta kepadanya. Margaret manten menceritakan itu sambil malu-malu.
"Kau adalah pria yang menyatakan cinta pertama kalinya padaku," ucap Margaret, dia melirik ke arah Morgan dan berharap jika laki-laki itu percaya kepadanya.
"Kau bilang aku ini cantik, kau suka denganku karena aku manja. Dan kau suka denganku karena aku juga sangat menurut padamu," ucap Margaret memutarbalikkan fakta.
"Lalu apakah kita menjalin hubungan setelah itu?" Tanya Morgan semakin penasaran. Margaret mengganggukan kepalanya sambil tersenyum, tapi kemudian dia meluluhkan senyumnya itu dan memperlihatkan wajah sedihnya.
"Tapi hubungan kita kandas setelah ada seseorang yang iri pada hubungan kita berdua. Hubungan yang manis itu anda sekarang bagaimana kabarnya, kau semakin menjauh karena wanita itu."
"Wanita yang mana?" Tanya Morgan ingin tahu.
"Ada seorang wanita yang tidak tahu diri datang dan menghancurkan hubungan kita, semenjak itu kita menjadi renggang dan aku sedikit sulit untuk menggapaimu lagi. Dia selalu ingin bersama denganmu."
"Lalu aku bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Morgan kembali.
"Aku tidak tahu magic apa yang dia berikan padamu sampai kau sangat tunduk kepadanya, aku melihatmu seperti budaknya saja. Aku pikir kau mencintai dia, tapi saat aku bertanya padamu sebelum kecelakaan itu kau terpaksa dengannya. Aku sedih mendengar hal itu karena pada hakekatnya kau masih milikku dan aku masih mencintaimu. Tidak pernah ada kata putus di antara kita berdua," ucap Margaret dengan nada sedih.
"Siapa wanita itu?" Margaret menggelengkan kepalanya, dia menyimpan garpu dan pisau di atas piring, kedua bahunya meluruh ke bawah dengan sorot mata yang menyedihkan.
"Aku tidak terlalu kenal dengan wanita itu, karena dia adalah wanita yang sangat sombong padahal semua yang dia punya adalah milikmu. Dia menggunakan semua hartamu untuk menyambungkan diri kepada teman-temannya. Yang aku tahu dia adalah wanita yang jahat karena sudah mengambil kau dari ku."
Morgan terenyuh mendengar ucapan dari Margaret, apalagi melihat surat matanya yang sedih seperti itu.
"Dan kemana wanita itu sekarang?" Tanya Morgan kepadanya. Margaret menggilingkan kepala.
"Aku dengar kau kecelakaan karena memikirkan wanita itu. Kalau dijebak bersama dengan wanita lainnya dan dia menyuruh wanita itu untuk membunuhmu. Dia wanita yang jahat karena ingin menguasai harta kekayaanmu Morgan," tambah Margaret, dia melirik ke arah wajah Morgan yang kini hanya terdiam tanpa mengunyah makanannya. Dia berharap melakukan percaya dengan kata-katanya. Sementara itu dalam pikiran Morgan dia menarik kesimpulan jika memang benar dirinya ternyata ada yang ingin berbuat jahat kepadanya.
Makan siang kali itu mereka melalui hingga hampir 1 jam lamanya. Margaret merasa senang sekali karena bisa makan siang bersama dengan Morgan. Kapan lagi dia bisa melakukan hal itu karena sebelum Morgan kehilangan ingatan dia sama sekali tidak mau meliriknya.
"Terima kasih karena kau telah mengajakku untuk makan siang," hujan Morgan saat Margaret kembali membawanya ke kantor.
"Justru aku yang ini berterima kasih kepadamu karena kau telah mau menemaniku makan siang di sana, aku sangat senang sekali hari ini," ucap margarin sambil tersenyum dengan manis kepada laki-laki itu. Morgan terkesima dengan senyuman yang diberikan oleh Margaret. Tampak wanita itu terlihat tulus kepadanya, dan dia merasa heran dengan apa yang dia pikirkan dulu karena menghianati wanita sebaik ini.
"Lain kali biar aku yang akan mentraktirmu, kau carilah tempat untuk kita makan malam lain kali."
