Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
169. Paman Yang Jahat


__ADS_3

Lyla tersadar dari tidurnya yang lelap, dia terbangun pada sebuah ruangan asing yang dipenuhi aroma yang sangat enak. Tatapan matanya beredar ke segala penjuru ruangan.


Di mana aku?


Tangan dan kakinya terikat dengan kencang, sangat sulit sekali untuknya melepaskan tali kain di belakang tubuhnya.


Siapa? Siapa yang menculikku?


Entah apa kesalahannya sehingga orang sangat hobi sekali menculiknya. Pada kasus beberapa bulan yang lalu, dia diculik oleh Morgan, kemudian Alex datang dan menculiknya juga. Dan kali ini entah siapa lagi yang melakukan hal seperti itu kepadanya.


"Kau sudah bangun rupanya."


Seorang laki-laki tua dengan tubuh sedikit gempal dan berkepala botak mendekat, tersenyum kepada Lyla yang ketakutan melihat wajah menyeramkan pria itu. Sedikit codet di bawah matanya, juga dengan seringaian yang membuat giginya yang kuning terlihat. Asap dari cerutu keluar dari mulut dan hidung.


"Si-siapa kau? Kenapa kau menculikku?" Lyla mencoba untuk duduk meski sedikit kesusahan.


Dia hanya tertawa dengan cukup keras seraya berjalan mendekati Lyla.


"Aku? Aku adalah pamanmu. Ah, iya. Aku lupa jika kau pasti tidak akan mengingatku," ujar laki-laki itu kini berhenti dan menatap Lyla yang terus bergerak bagai ulat yang kepanasan di atas permukaan daun.


"Apa?"


"Kau terkejut?" Pria itu kembali menyeringai. "Aku sudah lama ingin mendekatimu, tapi sayang sekali, pamanmu selalu menghalangiku untuk bertemu dengan keponakanku sendiri. Dasar anak haram!" decak kesal pria itu sambil melemparkan cerutu mahal yang masih sisa setengah itu dan menginjaknya dengan sol sepatunya yang mahal.


"Jadi ... kau yang membuat Uncle Alex celaka?"

__ADS_1


"Haha. Tentu saja. Aku tidak akan berhenti sampai dia lengah dan pada akhirnya dia telah bisa aku kalahkan. Bagaimana? Apakah dia sudah mati sekarang? Aku harap dia menyusul ayahmu."


Mata Lyla membulat, ternyata yang diceritakan oleh Alex bisa dia dengar sendiri sekarang ini.


"Kau ... baj*ngan. Seharusnya yang mati adalah kau."


"Jangan mengumpat seperti itu, Keponakanku. Apa kau tidak bisa sedikit bersikap manis kepada pamanmu?"


"Paman macam apa yang tega menghabisi keluarganya sendiri?"


Tiba-tiba saja wajah laki-laki itu menjadi sinis, menghilangkan senyumannya dari wajah yang sudah tampak mengerikan.


"Apa aku salah jika aku sedang memperjuangkan hak ku? Apa aku salah jika aku menginginkan yang menjadi bagianku? Aku melakukan ini karena mereka tidak adil. Apa aku salah jika aku ingin diperlakukan yang sama oleh mereka!" teriaknya kemudian bak lesatan sebuah peluru, tangannya menghantam pipi Lyla hingga memerah.


Sakit, tentu saja sakit saat mendapati serangan dadakan itu. Lyla terjatuh dengan posisi miring. Sudut bibir Lyla kini berdarah dan membuatnya mual.


Dia mendekat. Menjepit dagu keponakannya dengan kasar dan memaksa Lyla untuk duduk kembali.


"Katakan kepadaku. Aku seperti ini karena ketidakadilan yang aku dapatkan dari mereka. Kau tahu bagaimana perlakuan mereka terhadapku? Ibumu ... ibumu yang membuat aku seperti ini. Sedari dulu dia yang selalu dibanggakan, sedari dulu dia yang selalu mendapatkan perhatian. Tapi--"


Tubuh Lyla mengkerut mendengar teriakan keras di dekat telinganya. Pengang, tapi lebih terasa sakit hatinya mendengar penjelasan dari pria ini.


