Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
174. Dua Pria Yang Sama Sifatnya


__ADS_3

Dokter tercengang melihat keadaan Lyla yang kini baik-baik saja. Padahal dia dan beberapa tim dokter lainnya sedang mengevaluasi racun jenis apa yang diberikan kepadanya. Sudah beberapa hari ini mereka mencari tahu, tetapi mereka masih belum menemukan zat apa yang dikandung oleh racun itu. Akan tetapi, mereka bersyukur akan kesembuhan Lyla sekarang ini. mungkin dalam waktu tiga atau empat hari dokter akan mengizinkan Lyla untuk kembali ke rumah.


"Aku senang kau sudah sembuh."


"Aku juga."


"Ayo buka mulutmu. Kau pasti lapar setelah beberapa hari hanya tertidur saja."


Lyla mengangguk dan membuka mulutnya menerima makanan yang Morgan berikan.


"Lihat bagaimana tubuhmu sekarang ini. Kau terlihat sangat buruk sekali."


"Jadi aku sudah tidak cantik lagi?" Bibir Lyla mengerucut, menatap sebal kepada kekasihnya.


"Hei. Aku tidak bilang kau tidak cantik. Aku hanya bilang kau terlihat buruk dengan badan kurus seperti ini. Aku akan lebih senang jika melihat tubuhmu berisi, apalagi jika di dalamnya ada bayiku." Tangan Morgan mencubit hidung Lyla dengan gemas sehingga sedikit memerah.


"Kita tidak akan melakukannya sebelum menikah. Jadi, kapan kau akan melamar dan menikahiku?"


Morgan senang mendengar permintaan dari wanitanya ini. "Jika kau mau, aku akan memanggil pastur sekarang juga. Aku akan menyulap rumah sakit ini sebagai tempat resepsi kita yang terbaik. Akan ada banyak bunga, dan apapun yang kau mau. Aku akan menyediakannya untukmu. Bulan madu juga, ayo kita berbulan madu nanti ke tempat yang indah. Kau mau ke mana?" tanya Morgan dengan antusias. "Bali? Paris? Bulan?"


"Kita tidak butuh bulan madu, Morgan. Malam pertama kita sudah terjadi waktu itu."


Morgan tertawa malu, mengusap pipi kekasihnya dengan lembut dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku untuk hal buruk yang pernah aku lakukan. Aku akan memberikan seluruhnya untukmu, apapun yang kau minta, bahkan nyawaku juga akan aku berikan kepadamu untuk membayar semua kelakuan buruk yang pernah aku lakukan. Sekarang aku hanya mencintaimu seorang, dan aku senang kau hadir di dalam hidupku meski pada awalnya cara yang kulakukan adalah salah. You are my Queen." Tangan Lyla dikecupnya dengan lembut membuat wajah Lyla tersipu malu, sementara Gerald yang ada di dalam ruangan itu tengah mengipasi wajahnya dengan kibasan telapak tangan. Suasana di dalam kamar ini sedikit panas untuknya padahal di luar sedang dingin dan di dalam ruangan ini terdapat penyejuk udara.


"Ekhemm .... Aku akan pergi sebentar."


Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang yang lain dia pergi dengan cepat dari ruangan itu.


"Sialan! Apakah mereka tidak melihat situasi? Dasar menyebalkan sekali!"


Gerald mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya.


"Siapkan undangan pernikahanku untuk minggu depan. Buat resepsi yang tidak pernah ada di dunia ini!" ucap pria itu kepada bawahannya sambil berjalan menjauh dari ruangan Lyla.


"Enak saja mereka merencanakan pernikahan. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak akan kalah denganmu!" geram Gerald sambil mengepalkan tangannya.


Sementara itu di dalam ruang gawat, Morgan masih menyuapi Lyla.


"Sudah cukup, aku sudah kenyang." Lyla menahan tangan Morgan yang hendak menyuapinya lagi.


"Masih ada beberapa suap."

__ADS_1


"Kau mau perutku meledak?" tatap Lyla kesal saat Morgan menyodorkan lagi makanan itu.


"Ya sudah." Morgan menyimpan mangkok di atas nakas dan mengambil tangan Lyla untuk dikecupnya. Ia benar-benar bahagia bisa melihat wanitanya ini kembali bangun dan dia berjanji tidak akan melepaskan Lyla lagi.


"Aku sangat merindukanmu. Aku sangat takut kemarin."


"Seorang Morgan Castanov yang dikenal tidak takut apapun, apakah sekarang menjadi seorang yang penakut?" cibir wanita itu sambil tertawa kecil.


"Kau sudah membuat aku menjadi orang yang berbeda. Dulu aku tidak takut apapun, tapi dengan adanya kau di sisiku setiap detik aku jadi merasa takut. Terutama aku takut tidak bisa membahagiakanmu."


"Kau yakin karena itu? Tidak bisa membahagiakanku? Atau karena kau takut tidak bisa memilikiku?" Lyla menatap lembut sang kekasih.


Morgan tertawa malu dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali. "Awalnya memang begitu, tapi sekarang aku sadar jika kebahagiaanmu adalah segalanya. Dan aku ingin menjadi laki-laki yang bisa selalu membahagiakanmu."


