
"Aku benar akan melahirkan malam ini?" tanya Lyla tidak percaya. Rachel menganggukkan kepalanya.
"Iya. Air ketuban sudah pecah, mau tidak mau kita harus segera melakukan tindakan agar bayimu tetap aman. Kau tidak takut, kan?"
Tiba-tiba saja perasaan Lyla menjadi tidak menentu. Antara senang dan takut.
"Bolehkan Morgan menemaniku?"
Rachel menoleh kepada Selvi. "Tidak apa-apa. Dia boleh menunggumu di sini."
Lyla tersenyum senang karena Selvi memberinya izin, Rachel segera memanggil Morgan untuk masuk ke dalam ruangan.
Morgan sudah menunggu dengan tidak sabar sedari tadi, berlari ke arah Rachel saat namanya dipanggil.
"Masuklah, Kakak."
"Apa Lyla akan melahirkan?"
"Iya, dia sudah mengalami pembukaan dan dia memintamu untuk menunggunya di dalam."
Pintu ruangan segera dibuka, Morgan menemui Lyla yang matanya sudah memerah. Tangan putih Lyla diambil dan diciumi oleh Morgan.
"Kau sangat hebat, Sayang. Kau sudah berjuang sejauh ini dan aku bangga kepadamu." Ciuman lembut diberikan Morgan lagi di telapak tangan Lyla, membuat wanita yang sebentar lagi menjadi ibu itu tersenyum senang.
"Tolong temani aku sampai anak ini lahir." Lyla meminta.
__ADS_1
"Iya, pasti aku akan menemanimu."
Morgan setia menunggu istrinya setelah dipindahkan ke ruangan bersalin, sementara Rachel dan Selvi bergantian memeriksa keadaan Lyla. Terkadang Lyla sedikit tidak stabil karena resah sehingga tensi darahnya meningkat.
Sesekali Lyla meringis kesakitan saat rasa itu datang. Sakit dan ngilu dia rasakan di bawah sana, ada yang mendesak sehingga tak sengaja dia mendorongnya.
"Laura, jangan lakukan itu. Pembukaanmu masih belum lengkap, kau akan kelelahan nanti," cegah Rachel sambil mengecek keadaan infus.
"Maaf, aku gugup. Perutku juga tidak nyaman."
Rachel tersenyum dan mengangguk. Dia memang dokter kandungan yang belum tahu rasanya hamil atau melahirkan, jadi dia hanya bisa menenangkan Lyla saja.
"Apakah tidak bisa menggunakan cara lain? Operasi misalnya?" tanya Morgan kepada Rachel saat tak tega melihat Lyla yang kesakitan. Tangan Morgan memerah akibat cengkeraman tangan Lyla yang kuat.
"Kita bisa operasi, tapi itu jika Lyla mau."
"Tapi aku tidak tega."
Tatap mata Lyla yang memohon berhasil membuat Morgan menutup mulutnya.
"Jika Lyla masih kuat, kenapa tidak? Tapi, kau tidak boleh juga memaksakan. Pilihan ada di tanganmu, Laura," ucap Rachel.
Lyla ingin merasakan bagaimana melahirkan, apa lagi ini adalah anak pertamanya.
"Tarik napas saja dan harus tetap tenang. Okay?"
__ADS_1
Kali ini Lyla mengangguk akan perintah Laura.
Di luar, Robinson berlari dan mencari di mana keberadaan Lyla. Setelah sampai di ruang bersalin, dia menunggu dengan resah di depan pintu.
Robinson kembali menghubungi Morgan, tapi telepon anaknya itu tidak ada jawaban.
"Apakah mereka di dalam?" gumam Robinson. Tidak puas hanya menerka, Robinson menghentikan seseorang dan bertanya.
"Maaf, Tuan. Saya baru bertugas di ruangan lain." Wanita itu berbicara, memberikan senyuman manis di bibirnya.
"Tolong kau cari tahu orang yang ada di dalam sana, apakah dia benar menantuku?" pinta Robinson. Perawat tersebut segera masuk dan tidak lama kembali ke pada Robinson.
"Di dalam ada Dokter Rachel dan Dokter Selvi," ucap wanita tersebut. Robinson menghela napasnya lega.
"Apakah dia akan melahirkan?" Robinson bertanya lagi.
"Iya, Tuan. Pasien akan melahirkan."
"Syukurlah. Kau bisa pergi, aku akan menunggunya di sini."
Perawat itu pergi, Robinson duduk di kursi panjang yang ada di sana dan menunggu.
Setelah beberapa menit lamanya Robinson melihat Selvi yang baru keluar dari ruangan itu dan segera bertanya kepada istrinya.
Wajah Selvi sedih, membuat Robinson menunggu. "Apa yang terjadi?" tanya Robinson tidak sabar. Selvi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi ... Lyla?"