Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
191. Cukup Delapan Anak


__ADS_3

Perjalanan menuju ke pulau tropis cukup lama ditempuh oleh keduanya. Morgan mulai bosan karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di dalam pesawat itu. Lyla tertidur dengan pulas setelah satu jam lamanya mereka bercinta di atas ketinggian.


Mereka pergi setelah Morgan selesai dengan urusannya. Jumpa pers dilakukan dan sempat membuat heboh se-seantero negeri. Berita itu juga disiarkan ke seluruh negara yang ada di Benua Eropa. Keputusan Morgan melepaskan aset berharga dengan bentuk beberapa perusahaan besar di beberapa negara, anak cabang, dan juga kepemilikan rumah sakit, dan beberapa kapal pesiar, semua dialihkan atas nama Gerald dan sebagian untuk Selvi. Dua orang itu yang sangat berhak sekali untuk menerima semua kekayaan yang berasal dari ayahnya. Berita ini membuat semua orang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, mereka mengira jika dua orang itu sedang berada di dalam masalah besar sehingga Morgan mengundurkan diri dan tidak sanggup lagi untuk memimpin perusahaan. Justru hal ini membuat peluang untuk orang lain bisa menjatuhkan perusahaan raksasa tersebut semakin terbuka lebar dan mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan perusahaan besar itu. Semakin tinggi seseorang berada di atas, maka akan semakin banyak dari mereka yang menginginkan kejatuhannya.


Semua properti sudah dialihkan kepada Gerald dan Selvi, Morgan merasa lega setelah melakukannya. Semua, termasuk dunia bawah tanah sekali pun dialihkan kepada Gerald. Morgan hanya meminta mansion yang selama ini dia tinggali, jika suatu saat dia ingin berkunjung bersama dengan istrinya.


Morgan sedang duduk di kursi penumpang dengan nyaman dan menggambar di dalam ipad-nya.


"Morgan." Suara Lyla terdengar mengalihkan fokus pria itu dari ipad-nya.


"Kau sudah bangun?"


Wajah Lyla masih sendu, khas orang yang baru saja bangun.


"Aku terbangun dan kau tidak ada di sampingku. Aku pikir kita sudah sampai di pulau."


Lyla mengucek matanya seperti anak kecil dan dduk di samping suaminya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Tidak ada. Aku hanya sedang iseng saja menggambar," ucap pria itu.


Lyla penasaran dengan gambaran yang dibuat oleh Morgan dan mengintipnya. Mata Lyla dibuat terbelalak oleh apa yang ada di sana.


"Ini indah sekali. Kau yang menggambarnya?" tanya Lyla.


"Iya."


"Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya?" Lyla masih menatap sebuah rumah dengan desain detail yang indah.


"Itu karena aku tidak pernah melakukannya."


"Kau menggambar seperti seorang arsitek." Lyla memberikan Ipad itu kembali ke tangan Morgan dan tetap memperhatikan tangan halus Morgan kembali menggambar. "Apa kau bisa membuat gambar sebuaah rumah yang indah untukku?" ucap wanita itu.

__ADS_1


"Rumah yang bagaimana?"


"Aku tidak tahu, tapi aku ingin sebuah rumah dengan taman kecil di belakang rumah dan sebuah air mancur dengan banyak ikan hias di sana. Mungkin, seperti rumah ibuku sebelumnya," ucap Lyla mencoba mengingat. Suasana di rumah itu membuat dia tenang dan rasanya dia ingin jika memang dia bisa memilikinya.


"Itu mudah sekali. Aku bisa membuatkannya untukmu."


Morgan menyimpan desain rumah itu dan membuka lembaran yang baru. Tangannya dengan lincah menari-nari di atas ipad-nya dan mulai membuat sebuah sketsa ringan.


"Honey."


"Iya."


"Aku ingin memiliki anak yang banyak denganmu. Jadi, aku akan membuat istana yang sangat besar untuk kita."


Lyla menahan tangan Morgan dan menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak mau memiliki banyak anak?" Morgan kecewa.


"Tidak. Bukan itu. Aku hanya ingin rumah yang sederhana dan tidak terlalu besar. Cukup untuk kita dan empat orang anak dan dua orang asisten," ujar Lyla.


"Hah? Delapan?" Lyla membulatkan mata dan mulutnya mendengar keinginan dari suaminya.


