Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
18. Terpana


__ADS_3

Makanan yang telah dibuat kini sudah terhidang di atas meja makan. Lyla menatap penuh minat makanan tersebut yang ada di sana. Penampilannya sangat cantik sekali, seperti mie yang dia lihat ada di film Jepang dengan beberapa toping yang ada di atasnya. Sangat cantik sekali sampai-sampai sayang untuk dimakan.


"Kenapa hanya dilihat saja? Apa Nona tidak berkenan?" tanya Lian menunggu di dekat Lyla. Sang ibu dan yang lainnya juga menunggu dengan hati berdebar, takut jika Lyla tak berkenan maka mereka akan membuatkan makanan yang lain untuk gadis itu.


"Eh, tidak. Ini sangat cantik sekali, rasanya sayang untuk dimakan," ucap Lyla sambil tersenyum malu. Semua yang ada di sana menghela napasnya lega.


"Haha, aku kira apa!" Lian memukul pelan lengan Lyla tanpa sadar. Sang ibu yang melihat melotot tajam atas sikap Lian barusan.


"Eh, maaf. Maaf, aku tidak sengaja." Lian tertawa malu, sambil mengelus lengan Lyla yang tadi dia pukul pelan.


"Tidak apa-apa. Kamu Lian, kan?" tanya Lyla, Lian menganggukkan kepala. "Maukah kamu makan denganku? Rasanya tidak enak jika makan sendirian. Kalian juga, ayo," pinta Lyla. Semua orang saling berpandangan satu sama lain.


"Kami makan di belakang saja," ucap pelayan yang lain sambil menunjuk ke arah dapur.


"Oh, apakah kalian harus makan di belakang sana? Kalau begitu ayo kita makan di sana. Aku akan ikut dengan kalian," ucap Lyla sambil berdiri dan mengambil mangkok yang ada di depannya dengan menggunakan tangan kanan.


Semua orang menjadi bingung dengan permintaan gadis itu. Apa yang akan tuannya lakukan jika melihat mereka makan bersama.


“Anu … Nona. Kami akan kena marah jika Nona makan bersama dengan kami. Nona adalah tamu tuan muda—”


“Memangnya kenapa kalau aku adalah tamunya? Apakah aku tidak boleh makan dengan kalian? Tidak ada bedanya aku dengan kalian, dia saja yang membedakan satu manusia dengan manusia yang lainnya. Di mata tuhan manusia itu sama, diciptakan dari asal yang sama, dan akan kembali ke tempat yang sama pula.” Lyla merasa marah dengan hal tersebut. Kesal rasanya ada manusia yang membedakan dirinya satu sama lain.


“Di mana kalian makan? Aku akan pergi,” ucap Lyla lalu berjalan ke arah belakang di mana dia pernah melihat seorang pelayan makan. Para pelayan tersebut melihat Lyla dengan takjub. Jarang sekali mereka menemukan wanita yang seperti ini, apalagi para wanita yang pernah masuk ke dalam rumah ini untuk menggoda majikan mereka.


“Nona sebaiknya Anda kembali ke ruang makan, kami takut tuan muda akan marah,” ucap ibu dari Lian yang mengikuti langkah kaki Lyla dari belakang. Lyla tidak mendengarkan larangan tersebut, baginya kali ini dia hanya ingin makan ditemani oleh seseorang.

__ADS_1


“Jika dia tidak melihat, dia tidak akan marah, bukan?“ tanya Lyla kemudian melanjutkan langkahnya ke ruangan belakang.


“Apa yang harus kita lakukan?“ tanya seseorang kepada yang lainnya. Mereka takut tuan muda akan marah.


“Aku pikir tidak apa sesekali saja. Yang penting dia mau makan,” jawab yang lainnya. Mereka semua mengikuti langkah kaki Lyla menuju ke ruangan belakang.


“Kenapa kalian tidak membawa makanan? Aku mau makan ditemani oleh kalian semua,” ucap gadis itu. “Aku menunggu di sini. Bolehkah aku meminta kalian untuk menemani makan malamku?“ tanya Lyla dengan memohon. Kembali para pelayan itu saling berpandangan, tapi segera menurut ketika ibu dari Lian menganggukan kepala. Mereka kembali ke dapur dan mengambil makanan masing-masing. Akhirnya semua orang duduk bersama Lyla dan menikmati makan malam mereka meski rasanya sangat canggung sekali.


Mobil berwarna hitam baru saja masuk ke dalam halaman rumah, seseorang turun dari dalam sana dengan keadaan dirinya yang terlihat lelah. Wajahnya tampak kusam seperti pakaian yang belum disetrika. Dia turun dari dalam mobil dan melonggarkan dasinya yang terasa semakin lama semakin mencekik lehernya. Langkah kakinya lunglai menuju ke pintu rumah berada.


