
“Ya, Mom. Kau hamil.”
“Aku senang sekali. Honey, ada anak kita di sini. Aku senang sekali,” ucap Selvi seraya mengusap perutnya yang masih rata. “Tapi, kenapa aku tidak mual muntah seperti ibu hamil lainnya?” tanya Selvi bingung.
“Tidak semua ibu yang sedang hamil muda merasakan mual muntah, Mom. Bisa jadi kau berbeda dari yang lain dan mungkin saja ada faktor lain yang lebih mempengaruhimu dan membuat mood mu naik dan turun.”
Selvi terdiam sebentar dan mencoba memikirkannya, tapi tidak dia temukan hal yang membuatnya berubah.
“Entahlah, aku tidak peduli. Yang terpenting aku sedang hamil sekarang!”
Saking senangnya Selvi tidak memikirkan caranya turun dari ranjang rumah sakit itu sehingga Rachel memberinya peringatan.
“Mom, kau harus berhati-hati. Ingat kau sedang mengandung sekarang!” ucap Rachel memberi peringatan.
“Okay. Aku akan ingat tentu saja.”
“Aku akan memantau keadaanmu dan keponakanku. Jangan banyak bekerja mulai sekarang dan aku tidak ingin kau memikirkan banyak hal yang membuatmu stress,” ucap Rachel lagi.
__ADS_1
“Iya, aku mengerti. Aku akan segera resign dari rumah sakit ini secepatnya. Ayo, Sayang. Kita pulang. Kita rayakan kehadiran calon anggota baru anak kita,” ucap Selvi kemudian menarik tangan suaminya dengan tidak sabaran.
“Eh, hati-hati!” Rachel berteriak lagi saat melihat kedua orang tuanya pergi dari sana, terutama karena Selvi tidak menjaga langkah kakinya yang pergi dengan lincah.
Suara derap langkah kaki yang cepat terdengar di lorong rumah sakit itu. Selvi tetap menarik tangan Robinson sehingga pria itu menjadi khawatir.
“Sayang, tolong jangan terlalu cepat. Aku khawatir dengan anak kita,” ucap Robinson yang membuat Selvi memelankan laju langkah kakinya.
“Baiklah. Kalau begitu berjalan bersama denganku.” Selvi menggandeng tangan Robinson menuju ke tempat mobilnya diparkirkan. “Sayang, aku mau ramen,” ucap Selvi tiba-tiba.
“Ramen? Di mana kita membelinya?” tanya Robinson yang tidak pernah makan ramen.
Selvi tidak pernah makan mie sebelumnya, karena dia tahu jika mie adalah makanan yang tidak baik untuk dikonsumsi menurut versinya yang seorang dokter, tapi kali ini dia menginginkan mie ramen dengan toping udon segar di atasnya.
Tidak menunggu lama, makanan yang dipesan sudah sampai dan terhidang di atas meja. Selvi sangat kegirangan sekali melihat makanan yang dia mau, sementara Robinson hanya terdiam melihat banyak makanan di atas meja.
"Kau yakin akan menghabiskan semua ini?" tanya Robinson menunjuk semua makanan yang ada di meja.
__ADS_1
"Iya, tentu saja. Aku yang menginginkannya, dan aku yang akan menghabiskannya," ucap Selvi kemudian mulai mencicipi makanan itu.
"Ini enak sekali, Robinson."
Robinson membiarkan Selvi makan, tapi dia hanya melihat istrinya saja dan perutnya sudah mendadak kenyang. Selvi yang selalu menjaga pola makan dengan baik, kini mengabaikannya karena menginginkan ramen semenjak seminggu yang lalu.
Robinson hanya melihat istrinya makan dan dia menjadi kenyang.
"Sayang, apa kau benar tidak mau makan?" tanya Selvi sambil menyeruput kuah mie nya.
"Tidak, aku akan menunggumu saja. Robinson memilih untuk minum dan menunggu Selvi yang banyak menghabiskan makanan di atas meja.
Sampai akhirnya, banyak makanan yang dipesan oleh Selvi dia makan sendirian.
"Sayang, apa perutmu baik-baik saja? Kau terlalu banyak makan malam ini. Ingat, anak kita pasti sesak, sempit karena makanan."
Selvi tertawa terbahak mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, dia tidak akan terkena dampaknya. Tidak ada hubungannya aku.makan dan anak kita yang terdesak. Makananku turun ke lambung, sedangkan dia ada di rahim. Ukurannya masih kecil dan dia masih bebas berenang ke sana dan kemari di dalam. Apa harus aku jelaskan secara terperinci?" tatap mata Selvi ke pada suaminya.
"Tidak perlu, tidak perlu." tolak Robinson cepat. Jika Selvi menjelaskan segala sesuatunya, dia pasti akan mendengarkan ocehan Selvi mengenai kesehatan.