Margaret merasa senang dengan ucapan Morgan kali ini. Dia tidak menyangka jika makan siang hari ini akan digantikan dengan makan malam di lain hari . Hal apa lagi yang membuatnya sangat merasa senang sekali jika tidak bersama dengan Morgan,
"Baiklah aku terima tawaranmu, tapi kau tidak akan ingkar janji bukan? Aku akan menunggumu," ucap Margareth dengan senang hati dia menetap Morgan yang semakin lama semakin tampan saja . Meskipun kali ini dia memiliki bekas luka pada pipinya tapi Margaret tidak merasa keberatan dengan itu.
"Tentu saja aku tidak akan ingkar janji, kau bisa menagihnya sewaktu-waktu jika aku mengingkarinya," ujar Morgan. Margaret mengganggukan kepalanya senang dan dia melompat bak anak kecil saja, membuat Morgan merasa geli dengan tingkah wanita muda ini. Dia sangat menggemaskan menurut Morgan.
"Baiklah kalau begitu aku akan pulang dulu. Aku pasti akan menagihnya agar kau tidak lupa," ucapnya.
Morgan melepaskan kepergian Margaret dengan tersenyum senang. "Wanita yang menarik," gumam laki-laki itu pelan sambil tersenyum.
***
Sementara di tempat lain, Lyla masih mencari-cari keberadaan orang tuanya. Gerald sudah mencarikan info di mana kira-kira keluarga Lyla berada selama ini, dan dia berhasil menemukan salah satunya di negara X. Dengan berbekal itulah dan juga sketsa wajah yang diberikan oleh Gerald dan juga data-data yang dia dapatkan Lyla nekat pergi untuk menemukan keluarganya itu. Dia ingin tahu mengapa dirinya dibuang atau dititipkan ke panti asuhan di mana selama ini dia dibesarkan dari semenjak bayi hingga sekarang.
Gerald memperkenalkan Lyla pada seseorang di negara tersebut, selama berada di negara itu dia tinggal dengan Evelyn Brown, seseorang yang dipercaya oleh Gerard untuk membantu menemukan keluarga Lyla. Lyla merasa sangat senang sekali karena Gerald dan juga Evelyn bersedia untuk membantunya mencari keluarganya tersebut.
Hari ini Lyla bersama dengan Evelyn pergi ke sebuah rumah salah seorang yang mereka duga sebagai kerabat dari orang tua Lyla. Hati Lyla merasa berdebar karena akhirnya dia akan bertemu dengan saudaranya, semoga saja itu adalah alamat yang benar. Dia merasa tidak sabar sekali dan ingin segera bertemu dengan orang tuanya. Informasi yang Gerald temukan bahwa orang tuanya masih hidup, tapi dia tidak tahu di mana pastinya orang tua Lyla berada. Akan tetapi meskipun begitu laki-laki itu juga tidak lepas tanggung jawab begitu saja, meskipun dia jauh dia masih membantu Lyla untuk menemukan kedua orang tuanya.
"Apa kau yakin ini adalah rumahnya?" Tanya Lyla kepada Evelyn.
"Menurut alamat yang tertera di sini aku yakin ini adalah rumahnya. Kita tidak akan tahu jika tidak bertanya. Ayo kita masuk," ucap Evelyn mengajak Lila untuk masuk ke halaman rumah itu.
Lyla tanpa ragu, tapi dia mengikuti langkah kaki Evelin mulai memasuki ke halaman rumah tersebut. Di luar dia melihat taman yang sangat luas di rumah itu, banyak bunga-bunga dan juga ada kolam air mancur di kedua sisi jalanan rumah tersebut. Sayang sepertinya rumah itu seperti tidak terawat, banyak rumput liar yang tumbuh di halaman rumah, juga dengan penampakan rumah tersebut yang tampak kusam dengan catnya yang sudah pudar.
"Evelyn aku taku."
Evelyn tidak menggubris ucapan Lyla, dia mendahului masuk ke dalam pekarangan rumah itu dan menekan belnya, tidak berapa lama dari dalam rumah terdengar langkah kaki dan kemudian pintu itu terbuka. Tampak dari dalam sana seorang pria paruh baya melongkan kepalanya tanpa membuka pintu itu lebar-lebar.
"Siapa yang kalian cari? Ada apa kalian kemari?" Tanya laki-laki tersebut menatap Evelin dan Lyla bergantian.
"Aku Evelyn Brown, bisakah kita berbicara sebentar tuan?" Tanya Evelyn memberanikan diri berbicara dengan laki-laki asing itu.
"Untuk apa? Ada urusan apa kalian kemari?" Laki-laki itu tampak bersiaga seperti tengah ketakutan.
