Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
162. Hal Terindah Membuat Yang Lain Resah


__ADS_3

"Tuan, apa tidak lebih baik Anda juga beristirahat saja?"


Suara itu mengejutkan Alex dan melirik tajam Paman Will.


"Shttt, kau tidak tahu aku sedang apa?"


Paman Will tahu dengan jelas jika laki-laki itu sedang mencoba mencuri dengar yang ada di dalam sana, tapi sikap Alex yang seperti itu sangat menggelikan sekali.


Paman Will sadar akan kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Alex, dia tersenyum gei melihat laki-laki itu yang gelisah.


"Umm ... tapi ini sudah malam. Aku rasa tidak akan terjadi hal yang buruk dengan Nona Laura. Sebaiknya Anda juga beristirahat di kamar."


Alex berhenti berulah, dia menjauh dari pintu dan merapikan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.


"Kalian, berjaga di sini dan jangan biarkan sesuatu hal yan g buruk menimpa keponakanku, jika mendengar dia berteriak, masuk dan gantung laki-laki itu!"


Paman Will tertawa kecil mendengarnya dan mengikuti langkah Alex mengantarkannya kembali ke lantai bawah.


Katakan saja Alex berlebihan kepada Lyla, pantas jika dia melakukan itu, karena ibu Lyla sangat baik kepadanya dan dia sebagai seorang laki-laki, ibu Lyla adalah cinta pertama dari laki-laki itu. Ya, walaupun mereka bersaudara, tapi itu tidak pernah mengubah perasaannya kepada wanita tersebut. Dia sangat berpengaruh kepada suasana hati Alex, dan saat wanita itu pergi dari kehidupannya, serasa jika dia kehilangan segalanya dan dia mulai kembali merasakan itu saat bertemu dengan Lyla. Keponakannya itu memiliki wajah yang mirip dengan sang kakak, sehingga Alex tidak ingin kehilangan Lyla.


"Paman Will. Bisakah kau memperhatikan mereka besok? Aku harus pergi, dan aku hanya bisa mempercayakan mereka padamu."


"Baik, Tuan Muda."


***


Pagi menjelang, dua orang itu masih belum keluar dari dalam kamar. Jangan harap mereka melakukan hal yang panas dan menguras keringat, mereka hanya tidur saling berpelukan dengan erat dan tidak ingin terpisahkan.


"Selamat pagi," sapa Morgan saat Lyla baru saja membuka mata. Beruntung baginya bisa melihat Lyla pagi hari ini dan dia juga yang pertama yang dilihat oleh laki-laki itu.


"Selamat pagi, Morgan. Apa tidurmu nyenyak?" Lyla menindih tangannya di bawah pipi dan tersenyum menatap Morgan. Wajah laki-laki itu sangat tampan apa lagi saat diterpa sinar matahari yang menyoroti wajahnya.


"Kau adalah obat tidurku, aku sangat nyenyak sekali dan beruntung bisa ada di sampingmu semalaman."

__ADS_1


"Kau yakin?" Lyla melihat warna hitam di sekitar mata Morgan, tapi laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan membuat Lyla tidak mau lagi berbicara banyak.


Morgan memang tertidur, tapi hanya sebentar saja. Dia tidak bisa tidur semalaman, dia sangat kepayahan dan hampir tidak bisa menahan dirinya karena dekat dengan Lyla. Sebenarnya dia ingin pergi setelah Lyla tertidur, tapi dia tidak bisa bergerak sebab tangannya yang kokoh dan berotot Lyla pakai sebagai bantalnya. Alhasil, Morgan hanya diam memandangi wajah Lyla hingga tidak sadar jika malam sudah berganti menjadi pagi.


"Iya, aku juga tertidur tidak lama setelah kau tidur. Aku beruntung."


"Hmm?" Kening Lyla mengerut.


"Aku beruntung karena aku bisa menjadi seorang yang pertama yang kau lihat." Senyuman Morgan membuat hati Lyla berdesir.


"Lalu kau?"


"Aku melihat hal yang terbaik di dalam hidupku saat aku membuka mata."


"Jangan mengombal, Morgan!"