Gerald membukakan pintu untuk tuannya tersebut, dia mengikuti langkah kaki laki-laki itu di belakang.


“Besok apa saja jadwalku?“ tanya Morgan tanpa menghentikan langkah kakinya. Gerald segera membuka buku catatan miliknya.


“Kenapa kita harus pergi ke proyek? Apa kau tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri?“ tanya Morgan sedikit kesal. Gerald menatap bingung sepupunya itu. Biasanya laki-laki itu yang paling semangat jika meninjau proyek yang sedang dibangun. Mengkritik pedas semua yang dia lihat meski itu hanya kesalahan kecil sekalipun.


Morgan berhenti sejenak, melirik ke lantai atas, entah kenapa kepalanya menoleh begitu saja ke arah pintu kamar di atas sana. Aneh memang, hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali sebelumnya.


“Silakan Anda beristirahat. Setelah menyimpan semua ini aku akan mengecek keadaannya,” ucap Gerald dengan sopan membangunkan Morgan dari apa yang dia lakukan. Tanpa banyak bicara laki-laki itu pergi ke arah ruangannya, sedangkan Gerald tersenyum tipis pada wajahnya.


Gerald menuju ruang kerja Morgan untuk menyimpan semua pekerjaan yang dibawanya, kemudian dia melanjutkan langkah kakinya ke lantai atas. Kamar Lyla menjadi tujuannya. Semoga gadis itu baik-baik saja sekarang.


Dia telah sampai di depan kamar Lyla, mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan dan memanggil namanya. Akan tetapi, tidak ada sahutan sama sekali. Dia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, melihat tidak ada siapapun yang ada di dalam ruangan tersebut, pintu kamar mandi juga terbuka yang menandakan wanita itu tidak ada di dalam sana. Gerald kemudian berlari turun karena mengira gadis itu telah kabur dari rumah ini.


Bersamaan ketika Gerald sampai di lantai bawah, Morgan juga keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


“Kenapa kau berlari seperti itu?“ tanya Morgan bingung.


“Dia tidak ada di dalam kamar. Aku akan mencarinya!“ Gerald berlari dengan cepat untuk mencari Lyla ke arah luar, sedangkan Morgan hanya menghela nafasnya lelah. Dia berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil minum.


''Apa yang gadis itu lakukan? Benar-benar tidak tahu diri!'' gumam laki-laki itu kesal karena dia juga mengira jika Lyla telah kabur dari rumah ini.


Morgan telah sampai di dapur saat dia tengah mengambil air minum terdengar suara gelak tawa dari ruangan di belakang. Dia merasa penasaran dengan suara tersebut, seperti yang dia kenali. Tanpa sadar laki-laki itu telah melangkahkan kakinya menuju ke pintu yang menghubungkan dapur dengan ruangan belakang.


“Benarkah itu? Aku tidak tahu!“ ucap Lian tertawa dengan menutup mulutnya.


“Iya, aku pernah melihat seseorang yang melakukan hal itu,” ujar Lyla juga tertawa kecil.


Morgan terpana saat melihat gadis itu tertawa, tampak seperti ada cahaya di sekeliling Lyla dan membuatnya terlihat berbeda dari sebelumnya.


“Ah, sudah. Aku tidak tahan membayangkannya. Aku mohon, Nona. Jangan cerita lagi!“ Lian tertawa terbahak mendengar cerita lucu dari Lyla tentang seseorang, juga dengan beberapa yang lainnya yang sama tertawa terbahak.


Morgan hanya diam memperhatikan, air yang ada di tangannya masih utuh belum dia minum sama sekali. Malah kini hanya diam menatap ke arah kerumunan orang yang duduk di lantai beralaskan karpet.


“Ternyata dia cantik juga kalau tertawa seperti itu,” ucap seseorang yang membuat Morgan kaget. Morgan mengalihkan tatapannya dari Lyla dan mendapati Gerald di belakangnya, tersenyum dengan wajah aneh.


“Cantik? Apa matamu buta? Kau harus periksakan matamu ke dokter besok,” ucap Morgan lalu pergi dari sana dengan kesal.


“Cantik apanya? Dia bahkan seperti anak SMP di mataku,” gumam laki-laki itu lalu meminum air yang dibawanya.


Gerald masih memperhatikan sekelompok orang yang tengah makan malam tersebut. “Mataku normal, dia saja yang tidak normal,” gumam Gerald.

__ADS_1


__ADS_2