Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
98. Pengganti


__ADS_3

Sudah beberapa hari Selvi tidak bertemu dengan Morgan sehingga hari ini dia datang di saat jam makan siangnya ke perusahaan Castanov untuk menengok keadaan keponakannya itu. Meski dia mendengar dari Gerald jika Morgan baik-baik saja, tapi Selvi merasa khawatir juga dengan anak itu.


Di depan perusahaan, Gerald yang baru saja sampai dari urusan di luar kantornya mendapati Selvi yang tengah menunggu lift.


"Tante. Kau datang?" sapa Gerald. Selvi yang merasa terpanggil menoleh dan tersenyum mendapati keponakannya yang lain.


"Iya, dari mana kau?" tanya Selvi balik.


"Urusan yang sepupuku tidak mau pegang," ucap Gerald ketus. Selvi tersenyum dan menepuk bahu Gerald dengan pelan.


"Kau harus bersabar dengan dia."


"Hem, ya. Aku sangat bersabar sekali, kau tahu ukuran sabarku masih sangat banyak asalkan tidak berhubungan dengan wanita itu."


Selvi menoleh pada Gerald dengan alis yang terangkat satu.


"Mereka sudah bertemu?"


"Ya, aku pikir sudah. Ada yang melihatnya datang ke sini," ucap Gerald membuat Selvi tidak suka.


Pintu lift kemudian terbuka, dua orang yang ada di dalam lift tersebut menundukkan kepalanya sedikit ketika melihat dua orang petinggi di perusahaan ini. Meski Selvi tidak turun secara langsung, tapi dia adalah salah satu pemilik saham yang lumayan besar di perusahaan ini.


Dua orang itu menyingkir dan mempersilakan Selvi dan Gerald untuk masuk ke dalam sana.


"Kau punya rencana?" tanya Selvi menatap angka di lift yang sudah mulai berganti.


"Ya, kau tenang saja. Aku sudah memikirkan semuanya."


Selvi tersenyum dengan bangga dan senang.


"Aku serahkan semua padamu, jangan sampai wanita itu bisa masuk kembali ke dalam kehidupan Morgan."


Gerald terdiam, itu berarti dia akan kehilangan Renee untuk yang kedua kali. Meski rasanya berat, tapi dia tidak bisa membuat Morgan dekat lagi dengan wanita itu. Perasaannya pada wanita itu harus dia kesampingkan melebihi apa pun.


"Kau baik-baik saja?" tanya Selvi saat Gerald tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan barusan.


"Ya, aku baik."


"Aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu, tapi aku juga tidak mau jika kalian bertengkar hanya karena masalah wanita. Bukan aku tidak ingin membuka pikiran yang baik terhadapnya. Dia memang wanita yang baik, tapi cara yang dia ambil adalah cara yang salah. Kau tahu kan bagaimana dia telah mengkhianati kita?" ucap Selvi.


"Ya, benar. Kau tenang saja. Aku akan baik-baik saja," ucap Gerald.


Mereka berdua terdiam.


"Bagaimana dengan rencanamu? Apa kali ini berjalan dengan lancar?" tanya Gerald kemudian.


"Ya, untuk sampai saat ini tidak ada masalah. Semua masih ada di dalam kendaliku," jawab Selvi.


"Baguslah. Aku harap sampai akhir nanti rencana kita akan berjalan dengan lancar," ucap Gerald.


"Ya, kita harus benar bekerja sama untuk ini."


Pintu lift kemudian terbuka dan mereka sampai di lantai atas. Kedua orang itu berjalan bersamaan menuju ke ruangan Morgan.


"Apa kau akan ikut makan siang dengan kami?" tawar Selvi saat sebelum membuka pintu ruangan Morgan. Gerald menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku akan makan siang nanti saja setelah kalian kembali."

__ADS_1


"Oh, oke. Jaga kesehatanmu dengan baik. Jangan sampai kau sakit. Aku sangat mengandalkanmu, Gerald," ucap Selvi dengan penuh harap. Gerald tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, tentu saja. Aku tidak selemah itu dengan penyakit," jawab Gerald.


Selvi menjawab dengan senyuman, kemudian masuk ke dalam ruangan Morgan. Tampak laki-laki itu tengah berdiri menghadap jendela sambil merokok.


Morgan mendengar suara derap langkah kaki mendekat ke arahnya, dia hanya menolehkan kepalanya sedikit dan melihat dari ujung mata jika Selvi datang mengunjunginya.


"Apa yang aku katakan tentang merokok?" tanya Selvi kesal. Sudah berulang kali Morgan ketahuan merokok.


Morgan membalikkan tubuhnya dan menyesap sekali lagi rokok di tangan sebelum mematikannya pada asbak yang terdapat di meja di sebelah jendela.


"Aku hanya iseng."


"Iseng?" tanya Selvi dengan tidak habis fikir terhadap keponakannya ini. "Setelah kau mengalami hal yang buruk karena benda ini kau bilang iseng?" ucap Selvi seraya mengacungkan rokok milik Morgan di samping kepalanya.


"Itu berbeda, Tante. Aku sudah tidak mengkonsumsi barang terlarang itu lagi."


Selvi tertawa dingin dan meremas rokok tersebut sehingga rusak dan membuangnya ke tempat sampah.


"Tetap saja kau tidak bisa abai dengan kesehatanmu." Selvi kini duduk di kursi.


"Apa kau mendapatkan undangan lusa?"


"Ya, Louis yang mengantarnya untukku. Kau akan datang?" Morgan ikut duduk di depan Selvi.


"Ya, untuk itu lah aku datang kemari. Aku tidak ada teman untuk datang. Kau juga tidak ada pasangan kan untuk datang ke pesta itu?" tanya Selvi.


