
Setiap waktunya makan, Lyla akan makan bersama dengan Alex. Entahlah, apakah laki-laki itu bekerja atau tidak, tapi dia selalu melihatnya ada di dalam rumah ini.
Makan siang telah datang, Lyla dipanggil oleh seorang maid karena Alex telah menunggunya di meja makan. Lyla pun turun dari lantai atas dan duduk di depan Alex. Seperti biasanya, tak ada orang lain yang ada di dalam ruangan itu selain mereka berdua.
Alex memperhatikan Lyla yang berada di seberangnya, masih dengan pakaian yang sama yang dia kenakan waktu itu.
"Apa pakaian yang aku berikan kurang berkenan untukmu?" tanya Alex.
"Tidak, Tuan. Tapi aku lebih senang dengan pakaian ini," jawab Lyla.
"Sudah hampir tiga hari kau di sini? Kau masih betah dengan pakaian bau itu? Aku pikir jika kau tidak mengganti pakaianmu, kau akan mendapatkan penyakit kulit, Nona." Alex menikmati makanannya dengan santai, sementara Lyla mencubit pakaiannya dan menghirup aroma yang memang sudah tidak nyaman di hidungnya.
Alex tertawa kecil melihat apa yang Lyla lakukan.
"Aku heran denganmu, Nona. Apa yang salah dengan pakaian yang aku berikan padamu? Apakah kau tidak suka dengan pakaian itu? Apa kurang berkelas? Atau kurang indah?" tanya Alex lagi.
Lyla mengambil makanan yang ada di hadapannya, menikmatinya dengan sedikit kesal karena hidupnya kini dikelilingi oleh orang-orang yang aneh. Dulu Morgan, sekarang Alex.
"Aku hanya tidak senang memakai gaun, membuatku tidak bisa bergerak dengan bebas. Jika kau mau memberikan pakaian untukku, berikanlah yang nyaman. Pakaian rakyat biasa," ucap Lyla ketus.
Alex lagi-lagi tertawa dengan keras.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan membawakanmu pakaian yang kau mau."
Mendengar Alex berbicara seperti itu membuat Lyla memiliki ide.
"Tuan, bolehkah aku memilih pakaianku sendiri? Aku pikir apa yang aku kenakan kau tidak tahu, kan?" ujar Lyla. Dia akan pergi jika Alex membawanya ke luar.
__ADS_1
"Tentu saja. Kau bebas memilih pakaianmu sendiri. Sekarang makan lah dulu. Setelah itu aku akan membawamu pergi untuk memilih pakaian," ucap Alex yang menerbitkan senyuman pada bibir Lyla. Lyla makan dengan cepat, ingin segera pergi dari tempat ini dan melancarkan aksinya.
"Aku sudah selesai!" ucap Lyla membuat Alex menolehkan kepalanya menatap heran Lyla. Tak sampai lima menit wanita itu makan dan dia sudah selesai?
"Ayo kita pergi."
"Ke mana?" tanya laki-laki itu.
"Mencari pakaian untukku kan?" tanya Lyla bingung. Jangan sampai laki-laki ini pura-pura amnesia dan membuat harapan Lyla untuk kabur sia-sia.
"Oh, oke." Alex menghentikan makan siangnya dan mengelap mulutnya dengan sapu tangan. Laki-laki itu bangkit dari duduknya diikuti oleh Lyla dengan senyum mengembang lebar. Dia akan pergi saat ada kesempatan.
"Ayo!"
Dengan semangat Lyla mengikuti langkah kaki Alex dengan langkah yang riang. Beberapa rencana telah tersusun rapi di otaknya. Akan tetapi, Lyla terheran karena Alex bukan membawanya ke parkiran mobil, tapi ke salah satu ruangan yang masih ada di mansion tersebut.
Sebuah pintu besar dibukakan oleh seorang, tempat di dalam sana ada banyak sekali pakaian-pakaian yang berjajar, lebih banyak daripada yang pernah dia lihat di toko waktu itu bersama dengan Morgan. Mulut Lyla ternganga melihat semua pakaian indah yang ada di sana. Mulai dari pakaian biasa hingga gaun-gaun berkelas yang sangat cantik sekali.
"Kau tidak akan masuk ke sana?" tanya Alex memuat Lyla yang terdiam terus sadar.
