
Matahari telah beranjak turun ke barat, menandakan jika hari telah menjelang sore. Morgan sudah lebih dulu bangun dari tidurnya dan telah membersihkan diri. Dia melihat Lya yang masih tertidur pulas dan membiarkan istrinya untuk melanjutkan mimpinya.
"Kasihan sekali, apa kau sangat lelah?" gumam Morgan sambil mengelus pipi Lyla yang sudah tidak lagi memerah. Bahkan, Lyla tidak sadar jika Morgan mencium bibirnya akibat terlalu lelah karena permainan tadi. Tubuh Lyla memang belum terlalu fit karena masih dalam proses pemulihan dan Morgan tidak bisa menuntut untuk meminta lebih pada istrinya.
Sebuah telepon terdengar, Morgan segera beranjak bangun dan melihat siapa yang menghubunginya. Dia segera mengangkat panggilan tersebut karena tidak mau Lyla terbangun karena panggilan itu.
"Hei, Nak. Kau sudah bangun rupanya. Aku pikir kalian masih tertidur karena lelah. Haha!" Suara Robinson terdengar melalui panggilan satelit.
"Apa penting bagimu untuk menghubungimu di dalam penerbangan?" tanya Morgan. Panggilan yang tidak penting sama sekali bukan, jika hanya menanyakan soal bangun atau belum.
"Tentu saja penting. Aku hanya ingin bertanya padamu. Sshh ...." Suara Robinson terhenti dan terdengar bunyi desisan di sana. Morgan bukannya tidak tahu ayahnya sedang berbuat apa. Pasti pria itu sedang mesum dengan istrinya.
"Jika kau sedang sibuk, kenapa kau menghubungiku?" tanya Morgan kesal.
"Aku memang sibuk, tapi aku takut lupa jika tidak bertanya kepadamu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bulan madu kalian. Apakah kau mau ikut bersama dengan kami ke pulau pribadi? Aku punya salah satu dari sekian banyak pulau pribadi yang indah sekali di daerah tropis, dan kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan tanpa takut terganggu dengan hadirnya orang lain," ucap Robinson.
Morgan memang belum sempat memikirkan ke mana mereka akan pergi untuk bulan madu.
"Akan aku pikirkan nanti."
"Kau tidak perlu memikirkannya, Nak. Cukup tanyakan kepada istrimu, apakah dia mau ikut atau tidak. Jangan sampai karena ego-mu, ternyata dia tidak suka tempat yang kau tuju," ujar Robinson membuat Morgan menjadi berpikir. Dia yang tidak pernah diatur oleh orang lain, kini menjadi ragu akan dirinya sendiri.
"Ayah, bisakah kau berhenti menggangguku? Urus dulu urusanmu di sana, baru menghubungiku!" ujar Morgan geram, karena lagi-lagi Robinson mendesis seperti orang keenakan.
"Oh, baiklah. Aku hanya bertanya saja padamu. Ah, pelan-pelan, Honey. Kau membuat adik kecilku ngilu."
Morgan semakin geram saat mendengar ucapan ayahnya itu yang pastinya ditujukan kepada istri barunya. Maka dari itu, tanpa banyak bicara aaupun perpamitan, Morgan menutup panggilan tersebut.
"Ah, sial!" Morgan mengusap miliknya yang kembali menegang, mendengar suara kenikmatan sang ayah dan melihat tubuh istrinya yang masih polos di dalam selimut yang sedikit tersingkap membuatn adik kecilnya ini tidak lagi kecil.
"Apa maunya orang tua itu? Aku sudah mandi!"
__ADS_1
Akan tetapi, Morgan tidak bisa menahan dirinya lagi. Sebesar apa pun dia menahannya, adiknya semakin besar saja degan cepat.
Ragu Morgan mendekat pada istrinya, kembali ikut tertidur di belakang Lyla da bergerak dengan gelisah. Jika biasanya dia bisa pergi ke tempat lain dan menyewa wanita terbaik yang bisa memuaskan hasratnya, tapi kali ini dia tidak bisa dengan seenaknya meminta hal itu kepada Lyla. Dia yakin jika Lyla masih lelah.
Akibat Morgan yang tidak bisa diam di tempat tidur, membuat Lyla menjadi terbangun. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati suaminya berbaring dan terus bergerak seperti orang yang tidak nyaman.
"Morgan," panggil Lyla. Morgan berhenti bergerak dan menoleh pada istrinya.
"Apakah aku membuatmu terbangun?" tanya Morgan. Lyla tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Melihat ke arah luar dengan langit yang sudah berubah warna jingga membuat dia meyakini jika dia tertidur cukup lama.
"Ada apa? Kau gelisah?" tanya Lyla sambil memutar tubuhnya menghadap ke arah sang suami.
"Tidak apa-apa. Maafkan aku, lanjutkan tidurmu."
Morgan akan pergi, tapi Lyla malah menggeser tubuhnya dan berbaring di samping Morgan dengan lengan Morgan yang dia jadikan alas kepalanya.
"Apa yang membuatmu resah?"
