
"Apa katamu? Kau akan pergi? Lalu bagaimana dengan Tuan Morgan?" tanya Lian yang tidak terima dengan kepergian Lyla yang mendadak seperti ini.
"Dia akan baik-baik saja tanpa aku," ucap Lyla sambil tersenyum. Lyla hanya membawa beberapa lembar pakaian saja, dia tidak berhak membawa semua barang ini karena semua ini adalah barang yang Morgan belikan untuknya waktu itu. Selvi tidak melarangnya untuk membawa semua yang Morgan berikan, tapi Lyla tidak ingin membawanya karena dia tidak ingin semua kenangan itu dia bawa ke tempat di mana dia akan pergi.
"Tidak. Kau tega dengan Tuan Morgan," ucap Lian merebut tas yang ada di tangan Lyla.
Lian tahu akan gadis ini yang kecewa terhadapnya. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia melakukan perjanjian, maka dari itu saat perjanjian usai dia harus pergi bagaimana pun juga caranya.
"Kau tidak boleh pergi!" teriak Lian pada Lyla. "Kenapa kau ingin meninggalkan Tuan Muda, hah! Kau tidak sayang dengannya? Kau tidak mencintainya? Apa bedanya kau dengan wanita itu? Kau jahat!" teriak Lyla tidak terima dan penuh rasa kecewa pada Lyla.
Lyla tidak lagi merasa sakit hati dengan perkataan gadis itu, dia memang jahat untuk pergi dan meninggalkan laki-laki itu.
"Dia sudah melupakanku," ucap Lyla.
"Tidak. Dia hanya lupa sesaat. Aku yakin dia juga akan mengingatmu lagi. Tolong jangan kau pergi dari sini. Aku pikir kau akan menjadi obatnya. Dia pasti akan cepat pulih jika kau ada di sini untuk membanttunya mengingat," ucap Lian dengan menangis tersedu. Lian menangis bak anak kecil saja yang tdiak terima dengan kepergian kakaknya.
"Kau jahat!" ucap Lian.
Lyla hanya terdiam, membiarkan gadis kecil itu untuk meluapkan semua kekesalannya. Dia tidak akan merasa tenang sebelum selesai meluapkan amarahnya. Sehingga sampai Lian sudah tenang di dalam tangisnya, Lian menepuk tempat duduk kosong yang ada di sebelahnya agar gadis itu mendekat.
"Kau akan tahu alasanku pergi darinya suatu saat nanti. Dia tidak akan merasa sakit hati lagi karena keadaannya yang sekarang ini."
"Katakan padaku apa alasanmu akan pergi dari sini, ha!" teriak Lian.
Lyla memeluk adik kesayangannya ini yang sudah beberapa bulan menemaninya di sini.
"Semua akan baik-baik saja. Baik dia, aku, dan kau. Seua sudah tergaris rapi dan akan menemukan jalannya lagi," ucap Lyla. Lian memeluk Lyla dengan erat. Dia tidak rela kehilangan kakak yang sangat baik seperti Lyla.
"Kenapa kau tidak mau memberikan alasan yang logis padaku? Katakan agar aku tahu dan tidak menahanmu pergi," ucap Lian sesenggukkan. Lyla tersenyum dan menyinghkirkan anakan rambut yang menutupi mata Lian.
"Kau hanya perlu tahu saja, aku sangat sayang dengan kalian semua. Aku akan kembali lagi suatu saat nanti dengan diriku yang sudah berbada," ucap Lyla. Lian tidak mengerti apa yang Lyla maksudkan, dia masih belum paham apa yang terjadi sehingga wanita ini harus pergi dari sini. Padahal baik Lyla dan juga Morgan sudah saling mencintai, kenapa harus ada hal rumit yang membuat dia pergi dari sini?
...***...
Di bandara internasional, Lyla berjalan bersama dengan seseorang yang telah mengantarnya untuk pergi dari negara ini. Lyla berjalan dengan cukup pelan, sementara laki-laki yang ada di depannya berjalan dengan langkah yang sangat lebar. Lyla memilih untuk menikmati langkah demi langkah terakhir dirinya ada di negara ini.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Gerald pada Lyla saat wanita itu telah sampai di tempatnya berdiri. Lyla menganggukkan kepalanya dan tersenyum perih.
"Ya, aku akan baik-baik saja."
"Hubungi aku jika kau telah bertemu dengan orang tuamu. Aku akan menunggumu kembali," ucap Gerald dengan sedih. Sekali lagi Lyla menganggukkan kepalanya. Dia memeluk Gerald dengan erat.
"Terima kasih atas semua yang kau berikan, Tuan."
Gerald mengangguk dan mengelus punggung Lyla dengan lembut.
"Ya, aku juga. Terima kasih atas apa yang telah kau perbuat kepada kami. Kau sangat membantu kami, terutama Morgan. Aku akan memastikan dia baik-baik saja," ucap laki-laki itu memastikan.
"Kau berjanji akan mengabarkan segalanya padaku?" tanya Lyla.
"Ya, tentu saja."
Gerald melepaskan pelukannya dari Lyla dan tersenyum senang bercampur sedih karena dia akan kehilangan Lyla.
"Aku akan selalu memberimu kabar tentang kemajuan Morgan. Maaf karena aku tidak bisa memberi tahu Morgan tentang kehadiranmu selama ini bersama dengannya," sesal Gerald.
"Ya, aku mengerti. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti. Terima kasih atas apa yang telah kau berikan untukku, Tuan. Aku doakan agar dia tidak marah lagi denganmu," ucap Lyla.
"Ya, aku harap juga begitu."
