Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
29. Aku Akan Pergi


__ADS_3

Jelas sekali dalam tatapan laki-laki itu Gerald memegang lembut tangan Lyla dan tengah mencoba untuk merayunya. Tidak dia sangka jika dia pandai berbicara juga sehingga tampak wajah wanita itu bersemu merah di pipinya.


Tak ingin melihat hal yang tak perlu, akhirnya Morgan pergi dari sana menuju ke dalam kamar.


"Huh, apa-apaan mereka itu? Bermesraan di dalam rumahku. Jika mereka ingin melakukan hal lain apa tidak bisa mereka melakukannya di luar?" ujar Morgan sambil melonggarkan ikatan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik leher.


Pintu dia buka dan dia tutup dengan kasar. Tas dia lemparkan ke atas kasur, juga dengan jas dan dasinya. Sepatu dia buka asal dan tanpa mau menyimpan ke tempat asalnya.


Morgan merebahkan diri di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Entah kenapa dia merasa sebal melihat dua orang itu. Seenaknya mereka bermesraan di rumah ini. "Apa tidak ada tempat lain untuk melakukan hal itu? Tidak tahu malu!" ucapnya kesal.


Di ruang makan, Gerald mengompres tangan Lyla dengan air hangat. Meski wanita itu telah menolaknya, tapi dia tidak peduli dan tetap melakukan apa yang dia bisa.


"Sudah, tanganku sudah tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya," ucap Lyla menarik tangannya.


"Apa sudah merasa baikan?"


"Hem. Iya. Ini sudah lebih baik daripada yang tadi."


Gerald tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Baguslah jika kau merasa sudah baikan. Lain kali jangan memaksakan diri untuk melakukan apapun yang akan melukai tanganmu. Kapan kau akan sembuh jika seperti itu? Apa kau makan obatmu dengan baik? Apa kau sudah melakukan terapi yang dokter perintahkan?" tanya Gerald panjang lebar seperti seorang kakak yang tengah memberi perhatian kepada adiknya. Bahkan dia pun merasa geli karena bisa mengatakan hal yang seperti itu dengan hanya satu tarikan napas.


"Iya. Aku melakukan semua yang dokter katakan. Anda tenang saja, aku akan segera sembuh dan akan segera meninggalkan rumah ini."


Ucapan Lyla barusan membuat Gerald terdiam. Ya, apa yang dia harapkan? Wanita ini akan pergi setelah tangannya sembuh.


"Iya. Setelah keluar dari sini lakukan apapun yang kau mau," ucap Gerald, lalu dia hendak beranjak pergi dengan senyum kecut.


"Tuan. Bolehkah jika aku meminta sesuatu?" Pertanyaan Lyla barusan membuat Gerald menghentikan langkah kakinya.


"Apa?"


"Tolong beri kabar kepada ibu panti jika aku baik-baik saja. Jangan katakan apa pun yang terjadi padaku. Dan lagi ... katakan saja jika aku mendapatkan pekerjaan di luar kota."


Gerald mengerutkan keningnya, bingung dengan permintaan gadis ini. Dia pikir tadi Lyla akan meminta sejumlah uang kepadanya.


"Kenapa harus seperti itu?"


Lyla menundukkan kepalanya saat melihat tatapan tajam dari Gerald. Jari-jari tangannya memainkan ujung pakaian.

__ADS_1


"Aku tidak mau ibu panti dan anak-anak yang lain menjadi khawatir padaku. Lebih baik jika ada yang memberi kabar bahwa aku berada di luar kota. Nanti aku akan mengirimi mereka uang jika aku sudah mendapatkan pekerjaan," ucap Lyla. Dia sudah memikirkan ini dari beberapa hari yang lalu, tidak mungkin dirinya memberikan kabar buruk yang akan membuat ibu panti merasa khawatir dan juga sedih. Mungkin lebih baik begini saja.


"Berapa uang yang kau mau kirimkan untuk mereka? Aku bisa mengaturnya," ucap Gerald, bibirnya menyunggingkan senyuman mengejek, ternyata wanita ini tidak sebaik yang dia kira tadi.


"Tidak, jangan! Aku tidak menjual tubuhku demi sejumlah uang." Kening Gerald kini mengerut mendengar penuturan dari wanita ini.


