
Lyla tengah sibuk menyiapkan makanan untuk Morgan, wajahnya berseri-seri dengan senyum yang mengembang sempurna sehingga Lian yang melihatnya sedikit gemas melihat bibir Lyla yang sedari tidak juga menurunkan senyumannya itu.
"Ya ampun, kau tampak senang sekali hari ini, apa kau sudah jatuh cinta dengan Tuan Morgan?" tanya gadis kecil itu.
"Apa maksudmu? Aku tidak jatuh cinta dengan laki-laki itu!"
"Lalu kenapa kau seperti orang yang sedang jatuh cinta? Kau memasak untuknya, kau makan siang dengannya, dan lagi kemarin kau berangkat pesta bersama dengan dia. Bukankah itu juga yang dilakukan oleh pasangan kekasih?" tanya Lian sambil menangkupkan kedua tangannya menahan dagu di atas meja.
"Ya, jika memang mungkin itu yang kau pikirkan, bolehlah, tapi kami bukan kekasih sungguhan, dia hanya memintaku untuk berpura-pura saja di pesta itu."
"Berpura-pura jadi kekasihnya, maksudmu?" tanya Lian terkejut.
Lila menganggukkan kepalanya. "Ya, benar. Dia memintaku untuk berkata pada orang lain jika aku adalah kekasihnya, tapi tujuannya itu hanya untuk menjauhkan ku dari tatapan nakal laki-laki. Hanya itu saja," ucap Lyla menjelaskan. Akan tetapi, Lian tidak juga percaya akan kata-katanya itu.
"Tidak mungkin, tapi yang aku lihat dari sikap dan juga pandangan mata Tuan Morgan sepertinya dia mencintaimu, Nona."
Hal itu membuat Lyla tertawa tergelak. "Tidak, dia tidak mencintaiku. Kau tahu, mantannya datang lagi dan semalam mereka berbicara di pesta."
Lian terkejut mendengarnya sampai tubuhnya menjadi tegak.
"Apa?" tanya gadis kecil itu sambil membulatkan mulutnya menjadi huruf o.
"Dia kembali lagi? Tidak, aku tidak setuju jika Tuan Morgan kembali lagi dengan wanita itu. Dia wanita yang jahat yang sudah meninggalkan Tuan Morgan selama ini. Kau tahu bagaimana Tuan Morgan saat dia tinggalkan? Dia seperti zombie tidak punya hati," ucap Lian.
"Aku lebih setuju jika dia bersama denganmu saja, Kak."
Lyla tersenyum sambil menatap kuah yang sedang meletup-letup di panci, dia mengaduknya dengan perlahan.
Jika mungkin memang bisa seperti itu, bagus sekali kan? Tapi apa iya Tuan Morgan akan jatuh cinta padanya?
Renee wanita yang sempurna, dia cantik, tinggi tubuhnya juga seperti model, dan dia juga terlihat sangat berkelas. Tidak seperti dirinya yang hanya berasal dari kalangan biasa yang bahkan sangat rendah sekali dan juga tidak pantas bersanding dengan Morgan.
__ADS_1
"Tuan Morgan sangat bahagia sekali dengan wanita itu. Aku tidak bisa terus-menerus berada dekat dengan dia," gumam Lyla sambil melamun.
Lila tidak sadar jika kuah yang sedang dia tangani meluber hingga airnya terjatuh dari panci, air itu mengalir selain mengenai tangannya juga mengenai kakinya.
"Nona, awas. Hati-hati!" teriak Lian saat melihat air dari kuah kaldu yang Lyla masak membuncah keluar.
Lyla yang terkejut malah menggerakkan tangannya dan menyentuh pegangan panci sehingga panci itu miring dan airnya mengenai tangannya. Dia tidak sengaja melakukannya.
"Aw!" teriak Lyla. Dia memegangi tangannya yang kepanasan akibat kuah tersebut.
Lian yang melihat hal itu segera turun dari kursinya dan berlari menuju ke arah Lyla berada. Dia menjauhkan Lyla dan mematikan kompor tersebut."
"Kau tidak apa-apa, kak?" tanya Lian dengan khawatir dia melihat tangan Lyla yang sudah memerah karena terkena air panas tersebut.