Morgan lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Iya, aku tidak apa-apa." Akan tetapi, saat Lyla melihat ke arah lain, dia bisa melihat jika ada sesuatu yang menyembul di balik selimut. Lyla sudah bukan wanita yang polos lagi, dia cukup tahu apa yang ada di balik selimut itu.
Tiba-tiba saja dia beranjak bangun dan naik ke atas tubuuh suaminya yang hanya terbalut handuk berbentuk kimono. Wangi aroma sabun menguar dari tubuh Morgan.
Lyla mendekat dan mencium suaminya, aroma mint terasa di hidungnya dan membuat ciuman yang lembut itu menjadi panas.
"Kau wangi. Aku suka sekali saat kau wangi seperti ini," ucap Lyla sambil tersenyum.
"Honey. Kau tidak boleh di atasku seperti itu."
"Kenapa?"
Morgan mengelihkan pandangannya menolak menatap sang istri.
"Karena aku takut tidak akan tahan untuk tidak memakanmu lagi."
__ADS_1
Lyla tergelak dalam tawa dan kembali mencium suaminya dengan singkat.
"Jika kau mau, untuk apa menahannya? Aku milikmu, dan aku tidak masalah jika kau memakanku," ucap Lyla. "Bukankah itu tugas seorang istri?"
Lyla sedikit mengangkat tubuhnya dan dengan berani menyibak kimono Morgan serta menggenggam adik yang penuh otot dan berurat, membuat Morgan terkejut. Dia tidak menyangka jika Lyla saat ini turun dan mensejajarkan kepalanya di bawah sana.
"Sshhhh, Honey--" Morgan sudah tidak bisa berbicara lagi saat Lyla memanjakan miliknya dengan lidahnya. Geli dan nikmat yang tidak bisa dia tolak sama sekali. Lyla memutar lidahnya, menikmatinya bak memakan eskrim, dan menyedotnya seakan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Permainan lidah Lyla buruk, tapi Morgan tidak ingin protes karena dia tahu ini adalah hal pertama yang pernah dilakukan Lyla sejauh ini.
"Honey, kau tidak perlu melakukan ini jika kau tidak mau." Morgan melarang Lyla saat melihat wanita itu tidak nyaman dengan yang dia lakukan, tidak mudah untuk pemula bisa melakukan hal ini di pengalaman pertamanya. Akan tetapi, Lyla menolak ucapan sang suami.
"Aku hanya ingin belajar memuaskanmu. Biarkan aku melakukan ini," ucapnya kemudian kembali dengan aktifitasnya.
Morgan hanya harus diam dan menikmatinya saja. Toh, dia tidak perlu banyak usaha untuk mencapai kembali kenikmatannya.
Semakin lama, Lyla semakin mahir saja dan Morgan sudah tidak perlu lagi membimbing wanita itu. Jelas naluri sudah membimbing Lyla untuk bisa lebih baik lagi daam berbuat. Morgan semakin tidak tahan dan ingin meledak akan perbuatan istrinya.
Merasa cukup dengan permainannya, Lyla kembali duduk di atas tubuh suaminya. Rahangnya sedikit kaku dan sakit karena milik Morgan terlalu besar di mulutnya. Akan tetapi, ada kepuasan tersendiri saat melihat wajah sang suami yang sukses dibuat merah olehnya.
"Kau menikmatinya?" tanya Lyla dengan sedikit malu.
Morgan tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ya, aku sangat menikmatinya. Kau bisa lebih mahir lagi jika sering melakukannya," ujar Morgan.
Seperti Morgan yang sudah sangat ingin, Lyla juga menginginkannya sehingga dia menyentuh kembali milik Morgan dan mengarahkannya pada miliknya. Dengan satu gerakan halus, Lyla bisa memasukkan benda panjang berurat itu ke dalam miliknya yang telah basah. Hal itu membuat Morgan senang bukan kepalang, Lyla yang pemalu kini sudah tidak malu lagi untuk berinisiatif terlebih dahulu.
"Honey, kau yakin akan berada di atasku?" tanya Morgan saat Lyla masih belum juga bergerak.
"Aku harus belajar lebih baik untuk memuaskanmu, Tuan." Wajah itu memerah, pandangannya tertuju ke arah lain dan menolak menatap sang suami.
"Kau tidak perlu belajar memuaskanku, karena aku yang akan memuaskanmu."
Morgan akan bergerak, tapi Lyla malah mendorong tubuh Morgan sehingga pria itu kembali berbaring.
"Izinkan kali ini aku yang melakukannya." Senyuman nakal diberikan istrinya, Morgan sangat tidak ingin menolak jika sudah begitu.
"Baiklah. Lakukan yang kau bisa."
__ADS_1
Sebuah ciuman diberikan Lyla di bibir, perlahan dan semakin lama berubah menjadi liar. Lyla mulai bergerak seiring dengan naluri percintaan yang tiba-tiba saja menggiringnya untuk mencapai sebuah kenikmatan. Eluhan dan erangan terdengar kembali di ruangan itu seiring dengan matahari yang mulai tenggelam dengan malu-malu.