"Iya, delapan. Bagaimana?" Bibir Morgan tersenyum dan alisnya naik dan turun dengan cepat. Selama ini dia menjadi anak tunggal dan hanya Gerald saja temannya, dia tidak ingin putra atau putrinya kesepian sehingga tercetus ide untuk memiliki anak yang banyak. Jika memang bisa, lebih dari delapan itu akan sangat bagus sekali.


"Aku bukan ikan yang bisa melahirkan sebanyak itu, Morgan! Lagi pula, jika anak kita ada delapan, umurmu berapa saat itu? Kita akan menjadi sangat tua saat anak bungsu kita menikah." Lyla terkekeh geli membayangkan hal tersebut. Jika dalam satu tahun dia melahirkan seorang anak, di awal usia kepala tiga dia sudah memiliki delapan anak. Pertanyaannya, apakah dia akan bisa memiliki banyak anak dalam waktu delapan tahun? Untuk kehamilan anak pertama saja, dia tidak tahu apakah akan berbuah dalam waktu dekat atau tidak.


"Kita tidak perlu khawatir soal itu. Aku bisa meminta dokter untuk melakukan inseminasi dan membuat kita memiliki banyak anak dalam waktu dekat. Kau bisa melahirkan anak kembar jika kau mau," celetuk Morgan. Dia hanya berbicara asal saja, tapi Lyla ternyata ucapannya itu telah membuat Lyla berpikir akan ada benarnya juga dengan usaha yang satu itu.


"Benar juga. Bukan ide yang buruk," gumam Lyla.


"Heh? Kau akan melakukan yang aku katakan tadi? Aku hanya sekedar bicara saja." Meskipun Morgan ingin banyak anak, tapi melakukan iseminasi bayi tabung rasanya masih belum terpikirkan juga. Akan lebih baik jika mereka melakukan pembuahan secara alami dan memiliki anak kembar, tapi bukankah anak kembar akan lebih ada kemungkinan jika di dalam keluarga ada yang terlahir kembar juga?


"Sayang, lupakan itu."

__ADS_1


"Eh, apa yang harus dilupakan?" tanya Lyla bingung.


"Soal anak kembar. Aku baru ingat jika istri dari seseorang kesulitan saat dia mengandung anak kembar."


"Aku pikir kau memang mau memiliki anak kembar. Aku sudah berpikir, jika kita memiliki anak kembar, pasti mereka akan sangat lucu sekali. Aku ingin anak kembar perempuan."


"Kenapa kau ingin perempuan?" Ipad yang ada di tangannya dia singkirkan, berbicara berdua dengan sang istri lebih menarik daripada melanjutkan desain rumah impian Lyla.


"Karena aku ingin menyisir dan mengikat rambut mereka. Memberikan hiasan dan pakaian cantik untuk mereka."


"Bagaimana dengan anak laki-laki?" tanya Morgan sambil menahan dagunya dengan telapak tangan.


"Jika yang terlahir anak laki-laki, aku akan memberikan pakaian yang bagus dan aku akan membuatnya tampan seperti ayahnya."


"Aku suka itu. Aku akan mengajarinya menembak sejak dini agar dia bisa melindungi dirinya sendiri."


"No! Aku tidak setuju!" ucap Lyla memotong ucapan suaminya.


"Kenapa? Seorang laki-laki harus bisa melindungi dirinya sendiri agar dia juga bisa melindungi saudara-saudaranya."


"Morgan. Kau tidak boleh melakukan itu pada anak kita. Mereka masih kecil dan kita yang seharusnya melindungi anak-anak kita. Kau tidak bisa melimpahkan soal itu pada anak laki-laki kita kelak, apalagi dia masih kecil."


Tiba-tiba saja Morgan tergelak melihat ekspresi istrinya.


"Kenapa kau tertawa?"


"Karena aku merasa lucu."


"Apanya yang lucu?"


"Tidak." Morgan menggelengkan kepalanya dan berdiri. Menarik tangan Lyla dan menggendongnya di bagian depan. "Kenapa kita berdebat dengan hal yang belum terjadi? Anak-anak kita sedang menunggu untuk dibuat sekarang ini. Ayo, kita tidak boleh lelah untuk membuat mereka hadir di perutmu."


"Morgan. Aku lelah!"

__ADS_1


"Tidak ada kata lelah untuk itu, Honey. Kita akan mencetak generasi kita selanjutnya. Oh, satu lagi. Aku ingin seorang anak yang memiliki wajah yang sama denganku," ucap Morgan kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut dan membawa Lyla untuk kembali ke dalam kamar mereka yang masih berantakan.


__ADS_2