Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
76. Orang Yang Rumit


__ADS_3

Matahari belum juga muncul dari peraduannya, tapi dua orang laki-laki sudah berada di udara terbuka dengan memakai hoodie dan celana serta sepatu olahraga. Dua laki-laki itu berlari dengan santai di tengah udara Kota London yang dingin dengan rintik salju yang turun dari langit.


"Kenapa kau mengajakku untuk berlari sepagi ini? Apa kau tidak tahu jika aku sangat lelah?" gumam Gerald dengan kesal.


"Kita sudah sangat lama tidak berolahraga," jawab Morgan singkat.


"Tapi tidak di hari yang dingin seperti ini, kan?"


"Memangnya kenapa? Ini lebih sehat karena bisa melatih pernafasanmu."


Gerald sudah tidak bisa berbicara lagi, meski jawaban Morgan singkat, tapi sering sekali membuatnya sebal.


"Aku dengar Lyla sudah mulai belajar hari ini?" tanya Gerald di antara napasnya yang terengah.


"Iya."


"Kau bisa membuatnya masuk ke sana?"


"Kenapa tidak?"


"Aku hanya berpikir saja, ku kira dia akan sedikit sulit untuk masuk ke universitas itu mengingat dia tidak memiliki berkas-berkas yang dibutuhkan," ucap gerald.


"Itu hal yang mudah."


"Bagaimana caranya? Kau menyogok mereka?" tanya Gerald ingin tahu.


"Tidak," jawab Morgan singkat.


"Lalu?"


"Aku membuatkan apa yang dia butuhkan."


Gerald berhenti berlari dan terperangah dengan apa yang Morgan katakan barusan, sepupunya itu tidak menghentikan acara larinya, sementara Gerald sudah sedikit kehabisan napas.


Morgan berhenti beberapa meter di depan Gerald, tapi tidak menghentikan lompatan kecilnya.


"Apa kau sudah menyerah?" tanya Morgan sambil tersenyum tipis, biasanya Gerald tidak mudah untuk dikalahkan dalam hal berolahraga.

__ADS_1


"Kau membuatkan apa yang dia butuhkan? Apakah ada yang mau membantumu membuat benda itu?" tanya Gerald ingin tahu.


"Aku membuatnya sendiri," ucap Morgan membuat Gerald semakin terperangah saja.


"Apa?" Gerald menatap Morgan dengan bingung dan tidak percaya. "Kau membuatnya sendiri?"


Morgan menganggukkan kepala.


"Hah, ini hal yang tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Morgan, kemudian kembali berlari dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Gerald ingin tahu banyak, dia masih merasa jika perkataan Morgan sepertinya tidak benar adanya. Dia pun kembali berlari dan mensejajari langkah Morgan.


"Aku tidak percaya."


"Terserah," ucap Morgan tidak peduli, kali ini semakin mempercepat langkahnya dan meninggalkan Gerald.


"Haiss. Dia itu sedang jatuh cinta, tapi dia tidak sadar juga," gumam Gerald kesal. "Apakah dia tidak menyadarinya?"


Dua orang itu akhirnya telah sampai ke rumah, mereka masuk bersamaan.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Lian dengan ceria saat Morgan dan laki-laki menyebalkan itu baru saja masuk.


"Kau tidak menyapaku?" tanya Gerald saat Lian hanya menyapa Morgan saja dan kembali dengan pekerjaannya.


Lian menghentikan aktifitasnya dan menatap Gerald, ada kilat marah dari ssorot mata wanita muda itu. "Apa aku mengenalmu?"


Gerald membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari Lian.


"Kau---"


"Aku masih banyak pekerjaan, Tuan. Permisi. Lantai di bawahmu kotor dengan bekas sepatu!" ucap Lian denganketus sambil mengarahkan pel di tangannya ke kaki Gerald.


Gerald mundur dua langkah karena sepatunya terdesak oleh kain lap pel kotor Lian. Dia segera membuka sepatunya dan menyerahkan benda itu pada Lian.


"Oh, kau sibuk rupanya. Bisakah kau bersihkan sepatuku dulu? Aku tidak suka jika sepatuku kotor dan takut jika nodanya tidak akan hilang jika tidak segera dicuci," ucap Gerald. Lian menatap kesal laki-laki itu.


