Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
59. Pernah Melakukan Lebih


__ADS_3

"Aku tidak tahu mana obat yang akan kau minum, jadi aku membawa semuanya kemari," ucap Lyla seraya memberikan beberapa lembar obat itu kepada Morgan. Laki-laki itu langsung menerimanya dan membuka salah satu dari lembar yang terdapat warna hijau.


Lyla pergi ke arah lain untuk mengambilkan air hangat untuk Morgan.


"Ini," ucap Lyla seraya menyerahkan gelas tersebut untuk Morgan.


"Terima kasih."


Lyla kembali duduk di samping Morgan dan memperhatikan laki-laki itu meminum obatnya.


"Tuan, apakah aku boleh bertanya?"


"Hem?"


"Aku melihat di kamar ada fotomu dengan seorang wanita, apakah dia kekasihmu?" tanya Lyla ingin tahu, sementara Lian yang mendengar itu terkejut dan menggelengkan kepalanya. Ingin dia bicara tapi tatapan Morgan sudah tertuju sangat tajam kepada Lyla.


Gawat! Tuan Morgan pasti akan marah! batin Lian takut.


Morgan menarik napasnya dan membuangnya dengan cukup kasar. "Dia mantan kekasihku," ucap Morgan. Akan tetapi, kemudian dia terdiam setelah mengatakan itu. Kenapa dia bisa mengatakan jika Renee adalah mantan, padahal mereka belum memutuskan hubungan sama sekali. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Morgan.


"Dia sangat cantik."


Morgan berusaha untuk tidak peduli dengan yang diucapkan Lyla. Dia membuang pandangannya ke arah lain dengan penuh kekesalan.


"Jangan bahas dia."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mau membahasnya!" Morgan merasa marah karena seseorang telah mengungkit wanita itu lagi. Dia kemudian beranjak pergi dari sana dan pergi ke arah belakang. Lyla menatap Lian dengan tatapan yang bingung.


"Apakah aku salah bicara?" tanya Lyla kepada Lian.


Lian yang ditanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Bukankah aku sudah ingatkan waktu itu jika kita dilarang untuk membahas wanita itu."


"Aku lupa. Aku hanya kagum dengan dia, sangat cantik sekali," ucap Lyla sambil tersenyum meringis. Dia benar-benar lupa akan hal itu, dan hanya terkagum dengan kecantikan dari Renee.


"Dia memang cantik, tapi hatinya tidak cantik sama sekali."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena dia meninggalkan laki-laki yang sangat baik seperti Tuan Morgan. Padahal begitu banyak orang lain yang mengejar-ngejar tuan muda dan ingin menjadi istrinya atau hanya teman satu malamnya saja," ucap Lian memberitahu, tapi kemudian dia terdiam dan sadar ketika melihat wajah Lyla yang tiba-tiba murung, sepertinya yang diucapkan barusan adalah kalimat yang salah. Lyla menundukkan wajahnya.


"Kakak, maaf aku salah bicara. Bukan maksudku—"


"Tidak apa-apa." Lyla tersenyum sambil menatap Lian, tapi di dalam hati dia cukup sedih mendengar hal itu.


Apa yang aku pikirkan? Tentu saja dia bukan pria baik-baik makanya dia bisa melakukan hal itu kepadaku, gumam Lyla di dalam hatinya.


Lian merasa bersalah dengan ucapannya tadi, seharusnya tidak perlu mengatakan kalimat yang terakhir. Luka fisik yang Lyla alami beberapa hari yang lalu mungkin sudah sembuh, tapi luka batinnya masih ada dan sangat menyakitkan untuknya.


Aku salah! Kenapa aku harus mengatakan hal itu? batin Lian kemudian berbalik dan menepuk bibirnya yang jahat.


Dia melirik ke arah Lila yang masih terdiam.


Ah dasar bibir jahat. Sangat jahat! Lain kali ingatkan aku untuk bicara dengan hati-hati, pikirnya lagi.


Suasana di dapur itu menjadi hening sampai makanan telah dirasa matang. Lian menyajikan dua mangkok yang cukup besar untuk Lyla dan juga Morgan. Sedih rasanya dia batal menikmati makanan itu bersama dengan Lyla, tapi ya sudahlah masih ada mie instan yang bisa dia buat. Untung saja tadi dia membuat bola daging yang lumayan banyak sehingga rasa kecewanya tidak terlalu mendominasi.


"Baguslah. Em ... bisa kau bantu tolong aku untuk membawanya ke belakang? Aku rasa aku tidak kuat untuk membawanya," pinta Lyla saat melihat dua mangkok berukuran cukup besar di atas nampan.


"Apa kau juga akan makan di sana?" tanya Lian sedikit ragu.


"Iya, aku akan makan di sana. Tidak apa-apa kan malam ini tidak makan bersama?" tanya Lyla sedikit tidak enak hati. Dia akan makan bersama dengan Morgan saja sambil meminta maaf atas kejadian tadi.


