Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
189. Gerald Dan Lian


__ADS_3

Rasa lelah tidak membuat dua orang itu berhenti melakukan kegiatannya. Robinson sudah pasrah sedari tadi karena sang istri terus memimpin permainan. Rasanya tidak ada sedikit pun lelah di wajah istrinya tersebut.


"Sweety," panggil Robinson saat sang istri bergerak membelakanginya. Suasana di dalam kamar pesawat itu sudah sangat berantakan sekali dan sudah tidak lagi seperti semula.


"Iya, Honey." Pergerakan Selvi semakin kencang dan sepertinya dia masih belum ingin berhenti bergerak. Entah obat apa yang membuat Selvi masih kuat untuk bergerak karena ini adalah percintaan mereka yang keempat kali di daalam satu penerbangan.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Robinson, miliknya sudha terasa sakit dan lecet sedari tadi, semakin lama milik Selvi semakin kering dan nikmat, tapi itu juga yang membuatnya terasa sakit.


"Aku bosan. Berada di luar rumah sakit membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Apa kau lelah?" tanay Selvi.


"Sejujurnya, iya."


"Ah, jangan payah menjadi seorang pria, Robinson. Kau hanya perlu tidur dan biarkan aku bermain sendirian."


Robinson terkejut dengan ucapan istrinya, dia memang lelah setelah seharian ini berkatifitas dan ingin sekali tidur. Akan tetapi, apakah dia bisa tdiur dengan posisi istrinya yang sedang bergerak lincah di atasnya?


Oh my Gosh, sampai kapan ini akan berakhir? Batin Robinson.


Perjalanan masih sangat jauh dan dia tidak tahu kapan sang istri akan berhenti dan membiarkannya tidur tanpa diganggu.


...***...


Sementara itu di tempat lain, Gerald sangat kesal sekali karena melihat Lian yang sedang tertidur tidak beraturan di ruang kerjanya. Seharusnya istrinya ini sedang belajar, karena malam masih belum terlalu larut. Akan tetapi, anak ini sudah tertidur di jam delapan malam.


Setelah menikah, Gerald harus berbagi ruangan kerja dengan Lian yang harus belajar dengan giat. Itu dia lakukan karena selama bersama dengan Lian, dia melihat Lian yang tidak serisu dalam belajar. Terutama gadis kecil itu sering sekali bolak balik dari kamar ke ruang kerja hanya untuk menanyakan maksud dari materi yang dia baca. Terpaksa, daripada membuatnay terganggu karena Lian, dia membagi ruang kerjanya bersama dengan sang istri. Gadis kecil itu masih harus menyelesaikan pendidikannya dan Gerald tidak ingin statusnya sebagai istri membuat wanita itu berleha-leha diam di rumah.


Lian masih kurang pintar, dan Gerald ingin sekali istrinya menjadi pintar agar bisa sebanding dengannya. Dia tidak memikirkan ucapan orang lain yang mengatakan jika Lian tidak pantas untuknya, tapi Gerald hanya sedang memikirkan masa depan Lian yang bisa saja tidak akan mudah di era gempuran dunia yang sudah sangat kejam sedari dulu.


Dia ingin mengasah mental istrinya, agar Lian kuat menghadapi kehidupannya sebagai istrinya. Bagaimana pun juga, Lian akan banyak bertemu dengan orang lain dan banyak sekali hal yang harus dipelajarinya untuk layak membungkam mulut orang lain yang berkata tidak baik terhadapnya.


Berita yang tidak sedap mulai bermunculan karena Gerald menikahi anak seorang asisten. Namanya kini sedang diperbicangkan di kalangan pebisnis. Bukan Gerald tidak tahu akan hal itu, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa karena memang pada kenyataannya itu adalah hal yang benar. Hal yang akan dia lakukan sekarang ini adalah membuat Lian menjadi layak, menjadi lebih unggul dan elegan.