Morgan mengerutkan keningnya hingga berlipat-lipat.


"Tidak. Dia sedang ada jadwal operasi lusa nanti."


"Oh."


"Kau tidak keberatan kan menemaniku pergi ke sana? Aku tidak enak hati jika tidak datang karena mereka sudah mengundangku," ucap Selvi.


Terpaksa Morgan tersenyum dan mengangguk saja. Dia tidak mungkin menolak ajakan dari bibinya ini.


"Ya. Aku akan menjemputmu nanti," ucap Morgan. Selvi tersenyum senang.


"Ayo kita pergi. Aku datang ke sini untuk mengajakmu makan siang."


"Haruskah?" tanya Morgan enggan. Dia masih belum merasa lapar siang ini.


"Ya, aku belum sarapan karena kesibukanku tadi di rumah sakit. Kau tidak akan menolak ajakanku, dan membiarkan aku kelaparan, bukan?" ujar Selvi. Mau tak mau Morgan berdiri dan mengikuti langkah kaki Selvi pergi dari ruangan itu.


...***...


Keesokan harinya, Morgan telah bersiap dengan jas terbaiknya untuk pergi ke pesta. Dia sudah sangat rapi sekali dan terlihat sangat tampan.


Cermin yang ada di depannya memantulkan bayangan wajah Morgan yang tampak bersinar.


"Ya, aku selalu tampan," ucap Morgan mengagumi dirinya sendiri seraya tersenyum di depan cermin.


Morgan kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke arah luar.


"Eh, Tuan. Tunggu!" teriak Lian dari belakang membuat Morgan menghentikan langkah kakinya di teras rumah. Morgan membalikkan tubuhnya dan melihat Lian yang tertatih berlari mendekat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Morgan.


"Em ... anu. Apa Anda akan pergi ke pesta di rumah Tuan Louis?" tanya Lian.


"Hem."


"Nona Lyla akan ikut dengan Anda, tadi dia menyuruhku untuk bicara denganmu karena dia sedang bersiap-siap sekarang ini."


"Dia akan ikut?"


"Ya. Apakah Nona Stevie tidak bicara dengan Anda?" tanya Lian bingung.


"Bibiku?"


"Iya, Nona Selvi. Namanya Stevie kan? Aku sedikit sulit untuk menyebut Selvi, seperti sedang berswafoto saja," ucap Lian. Sadar akan tatapan Morgan yang dingin dia kemudian menundukkan kepalanya dengan cepat. "Maaf."


Morgan menghela napasnya dengan kesal. "Dia tidak menghubungiku. Apa dia tadi menelepon?" tanya Morgan lagi.


"Dia datang ke sini saat Anda belum pulang. Aku pikir dia sudah menghubungi Anda."


"Hem." Hanya itu jawaban Morgan dan menggerakkan tangannya untuk menyuruh Lian pergi dari sana. Akan tetapi, gadis kecil itu terkadang belum paham dengan gerak tangan dari majikannya itu.


"Kenapa kau masih ada di sini, pergilah."


"I-iya." Lian segera kembali masuk ke dalam rumah, sementara Morgan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Selvi.


"Hai, Morgan. Aku mohon maaf untuk malam ini. Aku ada halangan dan tidak bisa hadir di pesta itu. Jadi, aku meminta Lyla untuk menggantikanku datang bersama denganmu. Kau tidak apa-apa, kan?" tanya selvi sebelum Morgan berkata apa-apa.


"Apa kau ada masalah?" tanya Morgan bingung. Terdengar helaan napas yang berat dari mulut Selvi.


"Aku menyesal. Tapi aku tidak bisa menolak pasien yang butuh pertolonganku. Kau tidak apa kan pergi dengan Lyla? Beruntung dia mau menggantikanku," ucap Selvi terdengar menyesal.


"Hem, ya. Tidak masalah," ucap Morgan kemudian mematikan panggilan tersebut sepihak.


Helaan napas kasar terdengar dari mulut Morgan, dia sampai mengabaikan niatnya untuk mengajak Renee karena Selvi yang mengajaknya pergi ke sana seperti apa yang diinginkan oleh Louis dan keluarganya.


"Tuan. Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Lyla dari belakang.


Morgan membalikkan tubuhnya dan tercengang ketika melihat Lyla sudah berdiri di sana sambil tersenyum padanya. Lyla tampak sangat cantik sekali dengan gaun putih yang menjuntai menyapu lantai. Rambutnya terurai dengan anting-anting panjang di kedua telinganya, cantik tanpa riasan yang berlebihan. Seketika Morgan tidak bisa bergerak, bahkan berkedip pun dia merasa sulit.


"Maaf, aku sedikit sulit dengan gaun ini. Ah, kenapa juga Tante Selvi memberiku gaun panjang menjuntai seperti ini," ucap Lyla sedikit kesal karena dia harus mengangkat gaun tersebut ketika berjalan.


Lyla melihat Morgan yang hanya diam saja mematung menatapnya. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Morgan sehingga laki-laki itu tersadar dari lamunan.


"Tuan. Hei, kau kemasukan setan patung kah?" tanya Lyla. Morgan mengenyahkan tangan Lyla dari wajahnya.


"Kau ...." Menatap ke atas hingga ke bawah, Morgan nyatanya tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Apa? Aku tidak pantas pakai ini?" tanya Lyla.


Morgan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ayo pergi!" ucap Morgan.


Sial! Kenapa juga Tante Selvi harus menyuruh Lyla memakai gaun seperti ini?


...***...


Penasaran nggak Lyla seperti apa? Hehehe 🤭

__ADS_1


__ADS_2