"Kami hanya ingin bertanya sesuatu kepada anda. Bisakah anda keluar sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan dan ini adalah hal yang penting untuk Nona ini," tunjuk Evelyn kepada Lyla.
Laki-laki tua itu menatap Lyla dari atas hingga ke bawah dan juga sebaliknya. Dia terdiam sejenak seperti tengah memikirkan sesuatu, kemudian matanya membelalak seakan dia melihat sesuatu hal yang menyeramkan pada diri Lyla.
__ADS_1
Tiba-tiba saja laki-laki itu membukakan pintunya lebar dan menyuruh kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Cepatlah kalian masuk sebelum ada yang melihat," ucap laki-laki itu sambil menatap ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang tampak ketakutan. Lyla dan Evelyn merasa bingung dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Entah dia ketakutan karena hal apa, tapi mereka menurut saja masuk ke dalam rumah itu.
"Ada hal apa yang membawa kalian kemari?" Tanya laki-laki itu lagi setelah Lyla dan Evelyn mendudukkan dirinya di kursi yang sudah usang. Di dalam rumah tersebut semua perabotan yang ada di sana juga sudah tidak terawat, terlihat kuno dan sebagian sudah rusak. Ini lebih mirip seperti rumah hantu daripada rumah hunian.
"Apa anda kenal dengan keluarga Gregory?" Tanya Evelyn tanpa basa-basi. Laki-laki tua itu terdiam hanya menatap lantai, tapi kakinya bergerak menguntung-utuk lantai kayu itu sehingga menciptakan suara yang berisi di ruangan hening tersebut.
"Untuk apa kalian menanyakan keluarga itu?" Tanya laki-laki tersebut sekali lagi. Dari nada suaranya terlihat dia ketakutan. Lyla dan Evelyn saling berpandangan dan saling bertanya lewat tatapan mereka.
"Kami hanya ingin tahu saja keberadaan keluarga itu. Apa anda tahu di mana mereka tinggal?"
Laki-laki itu hanya diam.
"Atau mungkin anda tahu info terakhir yang Anda dengar dari mereka?" Tanya Evelyn sekali lagi.
Dia masih saja diam terlihat semakin gelisah.
"Aku mohon Tuan jika anda tahu tentang keluarga itu tolong beritahu aku. Aku sedang mencari orang tuaku, ada info yang mengatakan jika mereka adalah keluargaku. Aku sudah terpisah dengan mereka semenjak bayi, jika anda mengetahui infonya tolong beritahu aku," ucap Lyla tiba-tiba saja ingin menangis. Biarkan saja jika orang lain menganggapnya cengeng, tapi dia memang sudah ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Paling tidak jika pun mereka sudah tiada dia ingin bertandang ke pusaranya.
"Lebih baik kalian menghindari keluarga itu."
"Kenapa?"
"Karena mereka orang-orang yang tidak baik," ucap pria tersebut yang membuat Lyla dan Evelyn tidak percaya.
"Apakah anda yakin mereka orang yang seperti itu?"
"Aku sangat kenal sekali dengan mereka, tapi itu dulu. Itu sebabnya ibumu membawamu ke panti asuhan agar kau tetap aman," jawab pria tersebut yang menjawabnya semakin gelisah.
"Apa yang membuatku tidak aman? Apakah ada orang lain yang ingin mencelakaiku? Bagaimana dengan kedua orang tuaku dan keluargaku? Di mana mereka dan apa kabarnya mereka sekarang?" Lila bertanya dengan beruntun. Akan tetapi, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana kabar mereka sekarang ini, karena aku sudah lama tidak berhubungan dengan mereka."
Lyla dan Evelyn merasa lesu mendengar penuturan dari laki-laki tersebut, mereka kecewa karena mengira mereka akan bertemu dengan keluarga itu
.
"Setidaknya beritahu aku di mana keberadaan mereka sekarang," tanya Lila.
"Aku benar-benar tidak tahu di mana keberadaan mereka."
"Aku mohon beritahu aku" Lila kini menangis karena dia sudah hampir putus asa. Siapa lagi yang akan memberitahunya keberadaan keluarganya tersebut . Dia benar-benar sudah ingin bersama dengan mereka.
"Setidaknya kau memiliki foto mereka?" Tanya Lila dengan penuh harap, dia ingin melihat foto kedua orang tuanya. Lagi-lagi pria itu menggelengkan kepala.
