Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
110. Pernyataan Renee


__ADS_3

Renee sangat ketakutan sekali jiak mereka akan menabrak, atau mungkin akan tergelincir. Dia sampai berteriak memanggil Morgan, tapi laki-laki itu tidak menggubris teriakan Renee.


"Morgan, aku takut. Tolong perlambat laju mobil ini," ucap wanita itu dengan sangat ketakutan.


Morgan tidak peduli, dia merasa kesal karena Renee menolak untuk menjelaskan pertanyaannya tadi.


"Apa yang kau lakukan dengan Marcel? Apa yang kau perbuat dengan dia?" tanya morgan inginkan jawaban.


Renee berpegangan pada tepian kursi, dia menggelengkan kepalanya dengan menatap takut antara hidup dan mati di tangan laki-laki ini.


"Apa yang kau maksud? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan adikmu, Morgan!"


"Bukankah dia juga bekerja sama denganmu untuk menjatuhkan ku?"


"Tidak. Aku tidak seperti itu. Dia yang iri padamu dan aku hanya mengingatkan saja kepadanya. Morgan, aku mohon, jangan kau melakukan ini. Kita bisa mati, Morgan!" teriak Renee.


Sebuah truk berhenti di tepi jalan, Morgan tersenyum dan Renee melihat hal itu. Dia menggelengkan kepalanya dan memanggil nama Morgan.


"Kau yakin kau jujur kepadaku?" tanya Morgan pada Renee.


"Ya, aku jujur, adikmu bukanlah orang yang baik dan aku hanya mengingatkan saja kepada dia jika apa yang akan dia lakukan adalah hal yang salah. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Aku tidak ikut campur dengan apa yang dia lakukan, Morgan." Renee terus saja berbicara berharap jika Morgan akan percaya kepadanya.


Mobil mereka hampir dekat dengan bagian belakang mobil truk yang terparkir itu membuat Renee takut luar biasa, jelas dia akan mati jika mobil ini sengaja Morgan benturkan di depan sana.

__ADS_1


"Morgan, aku mengaku. Maafkan aku!" ucap Renee sambil menutup wajahnya, mendengar pengakuan Renee, Morgan segera menghentikan laju kendaraannya dan membanting setir, mobil tersebut miring sehingga menghabiskan setengah badan jalanan, menciptakan garis-garis bekas ban di atas aspal yang dingin.


Mobil akhirnya berhenti tepat beberapa senti meter di dekat mobil truk tersebut.


Dada Renee berdebar mendapati apa yang Morgan lakukan terhadapnya. Dia terkejut saat teringat jika dia baru saja mengakui apa yang telah menjadi rahasia antara dirinya dan juga Marcel.


Mata Morgan basah, perlahan mengalir melalui pipinya dan hal itu bisa dilihat oleh Renee. Hal yang tak pernah dia lihat pada laki-laki itu sebelumnya.


"Katakan, atau kau yng akan menyusul Marcel ke neraka sana!" ucap Morgan dengan dingin.


Renee menangis, mengabaikan rasa takut dan juga rasa sakit pada kakinya. Dia menangis tersedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Katakan!" teriak Morgan dengan marah. Dua orang yang sangat dia sayangi ternyata adalah pengkhianat yang telah membuatnya menjadi seperti manusia yang tanpa hati selama beberapa tahun belakangan ini. Bahkan, dia telah merusak wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia selama ini.


"Maafkan aku. Maaf. maafkan aku, Morgan."


"Aku dan Marcel adalah sepasang kekasih. Dia memaksaku untuk mendekatimu dan juga Gerald," ucap Renee dengan tangisan yang keras. Morgan mendengarkan, tujuan mereka selama ini hanyalah ingin menguasai hartanya saja. Bahkan, orang yang telah membuat Marcel mati adalah dia. Bukan hanya itu saja. Renee juga melakukan hal yang lain yang sangat memalukan sekali, mengiri seseorang dan menyusup masuk ke dalam perusahaannya untuk mengamati dan juga mencuri file dan dokumen penting lainnya.


