Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
226


__ADS_3

Jane merintih kesakitan saat Alex mencoba memasukinya tiga kali. Jane sampai menangis karena rasa yang baru pertama kali dia dapatkan dari Alex.


Alex yang melihat wajah Jane penuh kesakitan sampai menangis menjadi tidak tega dan mencabut miliknya yang baru seujung kuku masuk ke dalam sana.


Jane menatap bingung kepada Alex. "Kenapa berhenti?"


"Aku tidak bisa melihatmu kesakitan Jane. Maaf." Ucapan Alex membuat Jane menjadi kecewa. Alex menghapus air mata yang keluar dari mata cantik Jane.


"Bukankah memang seperti ini untuk pertama kalinya. Aku tidak apa-apa, Alex. Aku akan menahannya."


Alex menatap wajah kecewa itu, tapi tetap saja dia menjadi kasihan kepada Jane.


"Masalahnya ... aku belum pernah meniduri wanita perawan. Jadi, aku juga sedikit terkejut soal ini." Alex menjadi kikuk. Wanita yang pernah dia tiduri adalah wanita panggilan maupun wanita yang sukarela melemparkan diri kepadanya.


"Kalau begitu, apakah aku harus tidur dulu dengan orang lain agar kau mau menghamiliku?" tanya Jane kesal.


"Tidak. Bukan itu. Aku hanya tidak tahan melihatmu menangis.


"Kalau begitu ayo ganti tirai dengan yang gelap. Jangan sampai kau melihat wajahku, aku juga tidak akan bersuara. Aku janji."


Alex menatap wajah Jane yang penuh kesungguhan. Namun, Alex ternyata belum benar-benar siap untuk ini. Dia pikir akan mudah menjebol selaput dara milik Jane, tapi nyatanya perasaannya yang tidak mudah melihat kesakitan wanita itu.


"Atau kau bisa memberiku obat tidur agar aku tidak bereaksi?" Jane memberi usul.


"Jangan gila, Jane. Kau akan melewatkan kesenangan ini."


Jane tertawa malu, entah pemikiran dari mana dia bisa berkata seperti itu, yang dia inginkan adalah seorang bayi.


"Bagaimana jika kita berpacaran dulu. Kita belum pernah berkencan, kan?"


"Iya. Memang belum pernah."


Alex tersenyum dan mengusap kepala Jane lembut.


"Ayo kita berkencan. Malam ini kita pergi."


Jane tersenyum senang. Tidak ada salahnya juga mengikuti saran Alex. Mungkin jika sudah tumbuh cinta di dalam hatinya, akan lebih mudah untuk mereka.


"Oke."


"Kemana kita akan pergi?" tanya Alex.


"Bioskop?"


Alex jadi teringat ketika menonton film bersama dengan Lyla.


"Tidak, aku tidak mau menonton film di bioskop."


"Kenapa?"


"Tidak mau saja. Yang lain. Kemana kita akan pergi?"

__ADS_1


Jane menggelengkan kepalanya. Hanya bioskop yang terlintas di pikiran Jane dan dan dia tidak tahu lagi harus ke mana.


"Pantai? Atau makan malam?" tanya Alex.


Jane berpikir sejenak. "Anu, Alex. Aku ingin pergi mendaki gunung. Bisakah kita pergi ke gunung?" tanya Jane.


Kening Alex mengerut. Rasanya aneh saat tempat kencan adalah sebuah gunung.


"Mendaki. Kita bawa barang sendiri dan berjalan kaki hingga ke puncak. Jangan kau bawa helikopter untuk transportasi menuju ke sana. Aku mohon. Aku ingin melihat awan dari atas gunung."


Setelah Alex berpikir sejenak, barulah dia mengiyakan.


"Tidak buruk juga mendaki gunung. Kita akan pergi besok."


Jane berteriak senang dan memeluk Alex tanpa ragu lagi. "Terima kasih, Alex."


Dua hari kemudian, Alex dan Jane benar-benar pergi menaiki gunung. Bukan hanya dua orang itu saja yang pergi, tapi ada tambahan sekitar sepuluh orang yang diutus oleh Tuan Pierre demi keselamatan Jane. Sebuah helikopter juga telah dipersiapkan oleh Tuan Pierre untuk berjaga-jaga bila mana ada sesuatu di gunung.


Tuan Pierre awalnya menolak usulan Jane tentang naik gunung, mengingat udara dingin dan kemungkinan ada hewan buas di sana, tapi setelah Jane merengek Tuan Pierre memberikannya izin dengan syarat harus membawa pengawal serta ke sana. Mana Jane sangka jika mereka akan berjumlah lebih dari sepuluh dan yang lain berjaga-jaga di kaki gunung dengan helikopter yang setiap dua jam sekali memantau mereka di udara.


"Alex. Ini sih bukan honeymoon untuk kita," gumam Jane saat mereka sedang beristirahat di sebuah titik pemberhentian. Para pengawal sedang menyiapkan makan siang untuk Jane dan Alex. Alex pun tidak menyangka jika Tuan Pierre akan melakukan hal yang berlebihan seperti ini, padahal Alex sudah mempersiapkan tiga orang pengawal yang akan ikut bersamanya ke atas gunung.


