Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
42. Wanita Yang Tidak Baik


__ADS_3

"Tentu saja kau harus tahu, selama dia berada di rumahmu, dia adalah tanggung jawabmu!" Selvi menatap kesal ke arah keponakannya tersebut, rasanya dia ingin mengulek kepala Morgan dengan menggunakan cobek dan juga cabai-cabai yang besar.


"Dia hanya menumpang di rumahku," ucap Morgan dengan dingin, semakin membuat Selvi kesal saja.


Wanita itu mengangkat tangannya.


"Aww! Apa yang kau lakukan?" protes Morgan saat Selvi mendaratkan satu pukulan keras di kepalanya.


"Aku sedang memberimu pelajaran! Kenapa kau keterlaluan sekali? Menyebut dia hanya menumpang saja."


"Memang itu kenyataannya. Lalu aku harus menyebutnya apa?" tanya Morgan masih mengusap kepalanya yang sakit.


"Yang sopan sedikit jika bicara."


"Aku sudah sopan."


"Sopan apanya? Kau sudah lama berubah, dan aku tidak lagi mengenalmu sekarang ini."


"Salahkan saja dia yang telah pergi," ucap Morgan dengan kesal. Dia memang cinta kepada wanita itu, tapi bukan salahnya jika sifatnya berubah seperti sekarang ini. Jika saja Renee tidak pergi tentu saja sifatnya tidak akan berubah seperti.


Selvi tertawa kecil mendengar ucapan Morgan barusan. "Kau ini lucu sekali, terlalu bucin sampai kau menyalahkan orang lain."


"Aku tidak bucin," tolak Morgan.

__ADS_1


"Iya kau begitu. Buktinya Aku tidak mengenalmu sekarang ini. Kau bukan lagi keponakanku yang manis seperti dulu," tunjuk wanita itu tepat di depan hidung Morgan.


"Aku sudah dewasa, jangan kau anggap aku seperti anak kecil terus," ucap Morgan menyingkirkan tangan Selvi dari depan wajahnya.


Selvi menarik nafasnya dan mengembuskannya dengan kasar, dia sangat rindu sekali dengan Morgan yang dulu. Kejadian beberapa tahun ini telah membuatnya berubah 180 derajat.


"Sudahlah, percuma kita berdebat terus. Aku ingin kau menjaganya dengan baik, sebagai bentuk tanggung jawabmu kepada dia."


"Aku sudah melakukannya."


"Sebenarnya aku berharap bukan hanya seperti itu, aku lihat dia gadis yang baik, jika mungkin—"


"Kau berharap aku akan apa?" tanya Morgan memotong ucapan Selvi. "Kau ingin aku menikahi dia? Tidak akan! Kau tahu kan dia itu wanita yang seperti apa? Mana mungkin aku menikahi wanita yang tidak baik seperti dia," jawab Morgan dengan pasti, tanpa dia tahu seseorang telah mendengar ucapannya barusan.


Lyla menyandarkan diri pada daun pintu, perlahan air matanya mengalir tanpa dia sadari. Sakit hatinya saat mendengar Morgan menyebutnya wanita yang tidak baik. Padahal susah payah dia menjaga dirinya, hingga waktu itu Morgan menculik dan melecehkannya.


"Kau tahu apa yang dia lakukan kepadaku?" tanya Morgan sambil menatap Selvi dengan marah. "Dia ingin meracuni ku."


"Ha? Meracuni bagaimana?" tanya Selvi dengan tidak mengerti, melihat keadaan Morgan yang sekarang ini dia masih baik-baik saja.


"Dia membuatkan makan siang untukku, dan itu rasanya sangat asin sekali. Bukankah dia hendak meracuniku? Dia Ingin membuatku darah tinggi!" ucap Morgan kesal yang membuat Selvi tertawa terbahak hingga memegangi perutnya sendiri. Sementara Morgan mendengkus sebal melihat tantenya yang seperti itu.


"Hentikan. Apa yang kau tertawakan?" tanya Morgan dengan kesal.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak bisa menghentikannya." Selvi terus tertawa keras, hingga dari kejauhan seseorang melihatnya tertawa seperti itu dan kemudian tersenyum.


"Kenapa kau sama menyebalkannya seperti dia? Kenapa aku harus bertemu dengan dua wanita yang menyebalkan di dalam hidupku?" ujar Morgan semakin kesal. Dia baru ingat jika sifat dari Lyla persis sekali seperti tantenya ini.


Selvi menghentikan tawanya dan berdehem untuk mengembalikan suara. "Karena Tuhan telah mengaturnya agar hidupmu menjadi lebih berwarna, tidak monoton seperti selama ini," ucap Selvi yang membuat Morgan menatapnya malas.


"Tidak ada hubungannya dengan itu. Sudahlah, aku harus kembali ke kantor. Bisa kau jaga dia untukku?" tanya Morgan.


Selvi terdiam dan berpikir. Hari ini terlalu banyak jadwalnya sehingga dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. "Aku sangat sibuk hari ini. Jika kau juga sama sibuknya, lebih baik minta saja Gerald untuk menjaga Lila siang ini. Mungkin malam ini dia juga harus menginap di sini, tangan dan kakinya perlu diobati."


Morgan terhenyak mendengar penuturan dari Selvi. "Apa?" tanya Morgan dengan tanpa sadar membuat Selvi menatapnya bingung.


"Apanya yang apa?"


"Apa kau tidak bisa menyuruh orang lain?" tanya Morgan.


"Siapa? Biasanya kau menyuruh dia untuk melakukan sesuatu untukmu? Apa yang salah kali ini?"


Morgan menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika dia membiarkan Gerald yang menunggu Lyla di sini. Dia tidak akan membiarkan wanita itu mencoba untuk merayu dan mendekati Gerald.


"Tidak ada. Akan aku tunggu dia sampai sadar," ucap laki-laki itu kemudian berbalik dan masuk ke dalam ruangan Lyla. Selvi menatap keponakannya yang kini menghilang di balik pintu dengan keadaan yang bingung.


"Ah, sudahlah!" ucapnya, kemudian pergi dari sana untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2