Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
204


__ADS_3

Morgan tidak bisa menelan makanan lagi, dia tidak tahan karena saat mencoba untuk makan kembali, perut dan tenggorokannya tidak mau menerimanya sehingga dia muntah lagi. Jadi, kali ini dia hanya minum dan menatap istri dan mertuanya dengan perut yang lapar.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Lyla dengan khawatir.


Morgan hanya meringis. Dia baik, hanya saja perutnya kembung karena sudah minum hampir tiga gelas banyaknya.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Kau tidak perlu khawatir. Lanjutkan makan kalian, aku mau keluar sebentar."


"Okay."


Morgan pergi dari ruang makan itu untuk menghirup udara segar.


"Tenang saja, Morgan tidak akan apa-apa," ucap Theresia menggenggam tangan putrinya saat tatapan Lyla tidak teralihkan dari sang suami. "Ayo lanjutkan makanmu. Kau mau yang ini?" Theresia menunjuk olahan daging yang dia masak, berwarna merah seperti masakan pedas, tapi Theresia meyakinkan jika itu berasal dari bumbu kaya akan rempah yang dia dapatkan dari seorang temannya yang berasal dari Asia.


Makan malam selesai, Lyla melihat sang suami yang duduk di teras ruang keluarga sedang sibuk dengan hp di tangannya.


Mendengar suara derap langkah kaki, Morgan mengalihkan tatapannya dari ponsel di tangan. "Sudah selesai?"


"Iya, sudah selesai."

__ADS_1


"Apa kalian tidak akan menginap di sini?" Theresia merasa sedih, karena dia tidak memiliki teman di mansion ini.


Lyla melirik Morgan. Dia ingin sekali menginap, tapi jika Morgan tidak mengizinkan dia akan ikut dengan suaminya itu pulang.


"Aku tidak apa pulang sendiri, jika kau mau menginap." Morgan menatap sang istri dan seketika senyuman terbit di bibir Lyla.


"Kau juga boleh menginap, Morgan."


"Aku minta maaf, Bu. Besok aku ada ...." Melihat tatapan Lyla yang berkaca-kaca, Morgan menjadi tidak tahan, seakan dari tatapan itu sang istri sedang memohon untuk menginap bersama di sana. Lyla dan Theresia memang belum lama bersama, mungkin wanita itu masih rindu terhadap ibunya. "Aku baru ingat, besok jadwalku tidak terlalu padat. Jika boleh, aku juga ingin menginap di sini."


Lyla hampir melonjak saat mendengar izin dari Morgan. "Kau juga mau menginap di sini?" tanya Lyla dan mendapatkan anggukkan kepala dari suaminya.


"Iya, jika Ibu mengizinkan."


Morgan terpana saat melihat keseluruhan mansion milik paman Lyla ini. Jujur saja ini lebih luas dari rumah yang dia miliki di negaranya dulu, tapi memang tidak lebih luas dari mansion milik ayahnya yang dia tempati sekarang.


Melihat semua yang ada di sana membuat Morgan berpikir akan berapa kekayaan yang dimiliki oleh Alex. Kini dia bukan siapa-siapa karena semua harta yang dia miliki adalah milik sang ayah.


"Kalian beristirahatlah dengan baik, jika perlu sesuatu panggil saja maid," teriak Theresia sebelum Lyla dan Morgan semakin menjauh.

__ADS_1


"Baik, Bu!"


Lyla memeluk lengan Morgan dengan erat dan membawanya untuk masuk ke dalam kamarnya yang terdahulu.


"Kau senang hari ini?" tanya Morgan.


"Hem, aku senang sekali. Makan bersama ibu, dan aku ada di sini denganmu juga. Apa kau baik-baik saja? Kau tidak makan tadi."


"Aku baik. Jangan pikirkan aku, Sayang." Morgan membawa Lyla duduk di tepi ranjang dan berjongkok di depan sang istri untuk membukakan sepatunya.


"Bagaimana aku tidak memikirkanmu, kau tidak makan tadi."


"Haha, aku tidak masalah, yang terpenting kau bisa makan dengan baik."


Morgan menyingkirkan sepatu Lyla dan merebahkan istrinya.


"Morgan, aku tidak mau tidur."


"Lalu? Apa yang kau mau?"

__ADS_1


Dada Lyla berdebar dengan sangat kencang, sedari tadi pikirannya tidak tenang. Tangannya terulur untuk menarik tangan Morgan.


"Aku ingin kamu."


__ADS_2