"Belikan saja makanan yangd dia suka. Aku yakin dia tidak akan marahlagi denganmu," ujar Lyla.
Gerald sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Ya, aku akan mencoba untuk membujuk dia. Dia anak kecil yang sangat merepotkan!" ucap gerald. "Pergilah, pesawatmu sudah menunggu," ucap Gerald melepaskan Lyla.
Gerald menunggu sampai Lyla menghilang dari pandangannya.
Lyla duduk di dalam pesawat dengan rasa yang tidak karuan, dia memang sudah mendengar kabar Morgan yang baik-baik saja hingga hari ini. Dia sangat ingin sekali pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, tapi hal itu tidak mungkin dilakukan karena dia juga harus pergi hari ini.
"Maafkan aku semoga kita bisa bertemu lagi di masa depan nanti," ucap Lyla dengan pelan.
Gerald masih berdiri di sana menyaksikan kepergian pesawat tersebut yang mulai meninggalkan bandara. Sebenarnya dia merasa berat sekali untuk melepaskan Lyla pergi dari sini, tapi semua ini dia lakukan untuk kebaikan semua orang.
__ADS_1
Di dalam pesawat Lyla hanya termenung sambil menyandarkan dirinya, menetap lautan awan yang ada di bawahnya. Indah dari awan tersebut tidak bisa dia nikmati karena hatinya yang sekarang ini sedang tidak karuan.
Gerald kembali ke kediaman Morgan untuk mengurusi semuanya. Kamar Lyla dia rapikan. Begitu juga dengan pakaiannya, dia membawa semua pakaian itu ke tempat lain agar Morgan tidak mempertanyakan keberadaan benda-benda tersebut yang berhubungan dengan Lyla.
Semua asisten yang ada di sana juga diberitahu agar tidak membahas keberadaan Lyla sebelumnya. Lian jadi mengerti apa yang Lyla katakan tadi pagi. Bisa jadi memang ini dilakukan agar Morgan bisa segera pulih dengan ingatannya. Akan tetapi, rasanya tidak adil sekali untuk wanita itu yang harus pergi menjauh dari tempat ini. Bagaimana dengan hatinya? Bagaimana dengan keadaannya?
"Cepat bawa semua barang-barang ini dan masukkan ke dalam koper."
Gerald memerintahkan semua orang untuk bekerja sama membawa semua barang yang berhubungan dengan Lyla. Dia tidak akan membuangnya tapi hanya akan membawanya ke tempat lain supaya Morgan tidak melihatnya.
"Kau sangat menyebalkan sekali!" ucap Lian saat melewati Gerald. Gadis kecil itu membawa beberapa barang di tangannya milik Lyla untuk segera dibawa ke dalam mobil. Hingga beberapa koper benda-benda itu sudah tidak ada lagi di dalam kamar sehingga membuat kamar tersebut menjadi kosong.
Gerald menghela nafasnya sedikit lemas, sebenarnya dia ingin menceritakan apa yang terjadi sehingga dia membuat Lyla pergi dari sini. Akan tetapi, dia juga belum bisa mengatakan semua itu kepada Lian. untuk sementara ini mereka hanya dilarang untuk menyebut atau membahas nama Lyla di rumah ini.
Langkah Lian terdengar kasar melewati Gerald, wajahnya juga terlihat sangat masam sekali sehingga membuat Gerald menjadi gemas.
Gerald menyanyi langkah kaki Lian dan menarik tangan wanita itu untuk menjauh dari yang lainnya. Dia memojokkan Lian hingga terperangkap di dinding dapur.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" ucap gadis kecil itu dengan marah.
"Aku tidak akan melepas kamu jika kau berwajah seperti itu lagi."
"Memangnya kenapa dengan wajahku? Bukankah setiap hari pun seperti ini?" ujar wanita itu dengan kesal.
"Jangan harap. Sebelum kau memberikan aku senyuman aku tidak akan melepaskanmu," balas Gerald berkata dan tidak peduli dengan wajah masam wanita itu yang semakin masam saja.
Lian masih merasa marah karena Gerald tidak mau memberikan jawaban kepadanya atas kepergian Lyla, dia tahu bukan hanya itu saja yang menjadi permasalahan. setidaknya dia menebak ada hal lain yang terjadi sebelum ini, bukan hanya agar Morgan bisa cepat sembuh saja.
"Aku hanya memintamu untuk tersenyum saja, apakah itu membuatmu keberatan?" tanya laki-laki itu kepada Lian.
Lian masih merasa kesal, dia sama sekali tidak ingin memberikan senyuman kepada laki-laki itu.
Gerald merasa gemas karena Lian tidak juga memberikan senyuman kepadanya, bibirnya yang manyun beberapa senti itu ingin sekali dia lahap dan dia gigit, mungkin saja rasanya akan hangat dan menyenangkan.
Tanpa Gerald sadari, laki-laki itu telah mendekatkan dirinya kepada Lian dan hampir saja menciumnya. Lian yang merasa kaget dengan perlakuan dari laki-laki itu sontak menundukkan tubuhnya sehingga Gerald hanya mendapati rasa dingin pada bibirnya. Dia membuka mata dan tidak melihat Lian di hadapannya melainkan hanya dinding putih yang dingin yang kini membuatnya menjadi kesal. Gerald melihat Lian yang kini berlari menjauh darinya.
__ADS_1
"Dasar, Om mesum. Lakukan itu dengan wanita tua seusiamu!" ucap Lila kesal sambil berjalan menjauh dari sana.
Gerald terdiam dan baru saja bisa mencerna kata-kata Lian barusan, wanita tua seusiamu. Apakah gadis itu tengah mengejeknya?