"Tidak bisa, Tuan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini sebelum berangkat ke sekolah," ucap Lian menolak membuat Gerald kesal.

__ADS_1


"Kau menolakku?" tanya Gerald.


"Ya!" jawab Lian singkat.


Gerald semakin marah mendengar gadis itu mengabaikannya, dia mengulurkan kakinya dan meraih tepian ember itu dengan jarinya kemudian menggulingkan benda tersebut, air yang ada di sana tercecer di lantai rumah.


"Ups! Aku tidak sengaja!" ucap Gerald sambil tertawa kecil.


Lian marah, tentu saja dia marah karena dia sudah susah payah mengepel lantai rumah hingga sampai ke depan pintu ini. Gerald tertawa melihat wajah Lian yang kesal, rasanya menyenangkan sekali bisa mengganggu gadis kecil ini. Akan tetapi, ternyata Lian tidak marah seperti biasanya, dia hanya melirik malas dan berjongkok untuk membereskan ember dan air yang tergenang di bawah.


Gerald berhenti tertawa dan merasa bingung, tidak biasanya Lian hanya diam seperti ini, tampak gadis kecil itu menghela napasnya dan menyelesaikan tugasnya.


"Eh, kenapa kau tidak marah?" tanya Gerald bingung melihat Lian berjongkok di lantai.


"Kenapa aku harus marah?" tanya Lian menahan kesal. "Aku sadar dengan siapa diriku ini, aku tidak berhak marah disini," ucap Lian, kemudian pergi setelah menyelesaikan ucapannya itu. Gerald menatap heran wanita muda itu, tampak aneh melihatnya.


"Hei, kau melupakan sepatuku!" seru Gerald. Akan tetapi, Lian tidak menggubrisnya dan pergi dari hadapan Gerald.


"Dia aneh sekali!" gumam laki-laki itu.


Sementara di dalam kamar, Lyla sedang bingung dengan pakaian yang akan dia kenakan untuk hari pertamanya ini. Terlalu banyak dan juga rasanya terlalu mewah untuk dirinya yang sederhana. Ini karena Morgan yang menunjuknya tanpa bertanya terlebih dahulu pakaian bagaimana yang akan dia pakai.


"Astaga! Ini bukan gayaku sekali," ucap Lyla menatap pakaian yang dia tempelkan di depan tubuhnya dari cermin yang ada di sana, dia menggantungkan kembali pakaian tersebut ke dalam lemari dan memilih lagi.


"Ini memang bagus, tapi aku pikir hanya untuk belajar saja tidak perlu pakai pakaian mewah," ucapnya, kemudian menjatuhkan pilihan pada kaos putih yang pas ukurannya pada tubuhnya yang ramping.


Di kamar yang lain, Morgan tengah memilih pakaian yang akan dia kenakan hari ini. Dia merasa kurang pede dengan penampilannya, memilih-milih jas yang akan dia kenakan.


"Hah, apakah tidak ada pakaian lain? Ini tampak membosankan!" ucap Morgan melihat deretan jasnya di walk in closet. Satu sisi deretan jas berwarna hitam, sedangkan sisi yang lain beberapa warna lainnya.


"Bosan. Bosan. Bosan. Menyedihkan," ucap Morgan seraya membuang jas-jas yang telah dia ambil ke atas kasur, bahkan ada beberapa yang terjatuh ke lantai.


Morgan berhenti saat dia menemukan pakaian yang cocok menurutnya, mungkin! Setidaknya tidak terlalu monoton dengan apa yang dia pakai selama ini.


Keadaan di dapur masih sibuk dengan aktifitas saat Morgan turun dan pergi ke ruang makan. Derit suara kursi bergeser membuat Gerald yang mendengar langsungmengangkat pandangannya dari ponsel.


"Selamat pa ... gi." Ucapan Gerald terhenti saat melihat Morgan yang baru saja duduk di kursinya.

__ADS_1


"Pagi, Sepupu. Pagi semua!" sapa Morgan yang juga membuat beberapa asisten di dapur menghentikan aktivitasnya. Mereka tercengang melihat Morgan dengan pakaian yang seperti itu.


"Tu-Tuan?"


__ADS_2