Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
116. kesempatan Margareth


__ADS_3

Morgan tidak bisa tidur untuk malam ini, entah apakah karena ini adalah malam pertamanya setelah keluar dari rumah sakit? Akan tetapi, sepertinya ada yang aneh terhadap dirinya.


Morgan memilih bangun dengan perlahan, dia pergi keluar dari dalam kamarnya dan berjalan ke lantai atas. Udara di di musim ini masih dingin sebenarnya, tapi Morgan merasa ingin mencari angin segar di lantai atas.


Morgan membuka salah satu pintu kamar yang ada di sana, dia berjalan menuju ke balkon dan berdiri di sana menatap bulan yang bersinar redup. Cahayanya terhalang oleh gumpalan awan hitam yang ada di sana.


Bintang di langit tampak sangat kecil sekali, membuat di atas sana tampak indah dengan kelap-kelipnya. Akan tetapi, keindahan itu tidak membuat dirinya senang melihatnya. Dia malah merasa sepi dan juga penasaran dengan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Ah, aku ingin sekali bisa mengingat masa laluku lagi. Mungkin ini memang karena aku kehilangan ingatanku," gumam Morgan kesal. Tentu saja dia berpikir jika banyak hal yang menyenangkan yang mungkin terlewatkan olehnya, tapi kenangan apa itu?


'Apakah aku punya kenangan?' gumam laki-laki itu di dalam hatinya. Morgan mendecih dengan sebal.


Jam yang ada di ruang tamu rumah itu terdengar berdenting beberapa kali menandakan jika malam itu telah sangat larut. Akan tetapi, Morgan masih belum juga merasa mengantuk. Mungkin ini adalah efek yang dia rasakan karena obat atau semacamnya dari rumah sakit, mungkin juga karena dia sudah kebanyakan beristirahat sebelum pulang tadi. Entahlah!


Morgan sadar jika dirinya harus beristirahat, besok dia akan pergi dan kembali beraktivitas di kantornya. Bukan karena Gerald memaksanya, tapi dia ingin kembali pada apa yang semenjak dulu dia kerjakan, mungkin saja dia akan bisa mengembalikan lagi ingatannya dengan cepat.


"Aku akan tidur di sini saja," ucap laki-laki itu kemudian berbaring di tempat tidur yang ada di sana, yang mana itu adalah bekas kamar yang dulu digunakan oleh Lyla saat berada di rumah tersebut. Tak lama Morgan telah dapat mengistirahatkan tubuhnya, bahkan tidak sampai sepuluh menit dia bisa terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya dengan mudah.


***


Sinar di pagi itu menyorot tepat ke wajah Morgan sehingga dia yang tengah tertidur dengan sangat lelap kini menjadi terbangun. Tepat di saat itu pintu ruangan terbuka dan masuk seseorang ke dalam sana.


"Kenapa kau di sini? Pantas aku mencarimu ke kamar kau tidak ada," ucap Gerald seraya berjalan ke arah tirai dan membukanya dengan sangat lebar.


"Semalam aku tidak bisa tidur, jadi aku mencari angin di sini," ujar Morgan, dia bangun dan kemudian pergi ke luar untuk kembali ke dalam kamarnya.


Setengah jam kemudian, Morgan sudah keluar dari kamar dan duduk di meja makan bersama dengan Gerald. Seorang pelayan mendekat ke arahnya dan menyajikan sarapan yang berupa sandwich kesukaan Morgan.


Morgan tampak malas sekali dengan sarapan ini sehingga dia hanya memainkan makanan itu dengan garpu dan juga pisaunya, hal itu membuat ibu Lian menjadi khawatir. Biasanya Tuan Morgan tidak pernah memainkan makanan seperti itu.


"Tuan, apa kau tidak berkenan dengan sarapanmu? Akan aku ganti makan pagimu," ucap ibu Lian yang bertanggung jawab dengan rumah ini.


"Tidak perlu, aku hanya tidak terlalu lapar saja," ucap Morgan.


"Apa kau sakit?" tanya Gerald.


"Kau juga tahu aku baru keluar dari rumah sakit," ucap Morgan. Dia masih duduk dengan malas dan memainkan makanan di atas piringnya. Dia merasa kehilangan sesuatu,  tapi dia tidak tahu apa yang hilang dari sana.