"Protes saja kepada kakekmu, Jane. Aku juga tidak menyangka jika akan sebanyak ini.


Seorang laki-laki mendekat ke pada Jane dan Alex, menawarkan makanan dan minuman yang mereka bawa.


"Bisakah kita membuat pendakian yang benar-benar alamiah? Aku masih merasa hidup dengan kemewahan di sini dengan adanya kalian," ucap Jane.


"Iya, seperti itu lah."


Pria muda itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kami tidak bisa melakukannya. "Ada banyak kuman di air sungai dan kita tidak tahu apa akibatnya jika Nona meminum air itu. Dan berburu, kami ditugaskan untuk memburu orang, bukan hewan di hutan," ucap pemuda itu.


Jane menghela napasnya dan mengusir pria itu dengan tangannya.


"Alex, aku bisan. Ini tidak seperti di dalam bayanganku kemarin."


Alex tertawa dan mengelus punggung tangan Jane.


"Kakek sangat menyayangimu. Dia hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti kakek, kau tahu? Semua itu untuk keselamatanmu."


Isi kepala Jane bertanya-tanya akan kalimat Alex barusan.


"Alex, apa ini artinya kau sudah mulai mencintaiku?"


Alex tersentak mendengarnya, kemudian dia menggelengkan kepala.


"Aku tidak begitu yakin, tapi setelah menikah denganmu dan hidup bersama, aku merasa ingin melindungimu, Jane."


Jane ingin memeluk Alex, tapi melihat begitu banyak orang yang ada di sana dia mengurungkan niatnya.


Perjalanan kembali dilakukan, melewati jalanan setapak yang ada di tempat itu. Gunung yang mereka daki adalah Gunung Rinjani, gunung yang Jane ingin daki sedari dulu. Jane memiliki teman dari Indonesia dan berasal dari Nusa Tenggara Barat. Asal mula wanita itu menyukai gunung adalah temannya tersebut sering memperlihatkan foto akan keindahan dari gunung itu.

__ADS_1


Jane merasa lelah, tidak dia sangka jika mendaki gunung tidak semudah yang dia kira. perjalanan sedikit terhambat karena beberapa kali Jane beristirahat, Jane menolak saat para pengawal akan membawanya dengan helikopter.


"Kau baik-baik saja, Jane?" tanya Alex yang berjalan di belakang Jane.


"Aku baik. Hanya kurang olahraga saja sampai napas ini mau habis," ucap Jane.


"Setelah pulang dari sini, kau harus mulai berolah raga denganku. Di atas kasur," bisik Alex yang membuat wajah Jane memerah. Jane melirik Alex yang kini berjalan lebih dulu, melihat punggung pria itu dengan tas ransel penuh di belakangnya.


Hingga sampai di puncak gunung, di mana para pendaki akan mendirikan tenda, di situlah Jane dan Alex berada. Meski lelah, tapi Jane sangat menyukai kegiatan ini.


Tenda segera didirikan, dengan bantuan beberapa orang bawahannya.


"Bisakah kalian mendirikan tenda sedikit lebih jauh? Ini adalah momen honeymoon kedua kami. Aku tidak ingin suara berisik kami di malam hari kalian dengar," ucap Alex mengusir beberapa orang yang ada di sana.


"Baik, Tuan."


Para pengawal mendirikan tenda besar milik Jane dan Alex, kemudian menyingkir beberapa ratus meter dan mendirikan tenda dari sana. Yang terpenting sekarang adalah mengawasi dan menjaga keamanan keduanya.


"Jane, apakah mereka kurang jauh?" tanya Alex yang takut Jane tidak nyaman.


"Tidak masalah."


Yang Jane inginkan sebenarnya adalah pergi hanya berdua dengan Alex dan menikmati suasana romantis ini, tapi dengan adanya pengawal meski jarak mereka jauh, membuat Jane tidak merasa nyaman. Namun, dia tidak bisa menolak perintah dan kebaikan kakeknya yang khawatir kepada mereka berdua.


Makan malam, Jane dan Alex serta pengawal membakar daging yang telah mereka siapkan dari hotel terdekat.


Lelah dengan perjalanan siang tadi, Jane dan Alex duduk berdua di depan api unggun kecil. Udara dingin di gunung membuat Jane duduk sangat dekat dengan Alex, tapi mereka hanya duduk bersisian saja.


"Apa kau kedinginan, Jane?"


"Iya, sedikit."


Alex menarik bahu Jane sehingga mereka duduk sangat dekat sekali. Tubuh hangat pria itu membuat Jane merasa nyaman.


"Bintangnya indah sekali." Jane berbicara menutupi rasa malunya.


"Iya. sangat indah sekali,.tapi kau tahu yang lebih indah?"


"Apa?"


"Kau yang ada di sisiku saat ini."


Blusshh.


Wajah Jane memerah hangat.


"Jangan menggombal."


"Aku serius."


Alex menatap Jane dan menarik dagu Jane, mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir ranum Jane lembut.

__ADS_1


Jane hanya menutup matanya, menikmati perlakuan Alex yang ke sekian kali.


__ADS_2