Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
194


__ADS_3

Pada akhirnya Lyla dan Morgan tertidur hingga menjelang malam. Mereka tidak sadar telah tertidur selama itu akibat lelah di perjalanan dan juga hal lainnya. Berbeda dengan Lian dan Gerald yang menggunakan kesempatan ini untuk menghabiskan waktunya bersama. Jendela mereka biarkan terbuka dan mereka bermain sambil menatap view indah yang ada di luaran sana. Langit sore hari ini sangat indah, tenggelam seiring pergerakan Gerald yang memanjakan Lian dari belakang.


Lyla terbangun karena udara dingin yang terasa di kakinya. Selimut naik hingga ke atas lutut dan Morgan menutupi seluruh kepalanya. Udara dingin, dan langit ternyata sudah gelap di luaran sana.


"Morgan. Ini sudah malam."


Tercium di luar aroma pembakaran daging yang menggoda hidung mereka, membuat perut Lyla menjadi keroncongan. Dia ingat saat makan siang tadi hanya makan sedikit saja, karena masakan Selvi memang tidak enak seperti apa yang dikatakan oleh Gerald.


"Sayang. Kau harus bangun. Aku baru ingat jika ayah akan mengadakan acara barbekyu malam ini." Lyla mencoba untuk memutar tubuhnya, tapi dia tidak bisa bergerak karena Morgan memeluknya dengan erat. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang mengganjal di bagian belakang tubuh Lyla dan rasanya cukup aneh, semakin aneh dan basah saat dia bergerak. Sampai Lyla tersadar jika tubuhnya terasa hangat seperti terselimuti selembar kulit.


Benar saja, saat menyibak selimut, dia melihat tubuhnya yang sudah polos di bagian bawah, kancing kemejanya terbuka lebar dan kaca mata di dadanya sudah tidak lagi mengait dengan benar di belakang sana.


"Morgan!" teriak Lyla, tapi kemudian bibirnya dibekap oleh tangan besar sang suami.


"Jangan berteriak, Honey."


Lyla serasa dikhianati, Morgan mencapai kenikmatan seorang diri tanpa membangunkannya. Itu sangat menyebalkan sekali!


Tangan Morgan dihempaskan oleh Lyla dan dia mencoba untuk bangkit, tapi lagi-lagi Morgan menahan tubuh istrinya dan membuat dia tidak berdaya saat Morgan bergerak maju dan mundur dari belakang.


"Kau curang ... kenapa kau--, tidak membangunkanku?" Lyla protes di antara suara kenikmatan di sela pergerakan suaminya.


"Karena aku tidak ingin kau menolakku."

__ADS_1


"Aku tidak akan menolakmu. Bukankan apa yang kau lakukan adalah tindak pidana?"


"Sebutkan pasal berapa? Aku mau dipenjara asal di dalam hatimu."


"Ah ... kau ... seorang pencuri," racau Lyla.


"Aku tidak peduli. Aku hanya mencuri sedikit saja."


"Berapa kali kau menikmati saat aku tertidur?"


"Baru dua kali."


"Dan tiga kali dengan ini?"


Morgan memutar tubuh istrinya sehingga dia bisa berlutut di belakang, paha mereka saling beradu dengan posisi Lyla ada di depannya. Bongkahan kenyal dari bokng wanita itu diremmasnya dengan penuh gairh. Sesekali dia menamparnya sehingga Lyla tidak bisa menahan lagi suaranya.


Di luar sana, empat orang yang sudah mulai membakar tanpa menunggu kehadiran Morgan dan Lyla, mencoba untuk menulikan pendengaran mereka. Terlalu indah dan terlalu kejam jika menuruti hawa di malam ini yang lumayan dingin. Bahkan, api unggun yang menyala, masih kurang panas jika mendengar suara yang tercipta di balik bilik Morgan dan Lyla.


"Bunny-ku, Sayang." Gerald mendekat. Dia memang tidak ingin mendengar suara itu, tapi adik kecilnya tetap saja peduli dan ingi dipedulikan oleh istrinya.


