Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
57. Meminta Bagian


__ADS_3

"Ooh, aku tahu. Sepertinya aku bisa membuatnya sendiri. Aku akan cari resepnya di internet," ucap Lyla dengan senang hati karena kini sudah tahu apa yang akan dia berikan untuk mengucapkan terima kasih kepada Morgan.


Gerald menjauhkan diri dari Lyla dan tertawa kecil melihat dia yang sangat bersemangat sekali. "Kau tidak perlu mencari tahu resep itu di internet, mintalah koki untuk mengajarimu membuat makanan itu, dia sangat tahu apa yang dimakan Tuan Muda dan yang tidak dia makan."


"Apa dia punya alergi?" tanya Lyla lagi.


"Tidak ada, tapi ada beberapa makanan yang dia tidak suka dan tidak akan dia makan."


"Contohnya?" tanya Lyla ingin tahu.


Gerald melihat arlojinya, ada hal yang perlu dia lakukan di luar sana. "Aku sudah harus pergi. Mengenai hal itu kau tanyakan saja pada koki. Dia tahu semuanya," ucap Gerald.


"Kau akan pergi? Ini hampir malam."


"Pekerjaan tidak akan pernah menungu siang atau pun malam. Aku ingin berlibur minggu depan, jadi semua harus aku kerjakan dengan baik sekarang ini. Kau tahu, Tuan muda tidak akan membiarkan aku tenang di masa liburku jika pekerjaan belum selesai," ucap Gerald dengan nada yang sebal. Lyla tertawa kecil.


"Iya, aku paham. Pergilah, urus pekerjaanmu dengan baik. Ingat untuk makan malam, pakai jaket dengan baik, udara malam ini sepertinya akan sangat dingin," ucap Lyla sambil melirik ke arah luar, salju tidak berhenti turun sedari tadi membuat kakinya yang tanpa sandal terasa dingin.


"Iya, tentu aku akan ingat dengan ucapanmu." Gerald mengulurkan tangannya mengusap kepala Lyla. "Kau baik-baik saja di rumah, ya. Jangan main kabur lagi. Dia memang keras kepala, juga suka menyebalkan, tapi di dalam hatinya seperti Teletubbies yang suka dengan pelukan dan kasih sayang," ucap Gerald membuat Lyla terkekeh.


"Iya, kali ini aku akan menutup telingaku dengan baik."


"Aku pergi." Gerald melepaskan tangannya dari kepala Lyla dan pergi dari sana.


"Hati-hati, Tuan!" teriak Lyla. Laki-laki itu hanya melambaikan tangan pada Lyla kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ke mobil.


"Makanan manis. Kira-kira aku harus membuat kue apa?" gumam Lyla pelan. Lyla mengangkat bahunya kemudian memutuskan untuk pergi ke lantai atas.


Lian melihat Lyla menaiki tangga, gadis kecil itu berteriak senang dan juga khawatir. "Nona!" teriaknya lalu berlari menyusul Lyla sampai di tengah tangga.


"Apakah Nona sudah baikan?" tanya Lian lagi.

__ADS_1


Lyla berhenti melangkah dan melihat Lian terengah dengan senyuman lebar.


"Iya, aku sudah sangat sehat sekarang ini."


Tiba-tiba saja Lian menubruknya. "Aku sangat khawatir," seru Lian sambil memeluk Lyla dengan erat. Tangis gadis kecil itu tumpah seketika karena mengkhawatirkan Lyla. "Aku sangat khawatir saat kau pingsan dan tuan muda membawamu ke rumah sakit." Isakannya terdengar kecil, menahan rasa sedih di dalam hatinya. Hal itu membuat Lyla merasa bersalah karena telah membuat gadis semanis ini khawatir dan menangis.


"Eh, sudah. Kenapa kau menangis?" tanya Lyla mengusap bahu dan punggung Lian, tidak menyangka jika anak ini bisa sekhawatir itu.


"Aku sedih, dan khawatir. Bisakah lain kali kau tidak seperti itu? Jika kau sedang sakit bilang saja, agar aku bisa mengobatimu," ucap Lian lagi.


"Aduh, jangan menangis lagi. Aku kan sudah sembuh sekarang ini, aku sudah tidak sakit lagi," ucap Lyla. Lian menganggukkan kepalanya dan mengusap air mata yang keluar dari mata cantiknya.


