Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
69. Belum Bisa Berbicara


__ADS_3

Dua laki-laki keluar dari dalam rumah, disusul oleh dua perempuan yang juga keluar dari rumah itu. Mereka yang ada di belakang sana saling menyikut satu sama lain, dengan tatapan saling bertanya tanya. Morgan dan Gerard berjalan dengan santai beberapa meter di depan mereka.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Morgan?" tanya Lian kepada Lyla.


"Hubungan apa?"


"Justru itu aku ingin bertanya padamu, Kak. Kau memiliki hubungan spesial dengan Tuan Morgan bukan?" tanya Lian sekali lagi.


"Tidak aku tidak punya hubungan apa-apa."


"Lalu bagaimana bisa Tuan Morgan membelikanmu barang-barang itu?" Lian bertanya dengan heran.


"Mungkin karena aku akan kuliah, dan aku tidak punya pakaian yang layak," ucap Lyla.


"Benar juga, ya. Tapi sampai memborong banyak barang seperti itu aku jadi curiga. Jangan-jangan Tuan Morgan sudah mulai jatuh hati kepadamu," ucap Lian lagi.


"Ah, mana mungkin. Aku rasa tidak seperti itu. Lalu kau bagaimana? Apakah kau sendiri punya hubungan yang lain dengan Tuan Gerald?" tanya Lyla.


"Hubungan apa?" Kali ini Lian yang bertanya dengan nada mengelak. "Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Dia itu terlalu tua untukku," ucap gadis itu.


Lyla tiba-tiba saja mendekat dan berbisik. "Dia memang terlihat tua untukmu, tapi aku pikir itu tidak masalah. Bukankah di zaman sekarang ini banyak pasangan yang usianya berbeda sangat jauh. Hihi." Lyla tergelak menahan tawa. Sedangkan Lian melirik malas kepada Lyla.


"Oh tidak mau. Aku sudah ada yang mendekati. Masa iya aku harus dengan pria tua seperti itu jika aku masih bisa mendapatkan yang lebih muda," ucap Lian sambil tersenyum bangga.


"Benarkah?"


"He-em."


"Lebih tampan mana dia dengan Tuan Gerald?"


"Lebih tampan Tuan Gerald sih, tapi dia laki-laki yang sudah aku lirik sejak lama. Dia—"


"Hei, mau sampai kapan kalian berdua berbisik-bisik seperti itu! Apa kalian tidak tahu jika waktu itu sangat berharga?"


Teguran Gerald membuat dua wanita itu terkejut dan tersenyum malu. Dua laki-laki itu sudah berada di dua mobil yang berbeda.


"Ayo cepat sebelum mereka marah."


"Iya!" jawab Lian. Dua wanita itu kemudian berlari mendekati Morgan dan juga Gerald.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Morgan kesal.


"Apa jika wanita bertemu selalu pergosip? Apa yang kalian bicarakan?" Kini Gerald berkata, sama kesalnya menatap Lian. Kedua wanita itu hanya meringis kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing.


Mobil itu berjalan beriringan keluar dari pekarangan rumah Morgan. Satu mobil melaju ke arah kiri dan satu mobil lainnya melaju ke arah kanan.

__ADS_1


Lyla memperhatikan jalanan yang sudah bersih dari salju, para pekerja sangat rajin sekali sehingga di jam seperti sekarang ini salju sudah tidak ada.


"Apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Morgan ingin tahu.


"Kami hanya membicarakan hal yang berhubungan dengan wanita."


"Mengenai apa?"


Lyla tentu saja tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya, masa iya dia akan jujur jika telah membicarakan mereka berdua.


"Kau tidak akan mau tahu dengan pembahasan para wanita, tidak akan cukup meski satu tahun kami membahasnya, hehe."


Morgan memutar bola matanya malas. Dia yakin jika itu hanya bergosip saja.


Mereka menghabiskan perjalanan dengan keheningan, hanya sesekali terdengar suara klakson dari kendaraan yang lainnya.


Morgan melirik Lyla yang sedari tadi memainkan jari jemarinya, sepertinya sekarang wanita itu sedang gugup. Dia juga duduk dengan tidak tenang.


"Ada apa denganmu?" tanya Morgan membuat Lyla menolehkan pandangannya dari arah depan.


"Aku tidak apa-apa."


"Apa kau gugup?" tanya Morgan lagi.


"Kenapa kau gugup?"


"Tentu saja karena aku akan masuk universitas lagi. Sekarang aku berpikir jika mungkin teman-temanku akan berusia sedikit ada di bawahku," ucap Lyla membuat Morgan kini mengerti apa yang dia resahkan.


"Memangnya kenapa? Kau tidak perlu khawatir dengan hal itu. Aku pikir ada beberapa orang yang mungkin usianya ada di atasmu. Tidak ada salahnya belajar meski usiamu ada di atas mereka. Lagi pula ...." Morgan melirik ke arah Lyla. Baju yang dia pakai sudah pantas dan tidak membuatnya tampak berbeda dari yang lainnya.


