
Morgan tengah menikmati sarapannya. Memang sudah terlambat, tapi daripada tidak sama sekali. Dia cukup lahap memakan makanannya, karena memang perutnya sangat lapar pagi ini.
"Hubungi Tuan Lewis, minta dia kirimkan aku bubuk kopi seperti yang kemarin," pinta Morgan kepada Gerald saat laki-laki itu baru saja selesai mengecek pekerjaan.
Gerald menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar. "Benar apa kata Lyla, kau harus berhenti meminum kopi. Lambungmu sering bermasalah setelah meminum kopi itu."
"Aku sakit bukan karena meminum kopi, tapi karena semalam tidak makan."
"Itu salah satunya. Bukannya Tante Selvi juga sudah mengatakan jika kau harus mengurangi minuman berkafein?"
"Lebih baik diam dan segera keluar dari ruanganku." Morgan semakin tidak tahan dengan ucapan Gerald yang kini ikut mengaturnya.
***
Di sebuah supermarket, Lyla bersama dengan dua orang yang lainnya sedang memilih sayuran segar organik. Dia melihat semua harga yang tertera di sana, ngeri melihat angkanya, berkali lipat dari harga yang dia tahu ada di pasar tradisional.
“Kakak, tolong ambilkan yang itu!” tunjuk Lian pada sayuran brokoli yang ada disamping kiri Lyla.
“Kenapa?” tanya Lian saat Lyla terdiam melihat angka yang tertera di setiap bungkus wrap yang ada di sana.
“Tidak ada. Hanya saja, harga di sini mahal. Apa tidak sebaiknya kita belanja ke pasar tradisional?” bisik Lyla. Lian tertawa kecil.
“Di sini memang mahal, tapi tuan muda hanya makan sayuran organik saja, tidak pernah ibuku berbelanja di pasar tradisional karena mencari sayuran organik sedikit sulit di sana,” jawab Lian sama berbisik.
“Kenapa? Apa dia akan sakit perut kalau makan sayuran yang ada di pasar tradisional?”
Lian mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
“Entah lah, yang aku tahu sedari dulu tuan muda hanya makan sayuran pilihan saja,” jawab Lian.
Lyla mengangguk dan masih memperhatikan sayuran yang ada di tangannya, di dalam pikirannya laki-laki itu bisa saja pulang pergi ke dalam toilet jika makan sayuran non-organik.
“Kenapa?” Lian menyenggol lengan Lyla, membuat wanita itu berhenti tersenyum.
“Tidak ada.”
“Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?” desak Lian.
Lyla menggelengkan kepalanya, tapi kemudian dia berkata, “Aku sedang berpikir, mungkin saja dia akan keracunan dan pulang pergi ke toilet jika makan sayuran yang ada di pasar tradisional.”
__ADS_1
“Jangan berpikir jika kau akan meracuninya dengan sayuran itu,” tebak Lian.
Lyla mengalihkan tatapannya dan tersenyum meringis.
“Astaga! Aku tidak mau ikut campur jika kau melakukannya. Aku akan jadi penoton setia saja sambil memakan popcorn-ku,” ucap Lian sambil menahan tawanya.
***
Hachuuu!
Udara sedikit dingin, sehingga sudah dua kali ini Morgan bersin. Hidungnya sedikit merah setelah dia usap dengan tisu.
“Apa kau sakit?” tanya Gerald melihat hidung merah menggemaskan itu.
“Sepertinya AC terlalu dingin, bisa kau naikkan suhunya?” pinta Morgan. Gerald segera mengambil remot Ac dan melihat angka yang ada di sana.
“Ini sudah seperti yang biasanya,” tunjuk Gerald. Morgan tidak menjawab, hanya melanjutkan pekerjaannya kembali.
***
Lian dan Lyla masih saja sibuk meng-ghibah. Entah apakah karena nama mereka hampir mirip sehingga keduanya seakan memiliki kecocokan satu sama lain, asyik saja membicarakan tuan muda yang untuk ketiga kalinya bersin di dalam ruangannya yang kini sudah menghangat.
“Hei, kalian sedang berbisik apa? Aku panggil sedari tadi, apa tidak mendengar?” tegur sang ibu dari belakang mereka berdua. Kedua wanita yang hanya berbeda usia lima tahun itu dengan cepat memutar tubuhnya dan tersenyum meringis, saling menyenggol lengan satu sama lain.
“Baik, Bu!” seru keduanya dengan kompak.
Setelah memilih semua yang mereka butuhkan, akhirnya mereka mengantri di kasir. Beruntung antrian tidak terlalu panjang karena ini masih pagi dan juga bukan akhir pekan. Lyla dan Lian membantu mengeluarkan barang yang ada hampir penuh ada di dalam keranjang.
