
Mobil pengantin telah meninggalkan area gereja. Perjalanan mereka dikawal oleh beberapa mobil yang mengikuti dari belakang. Iring-iringan pengantin di jalan membuat beberapa pengendara melambat dan memberikan jalanan untuk mereka karena dua mobil polisi juga mengawal untuk membuka jalan.
"Morgan, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Lyla menatap ke arah luar di mana mobil polisi itu telah membuat beberapa pengendara melambat dan menyingkir dari jalanan di depan mereka.
"Apanya yang berlebihan?"
"Mereka." Tunjuk Lyla dengan dagu ke arah mobil di depannya.
"Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir berlebihan?"
"Mereka membuat orang-orang menyingkir dari jalanan. Kita tidak tahu kan, bisa jadi mereka sedang terburu-buru?" ujar Lyla sambil merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Mereka hanya sedang mengawal sesuai perintah. Mereka hanya sedang melakukan tugasnya," jawab Morgan. Tangan besar itu menggenggam jemari sang istri yang lebih kecil darinya, membawanya, serta mengecup punggung tangan Lyla dengan lembut.
"Kau harus beristirahat setelah ini. Besok kita akan mengadakan pesta resepsi."
"Iya."
Mobil terus melaju di jalanan yang cukup padat. Beberapa pengendara lain berdecak kagum akan iring-iringan yang mengikuti mobil pengantin di depannya.
"Morgan," panggil Lyla.
"Hemm?"
"Apakah Ayah tidak ikut dengan kita?" tanya Lyla yang sadar jika mobil pengantin hanya milik mereka saja.
"Ayah akan terbang satu jam lagi."
"Dengan Tante Selvi juga?"
"Iya. Tentu saja dia membawa istrinya serta untuk pulang."
"Bukannya Ayah bilang masih akan berada di negara ini untuk beberapa hari ke depan?" tanya Lyla saat mengingat jika kemarin ayah mertuanya mengatakan akan berada di sini beberapa hari lagi.
"Dia juga memiliki kesibukan. Selain pekerjaan, dia juga akan menyibukkan diri dengan istrinya." Morgan tertawa kecil, mengingat kelakuan ayahnya yang seperti anak kecil jika bersama dengan Selvi.
Lyla tersenyum, menahan tawa. Rasanya tidak percaya jika hari pernikahan mereka sama dengan ayah Morgan. Dia tidak pernah berpikir akan menikah bersamaan dengan mertuanya.
"Sayang. Kau belum pernah bercerita, bagaimana kau bisa menjadi anak dari Tuan Robinson. Bukankah kau bilang ayahmu telah meninggal beberapa tahun yang lalu?" Lyla mengalihkan topik ke arah lain.
"Kau mau mendengar ceritanya?"
"Iya. Aku ingin mendengarnya."
"Tapi aku menolak untuk bercerita sekarang. Hari ini aku hanya ingin membicarakan tentang kita berdua, tentang masa kini dan masa depan kita berdua."
"Tapi aku--"
"Honey, tolong jangan bahas pak tua itu."
Lyla sebal mendengar penolakan dari Morgan, tapi dia tidak banyak protes karenanya. Mungkin saja Morgan memang tidak ingin membahas lelaki itu karena ada sesuatu yang belum bisa dia bicarakan.
Tidak sampai satu jam, mobil-mobil itu telah sampai di hotel milik Morgan yang telah disterilkan dari pengunjung. Selama tiga hari sebelumnya hotel sudah tidak menerima tamu. Tamu yang telah terlanjur menginap diminta untuk cek out lebih cepat, dan mereka tidak memungut pembayaran sebagai kompensasi tersebut. Pihak hotel juga menawarkan untuk pindah ke hotel yang lain sebagai tanggung jawab mereka terhadap para tamu.
Mobil telah berhenti di depan hotel, beberapa pegawai telah menunggu dan berjajar di lobi hotel untuk menyambut Morgan dan Lyla dengan sikap tubuh menunduk hormat. Karpet merah telah dibentangkan, dua orang itu berjalan beriringan. Morgan dan Lyla diarahkan ke kamar president suite yang telah dipersiapkan oleh Morgan, tentunya tanpa sepengetahuan istrinya.