"Lagi pula apa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bilang kau tidak akan berbeda dengan mereka. Kau bagus dengan menggunakan pakaian itu, aku senang kau memakainya." Morgan tersenyum. Dia kira waktu itu apapun pakaian yang akan dipakai oleh Lyla dia akan tetap sama saja, tapi buktinya hari ini Lyla sangat manis sekali. Apalagi dengan wajahnya yang natural seperti itu tanpa terpoles make up sama sekali.


"Tentu saja aku harus memakainya. Sesuatu yang diberikan bukankah harus digunakan dengan sebaik-baiknya?" ucap Lyla, Morgan mengganggukan kepala. Dia senang dengan perkataan Lyla barusan.


"Tuan, nanti di sana aku harus bagaimana?" tanya Lyla sekali lagi. Dia sedikit lupa dengan dunia perkuliahan, sehingga semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan hal ini, juga memikirkan kejadian semalam antara dirinya juga Morgan.


"Untuk hari ini kau hanya perlu mengikutiku saja."


"Oh, oke."


Morgan memperhatikan jalanan yang ada di depannya. Dia melirik Lyla lagi, tampaknya wanita itu tidak risih terhadapnya. Akan tetapi, kenapa malah sekarang dia yang merasa terganggu?


"Soal yang semalam itu, aku ingin meminta maaf."

__ADS_1


Mendengar itu Lyla menjadi canggung, dia memang belum melupakannya, tapi juga tidak menyangka jika Morgan akan meminta maaf sekarang ini. Rasanya malu sekali karena dia tidak pernah didekati seperti itu oleh laki-laki yang membuat dadanya menjadi berdebar-debar tak karuan.


"Oh, itu. Sudahlah tidak apa-apa. Lain kali kau jangan melakukan hal seperti itu lagi. Aku tidak bisa tidur," ucap Lyla lagi.


"Benarkah? Apa itu sangat mengganggumu? Maafkan aku."


"Mungkin karena aku terkejut sampai-sampai aku tidak bisa tidur," ucap Lyla dengan jujur. "Aku belum pernah sedekat Itu dengan laki-laki."


Morgan yang mendengarnya menjadi terkejut seketika melirik Lyla. "Kau belum pernah dekat dengan laki-laki?"


Lyla menundukkan kepala. "Sebenarnya ada satu orang yang sedang mendekatiku. Tapi rasanya aku harus menjauh dari dia."


"Kenapa?"


"Sepertinya aku sudah tidak layak lagi untuknya."


Mendengar ucapan dari Lyla membuat hati Morgan terasa sakit seakan ada pedang panjang yang menusuknya berkali-kali. Apalagi ketika melihat senyum wanita itu yang tampak pedih.


"Aku ... aku minta maaf untuk itu. Aku benar-benar di luar kendali."


Jujur saja Lyla masih merasa sakit hati akan kejadian malam itu, tapi semua sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Sekarang dia harus ikhlas menerimanya. Bukankah jika kita terpuruk hidup kita akan hancur? Lebih baik menjalaninya dengan ikhlas.


"Apa yang membuatmu marah sebenarnya?"


Morgan terdiam dengan malu. Teringat saat dia mendapatkan kabar jika adiknya telah bunuh diri setelah mendapatkan penolakan dari seorang wanita.


"Adikku bunuh diri." Morgan kini terdiam, kenangan indah akan Marcel menari-nari di kepalanya. Dia ingin berkata, tapi suara itu sangat sulit untuk keluar dari mulutnya.


Lyla melihat wajah Morgan yang kaku, tampak laki-laki itu seperti tidak bernafas, tangannya memegang erat kemudi hingga buku-bukunya memutih.


"Tenangkan hatimu. Aku tidak akan bertanya lagi jika kau tidak siap untuk menjawabnya," ucap Lyla sambil memegang tangan Morgan.


Morgan memejamkan mata sejenak, mencoba menghalau rasa panas yang ada di sana. Meski Marcel hanyalah adik angkatnya, tapi dia sangat menyayanginya seperti saudara sendiri. Mungkin karena Marcel bersama dengannya sewaktu dia masih kecil.


Wajah Morgan kini kembali menghangat, pegangan tangannya pada kemudi juga sedikit melonggar, dia bisa bernafas kembali dengan normal.


"Jangan paksakan dirimu. Maaf sepertinya kau sangat emosi sekali jika mengingat kejadian itu ya."


Baru kali ini Morgan mendapati wanita penyabar seperti Lyla. Seharusnya wanita ini marah atas apa yang telah dilakukan kepadanya.


Morgan menepikan mobil di jalanan yang sepi. Suasana hatinya sedikit tidak nyaman sekarang ini. Dia mencoba untuk bernafas dengan baik.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa bercerita sekarang ini. Semua itu membuatku ingin membunuh seseorang," ucap Morgan, tapi tidak membuat Lyla takut sama sekali kepada pria ini.


Lyla tidak berkata apa-apa, hanya mengusap lengan laki-laki itu dengan lembut dan membuat perasaan Morgan menjadi lega sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2