Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
24. Wanita Menjengkelkan


__ADS_3

"Nona, Tuan pasti akan marah kopi itu Anda buang," ucap sang asisten pada Lyla. Dia takut jika Morgan marah karena itu adalah kopi kesukaannya yang dia dapatkan dari salah seorang rekan dari luar negeri


Lyla hanya mengangkat bahunya tinggi-tinggi.


"Biarkan saja dia marah, itu lebih baik daripada lambungnya sakit lagi."


"Eh, Tuan sakit?" tanya wanita itu.


"Iya, semalam dia sakit. Kebetulan aku turun dan menemukannya di dapur. Dan aku memberikannya obat," jawab Lyla.


Wanita itu menggigit bibirnya, merasa bersalah karena semalam dia telah membuat Morgan marah dan tidak jadi makan malam.


"Apa sudah lama dia sakit seperti itu?" tanya Lyla dan mendapatkan anggukkan kepala dari wanita tersebut.


"Iya, semenjak kekasih dari tuan muda menghilang. Semenjak itu dia menjadi gila dan tidak tahu akan dunia. Padahal dulu aku sangat suka dengan dia karena tuan muda orang yang sangat baik dan juga sangat menyenangkan," sambar Lian dari belakang yang membuat sang ibu melotot tajam ke arahnya. Lian datang dan menyimpan piring kotor miliknya ke dalam wastafel.


"Jaga bicaramu, jangan ada yang membicarakan itu di rumah ini!" peringat sang ibu.


Lian yang mendapat omelan dari ibunya merengut sebal. "Heran, hanya bicara saja tidak boleh," omelnya.


"Memangnya kenapa dia menghilang?" tanya Lyla yang akhirnya terpancing untuk bertanya.


"Entahlah, tidak ada yang tahu alasannya dengan jelas."


"Lian!" tegur ibunya. Lian hanya mengeratkan mulutnya, menggerakkan satu tangan di depan mulut dari kiri ke kanan seakan tengah menutup sebuah resleting, kemudian gadis kecil itu pergi dari hadapan keduanya untuk mengerjakan hal yang lain.


"Apa suatu hal yang buruk terjadi?" tanya Lyla.


Wanita itu menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.


"Kami tidak tahu, semenjak kejadian itu tuan muda berubah dan tidak ada yang tahu alasannya calon istri pergi tanpa kabar sama sekali."


"Mereka akan menikah?"


"Ya, hanya dua minggu sebelum pernikahan, bahkan undangan sudah disebar, segala sesuatunya juga sudah dipersiapkan."


Lyla terdiam mendengar cerita tentang Morgan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya, dia kira tadi laki-laki itu kehilangan sang kekasih karena tidak tahan dengan sikap arogannya.


"Sudah, saya mau kembali bekerja. Setelah ini saya akan pergi ke supermarket. Stok makanan di kulkas sudah menipis," ujar wanita itu lalu pamit pada Lyla.

__ADS_1


"Anu ... apakah aku boleh ikut pergi denganmu berbelanja?" tanya Lyla menghentikan langkah kaki ibu Lian.


"Aku sudah lama tidak melihat bagaimana keadaan di luar," ucap Lyla pelan.


Sejenak wanita itu terdiam, dia tidak berani untuk mengatakan 'iya' jika tidak mendapatkan izin dari tuan muda.


"Em ... jika mengenai hal itu, akan saya tanyakan dulu pada tuan muda atau Tuan Gerald."


"Apa kau takut aku akan kabur?" selidik Lyla melihat ekspresi wanita itu yang hanya diam tampak kebingungan.


"Tidak. Bukan itu." Lyla menggerakkan tangannya dengan cepat di depan dada. "Aku hanya ingin menikmati pemandangan luar saja, aku bosan di dalam rumah selama beberapa hari," tambah Lyla dengan senyuman yang tidak bisa dihindari oleh wanita itu.


...***...


Di kantor, seseorang tengah merasa kesal dengan kejadian tadi pagi. Seorang wanita telah mengaturnya dengan sesuka hati, dan ... apa tadi itu? Kopi import miliknya telah dibuang wanita itu.


"Dasar sialan! Usir dia dari rumahku!" seru Morgan sambil menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Teh hangat yang baru saja diantarkan oleh sekretaris sampai bergetar karena perlakuan Morgan tersebut.


