
...Bab yang sebelumnya sudah diedit ya, maafin Othor nggak teliti sebelum update. Baru sadar waktu baca komentar🙏. Kalau mau balik baca ada tandanya, dua garis bintang, dari sana sudah diedit isinya.🙏...
...****************...
Lyla merasa bosan berada di mansion itu, tepatnya dia sudah hampir tiga hari hanya berada di sana dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk mencari keberadaan orang tuanya. Hanya untuk melangkah ke luar gerbang saja dia tidak boleh, selalu saja ada seseorang yang mengikutinya.
Lyla baru saja turun dari lantai atas, dia pergi ke dapur saat terdengar suara gaduh dari sana.
"Hai, apakah aku bisa membantumu memasak, kumohon!" pinta Lyla pada koki yang tengah berkutat dengan pekerjaannya. Sang koki terdiam sejenak, dia melirik penjaga yang sedari tadi memperhatikan Lyla. Anggukkan kepala sebagai jawaban jika dia diperbolehkan untuk berada di dapur ini.
"Tentu saja, Nona. Kau bisa membantuku."
Lyla dengan senang hati pergi mendekat ke arahnya dan membantu sebisanya, dia juga memperhatikan apa yang koki lakukan dengan bahan masakan yang akan diolahnya.
Tiba-tiba saja dia jadi sedih tatkala mengingat ibu Lian, wanita itu yang selama dirinya ada di kediaman Castanov selalu membantu dan menemaninya.
__ADS_1
"Anda kenapa?" tanya koki tersebut, segera Lyla menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tidak ada. Aku hanya ... tidak ada," ucap Lyla cepat sambil tersenyum. Dia kembali membantu koki lagi sampai selesai.
Makan malam telah siap, sama seperti hari-hari sebelumnya, dia hanya makan sendiri saja. Meski makanan yang ada di depannya sangat enak, tapi rasanya hambar karena tidak ada siapa pun yang menemaninya makan. Di rumah Morgan, meski laki-laki itu selalu ketus, tapi dia bisa makan dengan nikmat di sana.
"Apa ada yang kau tidak suka?" tanya koki tersebut pada Lyla saat wanita itu berhenti setelah satu suapan kecil.
"Tidak. Aku hanya tidak suka makan sendirian," jawab Lyla dengan jujur. Koki yang usianya jauh di atas Lyla melepas apron yang ada di depan tubuhnya dan duduk di kursi di dekat Lyla.
"Ya." Setidaknya meski dia tidak ikut makan, tapi cukup juga hanya menemaninya saja.
Lyla makan dengan sangat tenang, menikmati makanan lezat seperti dari restoran bintang lima.
"Tuan, apakah aku boleh tahu sesuatu?" tanya Lyla.
__ADS_1
"Ya, apa?"
"Apakah Anda tahu kabar tentang Tuan Morgan?" tanya Lyla penasaran. "Aku ... aku hanya ingin tahu kabarnya saja. Tuan Gerald tidak memberitahu keadaan Tuan Morgan padaku," ucap Lyla sedih. Rasa rindu kini menggelayuti relung hatinya setelah hampir dua bulan ini pergi dari sisi Morgan.
"Aku dengar dia baik. Hanya saja dia masih belum bisa mengingat dengan baik, hanya beberapa memori yang masih tertinggal di kepalanya. Aku sedih, bahkan dia juga melupakan aku," ucap laki-laki itu dengan nada yang pelan.
Lyla menyimpan sendok di atas piring dan menghela napasnya. Entah kapan Morgan akan sembuh dan ingat akan dirinya. Akan tetapi, dia tidak boleh berharap banyak untuk sekarang ini. Morgan tengah sakit, dan dia harus mengerti jika keluarganya pasti ingin melakukan yang terbaik untuk laki-laki itu.
"Apa kau merindukan dia?" tanya koki tersebut pada Lyla.
"Hem, ya. Aku rindu dia."
"Kau mencintai dia?" tanyanya lagi.
Lyla tersenyum perih. "Hem, entahlah. Aku tidak tahu," ucap Lyla menundukkan kepalanya, tapi laki-laki yang ada bersama dengannya bisa melihat ke kedalaman mata wanita itu hingga ke hatinya.
__ADS_1