"Tapi aku bisa menyingkirkannya, kan? Aku bisa menyingkirkan kedua orang tuamu dan aku bisa mendapatkan semuanya. Asal kau tahu, kedua tua bangka itu juga sudah mati karena aku. Hahaha! Mereka mati setelah aku paksa untuk menandatangani dokumen pemindahan kekuasaan atas namaku. Dan kau tahu? Mereka mati dengan perlahan dalam kesakitan dan kesedihan. Hahaha!" Dia tertawa dengan kepalanya yang terdongak ke atas.


Air mata Lyla menetes mendengarnya. Akan tetapi, bukankah Alex mengatakan jika mereka masih hidup dan mungkin saja menunggunya? Lantas, untuk apa lagi dia bertahan jika mereka sudah tiada?

__ADS_1


"Kau kembali untuk apa? Untuk siapa huh? Apakah anak bodoh itu tidak pernah mengatakan jika semuanya sudah aku ambil? Bukan hanya harta mereka, tapi aku juga mengambil semua kehidupan mereka. Hahaha!"


Tawa itu terdengar keras dan tampak sekali puas melihat tangisan Lyla.


"Ah, ya. Satu hal lagi, sama seperti orang tuamu dan juga kakek dan nenekmu. Kau juga akan mati mengenaskan sama seperti mereka. Tapi ...." Pipi Lyla yang putih dielusnya pelan dengan ujung telunjuk, "tenang saja. Aku tidak akan membuatmu tersiksa. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan sehingga kau hanya akan merasa mengantuk setelah ini."


Sebuah suntikan dia keluarkan dari dalam saku bajunya, terdapat cairan berwarna kuning yang ada di dalam tabung suntikan itu. Mata Lyla melotot dan menggelengkan kepala.


"Kau benar-benar baj*ngan!"


"Shhtttt!" Bibir Lyla terkatup lagi akibat sang paman yang menempelkan tari telunjuknya di bibir Lyla. "Setidaknya, kau akan berkumpul bersama dengan mereka. Kalian akan hidup berbahagia di sana. Apakah ada kata terakhir untuk kau ucapkan? Terima kasih misalnya untuk perjalanan yang akan kau lalui untuk sampai ke surga? Percayalah, aku lebih menyayangimu dari pada si anak haram itu. Aku lebih ingin kau bersama dengan mereka di atas sana daripada melihatmu tersiksa di dunia ini dengan sesuatu yang tidak pasti. Hidup di dunia sangat keras untuk seorang yang hidup di dalam ketidakpastian. Kau seorang diri, dan aku sedih karena kau hidup sendirian."


Suntikan yang ada di tangannya dia tekan sedikit mengeluarkan udara yang masih tertinggal di dalam sana.


"Aku tidak pernah sendirian," desis Lyla dengan mengeratkan kedua rahangnya. Dia mengingat ibu panti, kakak dan adiknya di panti, kemudian temannya selama ini, Morgan, dan terakhir adalah Alex. Mereka terus ada bersama dengannya meskipun dengan kisah aneh yang membuat hidupnya berwarna. "Meski kau telah membuat hidupku terasing, tapi aku tidak pernah sendirian." Tatapan Lyla tajam, tapi tidak membuat laki-laki itu takut sama sekali.


"Oh, siapa yang mengajarimu, Keponakanku? Mereka orang yang baik, tapi kehadiranmu di dunia ini sudah tidak ada manfaat lagi, Sayang. Kehilangan satu orang sepertimu tidak akan membuat orang lain akan bersedih atau pun kehilangan."


Dia mendekat, menaikkan lengan baju Lyla hingga ke atas bahu.


"Tenang saja. Ini hanya seperti digigit semut kecil. Tidak akan terasa sakit, Sayang. Aku sangat senang sekali bisa menghantarkanmu tidur."


Lyla mendesis saat ujung jarum itu sudah menggesek kulit lengannya.


"Akh ...!"

__ADS_1


__ADS_2