Akan tetapi, melihat Lian yang tertidur di atas sofa dengan buku-buku yang terjatuh berserakan di lantai, juga dengan satu kakinya yang naik ke atas sandaran kursi membuat Gerald sedikit ragu juga. Apa lagi, Lian memakai baju tidur dengan motif Doraemon yang hampir memenuhi seluruh permukaan pakaiannya. Semua pakaian tidur gadis ini bermotif dan membuat matanya sakit.


"Apakah benar aku bisa membuatnya menjadi elegan?" gumam pria itu tidak habis pikir dengan wanitanya. Istri kecilnya itu tidak pernah dia lihat tidur dengan elegan. Pun saat bersama dengan dirinya di atas satu ranjang yang sama, Gerald seringkali harus mengalah karena Lian mengambil banyak tempat miliknya. Satu ranjang besar rupanya tidak cukup untuk mereka berdua, padahal jika dengan ukuran tubuhnya saja, ranjang itu masih muat untuk empat kali besar tubuhnya.


"Astaga. Kenapa aku bisa menikah dengan dia?" gumam Gerald sekali lagi sambil memunguti buku Lian yang ada di lantai. Terkadang Gerald merasa kasihan dengan Lian saat melihat buku-buku tebal yang harus dibacanya. Namun, itu lebih baik daripada Lian sendirian terbengong dan akhirnya mengganggu dirinya.


Sampai sekarang ini Gerald masih berpikir kenapa dirinya bisa menikah dengan Lian, padahal jika disebut cinta dengan wnaita ini, tidak juga. Dia hanya pernah menciumnya dan rasanya itu menyenangkan. Perasaannya tidak seperti saat dia mencintai Renee. Perasaannya terhadap Lian cukup membingungkan baginya, dan sampai saat ini dia masih mencari tahu apa sebab dia mau menikah dengan gadis ini.


"Kau membuatku repot saja."


Dengan perlahan Gerald mengengkat tubuh istrinya di bagian depan dan membawanya ke kamar dengan melewati pintu yang terhubung antara ruang kerja dan kamarnya. Lian tidak terganggu sama sekali, kegiatannya hari ini suda lumayan membuatnya lelah. Menghadiri pernikahan Morgan dan Lyla, kemudian dia harus belajar untuk menghadapi ujian minggu depan. Seharian ini tubuh dan otaknya lelah. Banyak membaca bukannya membuat dia pintar, tapi dia mabuk karena terlalu banyak menyerap tulisan dari buku-buku yang sangat tebal.


Gerald membaringkan tubuh Lian dengan hati-hati dan tidak ingin membuatnya terbangun, tapi melihat wajah yang polos itu membuat matanya tidak mau berpaling dari bibir Lian yang sedikit berisi. Bibirnya kecil, berbentuk hati. Ada tahi lalat kecil di bawah bibirnya. Jika mendengar dari para orang tua, tahi lalat yang ada di bibir biasanya membuat si pemilik suka sekali berbicara, dan sepertinya itu benar adanya karena Lian adalah gadis yang sangat suka sekali berbicara bahkan saat dia tidak ingin mendengarnya. Dunianya yang damai dan tentram, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Kepalanya pusing mendengar sang istri yang terus-terusan berbicara meski tidak ada yang penting sama sekali.


"Sshhhh!" Gerald mendesis saat tiba-tiba saja sesuatu terasa menegang di bawah sana. Padahal dia sedang tidak memikirkan hal yang kotor maupun jorok. Dia hanya memandang wajah istrinya dan sialnya adik kecilnya sedang bereaksi di bawah sana.


Tiba-tiba saja Lian membuka mata dengan malas, menatap nata Gerald yang ada di depannya. Wanita itu tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya ke belakang leher suaminya.


"Apa yang kau lakukan, Suamiku? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Lian dengan suara yang setengah mengantuk.


"Tidak apa-apa. Kembaliah tidur. Aku akan kembali bekerja," ucap Gerald dengan menyingkirkan tangan Lian, tapi tidak disangka jika wanita itu malah mengeratkan pelukannya dari sang suami.


