
Setelah kehadiran Tiffany, Lyla dan Morgan menjadi sangat bahagia sekali. Dua orang itu menjaga Tiffany bergantian karena Lyla tidak mau menghadirkan pengasuh dan ingin mengurus anaknya sendiri.
Suara tangisan Tiffany bergema di sebuah alat dan Morgan langsung sigap untuk bangun, sementara Lyla masih tertidur pulas karena kelelahan setelah seharian menjaga putrinya itu.
"Cup, cup, Sayang. Ayah di sini. Jangan menangis lagi, ya. Jangan berisik, Mama sedang tidur." Morgan menimang Tiffany dengan lembut di tangannya. Dia sangat berhati-hati sekali dalam menggendong Tiffany karena masih belum terbiasa.
"Ayo kita panaskan susu. Kau pasti haus ya?"
Morgan membawa Tiffany ke bawah dan membuatkan susu. Bukan susu formula, tapi ASI yang telah dikeluarkan dan disimpan di dalam kulkas bilamana Lyla kelelahan. Awalnya Lyla menolak dan ingin memberikannya secara langsung, tapi Morgan memaksa agar Lyla memompa ASI-nya agar saat malam hari Lyla bisa beristirahat dengan baik.
Beberapa hari yang lalu, karena berbagai faktor ASI Lyla tidak keluar. Hal itu disebabkan karena Lyla stress dan kelelahan. Maka dari itu Morgan meminta kepada Lyla agar memompa ASI-nya supaya Morgan bisa bergantian menjaga Tiffany.
Gadis kecil itu diam setelah mendapatkan nutrisinya. Mulutnya mengisap dot karet dengan kuat, tapi beberapa detik kemudian dia kembali menangis lagi, kali ini lebih kencang.
"Tuan. Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya salah seorang pelayan yang terbangun karena mendengar tangisan Tiffany.
"Tidak, aku bisa menanganinya sendiri. pergilah istirahat kembali," perintah Morgan. Wanita itu menganggukkan kepala dan akan pergi, tapi kemudian kembali berbicara, "Maaf, Tuan. Sudah Anda coba mengganti popoknya? mungkin dia tidak nyaman dengan popoknya."
"Oh, belum aku periksa. Terima kasih."
Morgan kembali ke lantai atas dan memeriksa popok Tiffany. Ternyata memang sudah penuh.
__ADS_1
"Astaga!" Morgan menutup mulut dan hidungnya saat aroma tidak sedap menghampiri. Warna kuning dan bau terdapat di popok Tiffany. Morgan dengan hati-hati melepaskan popok itu dari tubuh Tiffany. "Akh, aromanya tidak sedap. pantas saja ibumu kelelahan. Ingat Tiny, kau harus menyayangi ibumu karena dia adalah orang yang setiap hari tanpa mengeluh mengurusmu. Dia orang yang melahirkanmu mengabaikan nyawanya sendiri, mempertaruhkannya hanya untuk kehadiranmu, Sayang. Ouhh. Astaga!" Morgan mengeluh lagi. Seumur hidup dia belum pernah membersihkan kotoran, tapi saat ini dia harus melakukannya karena tidak mungkin membangunkan Lyla.
"Kau adalah bayi perempuan yang cantik, tapi kenapa kau tidak bilang ingin buang air? Besok kau harus belajar untuk buang air di dalam closet, Sayang." Morgan menunjuk wajah putri kecilnya, tapi tentu saja Tiffany tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut.
Sementara itu, Lyla yang berada di ambang pintu kamar putrinya tertawa terbahak, membuat Morgan menolehkan kepalanya.
"Sayang, kau bangun. Apa kami terlalu berisik?" tanya Morgan tidak enak hati. Lyla mendekat pada Morgan dan Tiffany.
"Aku terbangun karena mendengar Tiffany menangis. Kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanya Lyla.
"Karena kau terlihat kelelahan. Jadi, aku ingin mengurusnya sendiri."
"Biar aku saja, Sayang."
"Mau sampai kapan kau melakukannya? Kau hanya memarahi putrimu saja sedari tadi. Lihat dia sudah mengantuk, Morgan!" Lyla mulai kesal. Terutama karena besok Morgan ada proyek penting dan dia harus pergi pada pagi hari.
Akhirnya Morgan menyingkir dan membiarkan Lyla mengambil alih.
"Tolong kau perhatikan dengan baik." Morgan memperhatikan apa yang dilakukan Lyla. tangan wanita itu cekatan mengganti popok Tiffany dan akhirnya Tiffany kembali tidur setelah semuanya selesai.
"Kembali lah tidur, Morgan. Kau harus bangun lebih pagi besok." Lyla menguap, menahan kantuknya karena sampai saat ini dia tidak bisa tidur lelap. "Aku akan tidur di sini dengan Tiffany." Lyla merebahkan Tiffany di kasurnya dan tidak lupa dia menaikkan dinding ranjang tersebut.
__ADS_1
"Aku juga akan ikut tidur di sini." Morgan mengambil tempat di belakang Lyla.
"Hem, baiklah. Tapi jangan macam-macam. Kau tau kan apa kata dokter kemarin?"
Morgan tertawa kecil, dia harus menahannya lagi hingga pada waktunya tiba nanti.
"Iya, baiklah. Aku tidak akan berbuat macam-macam dengan istriku di yang sedang berada di dalam masa pemulihan. Tinggal lima puluh lima hari lagi, kan? Dan itu lama sekali. Ouh, apakah aku bisa menahan kesulitan ini? Aku sedih sekali, aku tidak tahu harus bagaimana—"
"Morgan, diamlah! Kau berisik sekali. Tiffany bisa terbangun karena kau berisik!" ujar Lyla marah. Morgan langsung menutup mulutnya dan memeluk istrinya.
Enam puluh hari pasca sesar, Lyla harus menjalani pemulihan dan Morgan dilarang mengganggunya.
"Aku hanya sedang sedih saja," gumam Morgan dengan suara yang lirih di belakang Lyla. Entah apakah dia akan kuat atau tidak dalam menjalankan misi ini. Biasanya saat hamil Lyla akan naik setiap malam, atau dia yang akan bergerak di belakang istrinya untuk memuaskan hasr4t Lyla. Namun, kali ini dia harus menghitung setidaknya lima puluh lima hari lagi.
Lyla menggelengkan kepalanya. Sesuatu terasa di bokongnya cukup mengganggu. Lyla paham apa yang Morgan rasakan, tapi meskipun miliknya tidak terganggu karena melahirkan, tapi jahitan di perut sungguh mengerikan.
Tiba-tiba saja Morgan melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh.
"Mau ke mana?"
"Kamar mandi!"
__ADS_1