"Siapa yang menggombal. Aku tidak sedang berusaha merayumu dengan kata-kataku. Ini semua real dan keluar dari dalam hati. Kau memang hal yang terbaik yang pernah aku miliki selama ini."


"Renee maksudmu?"


Lyla mengangkat kedua bahunya hingga hampir mengenai telinga.


"Kau sudah tahu, jangan memancingku untuk melakukan sesuatu agar kau tahu sudah tidak ada lagi yang lain di dalam sini. Apa kau masih tidak percaya? Kau bisa membelah dadaku dan kau bisa melihat di dalam sana jika hanya akan ada namamu di sana," ucap Morgan.


Lyla segera menggelengkan kepalanya. "Jangan. Jika aku membelah dadamu dan tidak ada namaku di dalam sana, maka aku akan sedih. Aku tidak perlu tahu."


"Kalau begitu, belah saja dadaku, dan aku akan memahat hatiku dengan namamu di depan matamu sendiri."


"Shttt. Cukup. Aku tidak mau." Jari telunjuk lentik Lyla menghentikan ucapan Morgan. "Cukup. Aku tidak mau kau melakukan itu."


"Lalu?"


"Give me a kiss morning!"

__ADS_1


Morgan terpaku, tapi Lyla mendekatkan dirinya dan berinisiatif untuk mengambil langkah terlebih dahulu.


Kecupan lembut itu berubah menjadi liar saat Morgan terbuai akan kenikmatan dan kehangatan penuh cinta dari Lyla. Hampir saja dia memasukkan tangannya ke balik pakaian Lyla.


"Kau benar-benar menyiksaku, Lyla!" geral Morgan. Lyla tertawa kecil dan segera pergi berlari ke dalam kamar mandi.


Morgan membuka pintu, keningnya mengerut saat melihat Alex ada di depan kamarnya tengah membungkuk di lantai seakan tengah mencari sesuatu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Morgan. Alex mengangkat kepalanya.


"Aku sedang mencari kancing jasku, ku rasa tadi terjatuh sekitar sini. Kau--, kalian cepatlah turun, sarapan akan siap dalam sepuluh menit," ucap Alex berdiri kemudian pergi dari sana.


Morgan melirik ke arah penjaga yang ada di kanan kiri pintu kamarnya, sedikit tertawa kecil dan merutuki keberadaan mereka di sana. Bukan dia tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana, tapi apa yang bisa dilakukan Morgan untuk saat ini? Protes? Mungkin Alex akan menendangnya dari sini andai ada kata protes darinya.


"Ada apa?" Lyla telah keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar setelah mencuci muka.


"Pamanmu menyuruh kita untuk sarapan."


"Oh, mari kita sarapan."


"Kau duluan saja, aku akan menyusul nanti." Morgan masuk ke dalam kamar mandi, dan Lyla turun untuk menemui sang paman.


"Apa kau tidur dengan baik semalam?" Alex melihat senyum Lyla yang cerah. Dia menyelidik ke segala arah di tubuh keponakannya itu, tidak ada tanda merah atau tanda lainnya yang mencurigakan. Langkah kaki Lyla pun terlihat normal dan tidak ada yang aneh. Dia ingin bernapas lega, tapi sedetik kemudian pikirannya kembai pada keadaan waspada.


Bisa jadi tanda merahnya ada di bagian yang lain!


"Tidurku sangat nyenyak sekali, Uncle. Bagaimana denganmu?" tanya Lyla dengan nada yang riang.


"Aku juga, tentu aku juga tidur dengan sangat nyenyak sekali," ucap Alex, padahal semalaman dia resah dan merutuki kebodohannya sehingga beberapa kali kembali ke lantai atas hanya untuk mengecek sebuah suara yang mungkin akan terdengar di kamar itu.


"Benarkah? Tapi kenapa ada lingkaran hitam di bawah matamu? Aku pikir kau tidak bisa tidur karena di sini adalah tempat yang baru untukmu."


Paman Will menahan tawanya, melirik tuan mudanya yang bersikap bodoh semalaman. Bukan hanya berdiri dan bolak balik di depan kamar Lyla, tapi laki-laki ini juga sampai naik ke balkon di kamar sebelah untuk memantau keadaan Lyla.

__ADS_1


__ADS_2