"Apa di pikiranmu hanya bekerja saja? Kau tidak ingin mengerjaiku?" ucap gadis kecil itu berbisik dan menjilat cuping telinga suaminya. Gerald bersusah payah menahan gejolak yang ada di dalam tubuhnya. Semakin dia mencoba untuk menyingkirkan perasaanya, semakin sulit untuk menahan adik kecilnya yang semakin mengembang membesar.


"Hentikan, Lian. Aku harus kembali bekerja." Gerald tahu jika gadis kecil ini hanya ingin mengganggunya saja. Jelas dia sedang tidak bisa diganggu karena tamu bulanan sialan itu!


"Berhenti memikirkan pekerjaanmu. Malam ini tidurlah denganku, Sayang."

__ADS_1


Tanpa Gerald sangka, Lian mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gerald sambil menahan tangan Lian yang hampir saja membuka sabuknya.


"Aku? Bukankah kita harus melakukan apa yang harus dilakukan? Kau tidak paham apa yang harus dilakukan suami istri?" tanya Lian dengan senyuman nakal.


"Bukankah kau--"


"Aku sudah selesai, Tuan. Dan kau bisa mendapatkan hak mu malam ini jika kau mau." Lian mendoring tubuh suaminya dan duduk di atas Gerald, tepat di atas sesuatu yang membesar dan sudah tidak sanggup lagi untuk berada di dalam sana. Sesak.


Dengan berani, wanita itu membuka kancing baju miliknya satu persatu dan terlihatlah kulit putih mulus dan dada yang ukuran kecil sesuai dengan tubuh Lian. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.


Tatapan mata Gerald tidak bisa teralih dari sana. Dia memang tidak suka dengan tubuh kecil rata Lian, tapi mana dia sangka jika apa yang ada di balik baju kedodorannya selama ini, tersimpan sesuatu yang sangat menggodanya. Sesuatu berwarna pink membuat adik kecil Gerald meronta dan ingin keluar sekarang juga.


"Apa kau yakin ingin lanjut bekerja?" tanya Lian sengaja ingin menggoda suaminya. Lian memang polos kelihatannya, tapi pikirannya cukup mesum akibat dari seringnya dia menonton adegan dewasa dari link haram yang dibagikan teman-temannya.


Gerald masih bertahan, tidak ingin terlihat kalah meski dengan sangat jelas dia ingin sekali menghambur dan menangkap dua gundukan kenyal itu.


Melihat Gerald yang hanya diam dan menatap ke arah dadanya, Lian pun dengan berani membuka semuanya dan melemparkan pakaiannya ke udara dan membiarkannya berserakan di lantai.


Glek!


Gerald sudah tidak tahan lagi, apa lagi saat melihat ke bawah dan dia menemukan marmut dengan sedikit bulu. Area yang bersih dan tampak indah.


"Arrggghhh! Kau membuatu gila!" Gerald sudah tidak tahan lagi, apa lagi saat Lian sengaja menyentuh dan mengusap miliknya. Terlalu besar godaan ini dan dia tidak bisa lagi menahannya dengan baik. Dia menerkam bahu Lian dan menekan istrinya ke kasur. Ciuman kasar diberikan Gerald sehingga membuat Lian sedikit sakit saat pria itu menggigit bibirnya.


"Jangan salahkan jika aku kasar terhadapmu. Kau sudah mengganggu macan yang sudah tertidur selama puluhan tahun!"


Gerald kembali mencium Lian dengan kasar. Adik kecilnya tidak ingin menunggu lama. Lidah mereka beradu, saling membelit dan bertukar saliva. Gerald tidak ingin menyia-nyiakan kedua tangannya, kini menjalar di tubuh istrinya dan membuat Lian bergerak tidak karuan.


Rasanya aneh. Rasa yang baru dia dapatkan pertama ini dengan seorang pria. Apa lagi ciuman pertama didapatkannya dari Gerald.


"Panggil namaku."


"Tuan Gerald--"


"Hanya namaku," perintah Gerald.