"Kenapa sepi di sini?" gumam Lyla terheran akan keadaan hotel yang tidak seperti biasanya.
"Sepi? Entahlah. Aku tidak tahu," ucap Morgan berpura-pura. "Daripada memikirkan hal itu, lebih baik kita pergi ke kamar kita. Kau tidak penasaran kamar pengantin kita?"
Wajah Lyla memerah mendengar ucapan suaminya itu. Tiba-tiba saja dia memikirkan apa yang akan terjadi di dalam sana. Apakah hari ini Morgan akan melakukan tugasnya sebagai seorang suami? Dadanya kini berdebar dengan cukup kencang.
"Kenapa? Wajahmu memerah." Morgan tertawa kecil membuat Lyla semakin malu dibuatnya.
"Tidak apa-apa."
Keluar dari lift, Morgan mempersilakan Lyla untuk melangkah duluan. Tidak ada yang mengikuti mereka hingga di lantai tersebut karena Morgan tidak ingin Lyla terganggu akan kehadiran para pengawal.
Sedikit takut untuk Lyla karena suasana di lorong begitu sepi tanpa adanya orang lain.
"Izinkan aku, Nyonya Castanov." Morgan menggendong Lyla dengan tiba-tiba tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Lyla terkejut bukan main atas perlakuan Morgan sehingga refleks dia melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Ah, apa yang kau lakukan?"
"Aku? Aku hanya melakukan apa yang sekiranya para pengantin baru lakukan. Apakah mereka seperti ini?" ucap Morgan sambil tertawa. Dia tidak bisa bersikap romantis sehingga beberapa hari terakhir dia melihat film romantis yang sama sekali tidak pernah disukai, tapi demi ingin membuat Lyla senang, Morgan rela menonton film membosankan itu dan mencoba untuk mempraktekannya sekarang.
Lyla berpikir suaminya tampak aneh, dia menatap Morgan yang tersenyum ke padanya.
"Kau tanya padaku, lalu aku tanya pada siapa? Aku baru kali ini menikah, jadi, aku tidak tahu apa yang sekiranya pengantin baru lakukan."
Mereka berdua tertawa kecil dan Morgan terus melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka berada.
Sepanjang perjalanan menuju ke kamar mereka, Lyla tidak mengalihkan tatapannya dari sang suami. Menatap kagum pria itu dan tidak ingin berkedip andai dia bisa.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Wajah morgan sedikit memerah, masih belum terbiasa ditatap sedemikian rupa oleh Lyla.
"Tidak apa-apa, tapi kau aneh sekali Tuan Castanov. Aku pikir kau tidak bisa bersikap romantis."
"Aku memang tidak bisa. Tapi, aku sedang berusaha romantis hanya untukmu."
"Jadi, hanya untukku? Bagaimana sebelumnya? Apakah kau tidak pernah bersikap manis dan romantis kepada kekasihmu?"
Morgan berdecak kesal, hanya satu orang yang dia perlakukan spesial, tapi itu dulu dan dia patah hati saat wanita itu mengkhianatinya.
"Kenapa wanita itu aneh?"
"Aneh? Apanya yang aneh? Maksudmu aku aneh?" tanya Lyla dengan kening berkerut. Apa maksud Morgan?
"Iya, kau aneh. Dan semua wanita di dunia ternyata aneh."
Lyla tetap tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Morgan.
"Kalian para wanita sangat senang sekali membahas mantan, tapi jika ditanya soal masa lalu kalian, kalian protes dan marah. Bukannya itu adalah hal yang aneh?"
Barulah Lyla tertawa setelah mendengar itu.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya bertanya saja," ucap Lyla, tapi hal itu telah membuat Morgan kesal. "Kau ini aneh, sebelumnya tidak pernah bersikap romantis kepadaku, kan?"
"Tidak pernah bersikap romantis, bukan berarti jika aku tidak bisa, bukan?"
Morgan telah sampai di depan pintu kamar mereka dan membukanya dengan satu tangan. Dengan menggunakan kakinya, dia membuka lebar pintu kamar itu dan menutupnya kembali.
