Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
43. Pertanyaan Selvi


__ADS_3

Lyla sedari tadi hanya diam saja di pembaringannya, dia tidur dengan menghadap ke arah tembok, memunggungi Morgan yang duduk di sofa. Sesekali dia mengusap sudut matanya yang basah dengan ujung tangan dan berusaha untuk tidak terlihat bergerak oleh laki-laki itu. Saat dia itu lengah nanti, dia akan menyelinap dan pergi jauh.


Untuk apa bertahan jika dia saja mengatakan aku bukan wanita yang baik. Dasar baj*ngan! gumam Lyla di dalam hatinya.


Sementara itu di tempatnya duduk, Morgan tengah memainkan hp-nya untuk mengusir rasa bosan. Menunggu bukanlah kebiasaannya, tapi kenapa juga dia harus bertahan di sini.


"Astaga! Apa yang sudah aku lakukan?" gumam laki-laki itu pelan, tapi masih terdengar suaranya oleh Lyla. Morgan menatap punggung Lyla dan merasa aneh.


Kenapa rasanya jadi berubah posisi? pikir Morgan heran, tapi kemudian dia tidak ambil pusing dengan itu dan lanjut bermain game kesukaannya.


Sementara itu di kantor, semua pekerjaan Morgan kini beralih pada Gerald. Laki-laki itu mendecih sebal saat orang yang harusnya bertanggung jawab malah tidak ada di sana.


"Astaga! Laki-laki itu kemana? Kenapa pergi selama ini?" gumam Gerald yang sudah pusing dengan banyaknya pekerjaan Morgan yang terbengkalai. Dia menatap banyaknya berkas yang harus dia urus, dia cek dan beri ACC untuk kelanjutannya.


"Tuan, sepuluh menit lagi Tuan Morgan harus menghadiri rapat dengan Perusahaan Harvey," ucap sekretaris memberi tahu.


"Astaga!" Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pergilah dulu, nanti aku hubungi lagi. Hubungi saja Tuan Harvey, undur waktunya di jam makan siang nanti," ucap Gerald setelah melihat arloji yang ada di tangannya.


Sekretaris tersebut merasa bingung, pasalnya dia tahu jika Tuan Harvey orang yang pemarah. Dulu saja dia sampai dimaki gara-gara hal yang seperti ini, apa lagi sekarang untuk yang kedua kali?


"Apa yang kau tunggu? Pergilah!" ucap Gerald mengusir. Wanita itu segera pergi dari ruangan tersebut dengan wajah bingung dan hati yang kesal.


"Astaga. Jika bukan karena gaji di sini yang besar, aku tidak akan bertahan sejauh ini," ucap wanita tersebut sambil membuang napasnya kasar.


Gerald pun sama kesalnya dengan wanita itu, banyak yang harus dia pegang selain ini, tapi dengan kepergian Morgan yang entah kemana membuat tugasnya kini semakin menumpuk saja. Jika dia tidak segera kembali ke ruangannya maka pekerjaannya tidak akan selesai dan Morgan pasti akan semakin marah jika dia tidak menyelesaikannya tepat waktu.


"Kemana perginya laki-laki itu? Apakah dia tidak tahu diri, sehingga meninggalkan banyak pekerjaan di sini? Padahal ini adalah tugasnya, kenapa juga aku yang haru repot?" gumam Gerald kesal seraya menjauhkan berkas dengan ujung tangannya. Enggan melihat pekerjaan sebanyak itu.


"Apa dia pulang ke rumah?" Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Morgan.


...***...


Di tengah permainan game-nya, Morgan melihat panggilan yang berasal dari Gerald. Dia segera mengangkatnya dan mendengar umpatan yang keluar dari mulut laki-laki itu.


"Kemana saja kau? Apa kau tidak tahu jika sebentar lagi akan ada meeting dengan Tuan Harvey?" ucap Gerald setelah melihat panggilannya tersambung dan diangkat oleh laki-laki itu.


Morgan merasa sakit telinganya karena teriakan kencang dari sepupunya itu.


"Jaga bicaramu! Kau bisa membangunkan dia!" ujar Morgan dengan geram sedikit berbisik.


"Dia? Siapa? Kau bersama dengan seseorang?" tanya Gerald dengan kening mengerut. Tidak biasanya jika sepupunya itu berbisik dan cukup perhatian dengan orang lain.


Sadar dengan pertanyaan Gerald membuat Morgan jadi salah tingkah.


"Aku berada di rumah sakit."


Mendengar itu membuat Gerald yang tengah bersandar menegakkan tubuhnya segera.

__ADS_1


"Rumah sakit? Siapa yang berada di sana? Maksudku, siapa yang sakit?" tanya Gerald meralat ucapannya.


"Lyla."


"Eh, dia sakit apa?" tanya Gerald kini berdiri darti duduknya.


"Tidak apa-apa. Dia baik-baik saja."