“Astaga! Sebanyak ini?” ucap Lyla tanpa sadar setelah menerima struk pembayaran yang sangat panjang di tangannya. Pandangannya tertuju pada angka akhir yang ada di bagian paling bawah kertas itu.
“Ini bisa untuk makan semua anak panti satu bulan,” ucapnya terkagum. Lian hanya tertawa kecil melihat wajah Lyla yang melongo seperti itu.
“Itu hanya untuk satu minggu. Minggu depan, jika belanja bulanan akan lebih banyak lagi,” ungkap Lian.
Lyla segera tersadar dari kekagumannya kemudian membantu Lian dan ibunya untuk membawa semua belanjaan ke dalam mobil.
Tanpa sengaja, keranjang yang dibawa Lyla ditabrak seseorang yang berjalan dengan cepat sambil melakukan panggilan teleponnya, sehingga ponsel dari laki-laki itu terjatuh ke lantai beton.
“Eh, maaf.” Lyla meminta maaf pada laki-laki itu. Akan tetapi, dia malah dibentak olehnya.
__ADS_1
“Apa kau tidak punya mata? Berjalan lah dengan baik,” bentak laki-laki tersebut tanpa mau meminta maaf, hal itu membuat Lyla menatap heran laki-laki tersebut. Padahal dia tidak bersalah karena Lyla sudah berjalan dengan baik dan berusaha untuk menghindar.
“Hei, kau yang tidak menggunakan matamu dengan baik! Kau yang berjalan tidak benar. Aku sudah menyingkir dari hadapanmu. Jalanan masih lebar, kenapa kau masih saja menabrakku?” seru Lyla marah.
“Ya! kau yang tidak punya mata!” Lian ikut berteriak kesal, sementara sang ibu yang sudah lebih dulu sampai di mobil kembali dengan cepat ke arah mereka berdua saat mendengar perdebatan itu.
“Ada apa ini?” tanya sang ibu. Melihat pemuda yang berpenampilan rapi yang ada di hadapannya, dia hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan.
“Maaf, Tuan. Apakah kedua anakku melakukan kesalahan?” tanyanya takut. Laki-laki itu mengambil ponsel miliknya dan melihat benda itu tidak bisa lagi menyala.
“Kedua anakmu telah menabrakku. Lihat bagaimana ponselku. Rusak! Kalian harus menggantinya,” ucap laki-laki itu.
Pernyataan pemuda itu membuat Lian dan Lyla melotot tajam, saling berpandangan satu sama lain. Tidak terima dengan fitnahan yang mereka dapatkan darinya.
Berbeda dengan ibu Lian yang terkejut mendapati permintaan dari laki-laki itu. Ponsel yang diperlihatkan terlihat bagus dan sepertinya bukan barang yang murah melihat dari penampilan pemuda ini yang seperti artis Korea dengan rambut yang acak-acakan, tapi terlihat tampan.
“Aku yang menabrakmu? Hei! Apa yang kau katakan?” protes Lyla tidak terima. “Kau yang sengaja menabrakku.”
“Aku tidak mau tahu. Kau harus menggantikan ponselku.”
“Oh. Apa kau ingin mengambil keuntungan dari kami? Kau sengaja menabrak kami dan mencoba memeras kami ya?”
“Siapa yang ingin memerasmu? Apa kau tidak tahu berapa harga ponsel ini? Aku yakin kau tidak bisa menggantinya. Jadi ….” Laki-laki itu melihat kalung yang ada di leher Lyla, dengan kasar menarik kalung itu hingga terlepas dari lehernya.
“Eh!”
Dia melihat kalung itu, sangat indah menurutnya. “Ini akan jadi jaminannya. Kau bisa menghubungiku jika kau sudah ada uang dan aku akan memberikan kalung ini buatmu,” ucap pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah pulpen dari saku celananya dan menarik tangan Lyla.
Beberapa angka telah dia tuliskan, tapi sebelum selesai Lyla menarik tangannya dan berteriak, “Apa yang kau lakukan?” Dengan gerakan cepat dia merebut kalung itu dari tangan si pemuda.
“Hei, itu milikku!”
“Ini milikku!” teriak Lyla, kemudian mengangkat kakinya dan menginjak kaki pemuda itu cukup keras.
“Aww!”
“Lian, ayo!” teriak Lyla menarik tangan Lian dan ibunya, tak lupa juga mendorong keranjang belanjaan ke arah mobil dan memasukkan semua dengan cepat sebelum laki-laki itu mengejarnya.
“Sial! Dasar gadis gila!” teriak sang pemuda sambil meringis memegangi kakinya yang sakit.
__ADS_1
...********************************...
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah 🤭