Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
152. Rencana Dua Orang Pria


__ADS_3

Alex sedang duduk di kursinya yang menghadap ke jendela, di luar langit tampak sangat cerah sekali dan memperlihatkan awan yang tipis di atas sana. Teriknya membuat udara siang ini panas, tapi di dalam ruangan itu tentu saja Alex tidak merasakannya karena AC menyala dengan cukup kencang.


Di tangannya Alex sedang memegang sebuah kartu undangan yang beberapa hari yang lalu dia terima. Senyumnya cukup lebar karena malam nanti dia akan melaksanakan rencana yang sudah dia rancang selama beberapa bulan ini.


"Pasti akan sangat menyenangkan sekali," gumam Alex. Dia tahu jika membawa Lyla akan sedikit membahayakan, tapi dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya, memerintahkan bawahannya menjaga dan bersiaga untuk menjaga Lyla jika ada sesuatu yang mencurigakan. Bukan dia tega melakukan ini, tapi demi misi yang penting, dia harus melibatkan Lyla untuk ini.


Helaan napas terdengar dengan cukup keras di bawah hidung Alex, dia sudah memikirkannya dengan matang, tapi mungkin jika membawa Lyla akan memudahkan langkahnya kenapa tidak? Lagipula itu juga untuk kebaikan semua orang.


Suara pintu terdengar, Alex memerintahkan seseorang itu masuk ke ruangannya.


"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Alex kepada sang sekretaris.


"Tidak ada jadwal di luar,Tuan. Tapi tadi ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda dan memaksa ingin bertemu," ujar wanita seksi dan cantik itu.


"Siapa?" tanya Alex tanpa menolehkan kepalanya pada si wanita, dia sibuk membaca kertas yang ada di tangannya.


"Tuan Morgan Castanov."


Seketika tatapan Alex dia alihkan pada wanita itu yang menundukkan kepalanya. Wanita itu sedikit takut, tatapan Alex tajam dan serasa ingin membunuhnya.


"Suruh dia masuk. Sudah terlanjur datang kemari," perintah Alex sedikit kesal terdengar olehnya.


"Ba-baik."


Wanita itu segera pergi ke luar dari ruangan dan tak lama kembali bersama dengan seorag laki-laki yang Alex kenali wajahnya. Memang Alex baru pertama kali ini bertemu dengan Morgan, tapi dia jelas tahu laki-laki ini dari foto yang anak buahnya berikan.


Wanita itu mengundurkan diri setelah mengantarkan tamu untuk Alex.


"Selamat siang, Tuan Alex," sapa Morgan dengan ramah. "Bagaimana kabar Anda?" Morgan mengulurkan tangannya.


"Kabar baik. Apakah perjalanan Anda menyenangkan, Tuan Castanov?" tanya Alex.


"Ya, tidak terlalu. Sebenarnya aku benci berada di dalam pesawat terlalu lama dengan tanpa seseorang yang bisa menemaniku," ujar Morgan sambil tertawa kecil.


"Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman, dan maaf jika tidak ada penyambutan sama sekali. Aku tidak tahu jika akan ada tamu yang datang."


Basa basi terjadi di antara mereka. Alex mempersilakan untuk Morgan duduk di kursi sofa yang tersedia di sana.

__ADS_1


Morgan memang tahu di mana mansion tempat Lyla berada, tapi dia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Alex untuk beramah tamah dengan laki-laki yang merupakan paman dari kekasihnya itu.


"Kau pasti tahu aku datang ke sini untuk apa," ucap Morgan. Alex tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah menebaknya. Dan aku yakin kalau kau akan datang, Tuan Morgan."


"Iya, aku datang untuk menjemput kekasihku."


"Yakin jika dia masih kekasihmu? Bukankah kalian sudah tidak memiliki hubungan seperti itu semenjak lama?" tanya Alex.


"Jangan menggodaku, Tuan. Kau paham dengan apa yang terjadi, bahkan kau juga sudah mengamati kami selama ini. Aku akui, kau memang sangat perhatian sekali kepada keponakanmu, tapi kenapa kau tidak muncul di hadapannya?" tanya Morgan dengan nada dingin. Orang seperti Alex sulit untuk ditangani dengan lemah lembut, ucapannya selalu menusuk orang dan mematahkan hatinya.


