
Suara derap langkah kaki terdengar dengan cukup kencang di koridor yang sepi. Langkah kaki panjang Gerald melewati beberapa orang yang ada di sana. Laki-laki itu tergesa-gesa untuk pergi menemui Morgan.
Tanpa mengetuk pintu, Gerald masuk dan mendekat pada sepupunya.
"Ada apa?" tanya Morgan saat sadar Gerald yang terburu-buru sehingga kancing jasnya tidak terkancing dengan baik.
"Aku sudah menemukan Lyla."
Morgan terpaku mendengarnya, menghentikan gerakan tangannya dan merebut kertas yang baru saja disodorkan oleh Gerald kepadanya.
"Kau yakin dia di sini?" tanya Morgan sambil membaca kertas tersebut dan mencari alamat yang tertulis di dalam sana pada smart phone-nya.
"Iya, aku yakin. Itu adalah laporan dari anak buahku yang aku percayai. Lyla ada di sana semenjak penyerangan itu."
Morgan tersenyum senang mendengarnya. Aku akan pergi sore nanti, siapkan tiket penerbanganku ke sana," ucap Morgan.
__ADS_1
Gerald sudah lama tidak melihat senyum Morgan yang seperti itu sehingga membuatnya senang.
"Kau yakin akan pergi nanti? Besok ada pertemuan, kau tidak bisa meninggalkannya," pinta Gerald.
Morgan tidak peduli, dia ingin cepat bertemu dengan Lyla sekarang sehingga dia melimpahkan pekerjaannya kepada sepupunya itu.
"Aku akan pulang untuk bersiap," ucap Morgan sambil berlari meninggalkan Gerald yang masih di ruangan itu.
Gerald menggelengkan kepalanya melihat tingkah Morgan yang seperti itu.
"Dasar bodoh! Kenapa aku nggak tau dia ada di sana?" gumam Morgan merutuki dirinya sendiri. Semenjak Lyla menghilang dari mansionnya dia terus mencari, tapi dunia ini sangat luas dan Morgan tidak bisa memasang iklan pencarian orang hilang sembarangan. Posisi Morgan saat ini dan mengingat Lyla adalah cucu orang yang cukup ternama dengan track record selama ini membuat Morgan tidak bisa sembarangan mengekspose wajah Lyla di media sosial.
"Lyla, aku akan menemui kamu secepatnya. Tunggulah aku di sana," ujar Morgan dengan bersemangat.
***
__ADS_1
Sementara itu di kantor, Gerald tengah memperhatikan seseorang dari layar laptopnya. Seorang wanita sedang membantu membersihkan tubuh wanita yang terbaring di kasurnya. Ya, wanita yang sedang di lap tubuhnya itu adalah Renee. Dia masih hidup sampai saat ini karena Gerald tidak tega jika membiarkan Morgan terus menyiksanya dan membuat wanita itu memohon untuk dibunuh saja. Morgan dengan rela melepaskan Renee untuk dibawa Gerald, dengan catatan dia tidak ingin melihat wanita yang telah menghancurkan hidupnya itu.
Gerald beranjak dari duduknya dan pergi ke ruangan di mana dua wanita itu berada.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Gerald pada Lian.
Lian sedari tadi melamun, terkejut saat mendengar suara Gerald masuk ke dalam ruangannya.
"Ah, iya. Sudah selesai." Lian segera membereskan segala sesuatunya dan membawanya pergi. Namun, saat sebelum menutup pintu kamar itu lagi, dia sempat menoleh dan memperhatikan Gerald yang ada di sana.
Tidak ingin berlama-lama, Lian segera pergi dari ruangan itu untuk kembali membersihkan ruangan yang lain.
Gerald mengambil handuk kering yang ada di dekat kaki Renee dan mengusap wajahnya yang masih sedikit basah. Mereka hanya diam dengan Renee yang sudah berderai air mata.
Dengan telaten Gerald mengeringkan tubuh wanita yang pernah singgah di dalam hatinya itu. Tangan, bahu, sampai kaki pun Gerald keringkan dengan handuk yang sama.
__ADS_1