
Lyla melirik Morgan yang tengah santai menyetir, dia memperhatikan penampilan laki-laki itu yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Morgan sadar akan pandangan Lyla.
"Tidak ada. Kau hanya berbeda hari ini," jawab Lyla.
"Apanya?"
"Entah, aku hanya berpikir jika kau berbeda saja."
"Aku aneh?"
"Tidak. Hanya berbeda. Ku pikir beda dengan aneh itu jelas tidak sama artinya. Anda terlihat lebih santai sekarang ini," ucap Lyla.
"Oh."
Perjalanan diisi dengan keheningan setelah itu sehingga mereka sampai di universitas.
"Aku bisa pergi sendiri ke dalam Tuan. Terima kasih kau telah mengantarku hingga sampai di sini," ucap Lyla dengan senyuman manis di bibirnya. Akan tetapi, Morgan malah membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dengan cepat Lyla juga ikut turun.
"Ayo masuk!" ajak Morgan, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam area perguruan tinggi tersebut. Setiap langkah kaki Morgan dipantau oleh banyak mata yang ada di sana. Bahkan ada yang terang-terangan mengarahkan ponselnya kepada mereka.
"Eh, Tuan. Apa kau ada urusan di dalam?" tanya Lyla bingung, jujur saja dia merasa terganggu karena banyak orang yang menatap mereka sekarang ini.
"Aku hanya ingin tahu di mana kelasmu," ucap Morgan. Lyla menurut saja meski dia merasa malu karena jalan bersama dengan Morgan. Bukan, tapi dia merasa jika mungkin saja Morgan yang akan malu berjalan dengannya. Lyla sengaja memperlambat jalannya dan membiarkan Morgan untuk berada di depan.
Sadar dengan Lyla yang berjalan lambat, Morgan menggamit tangan Lyla dan membawanya berjalan bersama.
"Eh, Tuan. Lepaskan aku. Banyak orang yang melihatmu di sini," ucap Lyla terkejut.
"Memangnya kenapa? Kau berjalan sangat lambat sekali!" ujar Morgan kesal. Akhirnya Lyla pasrah dan mengikuti langkah Morgan untuk menuju ke kelas yang Lyla sebutkan.
Dari kejauhan, seorang pemuda yang sedang berbicara dengan temannya melihat dua orang itu berjalan mendekat. Dia hendak pergi sebelum dirinya terkena masalah. Akan tetapi, Morgan dengan langkahnya yang lebar berhasil mendekati Markian dan menarik kerah baju pemuda itu.
"Eh, Tuan Castanov ... apa kabar Anda?" tanya Markian sambil menyunggingkan senyuman kikuk di bibirnya.
"Kabar baik. Senang bertemu lagi denganmu, Tuan Muda Lenon," ucap Morgan dengan nada yang dingin seraya melepaskan pegangan tangannya dari kerah baju Markian.
"Ya, aku juga senang bertemu dengan Anda. Anda sedang apa di sini? Apakah ada perlu lagi di ruang administrasi?" tanya Markian lagi.
"Tidak. Aku hanya mengantar saja. Ikut denganku dan tunjukkan jalan," ucap Morgan. Mau tidak mau Markian mengikuti apa yang Morgan perintahkan sehingga mereka sampai di depan pintu kelas.
"Di sini kelasnya. Apakah Anda akan masuk juga? Banyak anak-anak---" Markian berhenti bicara saat Morgan masuk ke dalam sana. Dia tidak menyangka jika laki-laki kaku berwajah datar itu akan benar-benar masuk. Suara riuh para wanita yang ada di dalam seketika terdengar heboh.
"Eh, dia benar-benar idola para wanita. Bisakah lain kali suruh kakakmu mengantar sampai di luar saja? Aku jadi kalah saing jika besok-besok Tuan Muda Castanov tetap masuk ke dalam area ini," ucap Markian lesu.
"Iya. Mungkin hanya hari ini saja dia mengantarku. Dia hanya ingin tahu kelasku saja," ucap Lyla.