"Jangan mendekat. Aku tahu apa maksudmu memanggilku dengan sebutan itu!" Lian menjauh seraya menyodorkan sebuah capitan besar yang dia pakai untuk membalikkan daging-daging yang ada di atas panggangan. "Aku sedang sibuk sekarang ini, Tuan. Kau tidak bisa memintaku untuk melakukannya lagi. Bukankah kau bilang tadi sudah puas dengan tubuhku?" Tanpa malu sama sekali, Lian berbicara dengan suara yang cukup lantang menolak keinginan suaminya.


Robinson dan Selvi saling berpandangan satu sama lain, ada hal yang menyenangkan yang bisa mereka lihat sekarang ini.

__ADS_1


"Ayolah, Sayang. Bunny-ku. Apa kau tega membiarkan adik kecil kita meraung-raung di dalam sana?" ucap Gerald memohon dengan wajah memelas, tapi Lian memang wanita yang cukup keras kepala rupanya.


"Heh, Tuan Gerald, suamiku yang paling aku sayangi," panggil Lian masih dengan penjepit yang masih teracung ke arah wajah suaminya. "Kau tidak lihat sekarang aku sedang apa? Aku sedang sibuk di sini dan aku tidak bisa diganggu. Makanan ini bisa gosong dan kita akan makan apa nanti?" Tatapan tajam diberikan Lian ke pada suaminya. Akan tetapi, Gerald tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Penjepit yang ada di tangan Lian dia ambil dan dia lemparkan sejauh mungkin hingga terjatuh ke tanah. Ditangkapnya wanita itu dan dia angkut seperti sebuah karung beras di pundaknya.


"Hei, Tuan. Apa yang kau lakukan? Aku harus membakar semua daging-daging itu. Heiii!"


Gerald tidak peduli, bahkan jika malam ini dia harus kelaparan, yang terpenting, mengurusi adik kecilnya agar tidak meraung-raung lagi di dalam sarangnya.


"Maaf, Tuan Robinson. Bisakah kalian mengambil alih dulu semuanya? Ada hal yang harus kami selesaikan terlebih dahulu." Gerald membawa Lian yang masih berontak di pundaknya. Dia masih memedulikan daging yang bisa saja gosong di tangan Selvi.


"Iya, pergilah kalian. Santai saja. Kami akan mengurus sisanya." Robinson menggerakkan tangannya dan tertawa geli, sedangkan Selvi mencoba membolak-balikkan daging yang tengah dibakar tersebut.


"Hei, Tuan. Apa yang kau lakukan?" protes Lian saat Gerald merobek pakaian miliknya. "Akh, pakaianku? Kenapa kau merobeknya?" teriak gadis itu tidak terima. Pakaian mahal dengan harga lumayan dan dia harus mengumpulkan setengah tahun gajinya dirobek oleh pria yang telah beberapa hari ini menikahinya. Akan tetapi, Gerald tidak peduli akan hal itu dan tanpa permisi lagi untuk melakukan hal yang harus dia lakukan.


Gerald memang belum sepenuhnya bisa mencintai Lian, tapi entah kenapa setelah mereka melakukan malam pertama membuat pikirannya serasa terkunci dan dia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari istri kecilnya itu. Padahal, jika dilihat dari fisik Lian jelas kalah jauh dan tidak seperti mantan-mantannya terdahulu yang seorang model terkenal maupun artis.


Di luar, Robinson dan Selvi juga sedang berjuang. Mereka juga tidak mau ketinggalan dengan kedua pasang anak muda yang sedang bercinta di dalam kamar. Mengabaikan daging yang ada di atas panggangan, dua orang itu lebih asyik dengan permainan mereka di atas tikar yang telah mereka seret di balik semak-semak. Diiringi dengan suara ombak yang berdebur tenang di kala malam itu, tiga pasang pengantin baru seakan sedang berlomba-lomba untuk sampai ke pada kenikmatan yang bisa mereka raih di malam ini.


"Tuan, daging panggangnya ...." Di sela-sela suara lirihnya di tenga gempuran Gerald yang tidak memberi jeda, Lian masih memikirkan nasib daging panggang yang mungkin saat ini sudah menghitam dan hampir menjadi abu. Dari aromanya sudah jelas tercium.


"Sudah, jangan hiraukan. Kita bisa membakarnya lagi besok malam."


"Dagingku ...." sesal wanita itu. Daging yang sudah dia bumbui dengan baik, entah bagaimana nasibnya kini.

__ADS_1


__ADS_2