"Gerald."


"Ya. Terus sebut namaku, Bunny."


Lian suka dengan sebutan itu sehingga dia berkali-kali memanggil nama Gerald. Sentuhan Gerald di tubuhnya membuat ada banyak sengatan listrik yang terjadi di dalam aliran darahnya.


Dari atas turun ke bawah, seluruh tubuh gadis kecil itu tidak dilewatkan oleh Gerald. Sosok mengerikan yang telah bersembunyi di dalam dirinya kini keluar. Hal yang tidak pernah dilakukannya selama tiga puluh lebih tahun hidupnya. Pertama kalinya untuk Gerald merassakan tubuh wanita.


Semua yang ada di hadapannya Gerald telusuri dengan lidah dan ciumannya. Squishy di tangannya dia mainkan, membuat tubuh sang istri semakin mengejang kenikmatan. Tangan Gerald yang lain membuka sisa pakaiannya yang lain dan membuangnya sembarangan arah.


Tidak ingin cepat melalui malam ini, Gerald menggoda tubuh bawah Lian dengan sapuan lidahnya.


"Akh, Gerald. Geli," ucap wanita itu menahan kepala Gerald, tapi kemudian Gerald mengambil kedua tangan Lian dan menahannya di samping tubuhnya. Sapuan lidahnya tidak dia hentikan sama sekali di tepian bibir bawah istri kecilnya.


Bukan hanya geli, tapi Lian juga mengalami kenikmatan yang tiada tara. Sapuan ombak penuh kenikmatan menerpa tubuhnya sehingga tidak sengaja dia mengeluarkan cairan tubuhnya.


"Gerald, aku ... pipis," ucap wanita itu malu setelah sadar jika ada yang keluar dari dalam sana.


Gerald tidak menagggapi ucapan istrinya dan menyesap, menyedot cairan itu dan menelannya tanpa merasa jijik sama sekali.


"Akhh, sudah. Aku mohon."

__ADS_1


Singa yang tertidur mana mau melepas mangsanya jika sudah ada di tangan. Begitu juga dengan Gerald yang tidak akan mudah melepas istrinya sebelum sosok mengerikan tu kembali tenang dan tertidur kembali.


"Jangan harap aku akan menyudahinya secepat ini, Bunny," ucap Gerald yang membuat Lian sedikit menyesal karena telah menggoda suaminya.


Gerald benar-benar membuat Lian tidak berdaya meski hanya dengan sapuan lidahnya saja. Dia terlalu menikmatinya sehingga tidak tahusudah berapa kali membuat Lian kehilangan akalnya karena terlalu nikmat dalam gulungan ombak.


Dada Lian berdebar kencang, napasnya sedikit sesak akibat perlakuan manis suaminya yang sangat bernapsu. Sepertinya Gerald memang tidak ingin menyudahinya secepat mungkin, dia masih saja sibuk dengan apa yang dilakukan di bawah sana dan memanjakan miliknya meski Lian sendiri suda tidak tahan dan ingin segera dieksekusi.


"Gerald. Honey, aku mohon."


Gerald yang mendengar panggilan sayang dari istrinya mengangkat kepala dan menatap wajah sang istri yang sudah memerah. Menatap dengan penuh permohonan dan membuat dirinya bangga.


"Kau yakin ingin melakukannya sekarang?" tanya Gerald. Lian mengangguk dengan malu dan pasti. Jangan jadikan malam ini sia-sia.


"Kau akan kesakitan, Bunny," ucap Gerald sambil merayap di atas tubuh istrinya. Lian bisa merasakan milik Gerald yang menyentuh pahanya.


"Aku tidak keberatan. Lakukan apa yang kau mau. Aku milikmu sekarang." Lian menarik wajah sang suami dan menciumnya dengan lembut. Sementara iu, Gerald sedang berusaha untuk mencari jalan ke lembah kenikmatan yang ditawarkan istrinya.


