Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
13. Sebuah Ancaman


__ADS_3

"Biarkan saja jika dia ingin pergi. Jangan tahan dia lagi, Tante," ucap Morgan berjalan dengan sangat santainya. Benda yang ada di tangan dia lemparkan ke atas brankar, satu dari dalam sana terjatuh hingga Lyla terdiam saat melihat sebuah foto yang terjatuh ke atas lantai.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lyla menepis tangan Selvi darinya. Tiba-tiba saja ada ketakutan tersendiri yang dia rasakan setelah melihat sekilas foto tersebut. Selvi pun merasa bingung, apa yang akan Morgan rencanakan setelah ini.


Morgan menyandarkan dirinya pada tepian brankar dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Pergilah, dan kau tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan dengan tempat itu," ucapnya dengan singkat tanpa menatap Lyla. Berbeda dengan Lyla, dia melihat Morgan dengan bertambah marah, entah apa yang akan laki-laki itu lakukan dengan panti asuhan tempatnya dibesarkan selama ini.


"Berani kau sentuh tempat itu, aku akan menghancurkanmu. Dasar brengsek!" teriak Lyla marah. Dia menghambur ke dekat Morgan sambil melayangkan tangannya di udara. Akan tetapi, dengan cepat tangan itu Morgan tangkap dan tarik sehingga jarak di antara mereka sangat dekat.


"Apa pun yang akan aku lakukan, kau seharusnya tidak peduli."


Embusan napas kasar terasa di dagu Morgan, tatapan gadis itu menyala menyimpan banyak amarah di sana, merah dan juga tajam.


"Dasar brengsek! Apa kau tidak puas sudah menganiayaku dan sekarang kau akan melakukan kejahatan lainnya? Apa yang kau mau, hah!" teriak Lyla dengan sangat keras, menjerit hingga membuat Selvi terkejut.


Morgan tak kalah menatap Lyla, menarik tangan gadis itu sehingga tubuh mereka saling bersentuhan. "Aku tidak ingin apa-apa, hanya ingin melihat kau pulih sebelum pergi dari hadapanku."


"Apa pedulimu? Apa kau pikir dengan itu aku akan memaafkanmu? Biarkan saja aku mati. Bukankah kau akan senang seumur hidupmu?" jeritnya lagi. Morgan merasa marah mendengar ucapan gadis keras kepala ini. Dia kini menghempaskan tubuh Lyla hingga terjatuh ke lantai yang dingin.


"Morgan! Apa yang kau lakukan?" teriak Selvi terkejut. Dia mendekat ke arah Lyla dan hendak membantunya. Akan tetapi, tangan kecil Lyla menolaknya lagi dan lagi.


Dengan menahan sakit pada tangan dan tubuhnya, Lyla berusaha untuk bangkit. Dia menatap Morgan dengan tajam.

__ADS_1


"Jadi, kau lebih memilih aku menghancurkan tempat itu? Baiklah kalau memang itu yang kau inginkan. Jangan salahkan aku jika satu persatu gedung yang ada di sana roboh. Atau, anak-anak yang ada di sana." Morgan bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Lyla, tanpa peduli dengan air mata yang baru saja dia lihat mengalir membasah di pipinya.


"Berani kau menyentuh mereka, aku akan membunuhmu, bajingan!" teriak Lyla seraya mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.


Selvi ingin mengejar Morgan, tapi urung dia lakukan saat melihat Lyla kini ambruk dan terduduk ke lantai, memeluk lututnya sendiri dan menangis dengan keras.


"Lyla---"


"Tinggalkan aku sendiri! Pergi!" usir Lyla dengan teriakannya. Selvi berdiri dan memilih untuk menyingkir, memberikan waktu untuk gadis ini agar kembali tenang.


Selvi baru saja keluar dari kamar Lyla, dia sedikit heran saat melihat ada dua penjaga yang berdiri di luar pintu ruangan tersebut, segera kaki jenjangnya ia larikan untuk menyusul Morgan yang belum jauh darinya.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Selvi protes.


...***...


Di dalam ruangan, Lyla masih terduduk di lantai, menangisi apa yang telah terjadi kepada dirinya sendiri. Tuhan terlalu keras dan juga tidak adil terhadap dirinya, semenjak kecil sangat sedikit hal baik yang dia dapatkan di dunia ini. Dia tidak tahu di mana orang tuanya, dia juga tidak tahu apakah dia memiliki saudara atau tidak. Sejauh ingatan yang ada padanya, dia sudah ada di panti asuhan semenjak kecil dan entah kenapa tidak ada yang mengadopsinya semenjak kecil. Dia juga tidak tahu asal usulnya sehingga banyak orang yang mengatakan jika dia terlahir dari wanita yang tidak benar.


"Huuu ...." Lyla menangis tersedu, menyembunyikan wajahnya di lengan yang terlipat di atas lutut.


Dia tidak pernah menginginkan hidup yang seperti ini, kenapa dia tidak seperti Mozza, sahabatnya yang ada di panti? Gadis manis itu selalu mendapatkan apa yang dia mau, meski mereka hidup bersamaan tapi rasanya Mozza selalu mendapatkan hal yang baik, berbanding terbaik dengan dirinya. Bahkan, dia juga mendapatkan orang tua asuh yang sangat baik dan royal, selalu membawakan makanan enak dan pakaian yang bagus jika berkunjung ke panti. Katakan lah jika Lyla cemburu. Iya, dia cemburu. Sangat cemburu dengan apa yang Mozza dapatkan.

__ADS_1


...***...


"Bagaimana dengan keponakan Anda?" tanya Edward saat mengantarkan Selvi pulang ke rumahnya. Makan malam yang tadi dia utarakan dia batalkan saja, tidak enak hati rasanya jika dalam keadaan yang seperti ini malah mengajak wanita itu pergi.


Helaan napas lelah terdengar dari wanita itu. Edward melirik ke arah Selvi, tampak wanita yang dia sukai murung di wajahnya.


"Entahlah, aku sudah mengurusnya cukup lama, tapi rasanya aku masih belum mengenal dia dengan baik."


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah berusaha dengan sangat baik," ucap Edward sambil melirik ke arah Selvi lalu saat wanita itu mengalihkan tatapannya dia pun menghindar ke arah lain. Berdebar rasanya jika dekat dengan wanita ini, selama mengenalnya dari tujuh tahun yang lalu baru beberapa kali saja mereka berbicara santai seperti ini.


"Aku yakin jika Morgan akan menjadi lebih baik sekarang ini," ucap Edward lagi menambahkan.


"Kenapa kau bisa yakin?" tanya Selvi dengan kerutan di keningnya.


"Aku melihat dia yang terus berada di depan kamar gadis itu. Aku sangat ingat bagaimana dia dulu, bahkan saat dengan kekasihnya saja dia hanya menyuruh yang lain untuk menjaganya di rumah sakit." jawab Edward. Mata laki-laki itu fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Beberapa mobil menyalip kendaraan mereka dengan kecepatan yang sedang.


Selvi terdiam sejenak, membenarkan apa yang Edward katakan. Memang tadi Morgan menunggui Lyla saat gadis itu masih ada di dalam ruangan operasi, sempat pergi, tapi tidak sampai setengah jam telah kembali lagi ke rumah sakit dan menunggu gadis itu di dalam kamarnya.


"Ya, kau benar. Tapi aku masih belum yakin bagaimana dengan dia, apakah dia benar bisa berubah atau tidak," ucap Selvi pasrah, mengingat jika Morgan adalah laki-laki yang sangat keras kepala sekali.


...********************************...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, like, vote, dan hadiah 🤭


__ADS_2