Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
112. Kritis


__ADS_3

Suara sirine terdengar dengan sangat jelas sekali di malam yang sepi. Dua mobil yang membawa jenazah itu berlari membelah jalanan yang dingin dengan salju yang turun lumayan lebat. Hingga tak lama akhirnya dua mobil ambulance itu sampai di rumah sakit.


...***...


Gerard dan Lyla berada di dalam mobil yang kini melaju dengan kecepatan tinggi, mereka bergerak menuju ke arah rumah sakit tempat di mana korban kecelakaan itu berada. Sepanjang perjalanan Gerald dan Lyla merasa khawatir sekali dengan keadaan Morgan, yang membuat mereka bingung adalah keberadaan Rene yang ada di dalam sana.


"Bagaimana bisa mereka kecelakaan seperti itu?" tanya Lyla kepada Gerald.


"Aku juga tidak tahu pasti. Seseorang menghubungiku dengan menggunakan nomor Morgan dan dia berkata jika Morgan mengalami kecelakaan bersama dengan Renee."


"Bagaimana keadaannya sekarang? Aku takut terjadi apa-apa dengan dia." Lyla mulai menangis.


"Tenangkan dirimu. Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa terhadap Morgan."


Lyla menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak bisa menghentikan tangisnya meskipun dia berusaha sekeras mungkin. Padahal baru tadi siang dia bertemu dengan Morgan dan makan siang bersama serta menonton film.


"Jangan sampai kau meninggal, Tuan. Aku tidak terima jika kau sampai meninggal," ucap Lyla meracau di tengah tangisnya.


Gerald mengalihkan tatapannya melihat Lyla yang menangis tersedu-sedih seperti itu.


"Apa kau mencintai dia?" tanya Gerald kepada Lyla. Wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu, tapi aku merasa khawatir kepadanya. Aku tidak bisa berhenti menangis," ucapnya sambil mengusap wajahnya yang sudah basah.


Gerald kini terdiam dan menatap jalanan yang ada di depannya. Dia tidak tahu harus bagaimana jika Lyla jatuh cinta dengan pria itu.


"Maafkan aku, aku hanya tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku tidak mencintai dia," ucapnya yang membuat Gerald menghela nafasnya dengan lega.


"Sudah sepantasnya kau memang tidak mencintai dia. Ingat perjanjian yang kita lakukan," ucap Gerard, Lyla mengambil tisu yang ada di atas dashboard dan menghisap wajahnya yang basah dia juga menarik nafasnya dan mengembuskan, mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Aku ingat, dan aku akan memegang janji itu," ungkap Lyla.


Tidak lama mereka sampai di rumah sakit, mereka berjalan dengan cepat dan bertanya kepada seseorang mengenai korban kecelakaan yang baru beberapa jam lalu terjadi. Mereka diarahkan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan terdapat Morgan yang tengah terbaring di atas perangkat dan memejamkan matanya, terdapat selang oksigen di hidungnya juga selang infus yang tertancap pada tangannya. Di samping brankar laki-laki itu terdapat sebuah alat detak jantung yang masih bergerak menandakan jika Morgan masih hidup.

__ADS_1


Lyla merasa sedih melihat Morgan yang seperti itu, dia sungguh sangat tidak menyangka sekali jika ternyata Morgan menjadi korban tabrakan. Seharusnya dia mengiyakan saja saat laki-laki itu berkata jika dia tidak ingin kembali lagi ke kantor. Seharusnya dia tidak menyuruhnya untuk pergi.


Lyla menahan air matanya, dia tidak ingin Gerald memutuskan perjanjian yang telah dia lakukan.


"Duduklah," ucap Gerald kepada Lyla.


Lyla menuruti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Mereka duduk berdua bersandingan.


"Morgan menabrakkan dirinya pada mobil yang ada di depan," ucap Gerald membuat Lyla terkejut dan tidak menyangka akan hal itu.


"Untuk apa dia melakukan itu?"


"Aku juga tidak tahu, tapi besar kemungkinan dia juga terancam nyawanya. Dokter berkata ada beberapa luka tusukan di perut Morgan, mungkin itu sebabnya dia menabrakkan mobilnya ke kendaraan yang lain. Tapi itu hanya asumsi saja dan aku juga yakin jika itu adalah kebenarannya," ucap Gerald.


Lyla menutup mulutnya dengan kedua tangan dia tidak menyangka dengan yang barusan Gerald ceritakan ini.


"Tidak mungkin Renee akan menyakitinya, bukankah wanita itu sangat mencintai Morgan?" tanya Lyla kepadanya.


"Kau salah. Wanita itu sudah tidak pernah mencintai Morgan semenjak dulu. Dia hanya ingin memanfaatkan Morgan saja," ucap Gerald kepada Lyla yang membuat wanita itu semakin tidak percaya saja.