"Aku tidak memilikinya. Mereka tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat, tapi justru karena itu yang membuat mereka ditakuti karena mereka adalah keluarga yang sangat kejam. Bahkan ada bagian dari keluarga itu yang dibantai oleh masyarakat karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap mereka yang selalu semena-mena kepada orang lain. Itulah sebabnya Mereka memiliki banyak musuh di mana-mana," ucap laki-laki itu. Lila tidak menyangka dengan apa yang dia dengar barusan, dia sedikit tidak percaya dengan cerita laki-laki tersebut.
"Aku harap anda berbohong."
"Aku tidak berbohong aku mengatakan faktanya. Kok bisa bertanya kepada masyarakat sekitar mengenai keluarga tersebut. Dan kau bisa mengatakan aku berbohong jika kau sudah mendengarnya dari orang lain."
.
"Lebih baik kalian cepat pergi dari kota ini, aku takut keberadaan kalian diincar oleh orang lain" peringatnya.
"Memangnya apa yang membuat mereka bisa mengincar kami?" Evelyn bertanya dengan penasaran.
Tiba-tiba saja laki-laki itu menunjuk ke arah Lila. "Itu karena dia. " Hal itu membuat lila dan juga Evelyn merasa bingung.
"Kenapa dengan dia?" Tanya Evelyn.
"Karena dia terlalu mirip dengan ibunya. Kalian harus selalu waspada atau cobalah kau memakai topeng yang lain, aku hanya memperingatkan kalian, jika kalian tidak mau pergi dari kota ini maka kalian harus bisa menerima yang akan terjadi nanti," ucap laki-laki itu.
Lyla Dan Evelyn saling. berpandangan satu sama lain, mereka tidak percaya, tapi juga harus tetap waspada dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki ini.
"Jadi apa anda tahu di mana tempat tinggal keluarganya?" Tanya evely mendesak Pak tua tersebut.
"Lebih baik kalian pulang saja ke negara kalian . Di sini tidak aman," ucapnya.
Lyla Dan juga Evelyn pergi dari rumah tersebut tanpa mendapatkan informasi yang lainnya. Mereka merasa kecewa karena informasi yang didapatkan tidak seperti yang mereka harapkan. Akan tetapi, mereka tidak akan menyerah begitu saja. Pasti akan ada masanya Lila bisa bertemu dengan keluarganya.
"Kau tenang saja, aku pasti akan menemanimu sampai kita menemukan keluargamu."
Lyla tersenyum senang akan kesediaan dari Evelyn. Dia hanya bisa berharap kepada wanita ini agar bisa segera bertemu dengan keluarganya.
Mobil yang mereka kendarai kini masuk ke halaman rumah Evelyn. Akan tetapi mereka merasa aneh karena pintu rumah Evelyn sudah terbuka, Padahal sebelum mereka berangkat tadi mereka yakin sekali jika pintu itu sudah dikunci.
Mereka berdua masuk dengan hati-hati dan berjaga-jaga serta dengan stik baseball di tangan, Evelyn dan Lila tidak tahu siapa yang telah masuk ke dalam rumah mereka. Bisa jadi itu adalah pencuri yang masuk dan mengacak-ngacak serta mencari barang berharga. Akan tetapi, mereka tidak menemukan sesuatu yang hilang . TV dan juga perhiasan yang Evelyn cari di kamar masih utuh.
"Astaga apa yang terjadi? Apa yang mereka cari?" Gumam Lila merasa takut. Dia menatap Evelyn yang masih mencari-cari keberadaan orang yang mungkin saja masih berada di rumah ini, tapi setelah mereka mencarinya berdua tidak ada siapapun di sini. Mereka masuk dengan membobol pintu depan dan tidak mengambil barang-barang apapun yang berharga di sana.
"Kau yakin ini adalah ulah mereka?" Tanya Lila kepada Evelyn yang kini mulai membereskan barang-barangnya ke tempat semula.
"Aku tidak tahu pasti. Semoga saja ini bukan seperti yang laki-laki itu katakan," ucap Evelyn dengan penuh harap.
Jika benar seperti keterangan yang pria tua itu katakan, mungkin saja memang benar jika keluarga Lyla adalah keluarga yang berbahaya. Lalu apa sebab mereka melakukan ini? Apakah mereka tidak ingin Lyla la mengetahui keberadaan keluarganya? Apa motif mereka?
Evelyn berpikir seraya membereskan barang-barang ke tempatnya kembali, Lila juga membantu membereskan semuanya. Dia menjadi tidak enak hati terhadap Evelyn jika memang benar orang-orang suruhan dari keluarganya yang melakukan hal ini.
