Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
178.


__ADS_3

Robinson kembali ke rumah sakit untuk memastikan jika Lyla baik-baik saja. Dia tidak percaya dengan putranya dan takut jika Morgan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada gadis itu.


Langkah kaki Robinson terdengar di lorong yang sepi, Cedrik segera mendekat ke arah Robinson dan mengiringi langkahnya.


"Berikan laporan."


Cedrik membisikkan sesuatu di dekat telinga Robinson dan membuat langkah pria itu berhenti. Tanpa berbicara lagi, dia kembali melangkah dan meninggalkan Cedrik.


Pintu ruangan Lyla terbuka, tampak dua orang itu sedang duduk dan Morgan menyuapi Lyla.


"Syukurlah, dia melakukannya dengan baik," gumamnya, tapi sedetik kemudian, Robinson melihat Morgan mendekat dan mencuri makanan dari mulut Lyla.


"Kau melakukannya lagi!" kesal Lyla setelah Morgan menjauhkan wajahnya. Laki-laki itu terkekeh kecil.


"Makanan dari mulutmu sangat enak. Aku jadi lapar."


"Kalau begitu, akan aku suapi!"


Morgan dan Lyla terkejut dan saling menjauhkan diri satu sama lain, Lyla menjadi salah tingkah. Lagi-lagi ketahuan orang lain. Robinson mendekat ke arah keduanya dengan langkah yang cepat. Lagi-lagi putranya membuat ulah di rumah sakit. Akh, rasanya dia ingin segera mengirim Lyla pulang ke rumah agar tidak melihat kemesraan dia anak itu!


"Ayah! Kau--"


"Kau mau membuat kekasihmu kelaparan? Dia tidak akan kenyang jika kau mengambil makanannya. Haisss, kalian ini ...." Robinson sudah tidak tahan lagi. Dia mengambil piring yang ada di tangan Morgan dan memberikan suapan kepada putranya itu.


Wajah Morgan memerah dan dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Aku bisa makan sendiri," tolaknya.


"Makan!" Perintah Robinson tidak mau ditolak.


Morgan kesal, tapi dia membuka mulutnya. Menolak Robinson tentu saja akan percuma karena pria tua itu tidak akan menerima penolakan. Begitu juga dengan Lyla, Robinson tidak membedakan wanita itu dan menyodorkan makanan di depan mulut Lyla.


"Tuan, aku bisa—"


"Panggil aku Ayah. Kau juga putriku sekarang."


"A-Ayah."


"Buka mulutmu." Perintah Robinson kepada Lyla.


Lyla membuka mulutnya dan menerima makanan itu dengan senyuman indah dan malu. Betapa bahagianya dia disuapi oleh orang yang menyayanginya selain ibu panti dan juga Morgan.


"Aku akan membawanya pulang ke sana."


"Tidak menikah di tempatku? Aku akan membuat perayaan yang mewah, sekaligus pesta penyambutan kembalinya putraku."


"Tidak, aku sudah merencanakan semuanya di sana."


Robinson kecewa, menghela napasnya berat mendengar keputusan Morgan.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya, Lyla sudah diperbolehkan untuk pulang. Lyla kembali ke mansion Alex dan tempat itu dijaga dengan sangat ketat. Rumah Lyla telah setengah hancur karena kejadian hari itu dan Paman Will sudah tiada karena penyerangan. Luka di tubuh Paman Will sangat parah dan pria yang semasa hidupnya lajang hingga tua itu, kehilangan banyak darah dan meninggal saat dilarikan ke rumah sakit.


Alex juga sudah diperbolehkan kembali ke rumah. Dia tidak mau tinggal di rumah sakit meski dokter berkata masih beberapa hari lagi dia harus dirawat. Dia memaksa pulang dan tidak ingin lagi meninggalkan Lyla sendirian meski sudah ada Morgan di dekatnya.


"Kau kenapa?" Alex berjalan mendekat dengan bantuan tongkat di tangannya. Lyla sedari tadi merenung di depan jendela menatap ke arah luar.


"Aku hanya sedang berpikir, seharusnya aku tidak kembali ke sini. Semua kacau semenjak aku datang, kan?" Wajahnya sendu, mendung seperti langit di luar siang ini.


"Ada kau atau tidak, semua ini akan tetap terjadi. Semua salahku. Tidak seharusnya aku melibatkanmu kemarin."


Alex menjadi merasa bersalah. Efek dari dia membawa Lyla sangat fatal dan itu di luar prediksinya. Dia tidak tahu jika selain untuk memancing seseorang datang, ada musuh yang lain yang mengincarnya. Kini ada sebersit keinginan untuk keluar dari jalur hitam.


"Aku yang seharusnya meminta maaf. Telah melibatkanmu. Aku bukan paman yang baik. Kapan kau akan menikah dengan Morgan? Aku dengar kalian akan menikah?"


Lyla kembali memandang ke arah luar dan menarik napasnya.


"Iya."


"Kau tidak meminta izin dariku? Aku sebagai walimu sedikit kecewa karena kalian memutuskannya tanpa bicara terlebih dahulu."


Lyla menarik dirinya dari tepi jendela dan mendekat ke arah pamannya, memeluk erat sang paman dengan penuh rasa sayang.


"Maaf, aku juga tidak menyangka jika dia akan mengajakku menikah secepat ini. Kau tidak apa-apa kan? Apa kau tidak mengizinkanku?" tanya Lyla pelan.


"Aku tidak berhak mengatur hidupmu. Kau sudah dewasa dan kau berhak atas hidupmu sendiri." Tangan Alex mengelus lembut kepala Lyla. "Aku hanya ingin kau bahagia. Jika kau tidak bahagia, kembalilah kapan pun kau mau."

__ADS_1


Di belakang dua orang itu, Morgan melihat kedekatan paman dan keponakannya. Dia senang karena Lyla telah bertemu dengan keluarganya.


__ADS_2