"Selamat datang di kamar pengantin kita," ucap Morgan setelah menyalakan lampu.
Lyla yang masih ada di gendongan suaminya terpaku melihat keadaan kamar itu yang sangat indah dengan banyak kelopak mawar merah sebagai hiasan di dalam kamar mereka. Kelopak mawar merah itu menghiasi lantai dan membentuk jalanan setapak hingga ke ranjang mereka.
"Ini-- Indah sekali."
Lyla turun dari gendongan suaminya dan perlahan berjalan di atas kelopak-kelopak mawar yang bertebaran di lantai. Tidak pernah dia membayangkan sesuatu yang indah seperti ini. Bisa menikah dengan Morgan saja itu sudah menjadi anugerah yang terindah untuknya.
"Kau menyukainya?" tanya Morgan saat melihat Lyla terdiam menatap bentuk hati yang terbuat dari kelopak bunga mawar merah itu di atas ranjang. Lyla menganggukkan kepala.
"Aku suka. Sangat suka." Senyumannya mengembang indah di bibirnya. Dia memang menyukai semua yang ada di hadapannya kini.
Tangan Morgan melingkar di depan perut Lyla dan melabuhkan dagunya di atas pundak sang istri.
"Syukurlah jika kau suka. Aku sudah meminta seseorang untuk mempersiapkannya untuk malam pertama kita."
Lyla membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya lekat-lekat. Kedua tangannya dia lingkarkan ke belakang leher Morgan dan mereka saling bertatapan mata.
"Apakah kita akan menunggu hingga malam?"
Morgan mencerna kata-kata istrinya, kemudian tersenyum senang.
"Apa kau sedang memberikan kode kepadaku?" Morgan balik bertanya.
"Tidak. Tapi aku hanya bertanya saja. Aku akan segera bersiap andai kau menginginkannya sekarang."
Perasaannya takut, tapi Lyla juga tidak akan menolak jika Morgan menginginkannya sekarang. Lagi pula, bukankah selama ini dia juga sudah mencoba untuk menawari pria itu? Jadi, untuk apa dia menolak dan malu-malu jika memang Morgan menginginkannya saat ini juga?
Morgan mencium bibir Lyla dan memeluknya erat kaki Lyla berjinjit. Menyesap dan melmat bibir istrinya dengan rakus. Hal yang tidak pernah Morgan lakukan kepada Lyla selama ini.
Lidah mereka saling berbelit, saling beradu dan bertukar saliva. Morgan tidak akan ragu lagi kepada istrinya dan akan membuat sang istri semakin cinta kepadanya.
Dada Lyla berdebar semakin kencang tatkala Morgan mendorongnya dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Ciuman mereka tidak berhenti begitu saja. Semakin panas dan tidak bisa terpisahkan oleh hal yang lainnya. Bahkan keduanya tidak peduli jika mereka belum mengganti pakaian mereka.
"Emmhh ... Morgan," desis Lyla di tengah ciuman panas suaminya.
Morgan tidak bisa lagi untuk menunggu, tangannya sudah merambah ke arah lain dan pikirannya sudah tidak bisa lagi dia atur sedemikian rupa. Berada berduaan bersama dengan Lyla membuatnya tidak bisa lagi menahan dirinya.
Tangannya menurunkan resleting di punggung Lyla dan meloloskan lengan Lyla dari gaun tersebut. Sentuhan lembut pada punggung istrinya membuat tubuh Lyla menegang bak tersengat aliran listrik.
"Honey. Bolehkah aku ...." tanya Morgan setelah melepaskan ciuman mereka.
Lyla mengangguk malu dan tidak berani menatap mata suaminya. "Aku milikmu. Kau berhak atas segalanya dariku," bisik Lyla.
Wajah malu itu membuat Morgan tidak tahan dan dengan tangannya memegang dagu Lyla dan kembali melmat bibir istrinya yang tipis. Sejenak Lyla terpaku, tapi kemudian dia memejamkan matanya dan menikmati permainan suaminya. Satu tangan Morgan membuka gaun pengantin istrinya, sedangkan satu tangan yang lain menahan tubuhnya agar tidak membuat Lyla menahan beban tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama, Morgan telah bisa membuat Lyla bak menjadi seorang bayi besar tanpa busana. Wanita itu menutupi kedua inti tubuhnya dengan kedua tangan saat Morgan melihat dan mengagumi tubuhnya yang polos.