"Tentu saja bisa. Sebagai wanita yang ambisius bagaimana menurutmu?" tanya Gerald kepada Lyla.


Lyla menundukkan kepalanya. Dia sangat paham sekali dengan apa yang terjadi.


"Setelah Morgan siuman, kau harus pergi dari sini," ucap Gerald, Lyla terkejut dan membulatkan matanya.


"Apakah itu artinya perjanjian itu harus selesai saat ini juga?" tanya Lyla.


"Ya, dokter bilang Morgan mengalami cedera parah di kepalanya dan kemungkinan dia akan hilang ingatan," ucap Gerald. Lyla terdiam, melihat luka Morgan yang sangat parah seperti itu bisa jadi apa yang Gerald katakan adalah hal yang memungkinkan.


"Apa kau yakin dia hilang ingatan?" tanya Lyla.


"Aku tidak yakin, tapi jika itu terjadi aku ingin kau pergi darinya, itu akan lebih baik dibanding dengan dia harus sakit hati lagi dan kehilangan akal warasnya," ucap Gerald kemudian berdiri.

__ADS_1


"Aku akan kirimkan segera uang itu ke nomor rekeningmu. Pastikan setelah kau mendapatkannya, kau sudah tahu akan pergi ke mana," ucap laki-laki itu dengan nada yang dingin, kemudian pergi dari hadapan Lyla.


Lyla kini diam termenung di tempatnya, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap jauh ke luar sana, langit malam yang tanpa bintang sama sekali.


Haruskan aku pergi?


Lyla menyentuh dadanya yang terasa sakit saat mendengar Gerald mengusirnya seperti itu, tapi itu sudah masuk ke dalam perjanjian mereka. Lyla akan mendekati Morgan untuk menjauhkan Renee darinya, mana dia sangka jika ternyata wanita itu justru mati di tangan Morgan sendiri.


Lyla menghela napasnya dengan berat, apakah dia akan kuat jauh dengan laki-laki ini?


Rasanya akan sangat berat sekali jika dia harus pergi meninggalkan Morgan. Bukan cinta, tapi kenapa hatinya terasa sakit seperti ini?


Lyla bangkit dari duduknya dan menatap Morgan yang ada dalam ruangan itu, sekali lagi dia menatapnya dengan lekat, puas-puaskan sebelum nanti ia akan pergi jauh.


Dokter keluar dari ruangan itu, Lyla segera mendekat dan bertanya kepadanya. "Dokter, apakah aku bisa masuk ke dalam sana?" tanya Lyla dengan penuh harap.


Dokter menatap Lyla dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya. "Siapa Anda?" tanya dokter tersebut.


"Saya ... Saya kekasihnya," jawab Lyla.


Dokter tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia tahu wanita ini datang bersama dengan Gerald, jadi dia mengizinkan Lyla untuk masuk ke dalam sana.


"Anda tidak bisa lebih dari lima menit saja. Karena pasien sangat rentan untuk mengalami serangan mendadak," ucap dokter tersebut. Lyla menganggukkan kepalanya dan ikut masuk dengan dokter wanita tersebut.


Di dalam ruangan itu, Lyla kini hanya bisa diam duduk di samping Morgan. Dia ingin menangis, tapi sebisanya dia tahan saja. Morgan tidak suka jika melihatnya dia menangis seperti itu.


"Tuan, apakah kau mendengarku?" tanya Lyla dengan penuh harap, tapi orang yang dia ajak bicara hanya diam saja dan tidak membuka matanya.


"Hei, Morgan. Kau Tuan Muda yang arogan, bangunlah. Kau pasti mengenal suara ku kan? Kau pasti mendengarku kan? Aku mohon, bangunlah. Ayo kita nonton film lagi? Bangun dan pulanglah cepat. Aku sudah susah payah membuatkanmu mie dengan bola daging yang kau suka itu."


Perlahan Lyla menyentuh tangah Morgan, dia hanya mengelus punggung tangan laki-laki itu dan mencari kehangatan yang ada di sana. kali ini dia yang menggenggamnya, bukan sebaliknya di mana Morgan yang biasanya menggenggam tangannya.


"Hei, kau tahu tidak? Tanganku terluka gara-gara tadi aku melamunkan dirimu, aku tidak sengaja melamun dan air kuah yang ada di panci menguap hingga aku membakar tanganku sendiri, dan parahnya aku juga tidak berhati-hati sampai kakiku juga terkena, haha." Lyla tertawa, tapi di dalam hati dia ingin menangis setelah mendengar jika Gerald sudah tidak butuh jasanya lagi.

__ADS_1


"Dokter," panggil Lyla pada dokter yang masih berada ruangan yang sama. "Apakah benar dia akan kehilangan ingatan?" tanya Lyla pada dokter tersebut.


"Anda berdoa saja semoga semuanya akan baik-baik saja," ucap dokter.


__ADS_2