Gerald memutar bola matanya malas. "Tante Selvi akan membunuhmu," ucap Gerald.


Morgan hanya diam berdecak kesal. Tidak ada pilihan lain selain mengurus Lyla hingga wanita itu sembuh. Atau jika tidak, dia akan berhadapan dengan perawan tua yang sangat pemarah, yang sayangnya tidak bisa dia lawan sama sekali.


"Huh. Kenapa juga aku harus berhadapan dengan wanita gila seperti dia? Kau lihat tadi kopi ku? Dia membuangnya. Apa kau tahu berapa harga minuman itu? Bahkan gaji satu tahunnya tidak bisa membeli satu gram kilo kopi milikku!" ujar Morgan dengan kesal. Teringat dengan bubuk kopi yang sudah tidak ada pada tempatnya.


Morgan terdiam menatap Gerald dengan kening mengerut.


"Aku melihat kalian di dalam kamar semalam. Itu kemajuan yang sangat baik, Sobat." Gerald menepuk pundak Morgan sambil mengedipkan matanya.


"Cih! Aku tidak akan mati hanya karena sakit lambungku kumat."


"Ya, tapi jika dia sampai ada di dalam kamar untuk membantumu bukankah kau sedang tidak berdaya?" Gerald menahan tawa di bibirnya, membuat Morgan merasa kesal karena laki-laki itu.


Suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas dari dalam saku jas milik Gerald. Sedikit mengerut kening laki-laki itu melihat nomor asistennya di sana.


"Ya. Ada apa?" tanya Gerald setelah mendengar suara seseorang di seberang sana.


Tak lama Gerald memberikan teleponnya pada Morgan.


"Siapa?" tanya Morgan melirik malas pada ponsel jelek milik asistennya.

__ADS_1


"Seseorang yang ingin bicara denganmu."


Gerald mendekatkan benda pipih tersebut ke dekat Morgan dan menekan tombol loudspeaker.


"Tuan. Kau kah itu?" tanya suara seseorang yang sangat nyaring.


"Hem," jawab Morgan dengan berdehem malas.


"Aku ingin pergi ikut berbelanja. Kau tidak akan melarangku, bukan?


"Jika aku bilang tidak?" tanya Morgan dengan nada yang dingin dan muka yang masih tetap datar.


"Aku akan tetap pergi. Apa kau tidak tahu aku sangat bosan menatap tembok setiap hari? Hey, Tuan. Kau pikir aku tahanan? Lupakan saja. Aku akan tetap pergi!" ucap Lyla kemudian mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Morgan.


...***...


Lyla menekan ponsel, mematikan panggilan itu sepihak.


"Aku sudah menghubunginya. Ayo kita berangkat!" ucap Lyla sambil menggandeng tangan ibu dari Lian untuk pergi dari sana.


"Tapi, Nona. Bukankah tuan muda belum memberi izin?" tanyanya dengan takut.


"Yang penting aku sudah meminta izin," jawab Lyla tanpa peduli.


...***...


Morgan berdecak kesal mendapatkan perlakuan yang tak sopan dari Lyla, hingga sekali lagi dia menggebrak meja lebih keras dari yang tadi.


"Dasar wanita menyebalkan! Berani dia---"


Gerald segera menjauhkan ponselnya dari jangkauan Morgan, hampir saja sepupunya itu mengambilnya dan membantingnya ke lantai. Dia tak rela, barang yang dia sayangi sedari dulu rusak karena perlakuan laki-laki itu.


"Jangan sekali-kali merusak milikku!" ancam Gerald. Morgan yang sudah berdiri menatap Gerald dengan sebal dan kembali duduk dengan kasar.


"Setelah wanita itu sembuh, pulangkan dia ke tempat asalnya. Berikan semua yang dia mau. Aku tidak mau bertemu dengan wanita gila seperti dia. Beraninya dia yang bukan siapa-siapa ku berlaku seenak jidatnya. Dia pikir dia siapa?" gumam Morgan di akhir kalimatnya.


Gerald sedikit terheran melihat laki-laki yang ada di depannya ini. Jarang sekali Morgan bicara panjang lebar, jika bukan karena pekerjaan yang mengharuskan dia untuk berbicara di depan kliennya.


...***...

__ADS_1


Mampir sini, yuk. Sebelum bab terbaru Morgan Lyla update lagi.



__ADS_2