Tiba-tiba saja Lyla melepaskan tangannya sehingga Morgan menjadi bingung. Dia menggeser duduknya ke tepi ranjang dan menepuk sisi ranjang yang lain. Morgan pun berpindah duduk ke samping Lyla di atas ranjang yang sama. ranjang itu cukup untuk kedua orang tersebut. Lyla segera menyandarkan kepalanya pada bahu Morgan dan menelusupkan jemarinya pada jemari besar Morgan.


Mereka tidak saling berbicara, tapi perasaan mereka bahagia karena telah memiliki satu sama lain.


"Sekarang aku bahagia. Setelah keluar dari rumah sakit, ayo kita menikah."


Morgan tersenyum senang mendengar ucapan itu.


"Iya, ayo kita menikah setelah ini. Aku akan membuatmu menjadi pengantin yang paling cantik di seluruh dunia."


"I love you, Laura," bisik Morgan.


"I love you too, Tuan Castanov."


Mereka melanjutkan kembali ciuman lembut mereka dan saling melepaskan rasa cinta di antara keduanya. Tanpa mereka sadari seseorang telah masuk dan kini terpaku melihat muda-mudi itu sedang berciuman.


"Hei, apa kalian tidak malu? Kalian bukan sedang di rumah!" desis kesal Robinson mendekat ke arah ranjang. Lyla terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Morgan, Tangannya refleks mendorong dada Morgan sehingga tidak sengaja laki-laki itu terjatuh dari ranjang.


"Auhh!" Pinggang Morgan terasa sakit menubruk lantai.


"Ah, Morgan!" Lyla menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tidak menyangka jika apa yang dia lakukan telah membuat Morgan terjatuh dari ranjang itu. Sementara Morgan yang terjatuh di lantai meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja."


Lyla masih belum kuat untuk menggerakkan tubuhnya sehingga dia tidak bisa turun dari ranjang tersebut. Morgan segera bangkit sambil mengelus pinggangnya.


"Keterlaluan sekali kalian. Masih untung aku yang masuk ke dalam ruangan ini. Bagaimana jika itu orang lain?" kata Robinson sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayah, kenapa kau mengagetkan kami? Seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu." Kini Morgan yang menjadi kesal dengan muka cemberut bak anak kecil. Sedangkan Lyla terkejut dengan panggilan Morgan kepada pria ini.

__ADS_1


"Aku sudah mengetuk pintu, aku pikir kalian mendengarnya. Mana ku tahu kalau kalian sedang berciuman seperti itu. Dasar kalian menyedihkan. Cepatlah kau sembuh agar kalian bisa melakukannya di rumah," ujar Robinson kepada Lyla. Sontak wajah Lyla memanas mendengar ucapan dari laki-laki tersebut.


"Ayah, bicaralah yang sopan kepada calon menantumu."


"Aku berbicara yang sopan? Kau juga tidak pernah sopan kepadaku."


"Kapan aku tidak sopan kepadamu?" Nada suara Morgan sedikit naik satu oktaf.


"Ini buktinya. Kau berbicara dengan nada tinggi kepadaku. Bukankah kau sendiri tidak sopan kepada ayahmu?" Robinson membentak dengan nada kesal sambil mendekat ke arah Morgan.


"Itu karena kau menyebalkan!" Morgan juga tidak kalah menatap marah pria tua itu.


"Lihat, bahkan kau menyebut ayahmu sendiri menyebalkan. Lalu bagaimana denganmu? Dasar anak durhaka!"


Lyla menatap kedua orang itu masih tidak mengerti, tapi dengan perdebatan mereka dia mencoba memahami jika mungkin saja kedua orang itu memiliki hubungan yang belum dia ketahui. apakah mereka benar ayah dan anak? Bagaimana bisa? Bukankah orang tua Morgan sudah tiada? Lalu siapa dia? Akan tetapi, jika melihat dari fisik dan wajahnya, serta dari sifat Mereka terlihat ada kemiripan.


"Sudah. Sudah . Tolong hentikan. Kalian jangan bertengkar lagi. Tolong maafkan kami, Pak. Kami memang salah dan tidak tahu tempat." Lyla berkata sambil menundukkan kepalanya sedikit. Barulah dua orang itu berhenti berdebat dan keduanya menoleh kepada Lyla.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah, Lyla."


"Tapi--"


"Aku terima permintaan maafmu. Kau memang wanita yang baik dan sopan. Sayang saja, seharusnya kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan sopan. Tidak seperti dia."


"Ayah! Kau tidak tahu betapa baiknya aku dan aku adalah orang yang sopan." Morgan berteriak tidak terima.


"Huh, tidak percaya." Robinson melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang wajahnya ke arah lain.


"Kau--" Tangan Morgan terkepal, kesal dengan ucapan ayahnya ini.


"Morgan! Sudah," tegur Lyla.


Morgan juga melipat kedua tangannya di depan dada, membuang wajahnya ke arah sebaliknya dari sang ayah. Dari sana membuat Lyla yakin jika kedua orang ini adalah ayah dan anak sungguhan.


"Apa Anda ayah Morgan? Salam kenal." Lyla menyatukan kedua tangannya di depan perut dan sedikit membungkuk lagi untuk memperkenalkan diri.


"Sayangnya, iya." Kedua orang itu berucap bersamaan.


Lyla tertawa tanpa bersuara. Lucu sekali mereka ini.


Memang kalian mirip sekali.


"Aku akan kembali ke kantor. Baik-baiklah kalian di sini. Jika kalian ingin membuat cucu untukku jangan lupa untuk mengunci pintu."

__ADS_1


__ADS_2