
Gerald tertawa kecil saat melihat Lyla mencuci mangkok bekas Morgan tadi makan, gadis itu berbicara dengan nada yang terdengar kesal. Ya, jika dia menjadi Lyla juga dia akan merasa kesal seperti itu. Pasalnya perbuatan baiknya seakan tidak dihargai sama sekali oleh orang yang telah ditolongnya.
"Dasar brandal tua! Apakah dia tidak tahu kata berterima kasih? Jika aku tidak menolongnya apakah dia akan baik-baik saja? Dasar laki-laki yang tidak tahu berterima kasih!" ucap Lyla dengan geram tanpa tahu ada seseorang yang ada di belakangnya tengah bersandar pada pintu dan memperhatikan dia yang sedang seperti itu.
"Memangnya dia pikir itu siapa, laki-laki yang seperti itu tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaannya. Pantas saja tidak ada wanita yang mau dengan dia. Aku yakin jika dia telah memiliki istri, jangankan satu bulan. Eh, tidak. Aku yakin hanya satu minggu wanita itu akan bertahan dengan laki-laki keras kepala seperti dia. Bahkan mungkin dia hanya akan betah satu hari bersama dengannya. Siapa wanita yang akan tahan dengan sikapnya yang seperti itu. Tidak bisa mengucapkan kata terima kasih sama sekali. Apa bibirnya telah terjahit rapat?" ucap Lyla sekali lagi dengan kesal, tangannya tak henti menggosok mangkok yang sebenarnya tidak terdapat noda yang membandel.
Gerald yang mendengar itu tidak tahan lagi, dia tertawa terbahak sambil memegangi perutnya sendiri membuat Lyla membalikkan tubuhnya dengan cepat dan terkejut saat melihat laki-laki yang ada di belakangnya. Tampak laki-laki itu tertawa dengan sangat keras dan selama beberapa hari ini dia baru melihat wajahnya berubah dari yang datar menjadi hangat. Ya, lebih baik daripada biasanya.
"Tu-Tuan!"
Lyla langsung menundukkan kepalanya saat melihat laki-laki itu kini berhenti tertawa. Hanya satu detik laki-laki itu bisa mengubah wajahnya menjadi sedingin tembok kembali dengan tatapannya yang menurut Lyla sangat dingin dan menyeramkan, sama seperti atasannya itu yang tidak tahu kata terima kasih.
"Ekhem!" Gerald berdehem untuk mengembalikan suaranya seperti semula. Dia kemudian mengusap air mata yang tanpa sadar telah muncul di sudut matanya.
"Astaga. Aku minta maaf. Aku sudah lama tidak tertawa lepas seperti itu," ucapnya sambil merapikan dasinya yang sedikit longgar. Memang laki-laki itu belum sempat membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, terlalu banyak tugas yang Morgan berikan terhadap dirinya sehingga sampai hampir larut malam seperti ini dia masih dalam keadaan bertugas.
Gerald menatap Lyla dengan tajam, senyum sedikit tersungging di bibirnya. Dia tidak menyangka ada seorang wanita yang bisa berkata seperti itu kepada Morgan, karena biasanya para wanita sangat memuja laki-laki itu dan bahkan mengantri di belakangnya untuk bisa berkencan dengan dia atau hanya sekedar mendapatkan nomor telepon.
Lyla tidak berani mengangkat kepalanya. Jujur saja dia takut jika laki-laki ini akan marah. Bisa saja kan dia mendengarnya lalu melaporkan apa yang tadi dia katakan kepada atasannya. Bisa-bisa dia diusir dari rumah ini.
Eh, bagus juga jika dia sampai mengusirku! pikir Lyla.
Lyla mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu dengan berani saat Gerald tidak juga berbicara kembali.
__ADS_1
"Apakah Anda akan melaporkan apa yang tadi aku katakan pada dia?" tanya Lyla dengan berani. Tidak dia sangka jika laki-laki itu malah menggelengkan kepalanya, membuatnya sedikit kebingungan.
"Aku tidak akan melaporkannya. Untuk apa?"
Lyla tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki ini. Bukankah biasanya asisten selalu melindungi atasannya? Bahkan suara semut pun bisa sampai juga ke telinga majikannya.
"Kenapa tidak?" tanya Lyla masih bingung.