"Apa kau sudah makan? Aku akan buatkan makanan terenak untukmu," ucap Lian akhirnya.


"Ya, tadi siang aku sudah makan. Aku akan mandi dulu, jika kau ingin buatkan makanan yang enak tentu saja aku akan memakannya setelah mandi nanti," ucap Lyla yang membuat Lian tersenyum dengan sangat senang.


"Kau mau makanan apa?" tanya gadis imut itu lagi.


"Oke, mie?" tanya Lian setelah berpikir.


"Boleh, jika kau tidak keberatan membuatnya," ujar Lyla dengan memberikan senyuman.


"Oke, aku akan membuatnya untuk kakakku yang tersayang. Eh, aku bolehkan menganggapmu kakak?" tanya Lian penuh harap.


"Tentu saja boleh. Kenapa tidak?"


Lian melompat senang, segera Lyla memberinya peringatan karena takut jika Lian akan terjatuh mengingat di mana mereka sekarang ini.


"Aku akan membuatnya, kau mandilah yang lama karena membuat mie sedikit memakan waktu." Tanpa bicara lagi Lian segera turun dari tangga untuk menuju ke arah dapur sedangkan Lyla kembali melangkah ke arah kamarnya.


Setelah selesai mandi, Lyla turun dari lantai atas. Dia tidak ingin Lian menunggu mungkin saja dia telah selesai membuat mie-nya. Ternyata saat dia sudah sampai di dapur makanan itu masih diproses di atas meja.

__ADS_1


Lyla duduk di pantry dan memperhatikan Lian yang dengan cekatan menarik-narik adonan mie itu yang kemudian menjadi lembaran-lembaran tipis. Tampak gadis kecil itu sangat cekatan dalam membuat makanan tersebut sehingga Lyla merasa kagum terhadapnya.


Aku juga harus belajar membuat mie, siapa tahu aku bisa membuka toko mie milikku sendiri, gumam Lyla di dalam hatinya.


"Kau kenapa?" tanya Lian saat Lyla hanya tersenyum saja memandangnya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir untuk belajar membuat mie dengan tanganku sendiri. Bisa tidak ya aku membuka kedai mie?" ucap Lyla membayangkan.


Lian tertawa kecil. "Tentu saja, kenapa tidak?" tanya gadis itu tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Sekarang ini ada banyak alat yang sudah mendukung, ada banyak resep yang bisa kau dapatkan di internet. Eh, tapi kau juga bisa berguru denganku. Haha," ucap Lian sambil terkekeh.


"Aku malah membayangkan jika kau yang akan jadi koki utamanya, aku jadi asistennya," ucap Lyla. Lian tertawa lagi.


"Oke, aku akan pikirkan itu, tentunya aku akan meminta bayaran yang paling besar untuk itu," ucap Lian. Kedua wanita itu tertawa bersamaan.


"Aku ingin membantu. Bolehkah?" tanya Lyla hendak berdiri. Akan tetapi, suara Morgan terdengar dari belakang.


"Kau duduklah di sana. Untuk apa kau membantunya?" ucap Morgan dengan nada yang dingin, perut yang lapar memaksa dia untuk kembali keluar dari kamarnya dan mencari makanan. Ternyata wangi aroma kuah bola daging mampu membuat dia mengabaikan wanita yang tengah duduk di sana.


"Tuan Muda," sapa Lian, lalu menundukkan kepalanya saat melihat laki-laki itu duduk di samping Lyla.


"Buatkan ekstra untukku juga," titah Morgan.


"Saya membuat untuk dua porsi," jawab Lian memberi tahu, menyesal rasanya dia membuat sedikit. Dia pikir hanya akan membuat dua porsi untuknya dan Lyla saja, mana dia sangka jika tuan muda akan keluar dan meminta bagian juga.


Lyla sadar dengan perubahan raut wajah dan maksud Lian barusan. Tentu saja tuan muda tidak ada di dalam acara memakan mie kali ini.


...******...


Nah, dua bab ya. Besok lagi 🤭


Sini dulu deh yuk, baca dulu blurb-nya, mampir deh

__ADS_1



__ADS_2