Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
182. Memilih Undangan Pernikahan Untuk Robinson


__ADS_3

"Stevie Charlotte Gwyn. Aku tidak akan berbasa basi. Ayo, menikah denganku!"


Stevi masih belum bisa berbicara, semua hal yang terjadi kepadanya kali ini di luar prediksinya. Dia tidak menyangka jika Robinson berlutut dan memintanya.


Benarkah ini? Aku pasti bermimpi!


Stevi ingin mencubit pipinya, tapi tangan Robinson mengambil tangannya dan menggenggamnya erat.


"Aku tidak akan memintamu untuk kedua kalinya. Jadi ...?"


"T-tapi ... kita saja baru bertemu beberapa hari yang lalu."


"Kau salah. Kita sudah bertemu lebih lama dari itu. Dua puluh tahun, apakah tidak cukup selama itu?" tanya Robinson dengan tatap penuh harap, masih mendongak dan menatap mata Stevi dengan pandangan penuh kelembutan.


"Aku akan terima kekuranganmu, aku juga bangga kelebihanmu. Siapa pun kau, aku tidak peduli. Stevie Charlotte Gwyn, aku tidak bisa menunggu lama. Kakiku mulai kesemutan."


Morgan memasang wajah datar melihat sang ayah yang tidak memiliki kata-kata manis sama sekali. Ternyata, sifat itu menurun dari ayahnya. pantas saja dia juga tidak bisa menggombal terhadap wanita.


"Terima! Terima!" Lian berseru, tangannya bergerak untuk memancing yang lainnya berseru juga. Lyla pun sama, kemudian di ruangan tersebut riuh dengan teriakan 'terima'. Sebuah pengharapan dan doa yang akan menjadi kenyataan andai Selvi menerima lamaran Robinson.


"Kau mau aku mati kesemutan?" tanya Robinson. Sungguh, dia memang tidak mudah untuk berlutut di hadapan seseorang dan dia merasa kakinya mulai terasa seperti ada yang menjalar.


Hal yang tidak disangka oleh semua orang yang ada di sana. Selvi menarik tangan Robinson dan memeluk pria itu setelah dia bangkit.


"Aku mau ... aku mau!" Tangis tak terbendung lagi dari dalam hati wanita itu sehingga keluar dari matanya yang bulat.


Bukan hanya Selvi saja, tapi banyak tamu undangan yang merasakan haru dan bahagia melihat kejadian tersebut.


Bukan hanya Gerald dan Lian saja yang bahagia di hari itu, tapi Robinson dan Selvi, juga Morgan dan Lyla yang tenang karena keluarga mereka tersayang akan melepas masa lajang setelah lebih dari empat puluh tahun sendiri.


...***...


Morgan dan Lyla telah kembali ke rumah dengan bahagia. Mereka berjalan bersama dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain, memperlihatkan kebahagiaan yang mereka miliki saat ini dan membuat iri semua orang yang ada di rumah.


"Istirahat lah, Sayang. Kau pasti lelah hari ini."


"Aku tidak lelah sama sekali. Aku senang bisa melihat semua orang bahagia." Senyum Lyla terpancar membuat Morgan gemas dan ingin menciumnya. Akan tetapi, melihat banyak orang yang ada di sana membuat Morgan tidak bisa melakukannya. Lyla pernah marah saat dia menciumnya di depan umum.


"Aku juga senang. Akhirnya Selvi bisa menikah juga. Aku heran, bagaimana ayahku bisa mengenalnya dua puluh tahun? Padahal mereka baru bertemu beberapa hari ini." Itu yang Morgan pikirkan sedari tadi saat melihat sang ayah melamar Selvi.


"Entah. Kau harus bertanya kepada ayahmu, bagaimana cerita masa lalu mereka."


Namun, Morgan tidak akan melakukan itu. Gengsi sekali untuk bertanya perihal masa lalu mereka berdua.


"Ayo. Kita tidur siang." Lyla menarik tangan Morgan dan masuk ke dalam kamar pria itu.


Tanpa mengganti pakaian, Lyla dan Morgan berbaring bersama di satu ranjang yang sama. Mereka saling berpegangan tangan erat dan saling menatap. Akan tetapi, dua detik Lyla bertahan, dan sisanya dia menurunkan pandangannya menatap dada Morgan yang bidang.


"Kenapa? Kau tampak malu-malu?"


"Tidak. Aku hanya senang denganmu di sini."


