
"Kau mau ke kantin?" tawar Markian saat pelajaran mereka telah selesai. Lyla yang masih membaca bukunya mengangkat dan menggelengkan kepala. Beberapa orang sudah beranjak keluar dari kelas itu.
"Tidak. Aku pikir, aku akan lanjut membaca saja," ucap Lyla sambil tersenyum.
"Kau tidak lapar?"
Lyla menggeleng lagi, sebenarnya dia sedikit lapar, tapi dia ingat tidak memiliki uang untuk membeli makanan di sini. Pastilah semua harga yang ada mahal untuk dia beli.
"Kau yakin?" tanya Markian melihat jam yang ada di tangannya.
"Iya, kau pergilah sendiri. Aku tidak apa-apa," ucapnya. Markian merasa lapar, tapi dia juga tidak enak hati jika harus pergi sendiri, apa lagi yang dia hadapi sekarang ini adalah adik dari Tuan Castanov.
"Kenapa kau tidak pergi? Apa kau ketinggalan dompet?" tanya Markian seraya tertawa kecil dengan maksud bercanda. Lyla merasa kikuk mendengarnya. Jangan sampai Markian tahu jika dirinya memang tidak membawa bekal uang sama sekali.
"Tentu saja aku bawa. Aku hanya sedang ... diet," ucap Lyla sekenanya, juga sambil tertawa kaku.
"Oh, ayolah. Kau tidak perlu diet. Apakah makan sedikit bisa membuat tubuhmu melar?" tanya laki-laki itu lagi.
"Iya, begitulah," ucap Lyla.
"Aku tidak percaya. Ayo! Aku tidak mau kau kelaparan dan membuat kakakmu marah." Markian mengambil buku dan menarik tangan Lyla untuk ikut dengannya ke kantin.
"Eh, tunggu! Aku---"
"Sudah. Karena ini adalah hari pertamamu masuk ke universitas ini, jadi aku akan mentraktirmu makanan yang enak. Kau tidak akan bisa diet jika sudah berada di sana," ucap Markian lagi tanpa mau mendengarkan ucapan dan penolakan dari Lyla. Dia terus menarik tangan Lyla dan tidka mempedulikan dengan beberapa orang yang melihat mereka.
Tak lama mereka telah sampai di kantin, wangi aroma makanan yang ada di sana membuat perut Lyla kini meronta juga. Dia yang bertekad untuk menahan lapar, tentunya tidak akan bisa setelah sampai di sini.
"Ayo!" Markian kembali menarik tangan Lyla dan membawanya duduk di meja yang berada di dekat jendela.
"Dari sini kita bisa melihat suasana yang ada di luar. Aku paling suka jika makan sambil melihat aktivitas di luar," ucap Markian yang membuat Lyla senang.
"Aku juga senang makan di dekat jendela dan melihat keadaan di luar."
"Woww. Sepertinya kita memiliki satu persamaan. Makanan apa yang paling kau suka?" tanya Markian.
"Spaghetti."
"Aku juga. Minuman?"
"Aku suka orange jus."
__ADS_1
"Kita sama. Aku suka warna biru," ucap Markian.
"Aku tidak suka. Tapi aku suka dengan pantai meski aku belum pernah pergi ke sana," ucap Lyla dengan bersemangat.
"Aaahhh, kita memang cocok. Apakah kita sedarah? Jangan-jangan kita ini saudara!" tanya Markian yang membuat Lyla terdiam seketika. Bagaimana jika Markian tahu Lyla berasal dari panti asuhan?
Markian melihat Lyla yang terdiam, dia menyangka jika wanita itu tengah sedih karena suka laut, tapi tidak pernah pergi ke sana. mungkin saja Tuhan Castanov terlalu sibuk sehingga tidak pernah membawanya bepergian.
"Musim panas nanti aku bisa merencanakan pergi ke laut, keluarga kami punya villa di sana. Meski kecil, tapi cukup menyenangkan buatku. Itu pun jika kau mau ikut dengan keluarga kami." Markian berkata dengan riang dan ternyata berhasil membuat Lyla tersenyum lagi.
"Musim panas nanti Tu ... kakak akan membawaku pergi ke desa. Dia akan mengajariku cara beternak," ucap Lyla dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Oh, ternyata kau sudah punya rencana." Markian merasa kecewa, tapi dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu lain kali kita bisa pergi bersama-sama. Jika kau ingin ke pantai aku bisa membawamu ke sana."
Lila terdiam dan hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. "Aku tidak bisa janji," ucapnya dengan pelan, tapi bermaksud menolak.
