
Sampai di pulau tropis, pesawat mereka sudah di tunggu dan disambut oleh Robinson dan Selvi di landasan kecil yang ada di tengah pulau.
Lyla masih tertidur akibat lelah, entah berapa kali Morgan menggempurnya saat di atas ketinggian tadi. Dia tidak sanggup menghitungnya akibat terlalu lelah. Bahkan, saat dia mandi sekalipun, pria itu mengikutinya dan memintanya lagi dan lagi. Tidak tahu di mana saja mereka melakukannya di dalam kamar mandi itu, tapi di dalam bathtub saja sudah dua kali.
Dalam beberapa hari pernikahan mereka, Lyla sudah mencoba beberapa gaya baru dari suaminya.
Robinson menunggu di bawah, tapi yang dia lihat hanyalah asisten Morgan yang turun dari sana. Dia tidak melihat putra dan menantunya turun.
"Ke mana putraku?" tanya Robinson bingung.
"Tuan Morgan masih berada di dalam kamar."
"Di dalam kamar? Apakah mereka sedang membuatkan kami cucu?" tanya Robinson tanpa memfilter ucapannya.
"Sejak kapan mereka di dalam kamarnya?" tanya Robinson sekali lagi.
"Kurang dari empat jam sebelum landing."
"Astaga! Seharusnya mereka sudah menghentikan permainan mereka. Ah, padahal aku ingin mengajak mereka untuk pergi ke tempat yang bagus. Apakah aku harus menunggu hingga besok?" gumam Robinson kesal. Padahal dia ingin sekali memperlihatkan suatu tempat yang bagus kepada menantunya. Jangan tayakan pendapat Morgan nanti, Robinson sudah tahu dan sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh putranya yang kaku dan tanpa perasaan itu.
"Sayang, mana Morgan?" tanya Selvi.
"Sepertinya kita harus kembali tanpa mereka. Bisa jadi jika mereka sedang membuatkan kita bayi yang lucu."
Selvi tertawa dan menggandeng tangan Robinson untuk pergi dari sana.
"Biarkan mereka menikmati waktunya berdua. Kau terlalu memaksakan diri untuk memaksa putramu datang. Aku hanya takut jika kalian akan terus berdebat."
"Aku tidak memaksanya. Aku hanya mengirimkan pesan chat kepada menantuku dan dia yang ingin ke sini. Salahku di mana?" Robinson tidak mau mengakuinya.
Selvi tertawa dan terus mengajak suaminya untuk pergi dengan mobil limousin mewah berwarna hitam.
Robinson masih terlihat kesal, rencananya harus tertunda hingga anak dan menantunya itu keluar dari pesawat.
"Sudahlah, Sayang. Kau juga bisa memamerkan koleksimu pada Lyla nanti. Daripada kau kesal seperti itu, lebih baik kita bersenang-senang saja."
Selvi memang wanita yang periang, sebelum Robinson mengiyakan, dia sudah mulai menggoda pria itu dengan permainan bibirnya di area bawah. Di mana pun mereka berada, asal ada kesempatan maka mereka akan melakukannya. Usia yang semakin matang tidak membuat mereka kehilangan masa menyenangkan sebagai pengantin baru. Justru keduanya semakin merasa muda karena bisa bersenang-senang dan bahagia berdua.
...*...
Lyla membuka mata dan bangkit bangun, melihat ke sekeliling dan tatapannya tertuju pada jendela pesawat yang memperlihatkan pepohonan di luar sana.
"Morgan, apakah kita sudah sampai?" Lyla membangunkan suaminya.
Morgan juga bangun dan melihat ke arah luar, benar saja jika pesawat sudah landing dan sialnya tidak ada yang membangunkan mereka.
"Jam berapa ini?" tanya Morgan.
"Jam sepuluh pagi."
"Itu adalah waktu di negara kita."
"Aku tidak tahu jika di sini, tapi di luar sudah sangat terang sekali," ucap Lyla.
Mau tak mau Morgan bangun dan segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia keluar dan mendapati beberapa anak buahnya yang masih setia menunggu di sana dengan sikap yang siaga.
"Tuan." Dua orang menundukkan kepalanya saat melihat Morgan dan Lyla yang baru keluar dari ruangan itu.
