
Gerald mengerahkan lebih banyak lagi orang sesuai dengan permintaan Morgan.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?" tanya Morgan saat Gerald baru saja memasuki ruangannya.
"Ya, tentu saja aku sudah melakukannya. Kenapa sejak awal kau tidak mendatangi dia? Kau terus diam dan menunggu sehingga akhirnya dia dibawa lari oleh seseorang," ucap Gerald menyayangkan sikap Morgan waktu itu.
Helaan napas terdengar dari hidung Morgan. Bukan tak ingin dia menemui Lyla, tapi banyak sekali urusan yang mungkin saja bisa membahayakan keselamatan Lyla.
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau jelas tahu semuanya," ucap Morgan yang tak ingin berdebat dengan sepupunya itu.
Gerald hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sekarang semua sudah terjadi, dan entah di mana Lyla kini.
"Aku akan pastikan mereka akan membayar semuanya jika sampai membuat satu gores saja luka di kulitnya," gumam Morgan menatap langit biru yang ada di luaran sana.
Gerald kembali ke ruangannya setelah selesai menyerahkan pekerjaan pada Morgan.
Di luar, udara sangat terik sekali. Matahari di musim panas terasa menyengat. Sepeninggal Gerald, Morgan terdiam menatap langit yang biru tanpa awan di atas sana. Dia teringat akan perkataanya waktu itu yang akan mengajak Lyla untuk pergi ke peternakan.
"Aku pasti akan mencarimu, Lyla. Aku yakin kau bisa menjaga dirimu di sana," gumam Morgan.
Sementara itu di mansion milik Alex, Lyla hanya bisa diam saja memandangi langit malam. Jam yang telah menunjukkan pukul sembilan malam tak membuatnya ingin beranjak dari taman kecil yang ada di belakang mansion. Dia hanya bisa merenung dan merenung, entah sampai kapan dirinya akan berada di sana sedangkan Alex tak mau sama sekali melepaskannya. Entah apa yang laki-laki itu inginkan dengan menahannya di sini.
"Kau belum tidur?" tanya Alex membuat lamunan Lyla tentang bayangan masa lalunya menghilang dari pelupuk mata.
"Belum."
Alex hendak duduk, Lyla menggeserkan tubuhnya dan membuat jarak di antara mereka berdua.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya laki-laki itu lagi.
__ADS_1
"Kapan aku bisa pergi dari sini? Untuk apa kau menahanku?" tanya Lyla pada laki-laki itu.
Alex menyandarkan punggungnya pada bangku dan menatap santai langit yang sama.
"Aku hanya akan menahanmu sebentar lagi. Setelah itu kau akan aku kembalikan pada Tuan Castanov," ucap laki-laki itu. Lyla mengalihkan tatapannya pada pria tampan yang memiliki garis wajah yang tegas, hidungnya mancung bak perosotan.
Tentu saja Lyla terkejut karena Alex menyebutkan Castanov yang berarti laki-laki itu tahu akan Morgan, bukan?
"Kau kenal dengan Morgan?" tanya Lyla penasaran. Alex tidak menatapnya sama sekali, dia hanya tersenyum kecil, masih menatap langit yang cerah.
"Ya, aku kenal dengan dia. Dan aku minta maaf karena membawamu ke mari," ujar laki-laki itu lagi.
"Apa kau musuhnya?" tanya Lyla dengan pelan. Alex menggelengkan kepala.
"Tenang saja, aku bukan musuhnya. Aku hanya seseorang yang sedang memanfaatkan dia dan kau," ucapnya.
Mendengar ucapan Lyla, barulah Alex mengalihkan tatapannya pada Lyla dan tertawa kecil. "Ya, tentu saja kau bisa mempercayaiku. Buktinya aku tidak melakukan hal yang buruk padamu, kan?" ujar Alex.
Lyla membenarkan apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia tidak mengalami lecet sama sekali dan Alex berusaha untuk menjaganya dengan baik.