Berbeda dengan waktu itu, kali ini yang Morgan lihat adalah tubuh istrinya. Meski dia pernah menjamahnya dengan sangat kasar, tapi kali ini dia berjanji akan melakukannya dengan lembut dan penuh rasa cinta. Kelopak mawar yang ada di atas seprai sudah berhamburan ke lantai saat Morgan melepaskan gaun pengantin istrinya tadi.
"Sampai kapan kau akan menatapku?" tanya Lyla malu. Morgan terkekeh dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Kau cantik, dan aku suka sekali."
Perlahan, pandangan Morgan menelusuri tubuh istrinya yaang putih, meski Lyla tidak lebih putih dari dirinya, tapi dia cantik dengan kulitnya yang terang.
"Kau suka yang mana? Wajahku? Atau, tubuhku?" tanya Lyla iseng.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran." Lyla masih enggan untuk menatap Morgan.
"Aku suka semua yang ada pada dirimu." Morgan terduduk dengan posisi berlutut di dekat Lyla,mulai membuka satu persatu pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
Satu persatu kancing pakaiannya dia buka sehingga memperlihatkan bentuk tubuh ideal lelaki dengan perut bak roti sobek. Dasi dan kemeja, dia lemparkan begitu saja di lantai menutupi beberapa kelopak mawar yang berserakan di lantai.
Lyla semakin malu dan menutupi wajahnya, mengabaikan inti tubuhnya yang kini terlihat dengan sangat jelas. Dia lupa jika ada yang lebih penting yang harus dia tutupi. Malu rasanya melihat tubuh indah suaminya karena dia tidak pernah melihat Morgan yang seperti ini apa lagi terlalu dekat dengannya yang tanpa pakaian. Ya, bahkan malam itu pun dia tidak melihat tubuh Morgan yang seperti apa.
Morgan tertawa geli melihat istrinya menutup wajahnya seperti itu.
"Apakah aku bisa memulai?" pinta Morgan seraya menyingkirkan tangan Lyla di wajahnya.
Dada Lyla tentu saja menjadi bergerak tidak karuan mendengar kata permisi dari sang suami.
"Kau sudah siap untukku, kan?" Tatapan pria itu menghipnotisnya sehingga Lyla kini pasrah dan membiarkan Morgan menciumnya sekali lagi.
"Bisakah kau lakukan dengan perlahan?" tanya Lyla dengan penuh permintaan.
"Ya, tentu saja akan aku coba."
Lyla perlahan membuka kedua kakinya dan memberikan akses masuk untuk Morgan memulai. Meski rasanya pikiran Lyla tidak karuan, tapi dia akan memberikan hak Morgan.
Morgan memegang miliknya dan menggoda tepian lbang kenikmatan milik istrinya sehingga wajah yang tegang itu menjadi memerah dan bersusah payah menahan desisan dengan menggigit bibir. Rasanya aneh, geli dan membuat Lyla tidak sanggup menahan diri. Panas darahnya mulai bergejolak, tubuhnya juga bergerak tidak karuan.
"Rileks, Honey. Jangan tegang seperti itu. Nikmati saja."
Lyla mencoba untuk rileks, tapi saat sesuatu memasukinya, dia merasa tidak nyaman dan kesakitan.
"Akh. Sakit!" rintih wanita itu. Padahal ini bukan untuk pertama kalinya, tapi Lyla tidak bisa menahan kesakitan pada inti tubuhnya.
Morgan tidak tahan melihat wajah Lyla yang memerah dan tampak kesakitan, dia mencium bibir sang istri dan berhenti bergerak untuk memberikan Lyla jeda dan ketenangan.
Setelah Lyla menjadi tenang, Morgan berusaha kembali untuk bergerak dan lagi-lagi membuat Lyla kesakitan. Seprai yang rapi kini menjadi kusut karena remasan tangan Lyla di sana saat menahan kesakitannya pada waktu Morgan menggaulinya. Sempit. Rasanya sulit sekali untuk Morgan bisa memasukinya. Rasanya jalan menuju kenikmatan ini sulit untuk dia tembus kembali.