"Tentu saja tidak apa-apa. Lagi pula aku juga akan memasak mie instan. Jangan beritahu kepada yang lain, ya. Aku akan bersembunyi di kamarku," bisik Lian sambil tertawa kecil. Lyla paham apa yang Lian maksudkan, memang di rumah ini mie instan adalah barang terlarang, tapi gadis kecil ini sering nekat menyelundupkannya di tas sekolah. Memang mie instan adalah makanan yang paling nikmat.


"Oke, aku akan bawakan."


Lian membantu membawakan makanan tersebut ke arah belakang rumah, tidak lupa dengan minuman yang melengkapi makanan tersebut. Tampak Morgan sedang duduk di kursi santai yang ada di dekat kolam renang. Dia sedang berbaring sambil menatap langit malam, tidak ada bintang sama sekali di atas sana karena tertutup awan hitam yang sedari tadi siang menurunkan bulir-bulir salju.


"Terima kasih, Lian," ucap Lyla membuyarkan lamunan Morgan. Laki-laki itu hanya meliriknya sebentar kemudian kembali menatap langit malam, sedangkan Lian segera kembali ke dalam rumah.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lyla.


"Kau tidak buta untuk melihatku sekedar melakukan apa," jawab Morgan dengan ketus. Lyla menahan kesal, rasanya dia tidak mau jika laki-laki ini terus-terusan marah kepadanya. Maka dari itu, dia tidak mau mendebat.

__ADS_1


"Makanlah. Makanannya sudah siap," ucap Lyla sambil menurunkan mangkok dari atas nampan ke meja di samping Morgan, begitu juga dengan minumannya. Lagi-lagi Morgan hanya meliriknya sekilas tanpa minat. Marahnya tadi telah menghilangkan napsu makannya.


"Kau makanlah sendiri."


"Kenapa kau tidak mau makan? Apa masih marah soal yang tadi?" tanya Lyla. Akan tetapi, Morgan tidak menjawabnya. Dia masih menatap langit yang suram.


"Ya sudah kalau kau tidak mau makan. Yang terpenting aku sudah menawarkan."


Lyla tidak peduli lagi, dia menikmati makanan itu sendirian. Terserah Morgan akan ikut makan atau tidak.


"Ini enak sekali!" ucap Lyla dengan jujur menyebutkan rasa makanan tersebut. Ini kedua kalinya dia makan mie yang sangat lembut di lidahnya. Lembaran mie itu diangkat dengan menggunakan garpu hingga setara dengan hidung, asap tipisnya mengepul hingga terlihat sangat jelas di udara yang dingin. Perlahan dia meniup dan memasukkannya ke dalam mulut sehingga terdengar suaranya yang khas.


"Makanan panas memang cocok sekali di udara yang dingin. Kau yakin tidak mau? Mie itu tidak akan enak jika sudah dingin."


"Kau habiskan saja!" ucap Morgan ketus. Lyla sangat senang mendengar hal itu, dia tidak masalah makan banyak. Perutnya bisa menampung dua mangkok besar mie yang ada di depannya kini.


"Oke. Kau sudah memberikannya untukku, jadi jangan menyesal jika aku akan menghabiskannya!" ucap Lyla dengan senang hati.


Morgan menggelengkan kepalanya melihat cara makan Lyla yang tidak anggun sama sekali, suaranya terlalu berisik. Bukan hanya saat memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, tapi memang dia juga banyak bicara.


"Oh ya Tuan, aku heran dan ingin tahu dari mana kokimu bisa membuat makanan yang seenak ini. Apa mereka sekolah memasak?" tanya Lyla ingin tahu.


"Kenapa kau tidak tanyakan saja kepada mereka?"


Lyla merasa sebal dengan jawaban Morgan. Hanya tinggal menjawab saja iya atau tidak apa susahnya?


"Ish, kau ini kenapa menyebalkan sekali? Aku kan cuma tanya."


Lyla sudah menghabiskan makanan miliknya, dia bersiap untuk mengambil mangkuk selanjutnya. "Kau yakin tidak mau kan?" Tanya Lila sambil mengangkat mangkok tersebut. Dia menikmatinya lagi dengan santai.


Morgan mengabaikannya, tapi wangi dari makanan tersebut membuatnya melirik juga ke arah Lila. Aromanya membuat perut seakan terdapat lubang dan membuatnya hampa. Melihat Lila yang sudah bersiap dengan makanannya membuat Morgan menegakkan tubuh menjadi duduk. Dia mengulurkan tangannya untuk menahan Lyla.


"Itu tadi milikku bukan? Berikan kepadaku!" Tanpa menunggu jawaban Morgan langsung mengambil mangkok tersebut dari tangan Lyla membuat wanita itu menjadi heran.


"Eh itu bekasku!" ucapnya saat Morgan memakan makanan tersebut. Dia tidak menjawab sibuk mengunyah bola-bola daging yang enak itu.


"Memangnya kenapa kalau bekas? Bahkan kita pernah melakukan lebih dari sekedar ini!"

__ADS_1


__ADS_2