“Apakah anda menginginkan sarapan yang lain?" Tanya ibu Lian kepada Morgan. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, dia tidak selera untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Kau harus makan dan memakan obatmu. Ingat jika kau masih masa pemulihan," ujar Gerald mengingatkan. Morgan hanya berdetak kesal mendengar hal itu. Rasanya dia sudah mual untuk memakan obat-obatan yang diberikan oleh dokter.


"Bisakah aku melewatkan obat itu? Lama-lama aku bisa menjadi keracunan," ucapnya, lalu kemudian ada satu bayangan berkelebat di dalam pemikirannya. Entah bayangan apa tapi dia merasa pernah menyuruh seseorang untuk menelan obatnya. Morgan menggelengkan kepalanya dengan cukup cepat dan bayangan itu kini menghilang.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gerald khawatir melihat Morgan yang seperti itu.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa tadi hanya seperti melihat sesuatu," ucapnya.


"Sesuatu apa?" Tanya Gerald lagi. Akan tetapi, Morgan menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak paham dengan apa yang tadi ada di dalam bayangannya.


"Apa kita harus pergi ke dokter lagi? Sebaiknya kita periksakan kepalamu, siapa tahu masih ada yang salah di sana," ucap laki-laki itu yang membuat Morgan menjadi kesal.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Cepat selesaikan makanmu aku ingin pergi sekarang juga," ujar Morgan. Gerald memakan makanannya cukup cepat sehingga dalam waktu 5 menit dia sudah menghabiskan semuanya. Dua orang laki-laki itu pergi ke perusahaan.


Sudah di turun dari mobil dan masuk ke dalam lift mereka menjadi pusat perhatian dari beberapa karyawan yang melihatnya di sana. Morgan tampak berbeda setelah kabar kecelakaan yang mereka dengar beberapa hari yang lalu. Mereka salut kepada Morgan yang sudah kembali lagi beraktivitas seperti biasanya, padahal jika melihat luka-luka yang masih ada pada wajah Morgan sepertinya kecelakaan itu tidaklah ringan.


"Apa yang kalian lihat? Kembalilah pada pekerjaan kalian," ucap Gerald kepada para karyawan yang ada di sana. Mereka semua kembali pada pekerjaannya masing-masing sedangkan dua orang penting itu menuju ke ruangannya.


"Selamat datang kembali di kantormu."


Gerald membukakan pintu ruangan tersebut untuk Morgan. Dia hanya terdiam melihat ruangan itu yang tampak kosong dan juga terlihat membosankan.


Morgan bukannya bekerja, tapi dia sedang merenung memikirkan seseorang yang dia sendiri tidak tahu wanita itu siapa. Dia wanita yang tidak cantik , tapi sangat enak untuk dipandang . Dia juga tidak tinggi, tapi lumayan jika dipeluk. Morgan masih mencari tahu siapa wanita yang ada di dalam pikirannya ini.


Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan itu dan tiba-tiba saja menghambur memeluk Morgan. Morgan sampai tercekik karena dia memeluknya dengan erat.


"Apakah kau baik-baik saja? Aku khawatir saat mendengar kau kecelakaan," ucap seorang wanita yang masih memeluk Morgan.


Morgan mencoba melepaskan tangan wanita itu dari lehernya, dia menatapnya dengan heran dan bertanya, "Siapa kau?"


Margareth melepaskan tangannya dari Morgan, dia menatap laki-laki itu dengan heran.


'Ternyata memang benar dia hilang ingatan.'


Margareth tersenyum senang karena Morgan memang ternyata lupa ingatan, ini berarti dirinya bisa mendekati laki-laki itu lagi. Margareth segera memperbaiki sikapnya menjadi lebih manis.


"Maafkan aku Morgan, aku terlambat untuk datang. Sebelumnya aku tidak tahu jika kau masuk ke rumah sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?" Tanya wanita itu. Mau ganti dan menjawab dia menatap Margaret dengan bingung, siapa gerangan wanita ini?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Margaret sekali lagi.

__ADS_1


"Tadi aku bertanya siapa kau?"


Tiba-tiba saja Margaret tertawa.