"Aku akan ke sana—"


"Tidak perlu. Aku juga ada urusan di sini, kau tidak perlu datang. Oh, ya. Mengenai pertemuan hari ini dengan Tuan Harvey, kau urus saja, atau jika kau tidak bisa menghandle-nya, kau batalkan saja."


"Eh?"


"Kau jaga saja perusahaanku. Aku serahkan urusan hari ini padamu, Sepupuku!


Panggilan itu berakhir sebelum Gerald bisa mengatakan sesuatu.


"Eh, ada apa dengan dia? Ada urusan apa dia di rumah sakit?" gumam Gerald bertanya pada dirinya sendiri seraya menatap ponselnya yang kini sudah mati.


Terpaksa, jika sudah seperti ini dia harus mengerjakan semuanya sendiri. Heran juga dengan laki-laki itu, bahkan dengan Renee pun dia masih memikirkan perusahaannya.


"Aku hubungi saja Tante Selvi." Gerald kemudian menghubungi tante cantiknya.


...***...


Morgan masih memperhatikan tubuh yang tengah berbaring itu, tanpa sadar hingga matanya panas karena dia lupa untuk berkedip.


...***...


Di saat Gerald hendak menghubungi tantenya, dengan bersamaan dia juga menerima panggilan dari wanita itu. Segera Gerald mengangkat panggilannya.


"Oh, kebetulan Tante menghubungiku."


"Ada apa?" tanya Selvi dengan bingung.


"Aku yang ingin bertanya, ada apa Lyla sampai masuk rumah sakit?" tanya Gerald.


"Dia sedang demam."


"Morgan ada di sana? Sejak kapan? Apa ada seseorang yang menghubunginya sampai dia datang ke rumah sakit? Dia juga ada urusan apa di sana?" tanya Gerald beruntun.


"Justru dia yang bawa Lyla ke sini."


Gerald tercengang mendengar keterangan itu. "Hah? Bagaimana bisa?" tanya Gerald lagi.


"Aku mana tahu. Dia datang dengan menggendong Lyla."


"Eh, bagaimana bisa?" gumam Gerald pelan.

__ADS_1


"Entahlah. Apa dia tidak pergi bekerja hari ini?" tanya Selvi lagi.


"Dia ada di sini, dan dia pergi. Aku pikir ke rumah, tapi kenapa sekarang ada di rumah sakit?" ucap Gerald dengan bingung.


Selvi pun sama bingungnya, dia hanya mengetuk-ketukkan pulpen di atas mejanya.


"Oh ya, aku hanya ingin bertanya padamu."


"Tanya apa?"


"Lyla, tangan dan kakinya bengkak, apa yang terjadi dengan dia? Apakah Morgan mengganggunya lagi? Saat aku tanya dia tidak mengaku," tanya Selvi.


"Tidak, dia tidak mengganggunya sama sekali. Hanya saja semalam ada ucapan Morgan yang membuat Lyla pergi dari rumah," jelas Gerald.


"Pergi? Ada masalah apa dengan mereka?" tanya Selvi semakin ingin tahu.


"Aku tidak tahu, hanya saja yang aku tangkap dari ucapan Morgan sepertinya dia mengira jika Lyla menggodaku, mungkin ada ucapan dia yang membuat Lyla marah semalam."


"Astaga!" Selvi membuang napasnya dengan cukup kasar. "Kenapa dia sampai bicara seperti itu? Apa kalian memang dekat?" tanya Selvi lagi.


"Jika yang dimaksud punya hubungan yang lebih, aku akan menjawab tidak. Aku hanya menganggap dia seperti yang lainnya."


"Lalu kenapa kau tidak menghalanginya untuk tidak pergi?" tanya Selvi lagi.


"Semalam aku sedang ada keperluan di luar dan aku tidak tahu jika dia pergi dari rumah. Dia sakit demam, apakah parah?" tanya Gerald lagi.


"Tidak terlalu, hanya saja tangannya bengkak, dan juga kakinya. Sepertinya kakinya terkilir," ucap Selvi.


Gerald ingat semalam, melihat Lyla yang berjalan terpincang.


Selvi terdiam sebentar, tidak biasanya jika Gerald pergi dari rumah tanpa Morgan. Jadi, dia bertanya lagi. "Kenapa kau pergi semalam? Apakah ada hal yang penting? Katakan padaku.


Ah, sial. Kenapa dia harus bertanya.


"Jangan hanya diam saja. Katakan padaku kemana kau pergi semalam?" tanya Selvi membuat Gerald tersentak.


"Apakah harus aku jawab?"


"Tentu saja. Jawab, atau aku yang akan mencari tahu sendiri dan kau akan tahu apa akibatnya nanti," ancam Selvi.


Sebenarnya Gerald masih ingin menyimpan informasi ini untuknya sendiri.


"Jawab!" seru Selvi sekali lagi.


"Aku menemukan Renee," jawab Gerald akhirnya.


...***...


Mampir kuy. Kukira Kau Cinta, karya Dtyas

__ADS_1



__ADS_2