Morgan merengkuh Lyla sehingga mereka tidak memiliki jarak sama sekali. hidung Lyla sampai menempel di dada Morgan dan mencium aroma wangi dari sana.


"Aku juga senang. Sudah siap dengan pernikahan kita?"


Lyla menganggukkan kepalanya.


"Tapi, apakah kita tidak akan memesan gaun pernikahan? Kau belum mengajakku untuk mencoba gaun pengantin."


"Tidak perlu. Aku sudah menyiapkan semuanya."


"Apa? Semuanya? Jadi aku tidak boleh memilih gaun pengantinku sendiri?" tanya Lyla sebal. Padahal dia ingin sekali melihat dan memilih gaunnya. Sederhana saja, dia tidak mau memakai gaun yang terlalu mewah.

__ADS_1


"Sudah aku atur. Aku mulai tahu seleramu, Sayang."


"Benarkah?"


"Hemm. Tenang saja. Aku sudah mengatur semuanya."


"Aku tidak mau gaun yang mewah."


"Iya. Aku sudah mengaturnya untukmu. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu."


Lyla senang jika memang benar Morgan melakukan apa yang dia inginkan. Pernikahan yang sederhana saja.


"Ayo tidur," ajak Morgan. Lyla mendongak, menatap wajah Morgan yang sangat tampan dan sedikit bergerak untuk mencium bibirnya.


Wajah Morgan memerah, terasa hangat akibat inisiatif Lyla. Setelah pertemuan mereka kembali, Lyla jadi sering menciumnya terlebih dahulu, meski hanya sekedar menempelkan bibir saja.


Sesuatu bereaksi di dalam celana Morgan, dan itu membuat sesak.


"Lebih baik kau tidur, jika tidak ingin bernasib sama seperti Gerald dan gadis kecil itu!"


Lyla tertawa malu, memeluk erat Morgan dan menyembunyikan wajah merahnya bak kepiting rebus.


"Morgan," panggil Lyla setelah beberapa saat.


"Hemm."


"Jika kau mau melakukannya ... aku tidak apa-apa."


"Melakukan apa?" Terdengar suara Morgan dari atas kepala Lyla.


"Itu ... emm ...."


"Apa kau tidak sabar? Hanya beberapa hari lagi. Aku akan menunggu," ucap Morgan.


Bagaimana Lyla tidak semakin cinta dengan pria ini, meskipun mereka sudah pernah melakukannya, tapi Morgan memilih untuk menunggu sehingga mereka sah di hadapan Tuhan.


Morgan tersenyum lembut. "Kau yang telah mengubahku menjadi pria yang baik."


Baru saja mereka akan menutup mata, gedoran di pintu terdengar dengan cukup keras. Terpaksa Morgan dan Lyla bangun.


"Dasar pria tua!" decak kesal Morgan, tapi pria itu bangun dan membukakan pintu.


Saat pintu terbuka, terlihat Robinson yang berdiri dengan wajah tersenyum bak orang bod*h.


"Ada apa?" tanya Morgan saat Robinson tidak juga berbicara.


"Aku akan menikahi tantemu. Kita akan menjadi keluarga yang sebenarnya."


"Lalu?" tanya Morgan sekali lagi. Tidak ada yang salah dengan hal itu karena Robinson telah melamar Selvi tadi.


"Bantu aku untuk memilih undangannya!" Robinson menarik tangan Morgan dengan paksa keluar dari kamar itu.


"Hei, kau tidak bisa memaksaku—"


Lyla yang melihat dua pria itu tertawa geli. Sisi lain dari Tuan Robinson dan Morgan sangat lucu baginya.


Lyla menatap ke arah luar, melihat matahari yang semakin condong ke barat.


Aku akan menikah, sungguh beruntung Lian. Meskipun tidak bersama dengan ayahnya, tapi dia memiliki kakek yang sangat menyayanginya. Lalu aku?


Air mata Lyla mengalir mengingat itu. Dia akan sendirian di hari pernikahannya nanti.


Tidak ingin bersedih sendirian, Lyla mengusap air matanya dan pergi menemui Morgan dan Robinson.

__ADS_1


"Hei, yang benar saja. Undangan itu terlihat kolot!" Morgan menolak saat Robinson memberikan contoh undangan di hp-nya. Robinson telah menghubungi seseorang dan meminta beberapa contoh undangan secepat kilat meski mendapatkan ujaran kekesalan dari temannya itu.


"Kolot? Tidak mungkin. Matamu tertutup lendir. Ini bagus. Lyla, coba kau lihat. Bagaimana undangan ini?" tanya Robinson saat melihat Lyla yang mendekat ke arah mereka.