"Pilihlah pakaian yang kau mau kau bebas mengambil sebanyak apapun yang kau mau," ucap laki-laki itu sambil menggerakkan tangannya menyuruh Lyla untuk masuk ke dalam sana.
Lyla berdecak dengan kesal, tentu saja bukan hal ini yang dia inginkan. Dia tidak menyangka jika di dalam mansion ini ada banyak sekali pakaian-pakaian wanita.
"Ayo, masuklah dan pilih mana yang kau suka," ucap Alex sekali lagi. Alex mendorong punggung Lyla, membuatnya mau tak mau masuk ke dalam sana.
Lyla hanya diam saja menatap banyaknya pakaian di sana. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana.
__ADS_1
"Ini adalah pakaian-pakaian yang baru. Kau tidak perlu khawatir ini pakaian bekas. Aku sudah mempersiapkan ini sejak lama untukmu, Laura," ucap Alex. Lagi-lagi nama Laura yang dia sebutkan.
Siapa itu Laura? gumam Lyla di dalam pikirannya.
Lyla mengurungkan langkah kakinya dan memilih untuk berbalik menatap Alex.
"Aku pernah mendengar seseorang menyebutku Laura. Siapa dia? Apakah nama yang diberikan oleh keluargaku adalah Laura?" tanya Lyla ingin tahu. Sangat ingin tahu.
Alex tertegun, kemudian tersenyum kecil. "Tidak bolehkah aku memanggilmu dengan nama itu? Aku sangat suka dengan nama Laura daripada memanggilmu Lyla," ujar Alex.
Lyla berdecak kesal, dia kira Alex dan seseorang waktu itu memanggilnya Lyla adalah namanya.
Alex menunggu Lyla memilih pakaian, dia dengan sabar duduk di kursi sofa sambil memperhatikan wanita itu yang memegang dan memilih pakaian yang dia mau. Sementara itu, Lyla mengagumi ruangan ini yang dipenuhi oleh pakaian-pakaian yang indah maupun yang biasa saja.
Ruangan ini membuat Lyla seperti ada di dalam ruangan toko, juga ada seseorang yang membantunya untuk memilih pakaian. Tak ada tulisan harga di sana, tapi Lyla yakin jika pakaian ini semuanya adalah baru, tercium dari aromanya dan juga dari sentuhan di tangannya. Akan tetapi, dia yakin sekali jika pakaian ini terbuat dari bahan yang bagus dan mahal.
Alex masih memperhatikan dengan setia, menopang dagu dengan satu tangannya, tersenyum bak anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Ada satu pakaian yang Lyla sukai, tampak sederhana, dress berwarna biru setinggi lutut. Disentuhnya pakaian itu, lembut dan juga indah dipandang mata. Senyumnya tak sadar mengembang menatapnya.
"Kau akan sangat cantik jika memakai itu, Laura!" bisik Alex yang justru membuat Lyla tersentak kaget karena Alex ada tepat di belakang Lyla, sangat dekat sehingga terasa hangat napasnya saat berkata tadi di telinga.
Lyla tersadar, segera beralih menjauh dari Alex. "Tidak baik kau berdiri dekat sekali denganku! Itu bukan mencerminkan sikap seorang laki-laki yang sopan," ucap Lyla dengan nada bergetar karena terkejutnya tadi. Alex tertawa kecil mendengarnya, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tangannya masuk ke dalam saku celana membuat sosoknya sangat indah dipandang mata.
"Oh, aku mengagetkanmu? Maafkan aku. Aku sudah berbicara sedari tadi, tapi tampaknya kau sedang melamun sampai-sampai tidak mendengarku. Apa yang sedang kau pikirkan? Kau ingin pakai gaun ini?" tanya Alex. Lyla segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku ... aku akan pakai baju biasa saja. Sudah aku bilang jika aku lebih suka memakai pakaian biasa," ucap Lyla dengan cepat mengambil baju yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Ini, aku akan pakai ini saja."
Alex menganggukkan kepalanya. "Oke. Jika memang sudah, kita bisa kembali ke mansion utama. Kau bisa kapan saja masuk ke dalam sini dan mengambil pakaian yang kau mau, aku selalu update dengan pakaian baru. Jadi, aku pikir meski kau tidak pergi ke luar juga kau tidak akan ketinggalan mode," ujar laki-laki itu yang membuat Lyla melongo. Pupus sudah harapannya untuk bisa pergi dari tempat ini.