Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
221


__ADS_3

"Apa yang terjadi, Sayang? Apa yang terjadi dengan Laura?" tanya Robinson lagi saat Selvi mengusap air matanya dari sudut mata.


“Dia sedang melahirkan di dalam.”


Robinson menghela napasnya lega, tapi melihat wajah itu yang masih memerah membuatnya bingung juga. “Lantas, kenapa denganmu? Apakah ada yang salah di dalam sana?” Robinson bertanya lagi. Namun, Selvi menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada yang salah. Dia baik-baik saja.” Selvi kemudian pergi dengan setengah berlari. Ada rasa bahagia di dalam hatinya karena Lyla melahirkan hari ini, tapi hal itu juga yang membuat dirinya menjadi sedih. Robinson tidak mengizinkannya hamil karena usianya yang sudah tidak lagi muda.


“Sayang! Ada apa denganmu?” Robinson menjadi bingung, lantas mengejar Selvi yang masuk ke dalam ruangannya. Robinson tidak bisa masuk karena pintu ruangan Selvi dikunci dari dalam. “Sayang, sebenarnya ada apa denganmu? Apakah aku ada salah?” Robinson bertanya sambil mengetuk pintunya. Beberapa orang yang lewat di dekatnya dia abaikan saja.


Robinson kemudian mengingat apa yang sering istrinya katakan belakangan ini mengenai seorang anak.


“Kau tidak mengerti, Stevie. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.” Robinson akhirnya menyerah, memilih duduk di depan ruangan itu dan menunggu istrinya keluar.


*

__ADS_1


“Arggh!!” Teriakan keras terdengar dari dalam ruangan. Lyla sedang mencoba mengeluarkan bayi yang sudah sampai di pintu lahirnya, tapi ketuban yang sudah keluar satu jam yang lalu membuatnya kesulitan.


Tangan Morgan sudah memerah, terkena cakaran dan cengkeraman dari kuku istrinya, tapi Morgan menahan rasa sakit yang tak seberapa itu jika dibandingkan dengan kesakitan yang Lya rasakan.


Peluh membasahi kening dan leher Lyla, sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia mengejan untuk melahirkan anaknya. Akan tetapi, Lyla tidak boleh menyerah untuk itu.


“Bisakah aku tidur? Aku mengantuk,” ucap Lyla saat mendapatkan jeda.


“Sayangnya tidak, tapi kau bisa memejamkan matamu sebentar sebelum kontraksi itu muncul lagi.” Rachel tersenyum dan terus mengusap pinggang Lyla yang sakit, sementara Morgan baru saja merasakan jika tangannya terasa banyak yang perih.


Lyla melirik ke arah Morgan, melihat matanya yang basah dan membuatnya merasa bersalah. “Kau menangis, Sayang. Apakah aku membuatmu kesakitan?” Fokus pandangan Lyla kini kepada tangan Morgan yang lecet karenanya.


“Maaf, ya. Maaf aku sudah membuatmu kesakitan. Maaf juga aku sudah membuatmu khawatir.”


Morgan mengangguk dan mengambil tangan Lyla untuk diciumnya. “Iya, tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf untuk ini.”

__ADS_1


Rachel melirik iri kepada mereka berdua, jiwa jomlonya meronta-ronta melihat kemesraan yang diperlihatkan oleh kakak dan iparnya.


Saat Lyla akan berbicara lagi, rasa sakit itu datang lagi dan membuat Lyla tidak bisa menahan diri untuk mengejan lagi. Rachel dan dua orang perawat memberikan semangat untuknya. Namun, setelah hampir tiga jam lamanya bayi Lyla masih belum keluar setelah berusaha keras, akhirnya Rachel mengambil keputusan untuk membawa Lyla ke ruangan operasi karena alasan keamanan anak dan ibu.


“Aku menunggu keputusan kalian. Jika bayi itu tidak bisa dikeluarkan dengan persalinan normal, aku hanya takut dia tidak akan tertolong. Jadi, bagaimana dengan operasi?” Rachel bertanya, menunggu persetujuan dari Lyla selaku orang yang akan melahirkan.


Lyla menatap Morgan, tapi kemudian dia memutuskan setelah mendapatkan anggukkan dari suaminya itu.


“Aku serahkan kepadamu.”


Rachel tersenyum, akhirnya Lyla setuju untuk melakukan sesar.


“Morgan, ayo ke ruanganku!"


Morgan mendekat dan berbisik kepada Lyla. “Kau harus kuat. Apa pun yang kau inginkan setelah ini, pasti akan aku turuti.”

__ADS_1


Di sela rasa sakitnya, Lyla membisikkan kata yang membuat Morgan tersenyum lebar.


“Tentu saja, setelah kau melahirkan, kita akan melakukannya!”


__ADS_2