__ADS_1
Markian terpana mendengar suara lembut milik Lyla. Tidak menyangka jika selain cantik Lyla juga memiliki suara yang sangat halus sekali.
"Kau cantik. Suaramu juga cantik," ucap Markian mengemukakan pemikirannya.
Lyla sadar dan menundukkan kepalanya tatkala Markian menatapnya dengan senyuman yang aneh.
Markian merasa gemas karena ternyata Lyla wanita yang sedikit pemalu rupanya. Jarang sekali dia mendapati wanita yang seperti ini.
"Tundukkan pandanganmu, Tuan Lenon!" peringat Morgan yang membuat Mark Lenon seketika mengalihkan tatapannya dan terkejut melihat Morgan ada di belakangnya.
"Maaf, Tuan. Tapi adikmu ini sangat pantas untuk dikagumi. Dia sangat cantik."
Lyla hendak berbicara jika dia bukan adik dari Morgan, tapi baru saja akan membuka suara Morgan sudah angkat bicara. "Banyak wanita cantik yang bisa kau ganggu, tapi tidak dengan adikku! Kau harus ingat dengan penawaranmu kemarin untuk bisa menjaga Lyla. Kau---"
"Jadi, namanya Lyla? Cantik seperti namanya," ucap Mark memotong ucapan Morgan.
"Ekhem. Tuan Lenon, kau harus bisa menjaga adikku dengan baik. Jauhkan dia dari para pemuda yang sama sepertimu. Jangan sampai ada yang menyentuhnya, atau pastikan jika mereka mengenyahkan pikirannya dari adikku!" tegas Morgan.
Permintaan Morgan dirasa berat oleh Markian sehingga dia menyampaikan keberatannya. "Tapi, Tuan. Aku tidak sanggup untuk membuat mereka menjauhkan pemikirannya, adik Anda terlalu indah untuk diabaikan," ucap Markian dengan jujur.
Morgan berdecak kesal, seharusnya dia membuat Lyla jelek saja di mata yang lainnya supaya tidak ada mata yang memandang Lyla dengan penuh minat bak anjing yang melihat tulang.
"Tuan, Anda jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Lyla seraya memegang tangan Morgan.
Markian merasa aneh dengan panggilan Lyla kepada Morgan, kenapa memanggil Morgan dengan sebutan 'tuan'?
"Mulai sekarang jika kita di sini panggil aku Kakak."
"Eh, kenapa?" tanya Lyla bingung, seketika dia menjadi canggung karena ucapan Morgan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau kau dipandang rendah oleh mereka. Setidaknya itu tidak akan membuatmu insecure di sini," ucap Morgan seraya mengalihkan tatapannya dari Lyla.
Lyla bingung meski dia sudah mengerti akan maksud Morgan, tapi lebih merasakan bingung karena perubahan sikap Morgan terhadapnya.
"Ingat, kau adalah adikku. Mulai dari sekarang dan seterusnya selama kau ada di sini. Aku tidak suka jika ada orang yang mengganggumu," ucap Morgan lagi.
Lyla tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya dengan senang.
"Iya. Aku mengerti, Kakak." Rasanya aneh menyebut Morgan dengan sebutan kakak. Juga dengan Morgan yang mendengar itu disebutkan oleh Lyla.
"Ehm ... permisi, Tuan, Nona. Sebentar lagi kelas akan dimulai. Apakah Anda akan membiarkan Nona Lyla terlambat masuk kelas?" Markian datang dan mengganggu waktu keduanya.
"Oh, ya. Aku akan pergi dulu. Kau belajarlah yang baik. Nanti hubungi aku jika kau pulang. Aku akan menjemputmu," ucap Morgan sebelum berpamitan. Tepat ketika Morgan akan pergi, Lyla meraih tangannya.