"Oh iya aku lupa, kakakmu."
Lyla menganggukan kepalanya. Meski mungkin Morgan akan memberikannya izin untuk pergi, tapi dia tidak bisa begitu saja seenaknya keluar masuk di rumah itu. Lyla harus menyadari siapa dirinya karena dia memang harus banyak belajar agar bisa mendapatkan nilai yang sempurna.
"Mungkin kau bisa mengajak tuan muda juga. Aku tidak masalah jika kau ingin mengajaknya," ucap markian.
"Astaga aku melupakan sesuatu. Aku belum memesan," ucap Markian kemudian berdiri dari duduknya. "Apa kau ingin mencoba spaghetti yang paling enak di sini?" tanya Markian.
"Tentu saja aku mau."
"Dengan jus orange?" tawar Markian lagi.
"Ya."
"Oke aku akan pergi sekarang juga," ucapnya kemudian benar-benar pergi dari sana.
Lyla kini duduk sendirian menunggu Markian kembali datang, dia merasa beruntung dipertemukan dengan Markian meski terlihat laki-laki itu sangat tengil menurutnya.
Markian kembali duduk di hadapan Lyla. "Tunggu makanan datang, sedikit mengantri di sana," tunjuk Markian dan mendapatkan anggukkan kepala dari Lyla.
***
Suara ketukan di pintu terdengar dengan sangat jelas. Morgan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sekretaris yang datang mendekat padanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Morgan saat wanita itu bahkan belum berhenti melangkah.
"Sudah waktunya makan siang, Tuan. Apakah Anda ingin dipesankan makanan?" tanya wanita itu.
Morgan terkejut karena melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Rasa-rasanya baru saja dia duduk, kenapa jam berlalu dengan sangat cepat?
Dia teringat akan Lyla.
"Pergi saja. Aku akan makan siang di luar," ucap Morgan mengusir. Wanita itu hanya mengangguk dan pergi dari ruangan tersebut.
Morgan teringat dengan Lyla, dia merasa bodoh karena tidak memberikan uang untuk membeli makan siang. "Oh, pasti dia kelaparan di sana," ucap Morgan kemudian bangkit dari duduknya dan bergegas pergi dengan langkah kaki yang cepat.
Gerald baru keluar dari ruangan kantornya dan sedang menunggu pintu lift terbuka, dia melihat Morgan yang tergesa-gesa baru saja sampai di sampingnya.
"Ku kira kau sudah turun sedari tadi," ucap Gerald. Akan tetapi, Morgan tidak menjawabnya, dia hanya membenarkan dasinya yang sedikit membuat tercekik.
Pintu lift terbuka, kedua petinggi perusahaan itu masuk ke dalam kotak besi tersebut. Gerald menekan tombol lift dan segera mereka meluncur ke bawah.
"Kita akan makan di mana?" tanya Gerald.
"Kau makanlah sendiri."
Gerald mengerutkan keningnya. "Kau tidak akan makan?"
"Aku harus pergi ke universitas," ucap Morgan dengan gelisah.
"Hah, kau sangat memperhatikan dia sampai-sampai makan siang saja di sana," ucap Gerald ingin tertawa.
"Justru itu, aku melupakan sesuatu. Dia tidak aku berikan uang untuk membeli makanan."
Gerald menatap Morgan dan menggelengkan kepala. "Ckckck, kau laki-laki yang kejam. Bagaimana jika dia kelaparan?" tanya Gerald tak habis pikir.
"Apa kau tidak mengerti jika aku lupa?" ucap Morgan kesal. "Astaga! Sial!" kini Morgan berdecak kesal dan menyebutkan kata umpatan dengan sangat jelas.
"Ada apa lagi?" tanya Gerald bingung.
"Aku melupakan ponselnya."
Kali ini Gerald benar-benar tidak bisa menahan tawanya, keras sehingga Morgan menatapnya semakin marah.
"Kalau begitu naiklah lagi. Ambil dan antarkan padanya. Astaga. Kau seperti orang tua yang sudah pikun," ejek Gerald. Tepat saat Morgan ingin kembali mengumpat, pintu lift terbuka. Tak ada waktu untuk mengambil ponsel itu ke lantai atas, Lyla bisa saja sudah kelaparan.
__ADS_1
"Ah. Sial!" umpatnya, kemudian pergi keluar dari lift tersebut meninggalkan Gerald.
"Hei, kau tidak membawa poselmu?" tanya Gerald dengan berteriak keras, tapi Morgan tidak menggubrisnya, dia melarikan kakinya menuju di mana mobilnya berada.