"Aku tidak mau."


"Kenapa? Itu hakmu, karena tuan muda sudah melakukan hal yang tidak baik terhadapmu."


"Itu berarti aku telah mengakui menjual tubuhku. Aku bukan orang yang seperti itu." Lyla menggigit bibir bawahnya. Bayangan waktu itu kembali terlintas di dalam benaknya dan membuat hatinya sakit.


"Tapi kamu berhak mendapatkannya. Kamu sudah dirugikan."


"Ini sudah menjadi takdirku. Aku sudah berusaha ikhlas menerimanya."


Gerald kini terdiam, mengakui jika gadis ini bukan gadis biasa. Dia tepiskan pemikirannya tadi dan mengakui jika dia bukan seperti wanita kebanyakan.


"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau mau. Hanya itu saja?" tanya Gerald.


Lyla menganggukkan kepalanya. "Iya hanya itu. Terima kasih sebelumnya karena kau mau membantuku."


Lyla menjawab dengan gelengan kepala. "Aku belum tahu. Itu akan aku urus nanti saja."


Gerald akhirnya pergi dari hadapan Lyla. Dia sudah kehilangan waktu yang cukup banyak karena mengurus tangan Lyla tadi. Baru saja dia keluar dari rumah, dia mendapati jika mobil Morgan sudah ada di garasi.


"Tuan muda sudah pulang?" tanya Gerald kepada salah satu security yang ada di sana.


"Sudah hampir dua puluh menit yang lalu," jawab laki-laki itu setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Dengan cepat Gerald berbalik arah dan menuju ke kamar Morgan. Tampak laki-laki itu sedang berbaring saja dan terlihat sedikit melamun.


"Kau sudah pulang? Aku tidak melihatmu datang."


Morgan melirik malas pada Gerald tanpa mau menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Tentu saja kau tidak tahu, kau sedang sibuk dengan yang lain."

__ADS_1


Gerald tidak mengerti dengan apa yang Morgan katakan.


"Apa kau sedang mencoba untuk mendekati gadis itu? Kau bisa mendapatkan yang lebih," ucap Morgan lagi.


Gerald menaikkan satu alisnya dan merasa bingung dengan ucapan laki-laki itu.


"Aku tidak sedang mendekati siapapun. Apa kau sudah makan?"


Morgan hanya diam saja, dia sedang menikmati waktu kesendiriannya.


"Oke, akan aku bawakan kau makan malam. Apa perlu aku siapkan air panas untuk mandi mu?" tanya Gerald.


"Aku bukan anak kecil. Aku bisa melakukannya sendiri."


Tidak banyak bicara lagi Gerald segera keluar dari kamar tersebut. Dia menuju ke arah dapur dan masih melihat Lyla ada di sana sedang mencuci piring yang sepertinya miliknya karena hanya ada satu di tangannya saja.


"Ada apa? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Lyla pada Gerald.


"Aku akan menyiapkan makan malam untuk tuan muda."


"Dia sudah pulang? Aku tidak melihatnya lewat."


Gerald tidak menjawab hanya mengangguk saja, dia menyiapkan makanan di atas nampan dan hendak membawanya. Akan tetapi dering telepon membatalkan langkah kaki laki-laki itu.


"Iya? Ada apa?" tanya Gerald setelah mengangkat panggilan dari seseorang. Wajahnya tampak tegang saat mendengarkan ucapan dari lawan bicaranya.


"Aku akan segera datang."


Panggilan tersebut lalu dimatikan.


"Apa kau bisa membantuku?" tanya Gerald dengan cepat menghadap ke arah Lyla.


"Bantu apa?"


"Tolong bawakan makanan ini ke kamar tuan muda. Aku ada hal penting yang tidak bisa dilewatkan. Aku serahkan tugas ini padamu. Terima kasih."


"Eh tapi ...." Percuma. Langkah kaki Gerald sangat lebar sehingga membuat laki-laki itu menghilang dengan cepat dari hadapan Lyla.

__ADS_1


...****************...


Jempolnya dong, vote, hadiah. Apa deh, masih sepi gini nih nupel dari like dan komen🤧


__ADS_2