"Aku punya alasan tersendiri, seperti kau yang tidak segera datang untuk menemui keponakanku meski kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali," ucap Alex.


Alex tersenyum tipis, menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan tatapan meremehkan.


Satu-satu, batin Alex.


"Seperti yang kau bilang, aku juga sama, punya alasan tersendiri untuk tidak segera bertemu dengan Lyla--"


"Laura. Sekarang namanya adalah Laura," ucap Alex.


"Jadi, hanya itu tujuanmu?"


"Aku hanya ingin membawa dia untuk menuntaskan janjiku."


"Janji apa?"


"Untuk selalu membahagiakannya, menjadikannya pengantin yang sangat cantik dan membawanya pergi ke peternakan bersamaku di musim panas."


Alex geram mendengarnya, di saat dia masih ingin bersama dengan Lyla, seseorang telah datang dan mengatakan ingin membawanya kembali.


"Belum tentu dia ingin ikut denganmu."


"Aku sangat yakin, dia ingin kembali padaku."


"Kau terlalu percaya diri, Tuan Morgan."

__ADS_1


"Tentu saja. Karena aku percaya dengan perasaan Lyla. Dia bukan wanita yang mudah melabuhkan hatinya untuk orang lain."


Alex merasa geram dengan ucapan Morgan dan ingin sekali menjahit mulutnya.


"Dia sudah bersama denganku, keluarganya."


"Pada akhirnya keluarga juga harus merelakan dia untuk bersama dengan orang lain yang dia sukai." Morgan menjawab dengan sangat tenang sekali. Menghadapi Alex, dirinya juga harus menyelam kepribadian laki-laki itu dan meniru ketenangannya.


Alex menatap Morgan tidak suka. Tatapan dan tekadnya sangat kuat sekali.


Alex laki-laki yang memiliki pengaruh yang kuat dari barat dan Morgan memiliki pengaruh yang kuat dari belahan bumi timur.


Dua laki-laki itu saling bertatapan tajam satu sama lain, tatapan penuh permusuhan yang bisa saja sebentar lagi memercikkan kilat yang menyambar-nyambar, sampai sebuah suara ketukan dari luar terdengar dengan cukup jelas sehingga dua orang itu mengalihkan tatapannya ke arah pintu.


Mac baru saja masuk ke ruangan, mendapati suasana yang ada di dalam sana beku, dingin bak seseorang yang sedang terjebak dalam badai salju sehingga terdiam membeku.


"Ada apa? Kau tidak melihat aku sedang ada tamu?" tanya Alex dingin.


Mac sebenarnya tahu dari laporan sekretaris Alex, tapi dia memang sengaja datang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Alex sudah bertemu dengan keponakan tersayangnya, akan sedikit sulit untuk melepaskan Lyla untuk laki-laki ini. Bisa saja jika Alex akan menggantung Morgan di luar jendelanya dan membiarkannya mati karena terbakar terik matahari.


"Maafkan aku, Tuan. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu," ucap Mac sambil mendekat pada Alex, sedikit membungkukkan kepalanya agar sejajar dengan telinga dari atasannya itu.


Alex mendengarkan, hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Pergilah, akan aku urus itu nanti," ucap Alex memberi perintah. Mac melirik Morgan, untung saja dia masih melihat laki-laki itu ada di sini dengan keadaan selamat.


"Baik. Saya permisi."


Mac undur diri dan bernapas dengan lega. Setidaknya untuk saat ini dia masih ada di sana.


"Laura tidak akan kembali sebelum misiku selesai."


"Misi? Misi apa?"


"Aku butuh bantuannya untuk menyelesaikan misiku terlebih dahulu. Ini adalah masalah keluarga, sayangnya kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami, Tuan."


"Sebentar lagi aku akan menjadi salah satu keluargamu juga, katakan saja, aku pasti akan membantumu," ucap Morgan.

__ADS_1


Alex menghela napasnya dengan berat, terdiam untuk berpikir sebentar. Morgan memang orang lain, tapi Lyla menyukai laki-laki itu dan hingga sekarang masih terlihat sering melamun dan memikirkannya.


"Baiklah." Alex menggerakkan tangannya, menyuruh Morgan untuk mendekat pada Alex.


__ADS_2