"Oh my Gosh. Kau sempit sekali," ucap Morgan merasakan sakit di ujung kepala bawahnya yang sedang mencoba melesak masuk lebih dalam lagi.
"Slowly, Morgan. Ini tidak nyaman," keluh Lyla.
Perlahan, tapi pasti, Morgan telah bisa membuat Lyla menjadi terbiasa akhirnya setelah beberapa menit berlalu, mereka telah berhasil melakukannya. Lyla sudah mulai terbiasa dan mencoba untuk menikmati meski masih terasa sakit di inti tubuhnya. Rasanya ngilu, perih saat Morgan menaikturunkan pinggulnya.
Morgan tersenyum senang dan mencium bibir Lyla yang sedikit berdarah karena digigit tadi.
"Kau wanita yang hebat. I love you," ucap Morgan, kemudian mencium lagi bibir Lyla dengan lembut. Lyla membuka mata dan menatap sang suami, senang rasanya melihat Morgan tersenyum seperti itu.
"I love you too, Morgan."
Dua orang itu saling berciuman dan Morgan kembali bergerak di atas tubuh istrinya. Mereka tidak peduli lagi akan nasib kelopak bunga mawar yang ada di bawah tubuh mereka, menempel bersamaan dengan keringat dari perjuangan keduanya.
Melihat wajah Lyla yang semakin memerah, dan bibir yang masih digigitnya membuat Morgan menjadi gemas.
"Keluarkan saja, jangan ditahan. Kau bisa melukai bibirmu lagi," ucap Morgan. Lyla yang sudah tidak tahan mengeluarkan suara indah atas perlakuan Morgan pada tubuhnya. Apa lagi saat pria itu semakin cepat memompa dan membuatnya kelojotan.
"Ah, Morgan!"
Puas rasa hati Morgan melihat sang istri yang keenakan dan membuat dia lebih bersemangat lagi untuk melakukannya.
"Morgan, bisakah kau berhenti sebentar?" tanya Lyla di sela suara deshaannya.
"Ada apa?" tanya Morgan yang berhenti bergerak.
"Aku rasa, aku ingin pergi ke toilet," ucap Lyla malu-malu. Rasanya tidak tahan dan dia ingin pergi ke kamar mandi. Ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya.
Mendengar permintaan Lyla, membuat Morgan kembali bergerak dan tidak mengindahkan permintaan istrinya itu.
"Morgan ... ah, aku ... ingin--"
Morgan membekap mulut istrinya dengan bekapan bibirnya, membawa lidah Lyla untuk menari dengan lidahnya dan saling membelit satu sama lain.
"Keluarkan saja di sini. Kau tidak perlu ke kamar mandi," ucap Morgan melarang.
"Tapi--" Lyla tidak diizinkan untuk berbicara lagi dan Morgan kembali membekap mulut Lyla dengan ciumannya sekali lagi, serta dia tidak berhenti untuk bergerak naik dan turun membuat Lyla tak sengaja mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya.
"Akhh ...." Tubuh Lyla mengejang karena hal itu, rasanya lega sekali dan dia merasa rileks setelah itu. Kenikmatan yang tiada tara dia dapatkan dari perlakuan suaminya.
Morgan menatap sang istri dan bangga dengan dirinya sendiri karena bisa membuat Lyla klimmaks.
Dua orang itu saling bertatapan dengan Lyla yang bernapas dengan kuat, dadanya berdebar dan naik turun dengan cukup kencang karena lelah dan merasakan kenikmatan.
Morgan masih menatap Lyla dan tersenyum puas, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium wajah Lyla di banyak tempat. Mata, hidung, pipi, dan bibir istrinya sangat lama. tubuh bawahnya bergerak lagi untuk menuntaskan hasratnya yang belum terpuaskan.
"Setelah ini, kau tidak akan merasa sakit lagi."
Hampir satu jam lamanya morgan bergerak tanpa lelah dan membuat Lyla tanpa malu lagi berteriak penuh kenikmatan.
__ADS_1