"Eve, aku ingin bertanya padamu. Jika memang benar mereka melakukan ini apakah mungkin keluargaku dari orang yang berada?" Tanya Lila kepada Evelyn. Evelyn terdiam dan kemudian duduk di sofa.
"Aku pikir seperti itu, tapi entahlah jika mungkin mereka memang orang biasa sepertinya tidak akan melakukan hal yang seperti ini," jawab Evelyn.
Lila menjadi lesu dan juga sedikit takut dengan keberadaannya di sini. Bukankah jika mereka orang-orang yang berbahaya juga akan dampak buruk kepada Evelin? Bisa saja mereka menyakiti wanita ini juga.
"Eve, apakah sebaiknya kembali saja ke tempat asalku?" Tanya lila Dengan nada suara yang rendah.
"Kau mau menyerah? Ku ingin membuat semua orang yang telah membantumu sampai sejauh ini menjadi kecewa?" Tanya Evelyn menatap Lyla Dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, aku hanya takut terjadi sesuatu padamu."
Evelyn tersenyum kepada Lila. "Kita masih belum tahu apakah yang dikatakan laki-laki itu benar atau tidak, lalu kau menyerah begitu saja? Bagaimana jika memang keluargamu sedang menunggumu?" Tanya wanita itu yang membuat lelah menjadi menghangat.
"Jika mereka juga mencariku lalu kemana mereka selama ini? Sudah 20 tahun lebih aku tidak ada seharusnya mereka sudah mencari kemana-mana bukan?" Tanya lila Dengan yakin.
"Mungkin saja mereka sedang mencarimu sekarang ini, ayolah jangan menyerah sayang. Kita pasti akan bisa menemukannya. Dan aku tidak mau kau menyerah sebelum menemukan mereka," ujar Evelyn.
Lila akhirnya menganggukkan kepalanya. Untuk saat ini dia akan mengikuti kata kata Evelyn.
***
Gerald baru saja masuk ke dalam ruangan Morgan. Dia melihat laki-laki itu sudah kembali dari luar.
"Ke mana kau tadi? Aku mencarimu kemana-mana dan kau tidak mengangkat panggilan teleponku." Gerald berkata dengan nada yang marah, dia sangat khawatir sekali dengan tidak adanya Morgan di ruangan tersebut.
Morgan melihat hp-nya yang ternyata tidak menyala. "Baterai hp-ku habis," ucap Morgan sambil memperlihatkan ponsel miliknya pada Gerald.
Gerald menggelengkan kepalanya dengan tidak habis pikir kepada laki-laki ini, apakah dia tidak tahu jika dirinya dikhawatirkan oleh orang lain?
"Lalu kau pergi ke mana? Kau pergi dengan siapa?" Tanya Gerald ingin tahu.
"Aku pergi dengan seorang wanita".
"Wanita siapa?" Gerald bertanya sekali lagi. Dia tidak habis pikir dengan Morgan padahal laki-laki ini baru saja keluar dari rumah sakit dengan keadaan hilang ingatan, tapi dia masih ingat saja dengan wanita.
"Seingatku tadi dia menyebutkan namanya Margaret," jawab Morgan.
"Margaret siapa?"
Morgan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bertanya dia dari keluarga mana, tapi dia bilang adik dari teman baikku juga. Josh namanya," terang Morgan memberitahu kepada Gerald.
Gerald terkejut dengan keterangan yang Morgan berikan kepadanya barusan.
"Apa yang dia katakan kepadamu? Kalian pergi ke mana? Jangan katakan jika kau menghabiskan waktu untuk bercinta dengan wanita itu," ucap Gerald dengan ada kesal kepada Morgan.
"Kau gila, aku bukan pria pemain seperti itu."
Gerald terdiam mendengar penolakan Morgan atas ucapannya barusan, entah laki-laki itu mengalami kemunduran memorinya sampai di mana. Sampai-sampai dia tidak mengenal Margaret ataupun Josh.
"Aku ingin tanya kepadamu. Coba katakan padaku apa yang terakhir kali kau ingat?" Tanya laki-laki itu.
"Entahlah aku tidak tahu."
"Ayolah aku pasti ingat sesuatu. Mungkin tanggal atau tahun," desak laki-laki itu.