"Sejak kapan kita sampai?"
"Dua jam yang lalu."
"Dan kalian tidak membangunkan kami?" ucap Morgan marah. Lyla yang melihat suaminya seperti itu mengusap pelan lengan Morgan.
"Maaf, Tuan. Kami tidak berani membangunkan Anda."
"Morgan, sudahlah. Lagi pula, kita memang lelah dan tertidur," ucap Lyla menenangkan Morgan.
"Tuan Robinson juga sudah datang tadi, tapi beliau kembali lagi dan melarang kami untuk membangunkan Anda, Tuan."
Morgan tidak bisa marah karena ada Lyla di sampingnya.
"Siapkan mobil."
__ADS_1
"Baik."
Pria tersebut segera pergi untuk menyiapkan mobil yang sudah disediakan oleh Robinson. Morgan dan Lyla masuk ke dalam mobil limousin mewah yang ada di sana.
"Ah, menyebalkan sekali."
Gumaman tersebut terdengar oleh Lyla dan sekali lagi dia mencoba menenangkan suaminya.
"Apa yang membuatmu kesal? Apa karena ayah tidak membangunkan kita?" tanya Lyla.
Morgan sejenak berpikir, apa yang dia kesalkan sehingga marah-marah seperti itu? Padahal dia juga tidak suka melihat ayahnya.
"Tidak ada. Honey, cium aku," pinta Morgan. Lyla curiga dengan permintaan suaminya dan benar saja, tidak hanya sebuah ciuman, tapi Morgan juga melakukan hal yang lain kepadanya.
Mobil limousin mewah itu menjadi saksi percintaan dua orang tersebut yang terjadi lagi di hari ini.
"Kau benar-benar brutal, Sayang. Kakiku tidak sanggup lagi untuk berjalan." Lyla kesakitan di kaki dan pinggangnya. Untuk ke sekian kalinya dia telah memberikan tubuhnya kepada Morgan. Bau percintaan mereka menguar di dalam limousin itu danbahkan cairannya terjatuh membasahi sofa mewah tersebut.
"Aku akan menggendongmu nanti." Morgan mengambil tisu dan membersihkan sofa tersebut.
Lyla benar-benar tidak berdaya, untuk menaikkan pakaiannya saja dia sudah terlalu sulit untuk bergerak sehingga dia meminta Morgan untuk membantunya.
"Aku hampir pingsan karenamu."
Morgan terkekeh dan memeluk istrinya serta menghujaninya dengan banyak ciuman.
"Morgan-- hentikan. Aku tidak yakin jika kau akan hanya menciumku saja setelah ini. Aku menolak jika kau ingin melakukannya lagi. Aku tidak kuat," ucap Lyla menjauhkan wajah Morgan darinya.
Setelah melalui hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah cottage. Kecil untuk ukuran Morgan dan dia kesal karena ayahnya tidak menyediakan sebuah vila untuknya dan istrinya. Ya, setidaknya seuah tempat yang layak untuk hunian mereka selama berada di sana.
"Wah, cantik sekali," decak kagum Lyla melihat pemandangan di dekat sana. Di depan cottage itu terdapat pantai berpasir putih dengan karang yang menyembul di tangah laut, kanan kirinya terdapat pepohonan nyiur yang melambai-lambai seiring dengan pergerakan angin. Udara panas, tapi angin telah menghempaskan panas itu dan memberikan kesejukannya.
Di tempat itu ada beberapa cottage, tapi yang paling utama dan paling besar hanya ada tiga buah saja, sedangkan sedikit jauh dari tempat mereka ada bangunan kecil yang diperuntukkan bagi para penawal dan asisten.
"Tempat ini kecil sekali," keluh Morgan.
"Ini cukup jika hanya kita berdua di dalamnya."
Wajah istrinya berseri dengan senyuman yang indah.
"Morgan, ayo cepat!" teriak Lyla yang kini sudah berada di cottage tersebut. Lyla menaiki undakan tangga yang terbuat dari kayu dan melambaikan tangannya pada sang suami.
Jika melihat wajah senang istrinya, sudah dipastikan jika Lyla menyukai tempat ini.