Lyla tersenyum senang dan duduk di samping Morgan, ikut melihat melalui hp milik sang ayah mertua. "Kenapa kau tidak meminta Selvi untuk memilihnya juga?"


"Aku tidak mau membuat dia pusing dengan urusan ini. Cukup dia menyiapkan gaun pengantinnya saja."


"Kapan kau akan menikah?" tanya Morgan penasaran.


"Di hari yang sama denganmu."


"Apa?"


"Hah?"


Robinson tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali mengatakan hal tersebut, mengabaikan tatapan putra putrinya yang masih terkejut.


"Astaga. Kau gila! Bagaimana ada dua pengantin di hari yang sama?" ujar Morgan kesal.


"Tidak apa-apa, kan? Aku hanya bingung untuk mencari tamu di negara ini. Jadi, jika aku juga meminjam tamu yang datang kepadamu, tidak apa-apa, kan? Lagipula, itu ide calon ibumu menikah di hari yang sama dengan kalian dan di tempat yang sama."


Robinson kembali memilih undangan bersama dengan Lyla, sedangkan Morgan menyandarkan punggungnya kasar pada sandaran kursi.


"Kalian pasangan yang sama gilanya!"


Lyla tertawa kecil melihat wajah Morgan yang tiba-tiba saja kusut. Menikah di hari dan tempat yang sama, rasanya tidak buruk juga.


Lyla menggenggam tangan Morgan erat. "Bukankah tidak masalah jika memang ada dua pengantin? Aku pikir akan sangat menyenangkan jika kita menikah di hari dan tempat yang sama."


"Tapi, aku tidak ingin kecantikanmu tertandingi oleh yang lain. Aku ingin orang lain hanya melihatmu sebagai ratuku. Bukan ratunya," cibir Morgan.


Lyla tertawa lagi. "Memangnya kenapa? Kau sangat keberatan? Bukankah aku Rati di dalam hatimu? Apakah itu tidak cukup? Aku tidak perlu menjadi ratu sehari di hadapan orang lain, bukankah aku akan menjadi ratu di hatimu selamanya?" tanya Lyla lagi. Morgan tersenyum dan mengiyakan ucapan Lyla. Memang benar, bagaimana pun juga, Lyla adalah ratu di hatinya. Selamanya.


"Kau membuatku bahagia. Ayo kita pergi." Morgan menarik tangan Lyla untuk bangkit.


"Eh, kemana?"


Lyla terpaksa bangkit karena tarikan tangan Morgan.


"Kemana kalian?" Robinson juga bertanya dengan kening yang mengerut. "Hei, kalian masih belum selesai membantuku memilih undangan!" teriaknya saat Morgan tidak memedulikannya.


"Jangan ganggu kami. Kau urus pernikahanmu sendiri!"


Morgan tidak peduli, membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan suara yang cukup keras.


"Hei— Dasar anak muda. Ada apa dengan kalian? Kalian mengabaikanku? Padahal aku hanya meminta tolong untuk pilihkan undangan. Hiss, menyebalkan!" Robinson memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku pakaiannya. Kesal rasanya, di saat dia membutuhkan bantuan, dua orang itu malah sibuk berpacaran.


"Morgan, tapi ... Ayah membutuhkan bantuan kita."


"Sudahlah, jangan hiraukan dia. dia bisa menangani masalah mudah sendiri. Ayo kita berbaring saja. Kau masih dalam pemulihan dan tidak boleh kelelahan, Lyla."


Morgan memaksa Lyla untuk berbaring di ranjang dan menaikkan selimut hingga ke atas perut Lyla.


"Mau ke mana kau?" Lyla menahan tangan Morgan yang hendak pergi.


"Aku mau mandi sebentar. Tidurlah, jangan bukakan pintu jika pria tua itu mengetuknya." peringat Morgan sambil menunjuk ke arah hidung Lyla dengan jari telunjuknya.


"Tapi—"


"Aku tidak mengizinkanmu. Kau harus banyak istirahat sebelum hari pernikahan kita. Okay?" perintahnya dan tidak ingin dibantah.


"Okay."

__ADS_1


"Bagus. Jadilah gadis penurut."


Lyla tidak lagi membantah, dia berbaring dan menutup matanya. Rasa kantuk telah mengalahkannya. Tubuhnya masih sedikit lemas, dan dia berharap jika pada saat hari pernikahannya nanti, dia akan baik-baik saja.


__ADS_2