"Lalu katakan saja aku harus seperti apa agar aku bisa cepat bebas darimu?" tanya Lyla.
Alex kembali tertawa kecil, tak menyangka jika wanita yang menjadi tawanannya mengajukan diri.
"Untuk saat ini kau hanya harus diam di sini dan tunggu saja apa yang akan aku katakan nanti. Nikmati hidupmu di istanaku," ucap Alex.
Lyla mendesah pelan dan kembali menyandarkan punggungnya pada banku kayu.
"Kau katakan ini istana, nyatanya ini adalah penjara berkedok istana untukku," ujar Lyla.
__ADS_1
Alex menatap wanita itu dengan kasihan. "Kau bosan?" Lyla tidak menjawab, hanya diam saja. Jelas tergambar dari wajah Lyla jika dia memang bosan tinggal selama beberapa minggu di tempat ini.
"Kalau begitu aku akan mengajakmu pergi besok. Kau tidak perlu mempersiapkan apa pun, hanya tinggal ikut saja denganku," ucap Alex.
"Pergi ke mana?"
"Kemana saja. Kau hanya perlu ikut dan jangan banyak bertanya," ujar Alex, kemudian bangun dari duduknya. "Ah, telingaku sakit mendengar keluhanmu sedari tadi." Alex memasukkan jari kelingkingnya dan menggerakkannya berputar di sana.
Lyla melihat pria itu pergi menjauh dan sedikit terbit senyuman pada bibirnya.
'Dia memang pria yang baik.'
Seperti yang dijanjikan Alex, hari ini mereka tengah melakukan perjalanan dengan menggunakan sebuah mobil hitam yang sangat mahal. Di depan dan di belakang mereka terdapat beberapa mobil yang mengikuti, memastikan jika atasan mereka melakukan perjalanan dengan selamat hingga sampai ke tempat tujuan.
"Sebenarnya kita akan ke mana?" tanya Lyla yang tak sabar.
"Cukup diam saja dan tunggu. Jika kau masih terus bertanya, aku akan menurunkanmu di sini dan kau harus sampai sebelum aku sampai di sana," ucap Alex yang tak mengalihkan tatapannya dari surat kabar yang ada di tangannya.
Lyla berdecak sebal dan memilih untuk membuang pandangannya ke arah luar dan menikmati hamparan rumput hijau yang ada di sana. Di dalam pikirannya tengah membayangkan jika dia berada di sana dan berbaring di antara lembutnya rumput hijau tersebut, berlari-lari dengan tangan terentang dan menghirup udara yang asri dan membuang udara kotor yang ada di paru-parunya. Tiba-tiba saja Lyla tersenyum, bayangan dirinya di sana bersama dengan Morgan, saling berkejaran seperti anak kecil dan berteriak bebas tanpa takut dengan tatapan orang sama sekali.
Tanpa terasa, mobil sudah berhenti di sebuah tempat. Jalanan tanah yang basah tidak menyurutkan laju mobil tadi untuk sampai ke tempat ini.
"Kau tak mau turun?" tanya Alex membuat Lyla yang sedari tadi melamun tersentak kaget. Lyla tak sadar jika dirinya melamun sedari tadi.
"Oh, kita sudah sampai?" tanya Lyla. Namun, Alex tak menjawabnya. Dia pergi dengan cepat tanpa menunggu wanita itu untuk keluar.
Baru saja Lyla keluar dari mobil, dia menatap ke arah bawah dengan tanah basah yang membuat sepatunya kotor. Dia sudah terbiasa dengan itu, tapi dia tidak menyangka jika Alex tidak merasa risih sama sekali dengan keadaan yang ada di sana. Langkah kakinya pasti menuju sebuah bangunan rumah kuno bercat putih kusam yang ada di sana.
"Apa kau akan di sana terus?" tanya Alex. Lyla tersenyum dan segera mendekat pada laki-laki itu.
__ADS_1