Gerald malah mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. "Karena aku merasa memang tidak perlu. Kamu benar, dia memang orang yang sulit sekali untuk mengucapkan kata terima kasih. Tapi menurutku dia orang yang cukup baik," ucap Gerald sekali lagi.
Lyla memutar bola matanya dengan malas.
Baik dari mana?
Laki-laki itu melirik Lyla yang menatapnya malas. Dia tengah menebak apa yang ada di dalam pikiran wanita itu.
"Ya, kau memang benar. Dia memang orang yang jahat, tapi ada beberapa faktor yang memacu kejahatan tersebut dan menurutku itu adalah hal yang wajar."
"Menculik orang dan memp*rkosanya? Wajar kau bilang?" Tatapan Lyla marah dan merah menatap ke arah Gerald, sehingga laki-laki itu bisa melihat dan mendengar dengan jelas ucapan yang mengandung kemarahan itu pada diri wanita ini. Dia menarik napasnya dan mengembuskannya dengan cukup kasar.
Kenapa jadi pembahasan ini? pikir Gerald. Padahal awalnya bukan ini tujuan dari pembicaraan yang ingin dia bahas.
"Kau boleh memikirkan apa saja, di balik sikap buruk yang dia miliki dia adalah laki-laki yang penyayang. Dia hanya memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan sehingga membuat dia menjadi seseorang yang seperti ini. Jujur saja aku kehilangan sosoknya selama ini," ucap Gerald mengakui.
__ADS_1
"Lalu? Apa kau ingin mengatakan jika apa yang terjadi padaku adalah suatu yang benar juga?" tanya Lyla dengan emosi.
"Tidak," ucap Gerald singkat.
Lyla membuang pandangannya ke arah lain, lalu tertawa kecil mendengar ucapan dari laki-laki itu dan mengusap sudut matanya yang telah membasah.
"Nyatanya, masa lalu dia yang buruk telah membuat masa depanku hancur. Apa kau tahu, setelah apa yang telah dia perbuat untukku, dan kau yang memberikan harga untuk itu. Kau semakin membuat harga diriku hancur! Aku seperti pelac*r yang telah memuaskan tuanmu demi uang yang tidak bisa sama sekali mengembalikan semuanya utuh lagi!" ujar Lyla sambil mengeratkan kedua rahangnya.
Gerald hanya terdiam, wanita ini memang tak biasa.
Tatapan mata Lyla kini kembali tertuju pada laki-laki ini, dia merasa sedih karena harga dirinya sudah terinjak dengan cara yang tidak manusiawi.
"Maaf, bukan ini maksudku berbicara denganmu. Aku hanya ingin melakukan penawaran yang lain. Bisakah kau membantuku? Untuk mengubah dia kembali menjadi seperti dulu?" tanya Gerald yang membuat Lyla tidak mengerti.
"Setelah apa yang dia lakukan? Apa yang kau harapkan? Dia bukan urusanku!"
Lyla segera membersihkan mangkok yang tadi, menyimpannya dengan kasar hingga terdengar bunyi keras mangkok tersebut beradu dengan tepian wastafel itu, kemudian bergegas untuk pergi dari sana. Akan tetapi, langkah kakinya tertahan karena Gerald yang menghalangi pintu dapur dengan tubuhnya yang besar.
"Bisakah kita membicarakan ini dengan pikiran yang dingin?" tanya Gerald dengan penuh harap. Ya, harapan terakhir mungkin adalah Lyla agar bisa kembali mengubah Morgan menjadi sosok yang hangat seperti dulu.
Lyla mengangkat tangannya. "Bicara saja dengan tanganku!" Tatap Lyla dengan tajam pada netra laki-laki itu.
Tidak Gerald sangka jika wanita ini akan sangat berani sekali terhadapnya sehingga mengatakan hal yang seperti itu. Juga dengan tatapan membaranya yang membuat Gerald kini menjadi membeku menatap sorot mata Lyla yag lembut, tapi kini penuh kemarahan.
__ADS_1
Lyla mendorong kasar dada Gerald dan menyingkirkan laki-laki itu dari hadapannya. Setengah berlari Lyla pergi ke lantai atas di mana kamarnya berada.
Helaan napas sesal terdengar dari bawah hidung Gerald, bisa dia lihat punggung Lyla yang tengah berlari menjauh darinya.