"Ah, ternyata aku yang memag belum mengenal istriku dengan baik," gumam Morgan. Keluh kesal saat melihat tempat hunian mereka, kini dia singkirkan karena melihat wajah istrinya yang sangat bahagia.
Masuk ke dalam sana juga tidak terlalu buruk, barang-barang sederhana dan hiasan yang terbuat dari bahan alami terpanjang di dinding, juga dengan ranting kayu yang telah dibentuk dan dihias membuat cantik ruangan itu. Kursi rotan dan meja kayu serta pernak pernik lainnya membuat Morgan menjadi damai melihatnya.
"Morgan, lihat. Pemandangan dari sini sangat indah sekali," seru Lyla saat membuka jendela kecil yang ada di sana dan menghadap ke arah laut. Laut berwarna biru dengan air yang cukup tenang di siang ini, juga dengan warna jernihnya belum pernah Lyla lihat di tempat lain. Tentu saja karena Lyla baru kedua kalinya pergi ke pantai dan ini adaah pantai yang terbaik menurutnya.
Morgan pun turun mendekat dan melihat ke luar sana. Memang benar pemandangannya sangat indah sekali. Dia memeluk Lyla dari belakang dan ikut menikmati udara dan suasana di luar sana yang sangat mengesankan. Lyla menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Indah, bukan?" ujar Lyla.
"Lebih indah kau daripada yang lain."
"Aku bertanya soal laut, Morgan." Lyla mulai kesal, suaminya ni mulai lagi dengan gombalannya.
"Tetap saja, kau tidak bisa dibandingkan dengan semua ini."
Lyla tidak ingin membantah, jelas dia tidak akan menang melawan Morgan yang dia sadari telah bucin pada dirinya.
Angin berhembus pelan masuk ke dalam cottage itu dan membuat rambut Lyla terbang menutupi hidungnya. Lyla menyelipkan rambut itu ke belakang telinga. Menutup kedua matanya dan menikmati semua yang ada di sana tanpa terkecuali. Suasana yang indah, angin yang lembut, dan pelukan hangat suaminya. Apa lagi yang dia butuhkan? Dengan adanya Morgan di sisinya itu sudah cukup untuknya.
"Apa kau senang berada disini?"
"Iya, aku sangat senang sekali. Bagaimana denganmu?"
"Selama kau senang, aku juga akan senang."
"Jadi, kau tidak senang?" tanya Lyla menatap sang suami dengan tatapannya yang sendu. Andai Morgan tidak suka berada di sini maka dia akan ikut dengannya untuk pergi.
"Aku senang. Justru aku senang karena berada di sini. Aku belum mengenalmu dengan baik, aku tidak tahu apa yang kau inginkan. Tapi, saat melihat wajahmu yang bahagia, aku sadar jika aku masih belum paham apa yang kau mau."
__ADS_1
"Jadi, ini bukan tempat yang terbaik menurutmu?"
"Tidak juga. Ini adalah yang terbaik untukmu dan aku senang kau bisa menikmatinya."
"Apa kau tidak menikmatinya?"
"Selama ada kau di sisiku, aku bisa menikmatinya. Kau selalu bisa kunikmati kapan saja aku inginkan, bukan? Haha."
Lyla menyesal menanyakan hal itu karena tangan Morgan sudah mulai nakal menelusup ke dalam pakaiannya. Tangan besar itu menggoda ujung dadanya dan membuat desir darah Lyla semakin kencang saja.
"Morgan, kau tidak punya rasa lelah!" cibir Lyla.
"Aku tidak akan lelah denganmu."
Morgan mencium bibir istrinya dan mulai mengangkat tubuh Lyla untuk dibawanya ke kamar yang ada di sana. Lyla pasrah sekali lagi, toh, selama dia tidak pingsan, dia akan sulit untuk menolak keinginan Morgan. Berdoa saja supaya dia masih kuat untuk berjalan dan menemui ayah mertua dan istrinya yang baru.
Baru saja Morgan akan melucuti pakaian Lyla, suara ketukan dan teriakan terdengar dari luar. Suara sang ayah yang khas dan melengking keras.
"Morgan! Yuhuuu! Apa kalian sudah sampai?"
