Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
168.


__ADS_3

"Sebenarnya aku sedih sekali dengan kejadian ini. Aku pun tidak pernah menyangka jika ternyata anak buahku melakukan hal yang lebih. Padahal aku sudah memperingatkan mereka untuk membawa pria itu hidup-hidup. Akan aku minta sendiri file ng ada di tangannya. Semoga saja laki-laki itu masih punya tujuh nyawa yang lain untuk bisa hidup lagi."


"Hentikan omong kosongmu. Mana Lyla?" Morgan menatap Robinson dengan tajam. Pria itu juga sama menatapnya.


"Apa dia pacarmu?"


"Iya, dia pacarku!" teriak Morgan tidak sabar. Terserah siapa laki-laki yang ada di depannya ini, tapi dia inginkan Lyla sekarang.


"Putraku sudah dewasa. Meski aku sedikit sedih karena ternyata yang kau sukai adalah wanita yang seperti dia. Keluarganya memiliki konflik dengan keluarga kita. Kau bisa dikuliti oleh mereka jika tahu siapa dirimu."


"Maka akan sangat bagus jika mereka tidak tahu siapa aku."


"Lambat atau laun, mereka akan tahu siapa kau. Dan apa yang akan terjadi nanti?" tanya Robinson.


"Aku tidak peduli. Di mana Lyla sekarang?" tanya Morgan lagi.


Robinson menghela napasnya mengetahui jika putranya ini adalah laki-laki yang sangat keras kepala sekali. Tentu saja sifatnya yang itu sama dengan dirinya.


Robinson berbicara dengan seseorang di telepon, tapi yang dia dengar adalah hal yang tidak dia duga sama sekali sehingga urat-urat di wajahnya terlihat jelas membiru.


"Cari dia sampai dapat!" perintah Robinson yang segera dilaksanakan oleh bawahannya itu.


Perintah Robinson barusan membuat Morgan memikirkan hal yang tidak enak. Perasaannya semakin takut saja.


"Bedebah!" cecar Robinson sambil menendang kursi yang tadi terjatuh. Tanpa banyak berkata, pria itu pergi melewati Morgan yang sedang menebak-nebak apa yang terjadi.


"Ada apa?" tanya Morgan memburu Robinson.


Robinson tidak berkata apa-apa sehingga Morgan menarik tangannya dan meminta jawaban.


"Katakan padaku. Apa yang tejadi?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu. Ini adalah urusanku. Tinggallah di sini."


Robinson pergi, tapi Morgan tidak akan menyerah. Bisa jadi jika itu terkait dengan Lyla.


Seorang laki-laki muda mendekat dan berjalan di samping Robinson.


"Siapkan helikopter."


"Baik." Pria muda itu segera menghubungi yang lain untuk menyiapkan helikopter.


"Robinson. Apa yang terjadi?"


Lagi-lagi Robinson tidak menjawab pertanyaan Morgan, Gerald juga mengikuti kedua pria itu dari belakang. Beberapa orang yang ada di sana menundukkan kepalanya saat sang pemimpin itu melewati mereka.


"Ayah!" bentak Morgan tanpa sadar, memikirkan Lyla membuat pikirannya kacau dan apa yang diucapkan adalah sesuatu di luar nalarnya.


Langkah kaki Robinson terhenti, dia menoleh, menatap Morgan dan tersenyum senang. Selama tiga puluh tahun, baru kali ini dia mendengar putranya memanggilnya ayah. "Kau ... mobil anak buahku dibajak. Pacarmu sedang ada dalam bahaya." Hal yang lebih penting daripada sebuah kekaguman dan kebahagiaan untuknya, akhirnya dia kesampingkan dan mengatakan berita yang dia dengar sekarang.


"Tunggu di sini. Aku tidak ingin kau dalam bahaya." Robinson hendak pergi, tapi lagi-lagi Morgan tidak terima dan mengikutinya.


"Aku juga akan pergi."


"Jangan keras kepala."


"Dia kekasihku."


"Tapi aku juga ayahmu."


"Aku tidak peduli!" Morgan mendahului Robinson masuk ke dalam helikopter.


Robinson menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lihatlah, Sarah. Anak kita sangat keras kepala sekali."


Robinson masuk ke dalam helikopter dan kemudian benda itu terbang meninggalkan Gerald yang juga berlari menuju helikopter miliknya yang diparkir di area lain.


Di dalam helikopter, Robinson menatap Morgan yang duduk dengan gelisah. Laki-laki itu sedang sangat senang sekali. Baru kali ini dia berada dekat dengan putranya, apa lagi tadi saat Morgan memanggilnya ayah. Orang tua mana yang tidak akan bahagia mendengar panggilan itu? Termasuk pria kejam seperti Robinson yang sering memutilasi korbannya.


"Kau mirip dengan Sarah."


"Lupakan. Aku mirip ayahku."


"Kau benar. Kau sangat mirip dengan ayahmu, yaitu aku."


Morgan ingin mencekik Robinson yang saat ini sedang tersenyum bodoh, karena laki-laki itu tidak mengalihkan tatapannya darinya.


"Berhenti mengakuiku putramu, kau tidak mengurusku sama sekali. Dan kau membiarkan ibuku tersiksa di rumah itu. Apakah kau pantas mengakui dirimu sebagai seorang ayah?" sinis Morgan.


"Ibumu yang ingin tetap bersama dengan pria menyebalkan itu. Jadi, apakah ini salahku?"


"Lalu kenapa aku bisa menjadi anakmu?" tanya Morgan marah. Masih ada rasa tidak suka terhadap laki-laki itu, tapi dia juga penasaran apa yang terjadi sehingga Robinson menyebut mengaku sebagai ayahnya.


"Ceritanya sangat panjang, aku yakin bagimu ini akan membosankan. Kau tidak perlu tahu detailnya, tapi rasa kasihanku dan rasa cemburunya yang membuat kau tercipta."


Morgan mengepalkan tangannya dengan erat. Dia ingin meninju Robinson atas ucapannya tadi. Dia tidak terima dirinya tercipta atas rasa kasihan dan cemburu. Akan tetapi, sebelum sempat dia melayangkan tinjuan, sebuah pistol terarah ke kepalanya.


"Jangan coba-coba melukai Ketua!" Tatapan pria muda tadi tajam dan ingin membunuh Morgan. Robinson mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk pria itu menyimpan kembali pistolnya.


"Hubungi yang lain, cari tahu di mana wanita itu," perintah Robinson lagi kepada pria muda itu. Perintah Robinson segera dilaksanakan oleh bawahannya.


Dering panggilan terdengar saat asisten itu hendak menghubungi seseorang. Robinson segera menjawab panggilan tersebut yang hanya terjadi kurang dari lima menit.


"Kau mau wanita ini bukan? Datang sendiri ke alamat yang akan aku kirim. Jika tidak wanita ini akan menjadi mayat!" Panggilan itu terputus.

__ADS_1


"Sial!" decak kesal Robinson. Dia tidak tahu Lyla dengan siapa saat ini, terlalu banyak musuhnya dan dia tidak bisa menebak keberadaan wanita itu.


__ADS_2