Morgan merasa tidak tahan dengan apa yang dia dengarkan. Dia melajukan kembali mobilnya, kali ini untuk menuju ke arah kantor polisi. Biar hukum yang akan menuntaskan semua masalah ini. Beserta bukti yang telah dia miliki, Morgan yakin wanita culas ini akan mendekam lama di penjara.


"Morgan, aku mohon jangan bawa aku ke penjara. Aku akan lakukan apa pun untukmu, termasuk jika kau menginginkanku jadi budakmu," ucap Renee memohon pada Morgan. Laki-laki itu tersenyum dan mendecih sebal. Tidak aneh baginya melihat pemandangan yang seperti ini. Semua orang yang telah terpojok pasti akan memohon meskipun dia harus menurunkan harga dirinya.


"Aku tidak sudi lagi melihatmu. Kau harus memikirkan dan juga merenungi semua dosamu atas kematian Marcel," ungkap Morgan. Renee menghiba, tapi Morgan tidak mau mendengarkan. Memang wanita itu terlalu banyak dosan sehingga banyak sekali merugikan orang lain termasuk dirinya.

__ADS_1


Renee sangat takut sekali dengan apa yang Morgan lakukan, dia tidak ingin mendekam di penjara karena dia tidak ingin jika dirinya menjadi bahan olokan semua orang, apa lagi jika wajah cantiknya terpampang di majalah dan juga koran serta media sosial lainnya.


Renee mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia memang sangat mencintai Morgan, tapi ego dan juga ambisinya lebih besar lagi untuk bisa hidup dengan nyaman.


Morgan yang tidak tahu apa yang Renee pegang, tidak bisa menghindar saat wanita itu melayangkan tangannya yang memegang pisau dan menghantamkannya di perut. Seketika rasa sakit Morgan rasakan di perutnya, darah segar keluar dari sana cukup banyak. Bukan hanya satu kali, Renee bahkan melakukannya berkali-kali sambil menangis.


Morgan mengangkat tangannya, memegang tangan Renee yang hendak kembali menghujamkan benda tajam itu ke tubuhnya. Meski terasa sakit, tapi dia masih bisa menahan tangan wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Morgan dengan suara yang menahan sakit.


"Kau yang memaksaku, Morgan!" teriak Renee, dia berusaha untuk menarik tangannya yang terdapat pisau, tapi tenaga Morgan jelas masih terlalu besar baginya yang hanya wanita biasa tanpa kekuatan. Dia juga memukuli Morgan, berharap jika laki-laki itu melepaskannya.


"Lepaskan aku dan kau akan selamat," ucap Renee mengancam. Morgan melirik wanita itu dan menggelengkan kepalanya, sementara satu tangan yang lain dia gunakan untuk memegang kemudi agar mobil tidak oleng ke arah lain.


"Kau bahagia melakukan ini?" tanya Morgan menitikkan air matanya, pun juga dengan Renee yang menggelengkan kepala, air mata keluar dari mata cantiknya. Dia merasa tidak bahagia sama sekali dengan ini. Hatinya sakit saat dia harus terpaksa melakukan hal ini kepada orang yang dia cintai.


"Kau yang memaksaku, Morgan," ucap wanita itu dengan tangis berderai banyak.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Morgan dengan nada yang lirih, Renee menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, aku akan tetap ada di hatimu hingga kau mati, kan?" tanya Morgan.


Renee membulatkan matanya saat sadar jika ucapan Morgan adalah arti lain bagi dirinya. Dia memutar kepala, sebelum Renee bisa berbicara mobil yang Morgan kendarai menghantam belakang bagian truk yang berjalan di depan, sehingga Morgan merealisasikan ucapannya tadi jika dia akan ada di hati wanita itu hingga akhir hayatnya.

__ADS_1


...***...


...Tamat belum nih?...


__ADS_2