"Tuan. Eh, Kakak. Anu ...." Lyla melirik sebentar, ada Markian di sampingnya. Dia kemudian menarik tangan Morgan sehingga laki-laki itu sedikit menundukkan tubuhnya.
"Aku tidak bisa menghubungimu," bisik Lyla.
__ADS_1
Morgan sedikit menjauh dan menatap Lyla bingung. "Kenapa?"
Lyla yang ditanya seperti itu menghela napasnya dengan kesal. Sepertinya laki-laki ini lupa sesuatu. "Aku tidak ada ponsel," terang Lyla.
Morgan baru teringat jika ponsel milik Lyla telah dihancurkan oleh anak buahnya.
"Oh, iya." Morgan menegakkan tubuhnya dan memanggil Markian. "Mana ponselmu?" tadah tangan Morgan meminta.
"Eh, untuk apa?" tanya Markian bingung. Jangan sampai laki-laki ini mengecek ponselnya dan melaporkan apa yang ada di dalam isinya.
"Aku butuh nomormu," ucap Morgan.
"Benar hanya nomor saja? Anda tidak akan membuka yang lain, kan?" tanya Markian ingin memastikan.
"Untuk apa? Tanpa melihat pun aku sudah tahu apa isinya," ujar Morgan.
"Jangan laporkan pada Mommy dan Daddy, please." Akhirnya Markian menyerahkan ponselnya setelah Morgan meyakinkan jika dia tidak akan melaporkannya.
"Aku akan memantau adikku. Jika ada satu yang lecet, kau yang akan aku cari. Jangan coba-coba mengganti nomor teleponmu!" tunjuk Morgan ke arah Markian yang membuat pemuda tersebut seketika menjadi pucat pasi di wajahnya.
Morgan pergi dari sana dengan sedikit khawatir sebenarnya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa mengganggu Lyla di sana. Dia harus belajar dengan baik.
"Kakakmu menyeramkan sekali!" ucap Markian dengan lirih, tapi segera menutup mulutnya saat Lyla mengalihkan tatapan kepadanya. "Eh, maaf."
"Aku belum berkenalan dengan baik. Aku Markian Lenon, Ayahku berasal dari Meksiko dan ibuku orang lokal. Salam kenal," ucap Markian sambil mengulurkan tangannya pada Lyla.
"Aku Lyla." Lyla menyambut tangan Markian dan tersenyum ramah sehingga membuat Markian meleleh melihat senyuman itu.
"Ah, kau memang memiliki senyuman yang manis, Nona," ucap Markian. Dia tidak rela melepas tangan Lyla meskipun wanita itu ingin menariknya. Akan tetapi, satu panggilan telepon terdengar dari saku pakaiannya sehingga Mark tersadar dan mengambil ponselnya.
"Iya?" ucap Mark tanpa melihat siapa nama yang ada di sana.
"Lepaskan tangan adikku!" ucap suara itu terdengar dengan nada yang dingin. Markian seketika menarik tangannya dan mengedarkan pandangan mencari-cari. Tampak Morgan masih ada di ujung lorong dan menatap tajam ke arah mereka.
"Eh, Anda salah paham, Tuan. Aku hanya berkenalan dengan adik Anda---"
"Jauhkan tanganmu dari adikku!" tegas suara itu. Markian melambaikan tangannya ke arah Morgan, membuat Lyla melihat ke arah yang sama. Morgan tengah menatapnya dengan tajam.
"Ingat untuk jadi anak yang baik bagi orang tuamu!"
Ucapan Morgan bagai ultimatum baginya. Benar-benar dia tidak boleh melangkah dan berharap jauh kepada wanita ini.
"Iya, aku mengerti, Tuan."
"Bagus!" ucap Morgan kemudian menutup panggilannya, tapi dia masih menatap Markian dengan tatapan elangnya.
"Nona, lebih baik kau cepat masuk ke dalam sana. Jika tidak kakakmu bisa datang lagi ke sini dan aku tidak tahu dia akan mengancamku apa lagi," ucap Markian.
__ADS_1