"Astaga Morgan, apa kepalamu terbentur dalam kecelakaan itu? Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Margareth, teman kecilmu, kita sangat akrab."


Margaret mencoba berbohong. Morgan menatap wanita cantik ini dan mencoba untuk mengingat, tapi sekeras apapun dia berusaha untuk mengingatnya dia tidak ingat dengan wanita ini, sehingga Morgan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak ingat denganku? Benar-benar tidak ingat?" Tanya Margaret sekali lagi dan dia mendapati gelengan kepala lagi dari Morgan.


"Kau tega sekali melupakanku! Apa kau hilang ingatan dari kecelakaan itu? Apa ada pada dirimu luka-luka yang lain?" Tanya Margareth khawatir, tepatnya dia berpura-pura khawatir dengan Morgan. Mendengar dari yang lain jika Morgan kehilangan ingatan membuatnya memiliki ide yang sangat brilian sekali. Tentunya Morgan tidak akan bisa menolaknya lagi.


"Maafkan aku, aku sangat menyesal. Tapi aku benar-benar tidak ingat denganmu," ucap Morgan. Margaret mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun, aku turut prihatin denganmu. Lalu bagaimana keadaanmu sekarang ini? Apa sudah baikan? Tidak apa-apa kau melupakanku sekarang, cepat atau lambat kau juga akan ingat denganku," ucap Margaret lagi seraya meyakinkan Morgan.


"Oh ya, aku datang ke sini karena selain ingin menjengukmu juga karena ingin mengajakmu makan siang. Aku meminta maaf karena di saat hari terburukmu aku tidak berada di sisimu. Aku sangat menyesal sekali, Morgan. Aku sangat sibuk sekali saya nggak baru kemarin mendengarnya dan aku langsung terbang kemari," ucap Margaret berpura-pura, melihat wajah Morgan yang kebingungan dan juga tidak ada penolakan dari laki-laki ini membuat dia nekat mengatakan banyak kebohongan, yang terpenting berusaha dulu mengenai penolakan bukankah dia sudah biasa dari laki-laki ini? Kali ini dia akan mendekati Morgan pelan-pelan saja.


"Bagaimana? Apa kau ingin makan nasi yang denganku? Sebagai permintaan.  Aku mohon!" ucap wanita itu sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


Morgan menjadi merasa tidak enak hati jika menolak permintaan dari wanita yang katanya temannya itu, maka dia mengganggukan kepalanya.


"Baiklah mari kita pergi ke luar."


Margaret merasa senang sekali sehingga dia mendekat kepada Morgan dan menggandeng tangan laki-laki itu. Mereka berdua keluar dari ruangan Morgan dan segera memasuki lift.


"Aku sangat senang sekali akhirnya kau bisa ikut makan siang denganku. Restoran mana kita akan makan? Aku akan mentraktirmu," ucap Margaret.


Pintu lift terbuka kedua orang itu segera keluar dari dalam sana dan menuju ke mobil milik Margaret.


"Terserah kau saja, aku tidak memilih makanan."


Margarin sempat merasa heran mendengar ucapan Morgan barusan, biasanya Morgan selalu memilih tempat yang baik jika makan di luar. Dia juga orang yang sangat pemilih sekali dalam hal makanan dan juga tempat, tapi kenapa kali ini tidak?


"Oke baiklah kalau begitu. Biar aku yang memilih tempat dan juga makanan. Ada tempat baru yang ingin aku datangi, bagaimana kalau sekarang kita ke sana?" Tanya Margaret dan Morgan hanya mengiyakan saja.


"Apa kau yang akan menyetir?" Tanya Margaret setelah mereka sampai di mobilnya.


"Kau saja. Aku masih lupa dengan jalanan di kota ini," ujar Morgan. Margaret tersenyum senang karena kini dia bisa keluar bersama dengan laki-laki yang dia cintai. Dia akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk membuat Morgan bisa jatuh cinta kepadanya. Lupakan saja kejadian waktu malam itu saat dia meninggalkannya di tengah jalan, dia akan memaafkan semua kesalahan Morgan apalagi jika laki-laki itu bersedia menjadi kekasihnya atau bahkan menjadikan dia istrinya.

__ADS_1


__ADS_2