Pintu terbuka terdengar cukup keras. Lyla yang terkejut mendengar suara Robinson segera mendorng tubuh suaminya menjauh.
"Ah, sialan! Kenapa dia datang di saat yang tidak tepat?" gumam kesal pria itu.
Lyla bersyukur di dalam hatinya, karena kedatangan Robinson membuat dia selamat menjadi hidangan makan siang suaminya. Lelah rasanya, tapi dia tidak kuasa menolak keinginan Morgan. Apa yang dilakukan Morgan membuatnya tidak bisa mengatakan 'tidak'.
Morgan pergi dan membuka pintu, menutupnya dengan sedikit keras tanda kekesalannya kepada sang ayah.
"Selamat!" ucap Lyla kali ini dengan suaranya sambil mengusap dadanya beberapa kali. Segera dia merapikan pakaiannya dan membuak pintu kamar.
"Aku hanya ingin mengajak kalian makan siang. Kalian belum makan siang kan? Hei, Laura. Bagaimana perjalananmu tadi? Aku yakin sangat menyenangkan untuk Morgan dan menyakitkan untukmu," ujar Robinson saat melihat Lyla keluar dari kamar.
"Apa maksud ucapanmu? Kau tidak sopan!" geram Morgan.
"Eh, aku hanya bertanya saja. Lagipula, lihat wajah istrimu, kusut seperti itu. Apa kau membuatnya tidak bisa beristirahat dengan baik? Ish, ish, ish. Kau ini pria macam apa?" ujar Robinson.
Morgan mengusap wajahnya menahan kekesalan, tapi memang apa yang dikatakan sang ayah tidak lah salah, mereka memang melakukannya di sepanjang perjalanan menuju ke pulau ini.
"Ah, rupanya kau sama denagn bibimu. Aku pun tidak bisa beristirahat dengan baik saat di perjalanan," bisik Robinson di dekat telinga sang putra.
"Ayah, mana Tante Selvi?"
"Mom ada di cottage sebelah. Ayo kita ke sana, dia sedang menyiapkan makan siang untuk kita semua."
"Mom?" ucap Morgan dengan kerutan di keningnya.
"Yeah, dia ingin kalian memanggilnya seperti itu. Tolong kerja samanya. Dia akan sangat senang jika kalian menyebutnya demikian."
Robinson keluar dari cottage itu terlebih dahulu.
"Ya Tuhan. Drama apa lagi yang akan terjadi di dalam hidupku?" ujar Morgan sambil mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut.
Lyla tertawa kecil dan mengusap pundak suaminya dengan lembut. "Sekarang kau mempunyai dua ibu, Ibu dan Mom. Haha."
Morgan pasrah saat Lyla menariknya keluar dan menyeberang ke cottage yang ada di sebelahnya.
"Kalian sudah datang? Aku sudah memasak untuk makan siang."
Selvi tersenyum senang saat melihat dua orang itu sudah berada di halaman belakang cottage hunian milik Robinson dan Selvi.
Dari penampilan masakan yang ada di sana, Morgan tidak yakin dengan rasa yang ada, apa lagi jika memang itu adalah masakan Selvi. Lidahnya tidak akan bisa menerima makanan lain selama tiga hari setelah ini.
Ingat akan masakan Selvi yang dulu pernah dia buat untuk makan malam mereka. Morgan dan Gerald pergi ke kamar mandi setelah itu hingga pagi harinya.
"Ayo kita makan. Morgan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Glek!
"Bolehkah aku pergi sekarang juga? Perutku rasanya tidak nyaman," bisik Morgan pada istrinya.
Lyla sudah pernah mendengar cerita itu dari Gerald dan dia juga sedang ingin menghindari hal yang sama, tapi Lyla tidak membiarkan pria itu pergi melihat wajah Seli yang sumringah akan kehadiran mereka.
"Kau harus menghargai usaha Mom yang sudah susah payah memasak untuk kita."
__ADS_1
Morgan tidak bisa menghindar lagi, apa lagi saat istrinya memerbikan tatapan bak anak kucing lucu yang tidak bisa dia tolak sama sekali, padahal dia benci anak kucing, tapi ia tida bisa menolak tatapan mata Lyla.