"Akhh!" Suara Lian terdengar kesakitan. Gerald pun sama, miliknya sakit dan rasanya tidak akan mudah untuk masuk ke dalam sana.


"Apa kau masih perawan?" tanya Gerald sambil berhenti dan menatap heran pada Lian.


"Kau berharap aku bekas orang lain?" tanya Lian kesal. Gerald tersenyum senang dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah menyangka jika Lian yang sering melakukan inisiatif kepadanya ternyata masih murni dan belum pernah melakukannya dengan orang lain.


"Aku memiliki prinsip. Baik ciuman atau keperawanan, akan aku berikan kepada suamiku."


Gerald teringat akan ciuman Lian waktu itu.


"Jadi, aku adalah pria yang pertama untukmu?" tanya Gerald.


"Iya. Kau yang pertama menciumku dan kau yang pertama untuk tubuhku," ucap Lian. Gerald tidak ingin lagi menunda untuk melakukannya sehingga dia mendorong dengan perlahan sehingga membuat Lian kembali melenguh kesakitan.


"Ini akan lebih sakit lagi. Bertahanlah sebentar."


Lian hanya mengangguk saja dan tidak lagi berbicara.


Ini pengalaman pertama untuk Gerald, tapi nalurinya sebagai seorang laki-laki yang membuat dirinya tahu harus berbuat apa. Tubuh istrinya sangat menggoda dan dia tidak ingin melewatkannya begitu saja.


Air mata Lian menetes ke samping membasah ke telinganya, melihat hal itu Gerald mendekat dan menghapus jejak air mata di wajah sang istri.


"Apa kita perlu menjedanya?"


Lian menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak mau kau berhenti. Terus lakukan, aku tidak apa-apa."


Sakit, tapi Lian tidak mau menundanya lagi. Mengingat tatapan Gerald terhadap Renee waktu itu tidak ingin membuatnya kehilangan Gerald. Tatapan Gerald terhadap wanita itu jelas berbeda dengan saat dia menatapnya. Gerald terlalu lembut terhadap Renee, tapi tidak dengannya. Lian pernah berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menikah dengan pria yang telah mendapatkan ciuman pertamanya, dan dia tidak ingin Gerald terlepas lagi dari tangannya. Akan dia buat Gerald juga mencintainya bahkan lebih besar daripada cintanya terhadap wanita itu.


"Lakukan lebih baik lagi, Gerald. Aku ingin menjadi milikmu malam ini."


Gerald tidak ingin membuat Lian sakit lebih dari ini, dia melakukan yang terbaik dengan istrinya dan berhasil membuat pencapaian terbaru daalm hidupnya.


Lian menangis haru saat Gerald berhasil menjebolnya, meski sakit yang dia rasakan, tapi Lian tidak peduli akan hal itu.


Gerald terus bergerak dan membuat Lian mengganti keluhannya dengan rintihan kenikmatan dan menyebutkan nama Gerald berkali-kali. Begitu juga dengan Gerald yang menyebut nama istrnya di tengah perasaan nikmat yang meledak-ledak.


Di luar kamar mereka, seorang wanita menangis haru untuk ke sekian kalinya. Dia yang berniat memanggil anak dan menantunya untuk makan malam, kini lebih memilih membiarkan dua orang itu di dalam sana.


"Akhirnya putriku telah menjadi seorang wanita yang sesungguhnya." Ibu Lian, terharu dan menyingkir dari sana.


Beberapa hari lagi dia akan kembali ke kota asalnya, dia tidak dizinkan untk bekerja lagi dan semua kebutuhannya akan ditanggung oleh Gerald selaku menantunya. Ibu Lian menolak saat Gerald akan membelikan rumah di dekat mereka dan lebih memilih untuk kembali ke tempat asalnya saja. Membiarkan Lian untuk bersikap dewasa setelah ini karena dia ragu jika tetap berada di dekatnya, Lian tidak akan bisa menjadi wanita yang mandiri dan dewasa, mengingat dia adalah anak yang sangat manja sekali.

__ADS_1


__ADS_2