Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
166.


__ADS_3

"Nona, tunggu!" Seorang pria berlari mendekat kepada Lyla yang sudah kepayahan. Dia berhenti dengan banyak darah di pakaiannya.


"Apakah Nona baik-baik saja?" tanya laki-laki itu.


Lyla harus tetap waspada, dia tidak tahu apakah pria ini ada di kubunya atau ada di kubu musuh. Kakinya mundur beberapa langkah dengan pelan, kemudian berbalik dan kembali berlari dengan sekuat tenaga saat melihat rambut pria itu yang sedikit lebih panjang. Semua bawahan Alex yang dia temui selama ini berambut pendek seperti tentara, dan dia tidak menemukan pria lain berambut sepanjang pria yang barusan dia temui.


Aku harus cepat pergi!


Sekuat tenaga Lyla berlari meskipun tenaganya kini sudah hampir habis. Hutan itu sangat luas, dan dia tidak tahu kapan hutan itu akan bertepi.


"Sial!" geram pria tersebut kemudian berlari dengan sangat kencang mengejar Lyla.


"Berhenti kau, Nona!"

__ADS_1


Lyla tidak ingin berhenti. Dia tidak ingin menyerah dengan keadaannya. Entah apakah di dalam helikopter tadi ada Morgan atau tidak, tapi dia berharap dan sangat ingin hidup untuk sekarang ini.


Morgan, tolong aku!


Satu bulir air mata luruh ke pipinya, menetes di udara kosong. Dia terus berlari sekuat tenaga, tapi kemudian laki-laki itu bisa menyusulnya dan menarik tubuhnya dengan mudah.


"Lepaskan aku!" Lyla memberontak sekuat tenaga. Pria itu menyeret Lyla, mengeluarkan sapu tangan dan membekap mulut dan hidung Lyla hingga wanita itu tidak tahan lagi.


"Wanita sialan! Kau membuatku susah!" kesal pria tersebut kemudian membopong tubuh tak berdaya Lyla untuk pergi dari sana.


Saat helikopter pergi meninggalkan tepian laut di mana sebuah mobil terbakar habis, Morgan telah menerima panggilan dari salah satu bawahan Gerald, mereka telah mencari keberadaan Lyla di rumah, tapi wanita itu tidak ditemukan. Di rumah tersebut hanya ada banyak mayat yang bergelimpangan. Tampak sangat mengerikan sekali dengan banyak darah yang berceceran di mana-mana.


Morgan marah, merutuki apa yang terjadi. Dia tidak tahu harus berbuat apa, sebab ingin membawa Lyla dari sana saja bukan hal yang baik. Buktinya dirinya juga diikuti dan hampir dibunuh oleh orang-orang jahat tadi.

__ADS_1


Di markas Black Eagle, Morgan telah bertemu dengan seorang pria. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menatap Morgan dengan tajam dan senyum mengejek.


"Tamu jauh rupanya. Aku tidak ingat telah mengundang seseorang," desis suara itu terdengar sinis sambil menyimpan pulpen di atas meja. Seorang pria berusia empat puluhan menatap Morgan dengan tatapan dingin.


"Aku tidak perlu undanganmu untuk datang kemari. Apa yang kau lakukan dengan Crownford? Dan apa yang kau lakukan dengan Lyla!" tanya Morgan langsung tanpa berbasa basi. Tatapannya tajam menatap laki-laki dengan jambang rapi dan teratur itu.


"Siapa dia sehingga kau dan Crownford sangat peduli kepadanya?" tanya pria tersebut. "Apakah dia orang yang sangat spesial?" Senyum terukir di bibirnya, tampak sangat menyebalkan di.mata Morgan.


"Jangan coba-coba menyentuh dia. Ada di mana dia? Katakan kepadaku!" Tanpa ragu dan takut, Morgan mengambil kerah baju pria itu dan menariknya sehingga muka mereka menjadi sangat dekat sekali.


"Aku tidak tahu."


Pria itu melepaskan tangan Morgan darinya.

__ADS_1


"Kau salah jika mencarinya ke sini. Aku sendiri tidak tahu dimana dia berada."


Morgan menjadi semakin kesal, persetan jika laki-laki ini adalah seorang pemimpin dari kekuasaan tertinggi di negara ini.


__ADS_2