Morgan terdiam dan tampak berpikir keras. "Aku ingat dengan kue ulang tahun angka dua puluh dua," ucap Morgan dengan yakin yang membuat Gerald menggelengkan kepalanya.
Pantas saja jika dia tidak tahu tentang Margaret. Itu berarti jika Morgan juga belum mengenal Renee. Gerald harus bersyukur akan hal itu. Itu berarti Morgan masih terpelihara di dalam hatinya. Akan tetapi, entah bagaimana nanti jika organ telah mengingat semua hal yang telah dialami.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Tidak apa-apa aku hanya ingin tahu saja. Hebat sekali kau bisa kembali ke masa lalu," ucap Gerald.
"Jika kau ingin sepertiku juga kenapa tidak mengikuti jejakku?" ujar Morgan sedikit kesal.
Sore menjelang Morgan dan Gerald telah pulang dari perusahaan. Morgan tidak bisa bekerja seharian karena dia masih dalam pemulihan. Seharian ini juga Gerald membantu laki-laki itu dalam bekerja.
"Aku akan beristirahat ke kamarku," ucap Morgan sambil berjalan ke lantai atas, membuat Gerald terheran melihatnya.
"Hai kau mau ke mana bung?"
"Aku akan tidur di lantai atas saja. Tolong besok kau katakan kepada pelayan untuk memindahkan kamarku ke lantai atas. Aku tidak bisa tidur di lantai bawah," ucap Morgan tidak menghentikan langkahnya menaiki tangga. Gerald berpikir jika mungkin Morgan telah terhipnotis dengan Lila. Apakah di bawah alam sadarnya, Morgan memikirkan wanita itu?
Gerald tidak yakin dengan pasti apa yang tengah dipikirkan oleh Morgan. Antara senang dan juga tidak , untuk saat ini dia harus ekstra hati-hati dan menjaga laki-laki itu dari wanita-wanita yang tidak baik terutama Margaret. Dia harus bisa memberitahu laki-laki itu tentang bagaimana sifat Margaret yang sebenarnya.
Gerald hendak pergi ke kamarnya, tapi dia melihat seseorang sedang berada di dapur. Langkah menuju kamar dia batalkan dan dia putar ke arah dapur.
"Hei bisakah kau ambilkan aku minum?" Tanya laki-laki tersebut kepada gadis yang paling mudah diantara maid yang ada di sana.
Lian melirik Gerald dengan malas.
"Air ada di belakangmu. Kau bisa mengambilnya sendiri tuan," ucap wanita itu dengan ketus.
"Tapi maaf aku sedang sibuk, apakah kau tidak bisa membantuku untuk mengambilnya sebentar saja?"
Lian akhirnya mengalah, dia menghentikan mencuci piring dan mengambilkan minum untuk Gerald.
'hanya seperti itu saja?' gumam laki-laki itu tidak habis pikir. Biasanya Lion selalu melawannya, berdebat terlebih dahulu sebelum melakukan apapun yang dia perintahkan.
“Apa ada lagi yang kau inginkan?” tanya Lian sebelum kembali melakukan pekerjaannya tadi.
“ tolong siapkan makan malam untukku, aku sedang sangat lapar sekali."
"Baiklah, kau hanya tinggal tunggu saja sebentar dan aku akan memaksak untukmu," ucap wanita itu kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi hingga selesai.
Gerald menunggu dengan sabar, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada meja wastafel di samping Lian. Dia tidak peduli dengan pakaiannya yang terciprat oleh air dari cucian tersebut.
"Apakah kau tidak bisa untuk menyingkir sedikit? Pakaianmu basah dan kotor."
"Aku sudah terlanjur nyaman seperti ini. Aku sedang menunggumu membuatkan makan malam," ucap laki-laki itu dengan keras kepala.
Lian tidak lagi banyak bicara. Dia segera mengelap tangannya dan mengambil beberapa bahan yang ada di dalam kulkas. Dengan cekatan tangan kecilnya itu memotong dan juga mengiris bumbu-bumbu seadanya. Dalam waktu kurang dari 10 menit dia telah menyelesaikan satu masakan.
"Silakan kau cicipi ini sudah jadi," ucap Lian menyerahkan satu piring nasi goreng kepada Gerald.
"Makanan apa ini?"
"Kau tidak tahu ini makanan apa? Ini adalah makanan yang paling terkenal dan juga masuk ke dalam 100 top makanan terlezat di dunia," ucap Lian kemudian meninggalkan laki-laki itu dengan piringnya di dapur.
__ADS_1