Lyla menggelengkan kepalanya, segera Lian membawa tangan Lyla menuju ke wastafel dan menempatkannya di bawah kucuran air yang mengalir.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau melamun seperti itu? Itu sangat bahaya sekali, Nona," ucap Lian khawatir terhadap kakaknya itu. Lyla juga tidak mengerti kenapa dia tadi melamun sampai tidak memperhatikan apa yang sedang dia pegang di depannya. Dia hanya teringat akan Morgan yang pada malam itu tersenyum saat melihat Renee datang.
Dia terkejut saat melihat dapur yang sudah kacau dengan air yang menggenang di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya sang Ibu mendekat pada kedua wanita muda tersebut.
"Tidak apa-apa ini hanya kecelakaan kecil saja," ucap Lyla.
Ibu Lian mengambil alih tangan Lyla dan menyuruh anaknya untuk membawakan kotak obat yang berada di atas lemari pendingin. Segera gadis muda itu berlari dan kembali menghampiri mereka berdua memberikan kota-kota tersebut kepada ibunya.
"Kenapa kau tidak berhati-hati?" tanya Ibu Lian seraya memberikan salep pada tangan Lyla. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi perasaannya menjadi tidak enak saja seketika.
"Ayo kita pergi ke klinik," ajak ibu Lian dengan khawatir. Lyla menggelengkan kepalanya, dia merasa jika ini hanya luka bakar kecil saja dan dia tidak apa-apa.
"Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Lyla tiba-tiba saja merasa khawatir jika Morgan akan segera pulang dan dia belum bisa menyelesaikan masakannya.
"Aku akan kembali membuat kuah. Lian, bisakah kau membantuku untuk membuatnya kembali?" tanya Lyla langsung berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada ibu Lian.
"Tapi, Nona. Tanganmu sedang sakit kau seharusnya beristirahat saja biar aku saja yang meneruskan pekerjaan ini," ucap Lian dengan segera bangkit, tapi Lyla menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sudah berjanji kepada Tuhan Morgan akan menyelesaikan masakanku ini. Tapi, aku rasa aku tidak bisa bergerak dengan bebas jadi aku akan membutuhkan bantuanmu saja sedikit, tanganku sakit," ucap Lyla dengan keras kepala.
Lian tidak bisa melarang Lyla lagi, jika memang itu sudah janjinya dia bisa apa?
"Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan membereskan kekacauan ini dulu," ucapnya kemudian segera bergerak untuk membereskan panci dan juga air yang mengalir di lantai.
Tidak berapa lama mereka kembali menyibukkan dirinya di dapur. Sampai akhirnya Gerald berlari masuk ke dalam rumah dan dia pergi menemui Lyla.
"Lyla, bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Gerald yang terengah-engah.
Lyla yang masih menyibukkan dirinya di dapur menolak permintaan itu, dia khawatir Morgan akan pulang sebentar lagi.
"Kau hanya pulang sendiri, Tuan? Mana Tuan Morgan? Aku sedang membuat masakan ini untuknya dan maaf sekali aku tidak bisa ikut denganmu. Aku takut dia akan segera pulang dan masakanku belum selesai," ucap Lyla yang masih belum tahu apa yang telah terjadi dengan Morgan.
Gerald masih mencoba untuk mengatur nafasnya. "Dia tidak akan pulang ke sini."
Lyla terkejut dan sedikit kecewa mendengar ucapan dari Gerald. Laki-laki itu tentu saja sangat sibuk, tapi tadi dia juga sudah berjanji akan segera pulang dan mencicipi masakannya.
"Dia ada di rumah sakit," ucap Gerard pada akhirnya.
Lyla yang mendengarnya terdiam dan menjatuhkan sendok yang ada di tangan. Tiba-tiba saja di dalam hatinya merasa khawatir dan dia juga merasa sangat takut sekali.
Mungkinkah kejadian barusan pertanda jika Morgan tidak baik-baik saja?
"Apa yang terjadi? Sakit apa dia?" tanya Lyla hampir menangis.
__ADS_1
Gerald hanya menatap Lyla dan sedikit sulit untuk berbicara.