Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
148. Sisi Yang Lain


__ADS_3

Film telah berakhir, Lyla dan kedua laki-laki itu pulang kembali ke mansion. Lyla dengan bibir yang tersungging senyuman dan perasaan bahagia, tapi tidak begitu dengan Alex dan Mac, mereka sedang kesal akan sesuatu yang telah terjadi di bioskop tadi.


Bagaimana bisa aku disukai laki-laki? Batin Mac tidak percaya.


Sementara itu, Alex tengah menahan diri dari apa yang Lyla lakukan tadi.


"kau kenapa, Uncle?" tanya Lyla yang memperhatikan Alex dan hanya diam saja. Wajah laki-laki itu kaku.


"Tidak apa-apa."


"Benarkah?" tanya Lyla memastikan.


"Iya, kau pikir aku kenapa?" tanya Alex balik.


"Tidak. Aku hanya sedang memperhatikan saja, wajahmu aneh sedari tadi," terang Lyla. Alex mengambil ponselnya dan memainkannya di atas pangkuan, tepatnya untuk menutupi sesuatu yang diakibatkan oleh Lyla. Alex laki-laki normal yang sudah lama tidak dekat dengan wanita, tapi kenapa dengan Lyla miliknya jadi bereaksi?


Ah, sial! Gumam Alex di dalam hati.


"Ada apa dengan wajahku? Mungkin itu efek dari seharian ini aku berjalan di bawah terik matahari. Tapi, aku masih tampan, bukan?" tanya Alex narsis.


Lyla menatap sang paman yang narsis seperti itu dan berdecak sebal.


"Ya, ya. Kau memang selalu tampan meski wajahmu sedikit kusam."

__ADS_1


Lyla terdiam saat melihat Alex sedang sibuk dengan ponselnya, tapi ada hal yang dia ingin tanyakan. Namun, Alex menyuruhnya untuk diam saat dia menerima sebuah panggilan.


"Ya, aku akan datang malam nanti," ucap Alex, kemudian tanpa terdengar nada pamit, dia mematikan panggilan tersebut.


"Apa ada hal yang penting?" tanya Lyla.


"Ya, cukup penting sehingga kau harus pulang sendirian."


"Ha? Kenapa?" tanya Lyla bingung, sementara Mac masih memperhatikan.


"Aku orang yang sangat sibuk, jadi wajar jika ada yang menghubungiku dan menyuruhku untuk pergi sekarang. Mac, antarkan Laura pulang, setelah itu kau susul aku ke perusahaan!" ujar Alex memberi perintah yang diangguki oleh Mac.


Alex mengganti mobilnya di sebuah persimpangan, seorang bawahan terpercaya sudah menunggunya di sana.


"Apa benar tidak ada masalah?" tanya Lyla sekali lagi.


"Iya, tidak ada masalah. Kau pulanglah. Ini hanya pekerjaan kantor biasa," ucap Alex.


Alex menyuruh Mac untuk membawa Lyla pulang ke mansion.


Di tengah perjalanan, Lyla menjadi resah sendiri. "Mac, kau pikir Alex berbohong?" tanya Lyla.


"Tidak. Itu hanya pekerjaan biasa. Tuan Alex tidak akan apa-apa."

__ADS_1


"Kau yakin? Tapi perasaanku sedikit tidak enak," ujar Lyla lagi.


Mac tertawa kecil. "Nona, jika Tuan sedang melakukan hal yang sangat penting, dia pasti akan melibatkanku. Kau lihat dia tidak mengajakku kan?"


Lyla mengangguk, tapi di dalam hatinya masih resah saja.


"Sudah, tenanglah. Ayo kita pulang dan istirahat di rumah."


Mobil kembali berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke mansion utama.


...***...


Derap langkah sepatu terdengar dengan cukup jelas. Rumah yang kosong itu terlihat tidak terurus. Alex berhati-hati melangkah sebab menghindari pecahan kaca dan juga benda-benda tajam lainnya.


"His, lain kali cari rumah yan lebih layak dari ini. Ini mengotori sepatuku!" gumam Alex yang disambut anggukkan kepala oleh bawahannya.


Alex melanjutkan langkah kakinya ke sebuah ruangan gelap yang hanya terdapat satu lampu yang menggantung di sana. Tepat di bawah lampu, seseorang tengah duduk di atas kursi dengan tangan terikat di belakang dan tubuh itu terikat di kursi oleh tali tambang usang.


Alex menatap laki-laki itu dengan tatapan marah, tapi dia berusaha untuk tetap tenang di depan laki-laki ini.


Tangan besar Alex terulur mengambil dua buah sarung tangan yang dia pasangkan di tangan kanan dan kiri, setelah itu mengambil dagu laki-laki yang duduk tak berdaya di sana dan tidak bisa lagi bergerak. Dilihatnya wajah laki-laki itu di kedua sisinya, Alex tersenyum saat tidak mendapati cacat atau lecet sedikit pun di sana.


"Bagus, jangan sampai wajahnya tidak bisa dikenali."

__ADS_1


__ADS_2